Choose Destiny

Choose Destiny
Pernikahan


__ADS_3

1 Agustus 2018


"Bun, Nana kangen banget." ucapku sedih ke makam bunda.


"Seandainya, bunda masih hidup. Nana pasti bisa cerita semua kegelisahan Nana ini."


Air mataku perlahan turun.


"Besok Nana akan menikah, bun. Tapi, Nana khawatir dengan pilihan Nana ini. Nana harus gimana, bun?"


ddrrtt..... drrrtt....


Aku menghapus air mataku dan segera mengangkat teleponku.


"Halo?"


"Bri, bisa kesini gak?" tanya Meira di telepon dengan suara terisak.


"Eh, Mei. Kamu kenapa? Dimana kamu sekarang?" tanyaku panik, karena mendengar suaranya.


"Aku di xxxx, cepetan kesini ya." Ucapnya.


Tanpa basa - basi, aku langsung menuju mobil dan pergi ke tempat yang dibilang.


Sekitar 30 menit, aku pun sampai. Dan kulihat Meira sedang duduk di pinggir aspal sambil bengong. Aku pergi menghampirinya.


"Mei." panggil ku.


Ia menoleh ke arahku. Tiba - tiba air matanya turun kembali.


"Mei, kamu kenapa?" tanyaku khawatir.


Aku segera menenangkannya. Beberapa menit kemudian, ia sudah tenang.


"Bri, aku boleh pinjam uang gak?" tanyanya.


"Boleh kok. Berapa yang kamu perlu?"


"25 juta."


"Aku gak punya uang sebanyak itu sih, tapi mungkin aku bisa minta ayahku."


"Tolong ya, Bri."


"Iya, Mei. Sebenernya, ada masalah apa sih?" tanyaku penasaran.


"Emmm.. aku bertengkar dengan kedua orang tuaku, aku udah gak kuat lagi sama mereka." Ucapnya sedih.


"Jadi, kamu bakal pergi dari mereka?"


"Iya. Makanya aku mau pinjem uang dulu. Aku janji, aku bakal balikin uangnya kok." Ucapnya meyakinkan.


"Iya, Mei. Terus, kamu mau pergi kemana?"


"Kemana aja. Yang penting, aku bisa bebas."


Aku hanya bisa diam dan tersenyum ke arahnya.


••••••••••••••••••••••••


Aku yang barusan selesai meminjam uang dari ayah, langsung pergi menuju keluar rumah untuk mencari Meira. Kulihat Meira sedang duduk di bangku taman rumahku. Aku segera pergi menghampiri nya.


"Mei, ini uangnya." ucapku sambil menyerahkan amplop berwarna coklat itu kepadanya.


"Makasih ya, Bri." ucapnya sambil menerima amplop tersebut.


Lalu, ia pun memelukku erat.


"Maaf ya, Bri. Aku gak bisa hadir di pernikahan kamu besok." ucapnya dengan penuh rasa sesal.


"Gapapa kok. Jaga diri kamu baik - baik ya, Mei." ucapku sambil menepuk - nepuk punggungnya.


Ia melepas pelukannya dan menatap wajahku lekat.


"Makasih, Bri. Aku senang bisa mengenalmu." ucapnya.


Aku hanya bisa tersenyum menatapnya.


"Sering - sering hubungin aku ya." ucapku mengingatkan.


Ia menganggukan kepalanya.


Setelah itu, ia pergi meninggalkan rumahku. Entah, akan kemana dia nantinya?


Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya.


••••••••••••••••••••••••


2 Agustus 2018


Pemberkatan pernikahan berjalan dengan lancar. Sekarang aku dan Nico sudah menjadi suami istri di mata agama dan hukum.


Kami akan segera menempuh hidup yang baru mulai hari ini.


"Kamu capek?" tanya Nico yang berdiri disampingku.


"Eh, enggak kok."


Walau sebenarnya dalam hati, aku sangat capek berdiri, karena harus menyambut para tamu yang datang.

__ADS_1


"Kita udah berdiri 2 jam lebih, yakin kamu gak capek?" tanyanya kembali.


"Gapapa kok. Aku masih kuat."


Kenapa juga harus ada resepsi segala? Batinku kesal.


"Kenapa dia belum datang? Apa kamu lupa memberikan undangannya?" tanya Nico kepadaku.


"Siapa yang kamu maksud?" tanyaku balik.


"Steven." ucapnya.


Aku baru ingat, jika daritadi aku belum melihat batang hidungnya sama sekali.


"Emm... aku gak tahu."


Ia melirikku sekilas. Tapi, tiba - tiba pandangannya pergi ke arah lain.


"Dia datang." ucapnya.


Aku melihat arah pandangnya. Aku agak terkejut melihat Steven sedang merangkul seorang gadis yang sangat kukenal itu.


"Selamat atas pernikahannya." ucap Steven sambil menyalami Nico.


"Makasih udah mau dateng." balas Nico.


Ia hanya tersenyum.


"Selamat ya, Bri." ucapnya kepadaku.


"Semoga kamu bahagia bersama suamimu ini." sambungnya lagi.


"Emm... makasih." ucapku.


"Selamat ya, Bri. Buat pernikahannya." ucap gadis disebelah Nico tersebut.


Gadis itu adalah Karin. Bagaimana ini bisa berakhir seperti ini?


"Makasih, kak Karin." balas ku.


"Udah lama gak ketemu ya." ucapnya lagi.


Aku pun tersenyum ke arahnya. Lalu, Steven segera mengajak Karin untuk pulang. Katanya mereka hanya ingin mengucapkan selamat saja kepada kami.


