Choose Destiny

Choose Destiny
Datang ke Rumah


__ADS_3

Ting tong... Ting tong...


Ayah membukakan pintunya.


"Ayah." panggil ku.


Lalu, aku segera memeluknya. Ayah pun membalas pelukanku dengan erat. Setelah beberapa menit pelukan, aku melepaskan pelukannya.


"Kamu kok gak ngabarin ayah, kalau mau kesini?" tanya ayah.


"Aku lupa, yah." ucapku cengengesan.


"Kamu bakal nginep?" ucapnya sambil menatap koper yang kubawa.


"Iya, yah. Aku udah izin Nico juga kok."


Maaf ya, yah. Nana bohong.


"Ya udah, yuk masuk." ajak ayah.


Aku pun masuk ke rumah.


"Kenapa Nico gak ikut kesini juga?" tanya ayah penasaran.


"Emm.. Katanya dia lagi ada kerjaan, yah. Jadi, gak bisa ikut." jawabku bohong.


"Ooo... ya sudah, kamu mau langsung ke kamar aja?"


"Iya, yah. Nana capek, mau istirahat."


Aku segera menuju ke kamar. Kubaringkan tubuhku ke ranjang. Dan berusaha untuk pergi ke alam mimpi. Akhirnya, aku berhasil.


•••••••••••••••••••••••


12 Oktober 2018


"Pagi, Na." sapa ayah.


"Pagi." balas ku.


Aku duduk di sofa sebelah ayah. Sambil memposisikan diri untuk tidur kembali.


"Udah pagi, Na. Tidur aja kamu." ucap ayah.


"Nana masih ngantuk, yah. Kemarin Nana begadang nonton film di TV."


"Salah kamu sendiri sih."


Aku hanya menatap ayah kesal. Lalu, segera menutup mataku kembali.


"Oh ya, katanya Nico mau kesini nanti." ucap ayah.


Aku pun bangun, akibat ucapan ayah tadi. Hilang sudah rasa kantuk ku.


"Ayah serius?" tanyaku meyakinkan.


"Iyalah. Emang Nico gak bilang ke kamu?" tanya ayah.


"Bilang kok. Nana baru inget." ucapku berbohong.


Aduh, kenapa dia bakal kesini sih? Bagaimana aku menghadapinya nanti? Atau jangan - jangan dia kesini, buat ngasih surat perceraian lagi? Aduh, pikiranku benar - benar kalut sekarang.


Setelah itu, aku langsung bergegas ke kamar. Untuk bersembunyi apabila ia beneran datang nantinya.


•••••••••••••••••••••••


Tok... Tok....


"Na, buka pintunya. Nico udah dateng nih." panggil ayah dari depan kamar.


Aku terbangun dari tidurku. Dan memeriksa jam dinding, ternyata sudah jam 1 siang sekarang. Aku ketiduran cukup lama.


"Na." panggil ayah lagi.

__ADS_1


Aku baru sadar dengan ucapan ayah tadi. Bahwa Nico sudah sampai kesini. Aku menjadi gugup. Apa yang harus aku lakukan?


Setelah beberapa menit, aku pun baru keluar dari kamarku.


"Kamu lama banget sih, Na." gerutu ayah.


"Maaf, yah. Nana ketiduran tiduran tadi." ucapku.


Aku menatap kearah Nico yang daritadi memandangiku.


"Hai, Na." sapa Nico dengan manis.


Aku pun tidak membalasnya.


Buat apa sih dia kesini? Batinku heran.


"Nico bakal nginep disini juga. Jadi, kamu tidur bareng Nico ya." ucap ayah.


Aku kaget dengan ucapan ayah.


Ayah menyuruhku 1 kamar dengan pria ini. Aku gak mau. Batinku kesal.


"Kamar kita yang kosongkan masih banyak. Kenapa Nico harus 1 kamar denganku?" tanyaku.


"Loh? Emangnya kenapa kalau kalian 1 kamar? Kan kalian juga udah menikah." ucap ayah.


Aku langsung diam.


Ddrrrt... Drrrtt....


Ayah yang mendapat panggilan telepon itu, langsung bergegas mengangkatnya dan pergi menjauhi kami.


"Na, maafin aku ya." ucap Nico kepadaku.


"Kenapa sih kamu kesini?" tanyaku tidak senang.


"Aku cuma mau perbaiki semua yang sudah kuperbuat." ucap Nico sedih.


"Gak ada yang perlu kamu perbaiki, Nic. Aku sudah muak denganmu." ucapku kesal.


"Kalian barusan ngomong apa?" tanya ayah.


"Gak ngomong apa - apa kok, yah." ucapku.


