
1 Januari 2018
"Ayah senang kalau kamu ingin menerima perjodohan ini." ucap ayah kepadaku.
Aku tak membalas apa-apa, aku hanya berusaha fokus menyetir. Setelah menempuh waktu yang lumayan panjang, akhirnya kami sampai ke rumah Nana.
Ting tong... Ting tong....
Ayah langsung menekan bel dengan buru-buru.
Pintu terbuka dan yang membukanya adalah Nana. Terlihat wajahnya nampak shock menatapku.
Aku yakin, ia pasti masih mengingat kejadian di rumah sakit waktu itu.
"Eh, kok dateng pagi - pagi gini?" tanya Om Andre yang baru datang setelah dipanggil oleh Nana.
"Ndre, aku dateng buat membicarakan perjodohan anak kita." ujar ayah tanpa basa-basi.
Aku melirik kearah Nana yang terkejut mendengarnya.
"Maksud om?" tanyanya.
"Bukannya kamu udah tahu, Na? Kamu belum memberitahu nya, ndre?"
"Eh, aku sudah memberitahu nya dari lama." jawab Om Andre.
"Nana gak mau dijodohin. Ini gak boleh terjadi!" ucapnya dengan marah.
Ia masuk ke kamar dan langsung menguncinya.
Tok tok..
"Na, buka pintunya." ucap Om Andre di depan kamarnya.
Aku hanya pasrah menerima penolakan darinya itu.
•••••••••••••••••••••••••••••
Beberapa minggu berlalu, aku mendapatkan kabar dari ayah bahwa Nana baru putus dari pacarnya.
"Sepertinya Nana memang jodohmu ya, Nic." ujar ayah yang ucapannya tak disaring dulu.
Ia putus, apakah karena aku? Ada perasaan bersalah dalam hatiku. Tapi, bukankah ini yang kumau? Aku bisa bersama dengan Nana sekarang.
Setelah kejadian itu, aku mulai mendekati Nana kembali. Aku selalu meneleponnya setiap waktu dan mengajaknya jalan-jalan bersama.
Tapi, sepertinya aku mendekatinya terlalu jauh.
"Maafkan aku, Na." kataku kepada Nana yang barusan selesai memakai pakaiannya.
"Antarkan aku pulang sekarang, Nic." pintanya.
Aku menuruti keinginannya tersebut. Ini kesalahanku, aku sangat-sangat bodoh.
••••••••••••••••••••••••
Aku sedang meminum teh yang sudah dibuat oleh Nana untukku.
"Jadi, kamu udah ngirim undangannya ke Meira?" tanyaku sambil melirik kearahnya.
"Iya. Emmm... Nic, apa kita harus ngundang Steven juga?" tanyanya dengan gugup.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan?" ucapku sambil menatap kearahnya.
"Enggak kok." balasnya.
Ia lanjut memakan camilan nya.
"Aku sayang kamu, Na." bisikku lembut di telinganya.
__ADS_1
"Emm.. aku sayang kamu juga." balas nya.
"Jangan bicara, jika itu bukan dari hatimu."
Aku tahu kamu berbohong. Dan aku tidak suka itu.
"Aku balik dulu ya, Na." pamitku yang sudah beranjak dari duduk ku.
"Eh, iya."
Aku pun pergi menggunakan mobilku menjauh dari rumahnya.
27 Juli 2018
Aku memberikan undangan pernikahanku kepada Michelle. Ekspresinya berubah yang dari senang menjadi dingin.
"Jangan lupa datang ya." ucapku mengingatkan.
"Emmm... Maaf, Nic. Sepertinya aku gak bisa datang deh." balasnya.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Ada urusan ditanggal itu. Sorry ya." jawab Michelle.
Aku tahu ada yang tak beres dengannya. Namun, aku berusaha tak memperdulikannya.
•••••••••••••••••••••••••••
"Kamu tak mengundang Mamamu?" tanya Ayah yang sedang membaca koran.
"Untuk apa? Aku hanya butuh ayah disampingku." jawabku sambil melepaskan dasi di kerah bajuku.
"Benar. Hanya ayah yang ada untukmu." katanya dengan senyum miring menghiasi bibirnya.
2 Agustus 2018
Aku selalu melirik kearahnya. Melirik nya yang akan selalu bersamaku nantinya.
"Selamat atas pernikahannya." ucap Steven sambil menyalamiku.
"Makasih udah mau dateng." balasku sembari tersenyum paksa.
Kupikir pria seperti dia tidak mau datang, tapi ternyata ia jauh lebih berani dibanding yang kukira.
