
5 Agustus 2036
"Aku gak mau melakukan kemo." ucapku kepada Nico.
Nico langsung menengok kearahku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku takut. Itu pasti akan terasa sakit." jawabku sambil menunduk ke lantai rumah sakit.
"Kamu pernah cerita, bahwa Steven juga melakukan kemo ini. Dan kamu sendiri yang menyuruhnya, lalu kenapa kamu sekarang takut untuk melakukan hal yang sama dengan Steven?"
Aku tak menjawab pertanyaannya.
"Na, aku gak bakal maksa kamu. Semua pilihan ada di tangan kamu." ujar Steven sambil menyentuh punggung tanganku.
Aku menatapnya lekat. Apa aku harus melakukannya? Setelah sekian lama, aku menghindari pengobatan ini dari dokter.
"Yuk, kita pulang." ajak Nico yang sudah berdiri dari duduknya.
Aku ikut berdiri dan ia langsung menggandeng tanganku erat.
Sepertinya, aku harus melakukannya. Batinku.
•••••••••••••••••••••••
27 Agustus 2036
"Na, apa kepalamu masih pusing?" tanya Nico hati - hati.
Aku yang tadinya sedang melihat kearah jendela, langsung berbalik menoleh kearah Nico yang sudah berada di samping kasur ku.
"Tidak." jawabku singkat.
Sekarang aku sudah tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalaku. Hal yang pernah dirasakan Steven dulu, juga aku rasakan sekarang.
Itu menyakitkan, namun aku harus kuat.
"Jika, masih sakit. Kamu bisa memberitahuku." ujar Nico sambil mengelus punggungku.
"Lalu? Apa kamu akan menyuruhku meminum obat lagi?" tanyaku
Ia berhenti mengelus punggungku, dan menatap wajahku.
"Obat itu hanya untuk mengurangi rasa sakitmu, Na. Kumohon mengertilah." jawabnya.
"Aku mengerti." balas ku.
Aku menatap kembali kearah jendela.
Sepertinya, tak lama lagi aku akan kembali bersama kedua orang tuaku. Namun, apakah Nico dapat bertahan sendiri disini tanpaku?
•••••••••••••••••••••••••
1 November 2036
Sudah berapa hari ini, kepalaku sangat pusing. Apa ini efek dari kemo kedua yang barusan kulakukan?
Aku berharap rasa sakit ini cepat hilang.
"Na, ayo makan dulu." ajak Nico sambil menepuk bahuku.
Aku berusaha bangun dari kasur. Namun, kurasa tenagaku tidak cukup kuat untuk itu.
"Sini kubantu." ucap Nico sambil membantuku bangun.
Setelah aku berada di posisi yang nyaman, Nico pun menyuapiku makanan.
"Cukup, aku sudah kenyang." ujarku.
__ADS_1
Nico hanya mengangguk paham. Dan ia yang menghabiskan makananku tadi.
Perasaan, makanan itu tidak enak. Tapi, kenapa kamu mau menghabiskannya?
"Apa diluar sedang hujan?" tanyaku kepada Nico sembari menatap kearah jendela rumah sakit.
"Ya, sepertinya begitu."
Sudah lama, aku tak melihat hujan. Apakah rasanya masih sama seperti dulu?
•••••••••••••••••••••••••••••••
20 November 2036
"Nic, kemarilah." pintaku.
Nico yang tadi masih sibuk memasak, akhirnya menghampiriku yang berada di kamar.
"Ada apa, Na?" tanyanya.
"Menurutmu wig mana yang bagus kupakai?" tanyaku.
"Kenapa kamu mau memakai wig?" tanyanya balik.
"Karena aku ingin. Jujur saja, aku merasa aneh jika tak mempunyai rambut." jawabku sedih.
"Apa yang aneh? Menurutku, kamu tetap cantik." ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Ia tiba - tiba mengecup bibirku pelan.
Aku agak kaget, dengan ciumannya tersebut.
"Na." panggilnya pelan setelah menjauhkan bibirnya.
Aku menatapnya dengan bingung.
"Aku mencintaimu." lanjutnya pelan.
Dan ia menciumku kembali. Lebih, lama dari sebelumnya.
•••••••••••••••••••••••••••
1 Desember 2036
Aku barusan selesai melakukan kemo ketigaku. Kemo yang paling sakit, diantara kedua kemo yang pernah kujalani.
Apakah ini yang Steven rasakan dulu? Aku menjadi menyesal, pernah memaksanya.
"Na, apa kamu baik - baik saja?" tanya Nico cemas.
Aku dengan wajah pucatku menengok kearahnya.
Aku membalas pertanyaan Nico hanya dengan anggukan pelan. Karena aku sudah tidak kuat untuk berbicara lagi.
"Kamu harus kuat." ujar Nico sambil menggenggam erat tanganku.
Kurasakan ada air yang menetes ditelapak tanganku. Ternyata, Nico sedang menangis.
