Choose Destiny

Choose Destiny
Bukan Orang Baik?


__ADS_3

27 Mei 2014


Hari ini adalah hari kelulusanku.


"Happy graduation, putri ayah yang cantik." ucap ayah.


"Thank you, yah."


"Putri ayah udah besar ya. Ayah jadi sedih deh."


"Ih, apaan sih ayah lebay gitu."


Lalu, aku memeluk ayahku.


"Bri." panggil Rachel.


"Eh, hel."


"Happy graduation ya."


"Happy graduation juga."


"Halo om, saya Rachel temennya Brianna." sapa Rachel ke ayahku.


"Ooo... halo juga. Ternyata masih ada yang mau temenan sama anak kayak Nana."


"Ih, maksud ayah apaan sih." ucapku jengkel.


"Nana?" tanya Rachel bingung.


"Itu nama panggilanku dari ayah."


"Ooo... baru tahu."


"Yah, aku mau foto - foto dulu sama yang lain. Bye."


"Ya."


Aku pun pergi berfoto dengan teman - temanku yang lain.


•••••••••••••••


drrrrttttttt.... ddddrrrrtttt...


"Hai Stev."


"Hai, sayangku. Happy graduation ya."


"Thanks."


"Maaf aku gak bisa pulang, lagi sibuk kuliah."


"Iya gapapa kok."


"Kamu mau aku beri hadiah apa nih?"


"Emm... aku gak mau apa - apa sih."


"Beneran?"


"Iya."


"Oke deh. O iya, kamu mau kuliah dimana?"


"Emmm...aku lanjut kuliah disini."


"Ooo...udah keterima?"


"Udah."


"Ya udah, semangat ya kuliahnya."


"Makasih."


Setelah itu kami memutuskan sambungan.


•••••••••••••••••


14 Agustus 2014


Setelah beberapa hari menjalani MOS, akhirnya aku menjalani kuliah seperti biasa.


"Hei, kenalin namaku Meira Gabriel. Kamu?" tanya gadis berambut panjang itu kepadaku.


"Namaku Brianna Maurell."


"Ooo... kamu jago gambar ya, makanya masuk arsitektur?"


"Emm.. iya. Kamu juga?"


"Aku sih, karena di suruh orang tua."


"Loh? Berarti kamu gak ada niatan jadi arsitektur?"


"Enggak ada. Tapi ya udah sih, mau gimana lagi."


"Nanti aku bantu deh, kalau ada yang gak bisa."


"Makasih ya."


Setelah itu kami mengobrol tentang yang lain.


•••••••••••••••••


Sekarang aku sedang mencari buku di perpustakaan.


"Brianna." panggil Michelle.


"Eh, kak Michelle."

__ADS_1


"Kamu kuliah disini?"


"Iya kak. Kakak juga?"


"Iya, aku jurusan teknik, kamu?"


"Ooo.. aku jurusan arsitektur."


"Biar lebih akrab, gak usah pakai kak ya."


"Emmm.. iya."


"Kamu udah ketemu Nico belum?"


"Eh? Nico kuliah disini juga?"


"Iya. Tapi bentar lagi lulus sih."


"Ooo..."


"Ya udah aku pergi dulu ya."


"Iya."


Dia pergi, lalu aku lanjut mencari buku.


•••••••••••••••••


15 Oktober 2014


Sekarang aku sedang ada di kantin dengan Meira.


"Boleh gabung gak?" tanya seorang pria kepada kami.


Eh, siapa pria ini? Tanyaku dalam hati.


"Boleh." jawab Meira.


"Kenalin namaku Dika Alvino. Nama kalian?"


"Namaku Meira Gabriel."


"Namaku Brianna Maurell. Emmm... kamu sekelas sama kita?"


"Eh, enggak. Aku angkatan ke 2 jurusan arsitektur juga."


"Eh, maaf kak. Aku gak tahu."


"Gapapa kok."


"Ngomong - ngomong kakak ngapain gabung sama kita?" tanya Meira.


"Gapapa sih, lagi mau nyari temen adik kelas aja."


"Ooo...."


"Dik, ngapain lo disini?"


"Gila sih dia, pasti mau goda nih."


"Gak usah fitnah deh. Gue cuma mau kenalan sama adek kelas. Ya udah aku pergi dulu ya sama temen - temenku. Bye."


"Bye kak." balas ku.


"Bye." balas Meira.


Lalu, ia pergi bersama temannya.


"Cowok tadi lumayan ya." ucap Meira.


"Eh? Kak Dika?"


"Iya, kamu gak tertarik?"


"Enggak lah, aku udah punya pacar."


"Oh ya?"


"Iya tapi dia kuliah di luar kota."


"Ooo... tapi kayaknya cowok tadi tertarik sama kamu, dari tadi natap kamu terus."


"Perasaan kamu aja deh, Mei."


