
2 Februari 2014
"Stev. Kamu inget gak hari ini tanggal berapa?" tanyaku di telepon.
"Tanggal 2 Februari, emangnya kenapa?"
"Ih, kamu lupa ya. Ini kan hari kita jadian."
"Eh? Maaf aku lupa."
"Ih, jahat banget. Masa aku sendiri yang inget."
"Maaf ya. Eh, aku matiin dulu ya teleponnya. Kelasnya mau dimulai nih. Bye sayangku."
"Bye."
Nyebelin deh, masa yang inget hari jadiannya cuma aku aja. Perasaan, aku berharap bisa ngerayain hari ini bareng dia.
"Hoi, wajahmu kenapa sedih gitu?" tanya Rachel.
"Hari ini tuh hari jadian aku sama Steven, tapi Steven malah gak inget."
"Kan dia sibuk kuliah, jadi bisa aja dia lupa."
"Hmm.. perasaan aku pingin banget ngerayain hari ini bareng dia, tapi dia kayaknya gak ada waktu."
"Yang sabar deh. Mau ke kantin gak?"
"Mau."
Aku pun pergi ke kantin bareng Rachel.
•••••••••••••••••••
drrrrrrrtttttt... drrrrttttttt....
"Halo?"
"Bri, kamu udah tidur ya?" tanya Steven.
"Emmm... iya barusan bangun ini. Kenapa telepon malem - malem?"
"Kamu bisa keluar sekarang gak?"
"Hah? Keluar rumah?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Udah keluar aja."
"Iya deh, bentar."
Lalu, aku keluar rumah.
"Bri." Panggil Steven di depan pagar.
"Loh? Steven kok kamu disini?"
"Bukain pagarnya dulu dong."
"Eh iya, bentar."
Aku membukakan pagar dan menyuruhnya masuk.
"Kamu ngapain malem - malem kesini?" tanyaku.
"Aku mau ngajak kamu pergi."
"Hah? Ini udah jam 11 tahu. Mau kemana malem - malem gini?"
"Nanti kamu bakal tahu deh."
"Ya udah aku ambil jaket dulu."
"Siap."
Aku segera mengambil jaket. Dan ikut pergi dengan Steven naik mobil.
"Mau kemana sih? Kok jauh banget?" tanyaku.
"Udah tenang aja, bentar lagi sampai kok."
"Emmm... katanya kamu gak ada waktu kesini."
"Emang gak ada sih. Tapi aku mau ngerayain hari jadian kita, jadi aku langsung kesini setelah kuliah selesai."
"Kamu gak capek nempuh waktu 3 jam kan kesini?"
"Buat apa capek? Kan semuanya terbayar dengan lihat kamu sekarang."
"Ih, dasar."
"Udah sampai. Yuk turun."
"Emmm..... kita ngapain ke hutan gini sih."
"Udah ikut aja."
Dia langsung menggandeng tanganku.
"Sekarang kamu tutup mata dulu." ucapnya.
"Buat apa sih?"
"Udah tutup mata aja."
Akhirnya aku menutup mataku. Dia menuntunku dengan hati - hati.
"Buka mata kamu sekarang."
Aku tidak menyangka kami berada di tebing sekarang.
__ADS_1
"Emmm.. kenapa kita kesini sih?" tanyaku bingung.
"Lihat deh kita bisa lihat pemandangan kota malem disini."
"Ih, tapi serem tahu di tebing gini."
"Kan ada aku yang jagain kamu. Tuh lihat kita bisa lihat banyak bintang juga."
Memang kuakui pemandangan disini sangat indah. Bahkan dari sini bintangnya terlihat lebih jelas.
"Gimana kamu suka?" tanyanya.
"Emmm..... lumayan sih. Kamu tahu tempat kayak gini dari mana?"
"Aku biasa sering kesini kalau malam."
"Gak takut ya?"
"Kenapa takut?"
"Inikan hutan, Stev."
"Gak masalah sih. O iya, nih buat kamu."
Dia memberikan sebuah kotak kecil kepadaku.
"Emmm... apa ini?"
"Buka aja."
Aku pun membukanya.Ternyata, isinya adalah kalung.
"Kalungnya bagus. Ini beneran buat aku?" tanyaku meyakinkan.
"Iya. Mau aku bantu pakai?"
"Mau."
Steven membantuku memasangkan kalungnya ke leherku.
"Happy anniversary, love you baby." ucapnya.
Aku langsung memeluknya. Aku benar - benar sangat senang sekarang.
"Stev. Makasih ya." bisikku ditelinganya.
Lalu kami pun berciuman.
21 Mei 2014
Ting tong.... ting tong....
"Eh? Nico?"
"Nico sudah datang ya." ucap ayah.
"Pagi om." sapa Nico.
"Eh? Kenapa yah? Aku bisa pergi sendiri kok."
"Udah gak usah bantah ayah. Sekarang cepetan ambil tas kamu."
Aku langsung mengambil tasku.
