Choose Destiny

Choose Destiny
Keinginan Kembali Bersama


__ADS_3

Ting tong... ting tong....


Aku segera membukakan pintu. Ternyata, itu Nico.


"Eh? Kok kamu udah dateng?" tanyaku bingung.


"Emmm.... aku sengaja dateng lebih cepet."


"Ooo... ya udah masuk dulu yuk."


Ia pun masuk dan duduk di sofa.


"Aku siap - siap dulu ya, Nic." ucapku.


Ia pun mengangguk. Kurasa ia masih canggung denganku. Aku segera bersiap - siap.


••••••••••••••••••••••


"Udah yuk." ucapku yang baru selesai berdandan.


Kami langsung masuk ke mobil untuk pergi berangkat.


"Jadi, waktu itu bukan yang pertama kali untukmu?" tanyanya.


"Ya. Aku sudah pernah melakukannya dengan Steven. Dan memangnya itu pertama kali untukmu?"


"Ya." jawabnya singkat.


Aku agak terkejut dengan pernyataan nya. Kupikir ia sudah sering melakukan nya.


"Kamu menyetujui pernikahan itu, apa karena kamu sudah menyukaiku?" tanyanya.


Aku bingung menjawabnya.


"Emm.... maaf." ucapku.


"Ternyata, sulit sekali ya untukmu."


Aku memilih tidak menanggapinya.


Lalu, kami sampai ke sebuah cafe.


"Kamu nyari tempat dulu, aku mau ke toilet." ucap Nico.


Aku hanya menganggukan kepala.


"Bri." panggil seseorang kepadaku.


Aku segera mencari asal suara tersebut.


Dan dugaanku benar, itu adalah suara Rachel.


"Ya ampun, aku gak nyangka kita bisa ketemu disini." ucapnya.


Aku hanya diam saja.


"Bri. Aku minta maaf untuk kesalahanku dulu. Aku bener - bener bodoh banget." ucapnya bersalah.


"Lupain aja." balas ku.


Kulihat ia menatapku dengan bingung.


"Kita lupain aja kejadian dulu. Itukan yang kamu mau." ucapku dengan ketus.


Jujur saja, aku masih kesal melihatnya.


"Bri. Kita temenan lagi ya." ucapnya memohon, ia pun memegang tanganku.


"Aku janji, aku gak akan pernah bohongin kamu lagi." ucapnya lagi.


"Aku gak bisa. Aku gak butuh janji yang gak akan pernah bisa ditepati." ucapku.


"Maafin aku, Bri. Aku bener - bener nyesel. Cuma kamu teman yang kupunya." ucapnya sedih.


"Jika begitu, kenapa kamu gak berpikir seperti itu dari awal?"


Aku langsung meninggalkannya. Dan menunggu Nico di depan toilet.


"Loh? Bri, kok kamu ada disini?" tanyanya bingung.


"Kita pergi ke tempat lain aja."


"Kenapa?"


"Aku gak suka disini." ucapku.


"Emmm.. baiklah."


Kami kembali ke mobil. Selama perjalanan hanya keheningan yang ada.


"Kamu mau pesen apa, Bri?" tanya Nico.


"Aku samain aja kayak kamu." ucapku.


ddrrtt.. ddrtt...


Nomor siapa ini?


"Halo?" tanyaku ditelepon.

__ADS_1


"Dasar pengkhianat." ucap suara itu ditelepon.


"Siapa ya kamu? Kok bisa tiba - tiba bilang gitu ke saya!" ucapku dengan nada marah.


tut... tutt..


Kenapa dimatiin?


"Na, siapa yang telepon?" tanya Nico.


"Gak tahu. Orang aneh." ucapku dengan nada ketus.


Ia memilih diam.


Suara siapa sih itu tadi? Suaranya tidak terdengar jelas.


selesai makan, kami memutuskan untuk langsung pulang.


"Kita langsung pulang aja?" tanya Nico.


"Iya." jawabku singkat.


"Na, kalau ada masalah, kamu bisa cerita ke aku." ucapnya.


Aku hanya mengangguk. Entahlah, pikiranku masih berjalan ditempat lain.


••••••••••••••••••••••••••


13 Juli 2018


Sekarang aku sedang di supermarket untuk belanja.


Tetapi, aku tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang masih ada dalam hatiku.


"Stev." panggil ku.


Ia yang tadinya masih sibuk melihat belanjaannya. Akhirnya menoleh ke arahku.


Aku rindu dengannya.


"Stev." panggil ku sekali lagi.


Dia hanya menatapku datar. Apa benar dia sudah tidak mencintaiku lagi?


"Aku minta maaf, kalau udah sering buat kamu kecewa." ucapku sedih.


"Tapi, kenapa perasaanmu secepat itu hilang?" tanyaku.


"Semua itu bisa hilang." jawabnya datar.


"Aku tahu kita saling mencintai, dan sekarang aku tahu kamu masih mencintaiku." ucapku.


