
drrrrttt... drrrrttt....
"Halo, Na." sapa ayah ditelepon.
"Halo, yah."
"Ayah kangen sama kamu, Na."
"Nana juga, yah. Ayah jangan lupa selalu jaga kesehatan ya." ucapku mengingatkan.
"Iya. Gimana kabarmu sama Nico?" tanya ayah.
"Emm... baik - baik aja kok, yah."
"Jangan pernah buat suami kamu marah atau kesal ya, Na."
"Emm... iya, yah."
"Ya udah, Na. Ayah mau mandi dulu, buat siap - siap ke kantor."
"Iya, yah."
Ayah memutuskan sambungan teleponnya. Entah kenapa? Aku menjadi kepikiran dengan ucapan ayah tadi.
•••••••••••••••••••••••
5 Agustus 2018
"Yuk, Nic." ajakku kepadanya yang sedang duduk di sofa.
"Cincin dari siapa ini?" tanyanya sambil menunjukkan cincin tersebut.
"Emm... kamu ketemu dimana?" tanyaku panik.
Aku takut ini akan berakhir dengan pertengkaran.
"Aku ketemu di tasmu tadi."
Flashback on....
"Na, dompet kamu dimana? Aku mau tuker uang."
"Dompetku di tas warna putih, Nic." jawabku dari dalam kamar.
"Ok."
Flashback off...
Itukan tas yang kupakai saat aku mengantarkan undangan pernikahan untuk Steven waktu itu. Aku baru ingat, kalau aku belum mengeluarkan cincinnya dari tas. Aduh, ceroboh banget sih aku.
"Emm... itu cincin dari Steven. Aku lupa ngeluarin dari tas ku, Nic."
Ia menatapku tajam. Dia pasti akan marah kepadaku.
"Kamu masih menyimpannya?" tanyanya lagi.
"Aku kan udah bilang, aku lupa ngeluarin, Nic." ucapku kesal.
"Oo... berarti kalau aku buang cincinnya, gak masalah dong. Toh, ini kelihatannya cincin murahan." ucapnya dengan nada menghina.
Aku marah dengan ucapannya.
"Jangan berani - berani membuangnya, Nic. Cincin ini saja lebih berarti, daripada cincin yang kamu berikan waktu pernikahan." ucapku marah.
"Oh, gitu ya. Tentu saja ini berarti karena ia yang memberikannya bukan? Aku muak denganmu, Na." ucapnya dengan marah.
Nico langsung pergi meninggalkanku. Entah, pergi kemana dirinya? Aku tidak peduli. Aku sedang malas memikirkannya.
Rencanaku pergi ke mall juga gagal. Menyebalkan.
••••••••••••••••••••••••••
6 Agustus 2018
Semalam Nico tidak pulang ke rumah. Apa aku menunggunya? Tentu saja, tidak. Karena aku juga sedang kesal dengannya.
Aku keluar dari kamar setelah mendengar suara mobil Nico.
Ting tong... ting tong....
Aku membukakan pintunya.
"Kemana saja kamu semalam?" tanyaku.
"Bukan urusanmu." jawabnya ketus.
Ia segera masuk dan pergi ke kamar.
Aku hanya memandanginya dari jauh.
Lalu, tiba - tiba ia keluar dari kamar dengan membawa pakaian dan beberapa barang pribadi lainnya.
Aku pergi menghampiri nya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Nic?" tanyaku kebingungan.
"Aku mau pindah ke kamar sebelah."
"Kita pisah kamar?" tanyaku.
"Iya."
Ia masuk ke kamar sebelah. Dan mengunci pintunya.
Apa sekarang aku harus senang? Aku benar - benar bingung.
•••••••••••••••••••••••
drrrrttt... drrrrttt...
"Halo, Bri." sapa Meira di telepon.
"Eh, Mei."
"Selamat buat pernikahannya, moga langgeng sampai maut memisahkan." ucapnya.
Aku pun terdiam.
"Bri?" panggil Meira bingung.
"Eh, sorry. Aku gak fokus."
"Oo... minum air dulu gih. Biar fokus lagi."
"Enggak usah, sekarang dah fokus kok. Gimana kabarnya?"
"Baik - baik aja, Bri. Aku juga udah dapet pekerjaan sekarang. Jadi, aku udah bisa menuhin kebutuhanku sendiri."
"Bagus deh. Semangat buat kerjanya ya."
"Makasih. Kamu gimana? Udah dapet pekerjaan belum?"
"Emm.... aku gak dibolehin kerja sama Nico."
"Oo.. emangnya kenapa sih?"
"Katanya, biar dia aja yang kerja. Terus, aku disuruh ngurus rumah aja. Aku jadi mikir, kuliahku gak ada gunanya."
