
31 Desember 2015
Ting tong... ting tong....
"Eh, Nico. Ngapain kesini?" tanyaku.
"Aku disuruh ayah ngirim roti. Nih." ucapnya sambil menyerahkan kresek isi roti tersebut.
"Loh? Ayah kok gak bilang kalau pesen roti?"
"Om emang gak pesen, tapi ayahku sendiri yang ngasih roti ini gratis buat om sama kamu."
"Ooo.... makasih ya."
"Emmm... kamu ada waktu gk?"
"Ada. Kenapa emangnya?"
"Emmm.. mau lihat kembang api di taman kota gak?"
"Mau. Tapi bukannya masih jam 12 malem ya, sekarang masih jam 7 juga."
"Gimana kalau jalan - jalan dulu?"
"Ok deh. Tunggu aku siap - siap dulu ya."
Aku pun menyuruh nya masuk dulu. Dan aku segera masuk kamar untuk bersiap - siap.
"Ayo Nic, berangkat." ucapku.
"Udah selesai nih?"
"Udah kok."
Aku langsung masuk mobil dan Nico pun mengendarai mobilnya.
"Udah izin ayahmu?" tanya Nico
"Udah kok."
"Om masih kerja ya jam segini."
"Udah biasa sih. Akhir - akhir ini pulangnya suka malem, malah pernah dini hari pulangnya."
"Jadi, kamu sering di rumah sendiri?" tanyanya.
"Iya."
"Pacar kamu gak pulang?"
"Enggak. Dia lagi liburan di rumah neneknya."
"Ooo.... Mau jalan - jalan kemana nih?"
"Emmm... ke cafe aja yuk. Aku lagi pingin ngemil dulu."
"Ok, cafe mana?"
"Cafe deket kampus aja, aku suka sama makanan disana."
"Ok deh."
Kami sampai ke cafe nya. Dan langsung memesan makanan dan minuman.
"Kamu pesennya banyak juga." ucapnya.
"Sorry deh, biasanya porsi ku segituan." ucapku sambil cengengesan.
"O iya, aku udah dapet pekerjaan loh."
"Wah, beneran? Selamat ya."
"Makasih ya. Aku seneng banget sih bisa diterima perusahaan yang aku pingin."
"Semangat ya kerjanya."
Dia hanya tersenyum ke arahku. Lalu pesanan kami datang. Aku segera menyantapnya.
"Kamu makannya lahap banget."
"Karena lagi laper. Kalau gak laper gak bakal selahap ini kok."
"Iya deh. Mau nambah lagi?"
"Enggak ah."
Setelah selesai makan, kami mengobrol sebentar. Lalu segera pergi ke taman kota.
"Kembang apinya belum dimulai ya." ucapku
"Iya, masih jam 9 sih. Mau jalan - jalan dulu?"
"Emmm... gimana kalau beli es krim dulu?"
"Malem - malem gini makan es krim?"
"Gapapa kali. Udah lah yuk."
Aku pun menggandeng tangannya segera. Akhirnya kami pun membeli es krim di supermarket.
"Emmm... aku bakal pindah dari sini." ucap Nico.
"Hah? Maksud kamu?"
"Aku sama ayah bakal pindah dari kota ini."
"Kenapa?"
"Karena aku bakal kerja di kota lain, ayah ikut pergi denganku."
"Jadi, perusahaan kamu gak disini?"
"Enggak."
"Kapan kamu bakal pindah?"
__ADS_1
"Mungkin tanggal 15 Januari nanti, masih banyak yang harus dipersiapkan buat pindahan."
Entah kenapa aku cukup sedih jika Nico pergi?
"Kita gak bakal ketemu lagi dong."
"Emmm... kalau kamu kangen, aku bakal usahain pulang setiap liburan gimana?"
"Iya, janji ya. Kamu bakal pulang setiap liburan."
"Iya deh."
Aku tersenyum ke arahnya.
"Nic, emangnya kita dulu pernah main bareng ya pas kecil? Aku kok gak inget sama sekali sih."
"Aku juga udah lupa sih."
"Hmmm....kenapa aku gak bisa ingat masa kecilku dulu ya?" tanyaku sedih.
"Kenapa kamu bisa gak ingat?"
"Aku juga gak tahu sih."
"Emmm... udah jam 10 nih, 2 jam lagi kembang api nya mulai. Mau ke taman kota sekarang?"
"Iya."
Kami segera pergi ke taman kota.
"Banyak orang ya." ucapku
"Iya, mereka juga lagi nunggu kembang apinya."
"Kamu sering kesini kalau tahun baru?" tanyaku.
"Emmm... kadang - kadang sih sama ayah."
"Tante gimana keadaannya sekarang?" tanyaku hati - hati.
"Baik - baik aja. Dia baru punya anak lagi."
"Berarti kamu punya adik?"
"Iya."
Aku pun diam. Tidak seharusnya aku membahas ibunya tadi.
"Kurang 30 menit lagi nih." ucapku bersemangat.
"Emmm... kamu mau coklat panas gak?"
"Mau."
"Tunggu bentar ya."