"Masih ada kesempatan untuk kita bersama lagi, Stev." ucapku.


"Kebahagianmu bukanlah aku. Lupakan saja semuanya." ucapnya.


Ia pergi, meninggalkan diriku lagi. Tidak ada harapan lagi, aku menyerah.


•••••••••••••••••••••••


20 Juli 2018


Tok... tok..


"Na, udah siap belum?" tanya ayah di depan kamarku.


"Iya, yah. Bentar lagi." jawabku yang masih sibuk memoles blush on di pipiku.


Setelah selesai, aku menaruh kembali perlengkapan make up nya ke dalam laci.


Tapi, aku tidak sengaja melihat sebuah benda kecil berbentuk lingkaran di bagian paling dalam laci ku. Ternyata, itu cincin yang pernah diberikan oleh Steven waktu itu. Aku menjadi teringat tentangnya.


Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik - baik saja?


"Na, ayo cepetan keluar." panggil ayah di depan kamar.


Aku tersadar dari lamunanku. Dan segera keluar kamar.


"Lama banget sih kamu." gerutu ayah.


"Maaf, yah."


"Cepetan keluar, Nico udah nungguin tuh."


"Iya, yah. Aku berangkat dulu ya." pamit ku.


Aku pun segera keluar rumah.


"Na." panggil Nico.


"Maaf ya, nunggu lama."


"Gapapa kok. Yuk masuk."


Aku masuk ke mobilnya.


"Kita pergi beli cincin dulu atau ke butik dulu?" tanyanya.


"Beli cincin dulu aja." jawabku.

__ADS_1


Aku sudah menerima perjodohan ini. Dan aku akan segera menikah dengannya dalam waktu dekat.


Entah, apa yang akan terjadi kedepannya? Aku tidak tahu.


"Menikah itu kayak gimana sih?" tanyaku pada Nico yang masih sibuk menyetir.


"Aku juga gak tahu." jawabnya.


"Apa kita bakal bahagia setelah menikah?" tanyaku sambil menatap kearahnya.


"Tentu saja kita akan bahagia, asal kamu dapat membuka hatimu itu untukku." jawabnya.


Ternyata, aku yang harus berusaha ya.


•••••••••••••••••••••••••••


24 Juli 2018


"Nih, Mei. Undangan buat kamu, jangan lupa dateng ya." ucapku kepadanya.


"Kamu beneran jadi nikah, Bri?" tanyanya meyakinkan.


"Iya." jawabku singkat.


"Berarti kamu jadi pindah dong?" tanyanya sedih.


"Iya."


"Kita bakal jarang ketemu dong."


"Aku bakal sering telepon kamu deh."


Ia pun hanya menganggukan kepalanya.


"Eh, kamu jadi ngelamar kerja dimana?" tanyaku pada Meira.


"Belum tahu. Sebenernya aku mau ngelamar di xxxx, tapi orang tau aku ngelarang. Karena aku gak mau debat, ya udah aku gak jadi ngelamar aja."


Kasihan Meira. Kenapa orang tuanya suka melarangnya sih?


"Yang sabar ya, Mei." ucapku.


Ia hanya tersenyum tipis ke arahku.


•••••••••••••••••••••••••


"Jadi, kamu udah ngirim undangannya ke Meira?" tanya Nico.


"Iya. Emmm... Nic, apa kita harus ngundang Steven juga?"


"Iya, kenapa? Kamu keberatan?" tanyanya.


"Enggak kok." ucapku.


Aku lanjut memakan camilanku.


"Aku sayang kamu, Na." bisiknya lembut di telingaku.


Aku menatap kearahnya.


"Emm.. aku sayang kamu juga." balas ku.


"Jangan bicara, jika itu bukan dari hatimu."


Aku pun terdiam mendengar ucapannya.


"Aku balik dulu ya, Na." pamitnya.


"Eh, iya."


Aku mengantarnya sampai keluar pagar. Dan ia segera pergi.


Apakah ada rasa untuknya dihatiku? Aku bingung.


••••••••••••••••••••••••


Ting tong... ting tong....


Steven membukakan pintunya.


"Hai." sapaku sambil tersenyum.


"Ngapain kesini?" tanyanya dingin.


"Emm... aku mau ngasih ini." ucapku sambil memberikan undangan pernikahanku kepadanya.


"Kamu akan menikah?" tanyanya.


"Iya. Kuharap kamu datang." ucapku.


"Emm... dan ini, aku kembalikan cincin yang pernah kamu kasih dulu ke aku." sambung ku lagi, sambil memberikan cincinnya.


"Aku akan datang. Dan simpan saja cincin ini." ucapnya sambil mengembalikan cincinnya ke tanganku.


Aku menatap lekat wajah Steven. Rasa sayang ini terlalu dalam untukmu.


"Emm.. aku pulang dulu ya. Bye." pamit ku.


Dia hanya diam. Aku pun segera masuk ke mobil dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2