Ketika aku mengalihkan pandanganku ke meja pojok di kantin, aku tidak sengaja melihat Nico sedang bersama Michelle. Mereka sangat tampak akrab. Kenapa mereka tidak pacaran saja ya? Tanpa sengaja Nico menatapku, aku langsung mengalihkan perhatian ku.


••••••••••••••••••••••••


Beberapa hari ini, kak Dika selalu menghampiri ku dan Meira. Dia bahkan membantu kami mengerjakan tugas.


"Nih selesai." ucap kak Dika sambil menyerahkan gambarnya.


"Wah. Makasih ya kak." ucapku.


"Wow. Kakak jago banget gambarnya." puji Meira.


"Makasih pujiannya, Mei. Emm....Laper nih, yuk ke kantin."


"Ayo." balas aku dan Meira.


Kami bertiga pun pergi ke kantin. Eh, kenapa banyak anak berkerumun?


Bugh..... bugh....


"Mario cukup." bentak kak Dika.


Aku kaget ketika tahu yang bertengkar adalah Nico dan temannya kak Dika.


"Ngapain kamu mukul dia?" tanya kak Dika pada temannya

__ADS_1


Belum sempat kudengar alasan teman kak Dika memukul Nico. Tangan ku sudah digandeng oleh Nico menjauh dari kantin.


"Nico, lepasin." ucapku.


Dia langsung melepaskan tanganku.


"Jauhi Dika."


"Maksud kamu apa?"


"Dia bukan orang baik."


"Kenapa kamu bisa ngomong gitu?"


"Kamu gak perlu tahu apa alasanya. Yang penting jangan deket - deket sama dia."


"Aku tuh bingung kalau kamu ngomongnya gitu. Udah ah, aku mau balik ke kelas. Itu luka kamu jangan lupa diobatin."


Aku langsung meninggalkan nya sendiri. Aku hanya ingin tahu alasannya, kenapa aku gak boleh deket - deket sama kak Dika? Apa susahnya sih bilang?


••••••••••••••••••


dddrrttt... drrrrtttt...


"Eh, Rachel tumben telepon."


"Lagi kangen sama kamu. Disini anak - anaknya pada cuek - cuek jadi males deh."


"Ya ampun. Kamu kapan main kesini?"


"Mungkin ntar kalau libur, aku mampir ke tempatmu."


"Siap deh. O iya kamu satu universitas kan sama Steven?"


"Iya. Tapi sejauh ini aku belum pernah ketemu sama dia, malah seringnya ketemu kak Karin."


"Ooo, kak Karin disitu juga ya."


"Iya, aku masih agak takut sih ketemu kak Steven."


"Gara - gara waktu itu ya?"


"Iya."


"Oh iya. Rencananya tanggal 2 Februari nanti, aku mau bikin kejutan buat Steven."


"Kejutan apa?"


"Aku bakal dateng ke kampusnya. Terus diem - diem ngangetin dia."


"Ooo... emangnya kamu libur?"


"Enggak sih, tapi aku lagi gak ada jadwal hari itu. Jadi mumpung bertepatan sama hari jadian, aku manfaatin aja buat kesana."


"Ooo... ya udah deh, ntar ketemuan bentar ya."


"Siap deh kalau ada waktu."


Kami pun membahas yang lain. Dan 3 jam kemudian, kami baru selesai teleponan.


•••••••••••••••••••••••


"Bri." panggil kak Dika.


"Eh, kak Dika ngapain kesini?"


"Kamu jauhin aku ya?"


"Emm... enggak kok."


"Tapi kamu kemarin langsung pergi ninggalin aku sama Mei, terus SMS aku gak kamu bales."


"Eh, sorry kak. Aku gak sempet lihat HP. Emm... bentar lagi aku ada kelas, aku pergi dulu ya kak."


Aku langsung pergi meninggalkan nya. Aku sih hanya menuruti kata Nico saja, untuk menjauh darinya.


"Bri." panggil Michelle.


"Eh, Michelle. Kenapa disini?"


"Mampir aja. Kamu masih ada kelas?"


"Masih, bentar lagi."


"Oo.. ya udah deh. Tadinya kalau kamu gak ada kelas, aku mau ngajak kamu jalan - jalan."


"Maaf ya. Kapan - kapan aja."


"Iya gapapa kok. Ya udah, buruan ke kelas sebelum dosennya dateng."


"Iya. Bye."


"Bye."


Aku pun segera pergi. Jujur, aku tidak tahu kenapa kami bisa akrab kayak gini? Perasaan kami hanya beberapa kali bertemu saja.


"Bri. Kamu tadi dicari kak Dika." ucap Meira.


"Aduh, kenapa sih dia cari aku lagi?"


"Emangnya kenapa sih kamu jauhin dia?" tanya Meira penasaran.


"Emmm.. gapapa sih. Aku cuma gak nyaman aja."


"Gara - gara kejadian kemarin?"


"Emm... enggak, udahlah gak usah dibahas."


Meira akhirnya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2