Choose Destiny

Choose Destiny
Steven dan Rahasianya (2)


__ADS_3

25 Februari 2015


Kenapa Brianna dari tadi tidak mengangkat telepon ku? Aku sudah mencoba beberapa kali menghubungi nya, tapi tidak ada satupun yang diangkat. Aku segera mempercepat mobilku agar segera sampai di depan rumahnya.


Namun, aku malah melihat Brianna baru keluar dari mobil pria lain. Bahkan ia sedang berterimakasih kepada pria itu.


"Bri." panggil ku.


Ku lihat ia sangat terkejut dengan suaraku. Setelah beberapa percakapan kecil, pria yang dimobil itu pergi.


"Kamu gak lagi selingkuh kan? tanyaku menginterogasi.


Namun, ia menjawabnya dengan ketus. Dan ia menyuruhku menunggunya yang akan ganti baju dikamar.


Aku masih kepikiran pria tadi. Apa dia akan jadi sainganku?


Brianna lalu datang sambil membawakan air untukku.


Aku menatap wajahnya, dan menyadari jika matanya bengkak. Aku langsung menanyainya dan ia menjawab bahwa ia hanya kurang tidur.


Apa itu mungkin? Apa dia sedang berbohong?


•••••••••••••••••••••••••••••


Aku barusan selesai mengantar Brianna ke kampus dan segera mengendarai mobilku.


Namun, aku memutuskan untuk turun dari mobil dan mengamati Brianna dari jauh.


Tapi, kenapa aku malah melihat Brianna ditarik tangannya oleh kedua pria yang tak kukenal itu. Kurang ajar.


Aku langsung menghampiri mereka. Dan memukul kedua pria tersebut. Aku ingin menghabisi mereka, namun ku batalkan ketika Brianna menyuruhku berhenti.


Aku langsung menarik tangan Brianna dan menjauh dari tempat itu.


Aku sangat khawatir pada pacarku ini. Tak boleh ada siapapun yang boleh menyakitinya.


Akan kuhabisi kedua pria tadi, dan akan kubuat mereka jera.


•••••••••••••••••••••••••••••••••


Buagh.... Buagh....


"Lain kali, berpikirlah lebih dulu sebelum bertindak." ucapku sambil tersenyum mengejek.


"Kalau tidak, inilah yang akan terjadi." lanjut ku lagi sambil menatap mata kedua pria itu.


Kedua pria yang sudah mengganggu Brianna, sudah ku selesaikan. Aku tak perlu khawatir dengan Brianna lagi.


"Kamu monster." ujar pria yang masih menatap kedua temannya yang sudah seperti sekarat.


"Bukan. Aku hanya manusia biasa. Dan mulai sekarang, pergilah jauh-jauh dari kehidupan Brianna. Dan jangan pernah melaporkan semua kejadian ini ke polisi atau ke Brianna sekalipun." ucapku sambil asik melihat kedua pria yang sedang bersusah payah bernafas.


"Gila, elo pria gila!"


"Ya, teriak saja sekeras-kerasnya. Hari ini nyawamu selamat, tapi hari lainnya mungkin tidak." ujarku sambil tersenyum licik.


"Aku selalu memantaumu." sambung ku.


Lalu, meninggalkan ketiga pria itu.

__ADS_1


Yang kupikirkan setelahnya, hanyalah rasa bersalah.


•••••••••••••••••••••••••••••••


26 Juli 2015


Aku datang ke rumah Brianna untuk mengajaknya jalan - jalan. Kami pun pergi dengan mobilku.


Namun, tiba-tiba terjadi perdebatan antara kami. Sudah kuduga bahwa Brianna melihat aku ciuman dengan temannya itu.


Tapi, reaksiku hanya biasa saja. Karena aku memang tak merasa ada yang perlu diperdebatkan. Aku juga tidak mau membohonginya. Tapi, kulihat ia sangat shock dengan jawabanku itu.


•••••••••••••••••••••••••


"Lihat apa yang udah dilakuin Brianna ke aku!" teriak gadis aneh itu


kepadaku.


"Tidak mungkin Brianna yang melakukannya. Dan aku juga tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu." balas ku ketus.


Seharusnya gadis aneh itu segera tahu diri tentang posisinya. Ia bilang akan berhenti mengikutiku, nyatanya ia tetap mengikutiku terus.


31 Desember 2015


Aku sedang perjalanan ke rumah Brianna. Aku ingin mengajaknya untuk menonton kembang api bersama.


Namun, ketika aku sampai di depan rumahnya. Aku malah mendapatinya pergi dengan mobil seorang pria.


Aku memutuskan untuk mengikuti mereka. Dari mereka yang pergi ke cafe sampai dimana mereka malah berpelukan.


