Choose Destiny

Choose Destiny
Sifat Asli Rachel


__ADS_3

2 September 2015


Sekarang aku baru pulang dari kampus. Dan sedang perjalanan ke toko roti om Dean untuk mengambil pesenan ayah.


"Hai, Nic." sapaku.


"Hai. Mau ngambil pesenan ya?" tanyanya.


"Iya."


"Bentar ya."


"Kok tumben sepi, om Dean kemana?"


"Ayah lagi pergi keluar bentar. Nih rotinya."


"Makasih. Ayah udah bayarkan?"


"Udah kok. Baru pulang kampus ya?"


"Iya nih. Enak ya kamu udah lulus, udah nyari kerja belum?"


"Belum. Aku masih mau fokus bantu ayah dulu."


"Ooo....Emmm.. ya udah aku pergi dulu ya."


"Eh, iya. Hati - hati ya."


Aku hanya tersenyum dan segera pergi keluar. Aku pun menaiki mobilku dan pulang.


••••••••••••••••••••••


"Na, roti pesenan ayah udah kamu ambil?" tanyanya.


"Udah kok, aku taruh di meja dapur." ucapku yang masih asik menonton TV.


"Ok. Makasih putriku."


Ayah langsung pergi menuju dapur. Dan aku kembali menonton TV.


"Loh? Tadi ayah cuma pesen roti 12 biji, kok malah jadi 15 biji?"


"Ayah salah ngomong kali pas pesen."


"Masa sih?"


"Atau coba ayah tanya om Dean aja, mungkin dia salah ngitung."


"Hmm.. ya udah deh."


••••••••••••••••••••••


"Bri." panggil Meira.


"Eh, Mei. Kamu juga ada kelas ya?"


"Iya. Kamu juga?"


"Iya."


Aku dan Meira sudah tidak sekelas. Karena setiap memasuki semester baru, kelas akan diacak lagi.


"Kangen deh. Nanti mau ke kantin bareng gak setelah kelas selesai?" tanya Meira.


"Mau."


"Ok deh, aku masuk kelas dulu ya."


"Iya."


Kami berdua langsung masuk ke kelas kami masing - masing.


•••••••••••••••••••••••••••


Setelah kelas selesai, aku langsung ke kantin. Kulihat Meira sudah ada dibangku pojok kantin.


"Hei. Sorry telat." ucapku.


"Barusan selesai ya?"


"Iya nih."


"Aku ngantuk banget tahu dengerin dosennya ngomong."


"Kebiasaanmu kok gak pernah berubah sih, Mei."


Kami pun mengobrol tentang banyak hal. Sebelum akhirnya kami mengakhiri obrolan kami karena sudah sangat sore.

__ADS_1


"Pulang dulu ya, Bri. Bye."


"Bye, Mei."


Aku segera berjalan ke parkiran untuk mengambil mobil.


"Bri." panggil Rachel.


"Eh, Rachel? Kamu kok disini?" tanyaku.


"Kamu kok udah gak pernah jawab telepon aku sih? Kamu udah lupain aku ya?" tanya nya dengan nada sedikit membentak.


"Karena kita udah gak ada hubungan lagi, hel." ucapku ketus.


"Maksud kamu?"


"Gak usah pura - pura gak ngerti gitu deh. Aku tahu selama ini kamu selalu bohong sama aku. Dan bahkan kamu berani ciuman sama pacar aku. Kamu udah gak punya otak hah?" ucapku dengan nada membentak.


"Oh, jadi waktu itu kamu jadi dateng ya. Aku pikir setelah kamu lihat itu, kamu bakal langsung putusin Steven. Tapi ternyata enggak, kamu jauh lebih kuat dibanding yang aku kira."


"Jadi kamu emang sengaja ngelakuin itu. Aku bener - bener gak nyangka."


"Aku udah suka sama Steven sejak kelas 1, sebelum akhirnya kamu dateng dan malah merebutnya. Kamu yang jahat, Bri!"


"Kamu gak pernah bilang kalau kamu suka Steven, lalu gimana caranya aku bisa tahu?"


"Sekarang kamu udah tahu kan tentang perasaanku pada Steven, apa kamu mau ngelepasin dia?"


"Enggak, buat apa aku ngelepasin dia."


"Kamu udah lihat kan kalau dia bisa ngelakuin sesuatu dibelakang kamu, seperti yang dia lakuin ke aku waktu itu."


"Itu kan karena kamu yang memintanya. Seharusnya kita gak pernah temenan. Aku nyesel punya temen kayak kamu, yang udah berani nusuk aku dari belakang."


"Aku gak bakal pernah nusuk kamu dari belakang, kalau kamu gak pernah pacaran sama Steven."


"Sudah lah, aku mau pulang. Kamu membuang banyak waktuku."