"Nico, bawa motornya jangan ngebut ya." perintah ayah.
"Iya, om."
"Ya udah. Bye putri ayah yang cantik."
"Hmm..." balas ku.
Aku masih kesal dengan ayah, kenapa ayah tiba - tiba nyuruh Nico anter jemput aku sih?
"Nanti aku tunggu di sini ya pas pulang." ucap Nico.
"Iya.Ya udah aku masuk dulu."
Ia hanya menganggukan kepala, lalu pergi.
•••••••••••••••••••
Sudah sebulanan aku di antar jemput Nico. Aku masih bingung, kenapa ayah menitipkan ku padanya? Apa ada maksud tertentu ya?
"Bri, tuh lihat cowokmu udah nungguin." ucap Rachel sambil menunjuk Nico yang sedang menunggu di depan mobilnya.
"Ih, cowok aku tuh Steven."
"Iye iye. Pulang dulu ya, bye."
Rachel pergi dan aku langsung menghampiri Nico.
"Yuk pulang." ajak Nico.
"Emm.. Nic, bisa mampir ke toko buku sebentar gak?"
"Oh ok."
Ia pun mengantarku ke toko buku.
"Cepetan ya." ucapnya.
"Iya."
Aku langsung masuk dan mencari buku yang ku cari. Setelah selesai aku langsung keluar, tapi langkah ku terhenti ketika melihat Nico sedang berbincang dengan seorang cewek. Apa dia pacar Nico?
"Eh, Bri. Udah selesai?" tanya Nico.
"Em.. iya."
"Siapa di Nic?" tanya gadis berambut panjang itu.
__ADS_1
"Dia anak temen ayahku, aku disuruh jemput dia."
"Ooo... Hai, kenalin namaku Michelle, kamu?"
"Emm... Brianna."
"Ya udah chelle, aku anter dia pulang dulu ya. Bye."
"Ok deh. Sampai ketemu besok ya."
"Iya."
Nico mengantarku pulang. Tapi, aku masih penasaran siapa cewek tadi? Apa dia pacarnya Nico ya?
"Emm.. makasih udah dianterin."
"Ya udah. Aku pergi dulu."
Ia langsung segera pergi.
••••••••••••••••••••
ddddrrrrtttt...... drrrrtttt....
"Halo Stev. Kenapa telepon?"
"Aku kangen kamu."
"Aku juga. Kapan pulang kesini lagi?"
"Gak tahu ya. Aku lagi banyak tugas nih."
"Ooo.. ya udah deh. Jangan lupa jaga kesehatan ya."
"Siap sayangku. Ya udah aku mau istirahat dulu, kepalaku tiba - tiba pusing."
"Kamu sakit lagi?"
"Gak papa kok, ntar aku minumin obat juga sembuh."
"Ya udah, aku tutup teleponnya ya. Jangan kecapean ya."
"Iya, bye sayang."
Aku memutuskan sambungan teleponnya.
•••••••••••••••••••••
3 Mei 2014
"Duh, Bri. Gak kerasa bentar lagi kita lulus ya. Kamu mau lanjut kuliah dimana?" tanya Rachel.
"Emmmm... gak tahu ya, masih belum kepikiran."
"Aku bakal kangen banget deh sama kamu."
"Aku juga."
Kami pun berpelukan.
"Jangan lupain aku ya, Bri." ucapnya.
"Iya, hel. Kamu juga jangan ngelupain aku."
"Gak bakal kok."
"Ih, Rachel. Aku sedih banget kalau kita pisah."
"Aku juga."
Kami berpelukan lagi.
••••••••••••••••••••••
Sekarang aku sedang berada di depan toko roti om Dean, karena ayah menyuruhku mengambil pesenan rotinya. Kenapa gak minta Nico nganter ke rumah aja sih?
Saatku aku ke dalam, kulihat Nico sedang berbincang dengan cewek waktu itu.
"Eh? Kamu mau ngambil pesenan roti?" tanya Nico.
"Eh, iya." ucapku.
"Tunggu ya."
"Hai, ketemu lagi ya." sapa Michelle.
"Emm.. iya."
"Kamu masih SMA ya?"
"Iya, bentar lagi lulus."
"Ooo.."
"Emm... kamu sendiri udah lulus SMA ya?"
"Iya. Aku lagi kuliah semester 4 sekarang."
"Ooo..."
"Kalau ada yang mau ditanyain lagi, bilang aja."
"Emmmm... kamu pacar nya Nico ya?"
"Bukan. Aku sama Nico cuma sahabat. Aku udah sahabatan sama dia sejak SMP."
"Oo.. Gitu ya."
"Nih, rotinya." ucap Nico sambil menyerahkan kresek isi roti.
"Eh, makasih. Ya udah aku balik dulu ya."
"Hati - hati ya, Bri." ucap Michelle.
__ADS_1
"Emmm.. iya kak Michelle."
Aku segera keluar dan masuk mobilku.