"Selamat ya, Bri." ucapnya kepada Nana.
"Semoga kamu bahagia bersama suamimu ini." sambungnya lagi.
"Emm... makasih." ucap Nana.
"Selamat ya, Bri. Buat pernikahannya." ucap gadis disebelah Steven tersebut.
Aku tak mengenal gadis itu, tapi kurasa Nana mengenalnya.
"Makasih, kak Karin." balasnya.
"Udah lama gak ketemu ya." ucap gadis bernama Karin itu.
Mereka pergi begitu saja, tanpa menikmati jamuan makannya.
"Dia sudah memiliki penggantimu." ucapku tanpa melihat kearahnya.
Apa Nana peka? Apa dia peka, dengan alasan Steven membawa gadis lain untuk menemaninya? Kurasa tidak. Ia sama sekali tak sepeka itu.
•••••••••••••••••••••••••
Kehidupan setelah menikah tak seindah yang dibayangkan, aku dan Nana menjadi sering berdebat. Entah itu masalah cincin dari Steven, dan masalah ia tak mau melayani ku.
Aku tahu bahwa dia belum bisa menerimaku. Tapi, aku ingin dia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan pengertian untukku.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu ketus seperti itu?" tanya Michelle kepadaku.
"Gapapa." jawabku singkat.
"Ada masalah? Kamu bisa cerita kepadaku."
Aku menceritakan banyak hal tentang masalahku ini kepada Michelle. Ia mendengarkan ceritaku dengan baik. Ada perasaan lega, ketika aku bisa membagi ceritaku ini kepada orang lain.
Michelle memanglah sahabat terbaikku. Hanya dia yang dapat memahamiku.
"Nic, jika aku memintamu datang ke rumah untuk menemaniku. Apa kamu akan datang?" tanya Michelle kepadaku.
"Tentu. Kita bisa bermain game sampai larut malam." jawabku senang.
Itu hal yang biasa kami lakukan.
•••••••••••••••••••••••••••
2 September 2018
Saat itu aku baru sampai ke rumah setelah pulang dari kantor. Aku tak sengaja melihat mobil warna biru di depan rumahku. Aku merasa sangat mengenal mobil itu. Apa hanya perasaanku saja?
Ting tong.. Ting tong...
Nana langsung membukakan pintu untukku.
"Hai." sambutnya.
"Mobil siapa didepan?" tanyaku bingung.
"Itu mobil mama kamu. Masuk yuk." ajanya sambil menggandeng tangaku.
Apa dia bilang? Itu mobil Mama?! teriakku dalam hati.
"Eh? Nico."
Kenapa Mama bisa datang kesini sih?
"Ngapain mama kesini?!" ucapku tak suka.
"Kenapa sih, Nic? Kan gak masalah, kalau mama kamu main kesini." ucap Nana memberitahu.
Aku langsung menatapnya tajam.
"Emm.. maaf ya, Nic. Mama ganggu kamu ya? Mama kesini cuma mau ngucapin selamat aja buat pernikahan kamu."
"Mama jangan pernah kesini lagi. Mama tahukan kalau Nico gak suka ngelihat mama!" bentakku.
"Nic, gak seharusnya kamu ngomong gitu. Dia kan mama kamu, udah gak waras ya kamu!" ucap Nana membentakku.
"Yang gak waras itu kamu. Ngapain kamu bolehin dia masuk kesini!" ucapku membentak balik.
Mama pun bergegas keluar dari rumah.
Nana masuk kembali ke rumah setelah pergi mengejar Mamaku.
"Kenapa sih kamu?" tanyanya kepadaku yang sedang duduk di sofa.
Aku tidak menjawab ucapannya. Dan langsung pergi masuk ke kamar.
Sebenarnya aku sangat merasa bersalah karena sudah membentak Mamaku sendiri. Tapi, entah kenapa aku tak bisa mengontrol emosiku ini.
•••••••••••••••••••••••••••
Beberapa hari ini, Nana seperti menjauhiku. Kurasa karena kejadian waktu itu. Aku hanya bersikap cuek saja kepadanya.
Hubungan kami menjadi renggang. Aku selalu ingin berusaha meminta maaf padanya. Namun, ego ku lebih besar dari yang kukira. Aku jadi tak berani untuk melakukannya.
Semua pertengkaran yang terjadi dalam rumah tangga kami. Diwarnai bermacam-macam warna yang menghiasinya dan sekarang aku hanya ingin mencari jalan keluar agar semua ini bisa kembali seperti semula.
__ADS_1