Ketika aku akan pergi, dia tiba - tiba menarik rambutku.


"Sakit. Lepasin, hel." bentakku


"Aku gak bakal pernah lepasin." jawabnya dengan senyum licik dibibirnya.


Bugh..


Rambutku pun terlepas dari tangan Rachel. Dan kulihat Rachel sedang memegang kepalanya yang barusan dipukul Meira.


"Oh, akhirnya temen lu dateng, Bri. Kira - kira dia sama kayak aku enggak ya?" ucapnya sambil tertawa.


Bugh...


"Diem lo. Dasar cewek gila." teriak Meira.


Rachel terjatuh akibat pukulan Meira. Ketika Meira akan memukulnya lagi, aku langsung segera mencegahnya. Aku menarik tangannya. Dan segera membawa nya masuk ke mobilku. Aku pun mengendarai mobilku keluar parkiran.


"Siapa sih cewek gila tadi?" tanya Meira.


"Dia mantan sahabat aku waktu SMA."


"Kalian bertengkar?"


"Iya. Dia udah nusuk aku dari belakang."


"Yang sabar ya. Aku janji gak bakal ngelakuin itu ke kamu."


"Makasih ya. Tadi kamu kok bisa tiba - tiba nolong aku? Bukannya kamu udah pulang?"


"Tadi aku masih nunggu taxi yang aku pesen, karena aku gak lihat mobil kamu keluar daritadi. Akhirnya aku cek kamu diparkiran, dan ya gitu deh."


"Makasih, Mei."


"Sama - sama, Bri. O iya, kamu gak ada yang luka kan?"


"Gak kok. Cuma rambutku sedikit sakit, karena jambakannya tadi."


"Ooo... cepet sembuh deh, buat rambut kamu."


Aku hanya tersenyum ke arahnya.


••••••••••••••••••••••


15 November 2015


Aku sedang berada di depan supermarket menunggu hujan reda.


"Bri." panggil Nico.

__ADS_1


"Eh, Nico."


"Kamu ngapain disini? Lagi nunggu hujan reda?" tanyanya.


"Iya nih, aku lupa bawa payung sih."


"Oo... mau aku anter aja. Aku bawa mobil."


"Eh? Gapapa nih?"


"Gapapa kok. Rumahmu kan juga dekat dari sini."


"Emmm....ya udah deh. Yuk."


Dia langsung menggandeng tanganku.



Nico pun mengantarku pulang.


"Makasih ya." ucapku.


"Iya. Cepet masuk dan ganti baju ya." suruhnya.


"Emm.. iya. Ya udah hati - hati ya."


Dia segera mengendarai mobilnya menjauh dari rumahku.


•••••••••••••••••••••


ddrrtt.. drrrttt...


"Halo Stev."


"Halo sayangku. Kangen nih."


"Aku juga kangen. Kapan mau pulang?"


"Belum ada waktu nih. Lagi sibuk ngerjain skripsi."


"Ooo.... ya udah semangat ya ngerjain skripsi nya."


"Makasih sayangku. Emmm... aku denger dari Rachel, kamu mukul dia ya?"


Apa maksudnya? Rachel sedang memfitnah ku?


"Dia bohong. Aku gak pernah mukul dia, malahan dia yang narik rambut aku waktu itu. Stev, kamu masih berhubungan sama dia?"


"Eh, enggak kok. Dia cuma ngomong aja kalau kamu mukul dia, tapi aku gak peduli sih. Rambut kamu gapapa?"


"Udah gapapa sekarang."


"Syukur deh."


"Stev, jangan pernah ngobrol atau deket sama dia lagi. Ngerti?"


"Iya sayangku. Aku janji deh, bakal jauhin dia."


Aku tersenyum mendengar ucapannya.


"Gak ada yang boleh misahin kita, Bri." Ucapnya lirih di telepon.


Aku sedikit merinding dengan ucapan Steven tadi.


"Emmm... Stev, aku mau lanjut ngerjain skripsi ku dulu ya. Bye."


"Bye. I love you."


"I love you too."


Aku memutuskan sambungannya. Aku masih kepikiran dengan ucapannya tadi, ada yang aneh.


•••••••••••••••••••


1 Desember 2015


"Aduh pusing saya ngerjain soal ujian nya tadi." keluh Meira.


"Sama sih, perasaan kemarin malem udah begadang buat belajar. Tapi yang aku pelajari kemarin malah gak ada yang keluar. Pingin nangis sih."


"Iya, dosennya jahat banget deh. Kesel saya belajar mati - matian."


Kami pun berpelukan.


"Mau jalan - jalan gak? Buat refreshing setelah ujian." tanyanya.


"Mau."

__ADS_1


Lalu, aku pergi jalan - jalan bareng Meira.


__ADS_2