Dia segera pergi. Sekitar 5 menit, dia pun kembali dengan membawa 2 buah gelas coklat panas.
"Nih."
Aku segera meminum coklat panas tersebut. Kembang api pun mulai pukul 12 malam.
"Happy new year." bisiknya ditelingaku.
Aku langsung menatapnya. Dia pun menatapku sambil tersenyum. Entah kenapa aku langsung memeluknya? Dia membalas pelukanku dengan erat.
•••••••••••••••••••••••••
10 Januari 2016
"Yah, aku berangkat ke kampus dulu ya."
"Hati - hati ya."
Aku langsung pergi tanpa membalas perkataan ayah.
"Bri." panggil Michelle.
"Eh, Mich."
"Ada kelas juga?"
"Iya nih."
"Oo.. sama dong. Udah lama ya gak ketemu."
"Iya."
"Emmm...sepulang kelas, mau ke kantin bareng?"
"Mau kok."
"Ok deh, aku tunggu nanti. Udah ya aku kelas dulu. Bye, Bri."
"Bye."
Aku juga segera masuk ke kelas. Setelah selesai kelas, aku langsung menuju kantin. Kulihat Michelle sudah berada di meja tengah kantin. Aku segera menghampirinya.
"Eh, Bri." panggil Michelle.
"Nunggu lama ya?" tanyaku.
"Enggak kok. Mau pesen apa nih?"
"Emmm.... aku lagi gak pingin makan sih, pesen minum aja deh."
"Ya udah aku pesenin, mau minum apa?"
"Emmm... es jeruk aja deh."
Aku pun mencari dompetku di tas.
"Eh, gak usah. Aku traktir aja."
__ADS_1
"Gapapa nih?"
"Gapapa kok. Aku pesen dulu ya."
Lalu, ia pergi untuk memesan minum. Sekitar 10 menitan, Michelle kembali.
"Ini, Bri." ucapnya sambil menaruh segelas es jeruk di meja.
"Makasih ya."
"Gimana kelasnya?"
"Emm... gak gimana - gimana sih, makin banyak tugas dan skripsi."
"Sabar ya. Aku juga gitu. Emmm... kamu udah tahu kalau Nico bakal pindah?" tanyanya.
"Udah, dia udah cerita."
"Oo.... kamu deket juga ya sama Nico."
"Emmm... kamu kan juga."
"Tapi dia beda kalau sama kamu."
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Kamu tipe yang gak peka ya."
"Maksud kamu apa sih? Kok aku bingung."
"Udah ah, gak usah dibahas lagi."
Aku memutuskan untuk diam.
"Aku kayaknya bakal kesepian kalau gak ada Nico."
"Kenapa?" tanyaku
"Cuma dia satu - satunya temen yang aku punya. Karena aku bukan orang yang gampang bergaul sama yang lain."
"Emm... aku mau kok jadi temen kamu."
"Beneran?"
"Iya." jawabku singkat.
"Makasih ya. Emmm... aku boleh minta nomor HP mu?"
"Boleh kok. Mana HP mu?"
Dia pun memberikan HP nya, dan aku langsung mengisi nomorku di kontaknya.
"Udah nih."
"Emmm.... makasih ya, Bri."
"Santai aja. Kamu bisa curhat apa aja sama aku."
Dia hanya tersenyum menatapku.
••••••••••••••••••••••••••
15 Januari 2016
Sekarang aku sedang membantu Nico membawa beberapa barang pindahan nya.
"Nih, barangnya."
"Makasih, Bri. Kamu gak capek ngangkat nya?"
"Gak kok."
Dia pun tersenyum, lalu mengambil tisu di sakunya.
"Eh, kamu mau ngapain?"
"Mau ngelap keringat kamu." ucapnya sambil perlahan mendekat.
Dia mengelap keringat di dahi ku.
"Nih tisunya." ucap Nico sambil memberikan tisunya kepadaku.
"Hah?"
"Lanjutin sendiri ngelap nya." jelasnya.
Dia tersenyum lalu pergi. Aku pun hanya menatap kesal kearahnya.
"Ndre, makasih ya udah bantuin." ucap om Dean.
"Gapapa, santai aja. Sering - sering main ke sini ya."
"Siap deh, kalau ada waktu. Ya udah aku sama Nico mau berangkat dulu."
"Emmm... aku pergi dulu ya, Na."
"Hati - hati ya, Nic. Semangat ya kerjanya."
Dia tiba - tiba mendekat, lalu memelukku. Aku sedikit terkejut, apalagi ayahku dan om Dean sedang melihat ke arah kami.
"Aku suka kamu." bisiknya di telingaku.
Aku sangat terkejut dengan ucapan nya. Dia langsung melepas pelukannya.
"Yuk, yah. Om Andre, Nico pergi dulu ya."
"Oh, iya. Hati - hati ya."
Om Dean dan Nico pun pergi dengan mobilnya.
"Na, pulang yuk."
"Eh, iya yah."
Aku masih mencerna maksud ucapan Nico tadi. Dia suka padaku?
__ADS_1