"Yang sabar, Bri."
"Iya. Emm.. kamu gak kangen orang tua kamu, Mei?"
"Gak. Ngapain aku kangen."
••••••••••••••••••••••
10 Agustus 2018
ddddrrtt.... drrrrttt....
"Halo, Nic." sapaku.
"Na, bisa tolong bawain berkas laporan ku ke kantor gak?"
"Bisa, berkasnya dimana?" tanyaku sambil menyeruput susu coklatku.
"Ada di meja kamarku."
"Ok. Tunggu ya."
"Iya, cepetan kalau bisa."
"Iya." balas ku.
Aku memutuskan teleponnya dan segera mengambil berkasnya.
Sekitar 25 menit, aku sampai di depan kantor Nico. Kulihat Nico sudah menungguku.
"Nih, berkasnya." ucapku sambil menyerahkan berkas tersebut.
"Makasih ya, Na."
"Iya."
"Hai, Nic." panggil seseorang kepada Nico.
Aku menengok ke asal suara tersebut. Ternyata itu, Michelle.
"Loh? Kamu habis kemana?" tanya Nico kepada Michelle.
"Aku barusan pergi keluar, buat istirahat." jawabnya.
Apa mereka tidak sadar, jika ada aku disini?
Michelle menengok ke arahku.
"Loh? Bri? Kamu kok disini?" tanya Michelle.
__ADS_1
Bukannya, daritadi aku sudah disini ya? Dia saja yang tidak sadar.
"Udah daritadi kok." jawabku.
"Oo... selamat ya buat pernikahannya. Aku gak nyangka, akhirnya kamu nikah dengan Nico. Karena waktu itu kamu bilang em.."
Ia tidak melanjutkan ucapannya. Nico melirik nya dengan bingung.
"Makasih buat ucapannya." ucapku malas.
Karena, aku tahu, apa maksud dari semua ucapannya tadi.
"Emm... ya udah, aku mau masuk dulu ya, Na." pamit Nico.
Aku pun hanya mengangguk.
"Eh, bareng dong." ucap Michelle.
Lalu, ia menyusul Nico dan merangkul lengannya.
Aku hanya menatap tajam kedua orang yang berlalu masuk kedalam kantor tersebut.
Dulu Michelle gak seperti itu padaku. Tapi, entah kenapa? Sekarang dia mengibarkan bendera permusuhan kepadaku.
Apa karena Nico ya?
••••••••••••••••••••••••
25 Agustus 2018
"Kamu mau sarapan apa?" tanyaku kepada Nico yang baru keluar dari kamarnya.
"Emm... aku sarapan di kantor aja." jawabnya.
"Aku bisa kok masakin sarapan buat kamu."
"Gak usah. Aku gak mau ngerepotin kamu."
Aku pun diam dan menatap kearahnya.
"Aku masakin sarapan ya." ucapku memohon.
"Ya udah." jawabnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.
Aku segera ke dapur dan memasak sarapan untuk Nico.
Setelah beberapa menit, sarapan yang ku buat selesai.
"Nih, sarapannya." ucapku sambil menaruh piring berisi nasi goreng ke meja.
"Makasih."
Ia pun melahap nya.
"Enak?" tanyaku sambil menatapnya.
"Lumayan." jawabnya sembari melanjutkan makannya.
"Emm... Nic, besok aku boleh pergi jenguk ayah gak?" tanyaku.
"Besok? Sendiri?"
"Iya."
"Gak boleh. Bahaya kalau pergi sendiri, aku gak ngizinin."
"Yah."
"Besok Minggu aja, aku anter."
"Ya udah deh, yang penting bisa ketemu ayah." jawabku.
Sudah beberapa hari ini, hubunganku dan Nico sudah membaik setelah kejadian cincin waktu itu. Meski, kami masih belum 1 kamar lagi.
•••••••••••••••••••••••••••
28 Agustus 2018
"Udah siap?" tanya Nico kepadaku.
"Udah, yuk berangkat." ucapku sambil memakai sabuk pengaman.
Ia segera menyetir mobilnya. Selama di perjalanan, aku dan Nico hanya diam saja.
Sekitar 2 jam lebih, kami sampai ke rumah ayah.
Ting tong... ting tong...
Pintu pun terbuka. Aku cukup terkejut, ketika melihat penampilan ayah. Kenapa ayah jadi kayak gini?
"Eh, Nana." ucap ayah.
Ayah menghampiriku dan memelukku.
__ADS_1
"Putri ayah yang paling cantik. Ayah kangen banget." ucapnya yang masih tetap memelukku.
Aku hanya dapat membalas pelukannya erat. Aku kasian melihat kondisi ayah sekarang.