"Kenapa kamu menangis?" tanyaku dengan susah payah.
Nico menjawabnya dengan gelengan saja. Aku tahu ada yang tidak beres, dan aku tahu dia menyembunyikannya dariku.
Namun, lebih baik kamu sembunyikan saja. Karena aku sama sekali tak ingin mendengarkannya.
•••••••••••••••••••••••
6 Desember 2036
Sudah beberapa hari setelah kemo ketiga. Namun, kondisiku sama sekali belum membaik.
__ADS_1
Aku sudah pasrah, jika memang sudah tak ada harapan lagi untukku.
"Dulu, setelah kepergian Steven. Aku benar - benar merasa sangat terpukul. Untuk menutup kesedihanku itu, aku memutuskan pergi mengejar cita - citaku yang tertunda. Akhirnya, aku berhasil menjadi arsitektur yang sukses. Namun, lagi - lagi kesedihan selalu menimpaku. Ayahku jatuh sakit, saat itu aku tak bisa berada di samping ayah terus karena pekerjaan. Dan ayah dirawat oleh sekretarisnya. Namun, setelah melewati masa kritisnya akhirnya ayah pergi meninggalkanku. Aku yang sudah tak tahu arah hidupku lagi, berulang - kali berusaha mengakhiri hidupku sendiri. Namun, aku tidak jadi melakukannya karena aku selalu mengingat seseorang yang mencintaiku."
Aku menatap Nico lekat - lekat.
"Kamulah orangnya, orang yang selalu ada dipikiranku. Aku bangkit dari kesedihanku dan menatap masa depanku kembali. Meski, akhirnya aku mendapat kenyataan bahwa aku sakit kanker rahim. Awalnya aku takut, namun akhirnya aku berusaha menerimanya. Aku berkata dalam hati, bukankah ini yang kumau? Pergi cepat dari dunia ini? Namun, lagi - lagi pikiran tentangmu lah yang membuatku selalu khawatir." ucapku yang mulai terisak.
"Nic, aku sangat takut meninggalkanmu sendiri di dunia ini." lanjut ku.
Tiba - tiba, Nico memelukku erat.
"Aku juga takut kamu meninggalkanku. Namun, jika itu sudah takdir. Aku juga tidak bisa melakukan apapun lagi. Yang kuharapkan, disana nanti kamu kembali sehat dan kembali bahagia berkumpul dengan Steven dan kedua orang tuamu. Jangan merasa cemas tentang diriku." ujar Nico sambil mengelus rambutku pelan.
Aku pun menangis deras dalam pelukannya itu. Aku tak tahu, kenapa hatiku masih takut untuk meninggalkannya?
••••••••••••••••••••••••••••
24 Desember 2036
"Na, kamu yakin mau pulang besok?" tanya Nico.
"Iya." jawabku singkat.
"Tapi, kondi..." ucapannya terpotong karena aku tiba - tiba mencium bibirnya.
"Diamlah." kataku di sela - sela ciuman kami.
Aku dapat mendengar jelas degupan jantungnya, sangat - sangat cepat. Selesai ciuman, aku langsung memeluknya erat.
Nic, kurasa waktuku tak lama lagi. Sekarang kamu harus berusaha untuk kuat tanpa diriku.
•••••••••••••••••••••••••••••••
25 Desember 2036
Aku sedang bermimpi, aku sedang berada di hamparan pasir. Dan disana aku melihat seseorang yang sangat kukenal sedang berdiri membelakangiku. Aku langsung memanggil namanya, namun ia hanya menoleh dan tersenyum tipis kepadaku.
Ketika aku ingin menghampirinya, ia sudah hilang bagaikan pasir berhembus terbawa angin.
"Bangun, Na." panggil Nico sembari mengguncang - guncang tubuhku.
Aku terbangun dari mimpi itu.
"Na, kamu gapapa?" tanya Nico khawatir.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman saja.
"Nic, izinkan aku tidur kembali. Aku masih sangat mengantuk." ujarku.
"Baiklah." balasnya dengan nada agak cemas.
Ia beranjak untuk keluar dari kamar. Namun, aku segera menggenggam tangannya.
"Nic, aku mencintaimu. Dan akan selalu begitu. Maaf, karena aku tidak pernah bisa mengatakannya dengan baik. Dan terimakasih sudah mau kembali untukku."
Tatapan Nico berubah menjadi sedih.
"Tidurlah, Na. Kamu sangat lelah sekarang." balasnya sembari melepaskan tanganku darinya.
Sebelum ia keluar dari kamar, ia berkata kepadaku.
"Aku juga mencintaimu. Dan sekarang tidurlah dengan tenang."
Aku pun tertidur dalam semua kenanganku di dunia ini.
Hai, namaku Brianna Maurell. Dan inilah akhir ceritaku.
..."Aku mencintai kedua pria, dalam perasaan yang sama."...
__ADS_1
...~Brianna Maurell~...