Choose Destiny

Choose Destiny
Meira


__ADS_3

15 April 2016


Sekarang aku sedang mengerjakan tugas dengan Meira di kamarku.


"Akhirnya, gambar ku selesai juga." ucap Meira sambil membersihkan bekas penghapus di atas kertasnya.


"Lihat dong. Punyaku masih belum jadi nih."


"Nih." ucapnya sambil menyodorkan kertasnya.


Aku pun melihat gambarnya.


"Mei, gambarmu ada yang salah nih."


"Yang mana?"


"Yang sebelah ini." ucapku sambil menunjuk gambarnya.


"Ooo... ok deh, aku benerin dulu."


Ia langsung membenarkan gambarnya dan aku lanjut mengerjakan gambarku.


Tok.. tok...


Aku segera membuka pintu kamarku.


"Eh, ayah. Kok tumben udah pulang jam segini." ucapku bingung.


"Ayah mau ngajak kamu makan malem diluar."


"Eh, kayaknya gak bisa deh. Aku lagi mau nyelesain tugasku bareng temen di kamar."


"Loh? Ada temen kamu di kamar?"


"Iya."


"Cewek atau cowok?"


"Cewek kok, yah. Ya udah aku lanjut ngerjain dulu ya."


Aku pun menutup pintu kamarku.


"Ayahmu?" tanya Meira.


"Iya."


"Ooo...mama mu?"


"Emmm.... mama aku udah meninggal."


"Eh, sorry. Aku gak tahu, Bri."


"Gapapa kok. Kalau keluarga kamu kayak gimana?" tanyaku penasaran.


"Emm... ya gitu deh. Orang tua aku sibuk, jadi jarang pulang ke rumah."


"Kamu gak kesepian?"


"Enggak kok. Aku udah biasa kalau mereka sibuk. Bahkan aku udah biasa denger suara mereka ribut di kamar."


"Emm... orang tua kamu sering tengkar?"


"Ya gitu deh."


"Emmmm... yang sabar ya, Mei. Kita cuma bisa berdoa yang terbaik untuk orang tua kita."


Dia hanya menganggukan kepalanya. Lalu kami terdiam dan mengerjakan gambar kami kembali.


•••••••••••••••••••••••


20 Juni 2016


Hari ini aku sedang belanja bersama ayah.


"Yang tadi bagus, Na." ucap Ayah.


"Emm...baju yang tadi terlalu pendek bawahan nya, Nana gak terlalu suka."


"Ooo.. ya udah, kamu cari yang lain aja."


"Nana laper, yah. Kita pergi makan aja yuk."


"Loh? Gak jadi beli baju?"


"Gak jadi, yah. Baju Nana di rumah masih banyak yang bagus, lain kali aja belinya."


Ayah hanya menganggukan kepalanya. Lalu kami pergi ke food court.


"Mau makan apa nih?"


"Emm... nasi goreng kayaknya enak. Ayah mau makan apa?"


"Ayah mau mi ayam yang disitu." ucapnya sambil menunjuk tempatnya.


"Ya udah, Nana pesen dulu ya."


Aku segera beranjak dari duduk ku dan pergi memesan makanan.

__ADS_1


Sekitar 20 menit, aku kembali dengan membawa nomor antrian. Kulihat ayah sedang mengobrol dengan seorang pria. Setelah kulihat lebih jelas, ternyata pria itu adalah om Dean.


"Eh, Nana. Udah selesai pesennya?" tanya ayahku.


"Udah, yah."


"Nana." sapa Om Dean kepadaku.


"Halo, om."


Aku kembali duduk di kursi ku.


"Gimana kuliahnya, Na?"


"Emmm... baik - baik aja, om."


"2 tahun lagi kamu lulus ya?"


"Iya, om."


"Nico dimana?" tanya ayahku pada om Dean.


"Dia lagi sibuk kerja."


"Ayah sama om udah janji ketemuan ya?" tanyaku.


"Enggak kok. Om tadinya kesini cuma buat ngurus sesuatu, terus malah ketemu ayah kamu lagi duduk disini."


"Ooo..."


"Om udah gak sab...." ucapan om Dean terpotong karena ayah tiba - tiba langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


"Jangan sekarang." ucap ayahku sambil menatap om Dean.


Memangnya apa yang akan om Dean bicarakan tadi?


•••••••••••••••••••••••


13 Agustus 2016


Sudah bulan Agustus sekarang. Dan semester baru sudah dimulai. Semester ini, aku kembali sekelas dengan Meira.


"Gak nyangka, kita bakal sekelas lagi." ucap Meira sambil memelukku.


"Iya nih."


"Mau ke kantin dulu gak sebelum pulang?"


"Mau."