"Dia sudah memiliki penggantimu." ucap Nico tanpa melihat kearahku.


Aku hanya diam meratapi semua yang sudah terjadi.


•••••••••••••••••••••••••••


3 Agustus 2018


Tok.... tok....


"Bentar, yah." jawabku yang masih sibuk menaruh beberapa barang ke dalam koper.


"Ya udah, cepetan ya. Kasian Nico udah nunggu."


"Iya, yah."


Sekitar 20 menit, aku selesai berkemas. Aku segera keluar dari kamarku.


"Udah selesai, Na?" tanya ayah.


"Udah, yah."


Tanpa aba - aba, Nico langsung mengambil koper ku dan memasukannya ke mobil.


Apa dia masih marah karena kejadian semalam?


"Emm.. ya udah, yah. Nana berangkat dulu ya." ucapku.


"Iya, Na. Hati - hati ya, kalau udah sampai. Jangan lupa hubungin ayah."


"Iya, yah."


Lalu, aku memeluknya erat. Selesai berpelukan, aku menatap wajah ayah lekat. Aku begitu sedih akan pergi jauh darinya.


Tanpa disadari, air mataku turun.


"Loh? Kok nangis, Na?" tanya ayah khawatir.


"Nana, bakal kangen sama ayah." jawabku terisak.


"Kalau kamu kangen sama ayah, kamu bisa sering hubungin ayah kok." ucapnya.


Aku segera menghapus air mataku.


"Ya udah, yah. Nana pergi dulu." pamit ku.


Ayah pun melambaikan tangannya. Lalu, aku segera masuk ke mobil.


"Kamu masih marah?" tanyaku kepada Nico yang masih fokus menyetir.


"Hmm.." balasnya.


Dia masih marah ternyata.


Dan akhirnya, tidak ada obrolan sama sekali antara kami selama perjalanan.

__ADS_1


2 jam lebih, kami sampai ke rumah Nico di xxxx.


"Ayo turun." ajaknya.


Aku pun turun dari mobil. Ia membawa semua koper ku masuk kedalam rumahnya.


"Om Dean udah gak tinggal disini?" tanyaku.


"Enggak, ayah udah pindah."


"Oo..." balas ku.


"Kamar kita dimana?" tanyaku.


"Ada di atas." jawabnya.


Aku menatap kearahnya yang sedang sibuk membereskan beberapa barangnya.


"Aku minta maaf untuk semalam." ucapku.


"Jangan dibahas lagi."


"Aku hanya belum bisa melupakannya, Nic."


"Lalu? Kita kemarin bertengkar, hanya karena dia bukan?" ucapnya dengan agak membentak.


"Aku gak mau berdebat lagi, Nic." ucapku kesal.


Ia hanya diam.


"Maaf." ucapnya lirih.


Aku menatap kearahnya.


"Kita lupakan saja yang terjadi tadi." ucapku.


"Emm.. bantu aku membawa koper ke kamar ya." pintaku.


Ia menjawabnya dengan anggukan. Lalu, segera membantuku.


••••••••••••••••••••••••


4 Agustus 2018


"Aku mau ngelamar kerja di perusahaan xxxx boleh?" tanyaku kepada Nico yang masih menikmati sarapannya.


"Gak. Mulai sekarang, aku yang akan membiayai semua kebutuhan kita. Kamu gak perlu kerja." jawabnya.


Lalu, apa gunanya aku kuliah sampai 4 tahun sih? Percuma jadinya.


"Kan nanti uangnya bisa kusimpan buat kebutuhanku sendiri." ucapku.


"Tetep gak boleh. Aku yang bakal kerja, dan kamu yang ngurus rumah." ucapnya dengan nada menekan.


Lalu, aku diam. Karena aku tahu, jika aku membalas perkataannya. Ini akan berakhir dengan pertengkaran.


"Emm... nanti aku boleh izin jalan - jalan gak?" tanyaku hati - hati.


"Kemana?"


"Ke mall mungkin, buat belanja."


"Besok aja."


"Loh? Kenapa?" tanyaku kesal.


"Besok kan Sabtu, jadi aku bisa ikut."


Kenapa juga dia ikut? Aku kan ingin sendiri saja.


"Ya udah." balas ku malas.


Aku pun beranjak dari duduk ku.


"Mau kemana?" tanya Nico.


"Mau tidur."


"Ini kan masih pagi."


"Tapi, aku ngantuk." jawabku kesal.


"Kamu boleh tidur, kalau aku udah berangkat kerja."


Apa - apaan? Dia menyuruhku menunggunya pergi? Ini kan masih jam 6 , sedangkan dia berangkat kerja jam 8. Berarti, aku boleh tidur 2 jam lagi dong.


"Ok." balas ku kesal.


Aku pun kembali duduk.


"Aku mau kamu malam ini." ucap Nico sambil menatapku.


"Emm.. maksud kamu?" tanyaku pura - pura tidak tahu.


Sebenarnya, aku tahu arah pembicaraan nya. Cuma aku malas saja menanggapinya.


"Kamu tahu arah pembicaraanku, Na."


"Aku gak mau. Aku sedang bulanan."

__ADS_1


Ia beranjak pergi dari kursinya. Kurasa ia kesal dengan jawabanku. Tapi, aku tidak berbohong. Aku memang sedang bulanan.


Memang sih, kami belum melakukannya lagi setelah menikah. Tapi, mau gimana lagi? Aku sedang tidak ingin melakukannya.


__ADS_2