Kenapa mereka seperti pasangan kekasih? Batinku penuh tanya.


••••••••••••••••••••••


Aku datang ke rumah Brianna, ia sangat terkejut dengan kedatanganku. Lalu, aku segera mengajaknya jalan-jalan.


"Gimana kuliah kamu?" tanyaku basa basi di mobil.


"Emm... baik - baik aja kok, Stev."


"Udah gak ada yang gangguin kamu lagi kan?"


"Enggak ada."


Aku tersenyum senang, itu artinya mereka memahami perkataanku.


Setelah beberapa jam kami jalan-jalan di mall, kami pun pulang.


Karena aku telah membayar semua belanjaannya, aku meminta imbalan kiss darinya.


Ia yang awalnya hanya mencium pipiku saja. Akhirnya mencium bibirku dan memelukku.


Namun, sekelebat pikiran menghampiriku.


"Kamu pergi sama siapa waktu tahun baru?" bisikku ditelinganya.


Ia terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.


Aku merasa ia seperti sedang terpergok selingkuh dibelakangku. Ia grogi saat menjawab pertanyaanku itu.

__ADS_1


Kenapa sih, reaksi darinya seperti ini? Apa benar ia menyukai pria itu juga?


••••••••••••••••••••••••


Buagh... Buagh...


"Kenapa kamu berani sekali mendekati Brianna lagi?" tanyaku sambil menginjak-injak tubuhnya.


"Aku hanya ingin memberitahunya tentang sosok asli dirimu itu." jawabnya sambil tersenyum licik.


Dasar, pria ini benar-benar tidak tahu diri. Untung saja, aku memantaunya saat dia ke laundry.


"Kamu seharusnya memperhatikan jadwal kelasku. Karena jika aku tidak ada kelas, aku selalu membuntuti mu." ujarku sambil menepuk - nepuk pipinya yang sudah memerah.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi." ancam nya.


"Laporkan saja. Aku tidak takut." bisikku pelan ditelinganya.


"Karena sebelum kamu melaporkannya, aku bisa saja membunuhmu lebih dulu." lanjutku.


Ia benar-benar ketakutan dengan ucapanku itu. Perasaan, aku hanya membohonginya saja. Aku bukan pria yang tega membunuh orang seperti itu.


"Pergilah yang jauh dan jangan pernah kembali lagi. Suruh temanmu juga ikut denganmu." perintahku.


Aku pergi meninggalkannya. Setelah sampai rumah, aku segera melepas pakaian yang kupakai tadi dan membakarnya sampai habis.


Kenapa aku melakukan ini? Aku tak mengerti.


•••••••••••••••••••••••••


2 Februari 2016


Aku datang menghampiri Brianna di rumahnya. Aku ingin merayakan hari jadian kita. Tapi, ia dengan ketus malah menolak ajakanku. Apa ini karena pria itu? Ia kepikiran dengan ucapan dari pria itu.


Aku akhirnya ikut kesal dan memutuskan untuk pulang saja.


Namun, ia menahanku dan mengajakku masuk ke rumahnya. Dan setelah itu terjadi beberapa obrolan dan perdebatan antara kami.


Namun, saat aku beranjak dari duduk ku. Kepala ku tiba-tiba terasa sakit dan pandanganku mulai buram. Setalah itu aku tak sadarkan diri.


Aku bangun di kasur rumah sakit. Dan saat itu dokter sedang memeriksaku.


Dokter itu tahu bahwa aku sakit kanker. Tapi, aku memintanya untuk berbohong. Aku tidak ingin Brianna tahu.


•••••••••••••••••••••••••


26 Desember 2016


Hari ini aku dan Brianna akan pergi ke rumah nenek. Sebenarnya, saat aku memberitahu bahwa aku akan mengunjungi nenek bersama pacarku. Reaksi nenek agak tak suka.


Tapi, aku tetap mengajak Brianna datang.


Nenek menyambut Brianna dengan bahagia saat kami baru datang. Aku tahu itu hanya bentuk kemunafikannya saja. Aku tak tahu, kenapa nenek seperti itu. Ia bahkan menyuruh Brianna membantunya di kebun, dan memberikan banyak pekerjaan padanya.


Namun, kurasa Brianna tak tahu jika nenek tak menyukainya.


Dan malam itu, aku bertengkar dengan nenek. Nenek menyuruhku untuk memutuskan Brianna. Tentu saja, aku tidak mau. Aku sudah sangat mencintai Brianna, lalu kenapa aku harus mengakhiri hubunganku dengannya?


Aku segera bergegas kembali ke kamarku dan malah tak sengaja berpapasan dengan Brianna di tangga.

__ADS_1


Apa ia mendengar pertengkaran kami? Batinku penuh tanya.


__ADS_2