Dosen datang, dan kami berdua pun diam. Kelas akhirnya selesai setelah 1 jam.


"Jadi, dong"


ddrrtt.. ddrrtt...


HP Meira berbunyi. Ia langsung mengangkatnya. Kulihat wajah Meira tiba - tiba panik.


"Emm.. Bri, aku harus segera pulang. Lain kali aja ya ke kantin nya."


"Iya, gapapa kok."


Dia pun pergi meninggalkan ku di kelas. Sepertinya telepon tadi membawa kabar buruk untuknya. Aku tidak berani bertanya padanya.


•••••••••••••••••••••••


ddrrtttt.. ddrrtt...


"Halo."


"Bri, kamu bisa jemput aku gak di kampus?" tanya Meira.


"Eh, bisa kok. Tunggu ya."


Aku memutuskan sambungan dan segera mengambil kunci mobilku.


Sekitar 25 menit, aku sampai ke kampus. Aku melihat Meira sedang menunggu di depan pos satpam.


"Mei." panggil ku.


"Bri." panggilnya balik.


Dia langsung menghampiriku.


"Kamu kenapa?" tanyaku khawatir.


Wajahnya seperti habis menangis.


"Emmm... aku boleh nginep di rumah kamu malam ini gak?"


"Boleh kok."


"Makasih ya."


Sekarang aku sudah di sampai rumah.


"Yuk masuk."

__ADS_1


Dia masuk dan langsung duduk di sofa.


"Mau minum?" tawar ku.


"Boleh."


Aku segera ke dapur untuk mengambil air.


"Nih, Mei."


Dia menerimanya. Dan aku pun langsung duduk di sampingnya.


"Emm... kamu lagi ada masalah ya?"


"Iya. Tapi, aku lagi gak mau bahas sekarang."


"Gapapa kok. Kalau kamu udah siap, kamu bisa cerita ke aku."


Ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Emmm.. Aku boleh minjam baju gak?" tanyanya.


"Boleh kok. Mau sekalian mandi?"


"Emm.. iya."


Aku segera mengambil bajuku. Untungnya ukuran badan Meira dan aku hampir sama. Jadi, bajuku bisa muat di badan nya juga.


"Nih, Mei." ucapku sambil memberikan baju dan celana untuknya.


"Makasih ya."


Ia pun menuju ke kamar mandi. Aku kembali duduk di sofa dan mengecek pesan di HP ku. Ada pesan yang menarik perhatian ku. Tapi, aku hanya membacanya tanpa membalasnya.


"Bri." panggil Meira.


"Eh, udah selesai? Gak jadi mandi?"


"Enggak. Emm.. aku laper nih, kamu ada makanan gak?"


"Ada kayaknya. Yuk ikut aku ke dapur."


Aku pun segera ke dapur dan diikuti Meira.


"Ada nya cemilan aja nih. Mau pesen makan aja?"


"Gak usah. Cemilan aja udah cukup."


"Tapi, kamu kan laper. Masa cuma ngemil aja."


"Gapapa kok. Aku udah seneng kamu beri cemilan aja." jawabnya sambil tersenyum.


Aku merasa tidak enak. Aku pun memesan makanan secara diam - diam.


"Mau?" tawar Meira sambil menyodorkan snack kentang.


"Enggak, buat kamu aja."


Ia hanya menganggukan kepalanya dan lanjut makan snack kentang nya. Aku baru sadar jika tangannya terluka.


"Tangan kamu kenapa?"


"Gapapa cuma luka kecil aja."


"Parah kayak gini, kamu bilang cuma kecil." ucapku dengan nada agak membentak.


Aku segera mengambil kotak p3k di laci kamarku. Dan langsung mengobati lukanya.


"Orang tua aku selalu bilang kalau luka kayak gini cuma luka kecil."


Apa maksud orang tuanya? Jelas - jelas luka kayak gini itu udah parah.


"Ini parah, Mei. Emangnya kamu gak ngerasa sakit banget?"


"Ngerasa sih. Tapi, aku gak peduli."


"Mei, jangan takut buat cerita apapun ke aku. Aku bakal selalu dengerin semua keluh kesah kamu." ucapku sambil menatapnya.


"Emm... makasih ya."


Aku selesai memasangkan perban di tangannya.


Ting tong.. ting tong..


"Misi mbak, ini pesenan nya."


"Oh iya. Ini uangnya. Makasih ya."


Setelah itu orang tersebut langsung pergi. Dan aku masuk kembali ke rumah.


"Nih, makanan."


"Kamu pesenin buat aku?"


"Iyalah, aku gak tega kamu cuma ngemil aja."


"Emm... makasih ya."

__ADS_1


"Sama - sama."


Setelah itu ia langsung memakannya dengan lahap.


__ADS_2