Aku menatap kearah Nico. Dan mengisyaratkan agar dia tidak bicara macam - macam kepada ayah.


Ia pun membalasnya dengan senyum tipis. Yang membuatku bingung.


••••••••••••••••••••••••


"Aku gak mau tidur bareng kamu. Jadi, kamu tidur di sofa itu aja." ucapku sambil menunjuk sofa dekat kasurku.


"Ok." balasnya singkat.


Kupikir dia akan menolaknya? Ternyata, dia mau - mau aja.


Aku segera membaringkan tubuhku ke kasur.


"Aku minta maaf, Na." ucap Nico.


Aku tidak menanggapi ucapannya. Dan pura - pura tidur.


"Aku dan Michelle sudah sering melakukan itu, tapi aku gak pernah melakukan yang lebih dengannya. Kumohon percayalah. Aku kan berusaha memperbaiki segalanya." ucap Nico.


"Apa yang bisa kamu perbaiki?" tanyaku sambil menatapnya.


"Rumah tangga kita." ucapnya.


"Buktikan." balas ku singkat.


Aku kembali berbaring. Dan segera menutup mataku lagi. Lalu, aku pun tertidur pulas.


••••••••••••••••••••

__ADS_1


13 Oktober 2018


Aku barusan terbangun dari tidurku. Dan jarum jam sudah menujukan pukul 6 pagi. Aku segera beranjak dari kasur, untuk ke kamar mandi.


Eh? Nico masih tidur? Kupikir dia sudah bangun?


Lalu, aku mengambil selimut di lemari ku. Dan menyelimuti Nico yang sedang tertidur.


Entahlah, kenapa aku melakukannya?


Setelah, selesai dari kamar mandi. Aku langsung turun ke lantai bawah untuk menuju ke dapur. Tetapi, aku mendengar suara ayah sedang mengobrol di ruang tamu.


Apa ada tamu? Batinku.


Aku mengintip dari belakang tembok. Dan ternyata, ayah sedang berbicara dengan om Dean dan 1 perempuan yang tak kukenal.


Siapa perempuan itu? Dia terlihat seperti tante - tante. Batinku


"Eh? Nana." panggil om Dean.


Aduh, ketahuan. Kok bisa sih, om Dean nyadar kalau aku disini.


Aku pun yang ketahuan segera keluar dari belakang tembok.


"Pagi, om." sapaku ramah.


"Udah lama ya, gak ketemu." ucap om Dean.


"Iya, om."


"Ini putri kamu ndre?" tanya perempuan tadi ke ayahku.


"Iya, dia Nana." jawab ayah.


"Ya ampun, kamu kok udah besar aja. Makin cantik kamu." pujinya.


"Emm.. Makasih." ucapku canggung.


"Kamu masih inget sama tante?" tanya tante tersebut.


Memangnya kita pernah ketemu? Batinku bingung.


"Maaf, tan. Nana lupa." jawabku.


"Sayang banget kamu lupa sama tante. Perasaan dulu tante itu psikiater kamu loh. Beneran lupa nih?" tanya tante itu tak yakin.


Hah? Psikiaterku? Memangnya aku pernah ada gangguan mental? Batinku bingung.


"San, jangan dibahas lagi. Tolong." ucap ayah memohon.


"Ya udah, aku kan cuma ngomongin aja." ucapnya sedih.


"Emm.. Maksud tante tadi apa ya? Emangnya Nana pernah kena gangguan mental?" tanyaku bingung.


"Udah, Na. Gak usah dibahas lagi. Sekarang kamu siapin sarapan aja." perintah ayah.


Kulihat om Dean tersenyum tipis mendengar ucapan ayah.


Aku tak mengerti dengannya.


Setelah itu, aku segera melakukan yang ayah perintah. Yaitu, membuat sarapan. Sekitar 30 menit, aku selesai membuatnya.


"Sarapannya udah siap." ucapku kepada ayah yang masih berbicara dengan tante dan om Dean.


"Oh, iya. Makasih ya, Na. Jangan lupa panggil Nico juga, buat sarapan." ucap ayah.


Sebenarnya, aku malas untuk memanggilnya. Tapi, karena disuruh ayah dan ada om Dean juga. Tidak mungkin aku tidak memanggilnya.


Aku langsung menuju ke kamar.


"Nic." panggil ku.


Ia tidak bangun. Akhirnya, aku memanggilnya sekali lagi.

__ADS_1


"Nic, ayo bangun." ucapku sambil mengguncang tubuhnya.


Tetapi, ia masih tidak bangun. Aku mulai khawatir dan memikirkan yang macam - macam.


__ADS_2