Choose Destiny

Choose Destiny
Percaya Kak Dika atau Steven?


__ADS_3

21 Januari 2016


Ting tong... ting tong....


"Loh? Steven?"


"Halo sayangku. Kamu kaget ya aku dateng." tanyanya.


"Emmm... bukannya kamu ada kelas hari ini, kok kamu malah kesini?"


"Kelasku dibatalin, jadi aku langsung kesini aja. Kamu gak seneng aku dateng?"


"Aku seneng kok."


Lalu aku langsung memeluknya. Dia membalas pelukanku erat.


"Masuk yuk." ucapku setelah melepaskan pelukan tadi.


Dia pun masuk dan langsung duduk di sofa.


"Mau minum?" tanyaku.


"Enggak usah. Kamu hari ini ada kelas?"


"Enggak ada."


"Mau jalan - jalan?"


"Boleh tuh. Aku siap - siap dulu ya."


Aku langsung masuk ke kamar. Sekitar 20 menitan aku pun keluar dari kamar.


"Yuk, stev."


"Yuk."


Dia pun menggandeng tanganku. Dan kami berangkat dengan mobilnya.


"Gimana kuliah kamu?" tanyanya.


"Emm... baik - baik aja kok, Stev."


"Udah gak ada yang gangguin kamu lagi kan?"


"Enggak ada."


Aku menatap kearahnya yang sedang menyetir mobil, kulihat dia tersenyum sedikit aneh. Kenapa dengan senyumannya?


Sekitar 3 jam, aku dan Steven jalan - jalan di mall. Dia pun mengantarku pulang.


"Emmm... Stev, ini beneran kamu gak mau aku ganti uangnya?"


"Gak usah, kan udah aku bilang tadi di mall."


"Emmm.. makasih ya udah bayarin belanjaan ku."


"Sama - sama sayangku. Sebagai imbalan kasih aku kiss dong." katanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah ku.


Aku hanya mencium pipi kirinya saja.


"Loh, kok gitu sih." ucapnya sebal.


"Udah ah, Stev."


Dia tiba - tiba mencium bibirku. Setelah itu langsung memelukku.


"Kamu pergi sama siapa waktu tahun baru?" bisiknya ditelingaku.


Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku pun langsung melepaskan pelukannya.


"Maksud kamu apa?" tanyaku bingung.


"Hmmm.... bukannya waktu itu kamu lagi lihat kembang api sama cowok lain?"

__ADS_1


"Kamu tahu?"


Dia tiba - tiba mendekat, lalu berbisik ditelingaku.


"Aku tahu." jawabnya singkat di telingaku.


"Stev, dia cuma temanku. Kita gak ada hubungan sama sekali."


"Benarkah? Teman tapi saling pelukan mesra ya, hmmmm..."


"Kamu tahu aku pelukan?"


"Tentu saja. Emmm.. sebenarnya waktu itu aku pergi ke rumahmu, dan aku melihatmu naik mobil seseorang. Aku pun mengikutimu."


"Stev, ini cuma salah paham."


"Ya sudah. Jika ini cuma salah paham, kenapa kamu sangat takut seperti itu?"


Dia pun menghampiriku, lalu mencium pipi kiriku. Dan dia langsung pergi pulang.


•••••••••••••••••••••••••


30 Januari 2016


"Bri." panggil Meira.


"Eh, Mei. Lagi ada kelas juga?"


"Iya nih. Jarang banget ya kita bisa kelas di waktu ya sama."


"Iya ya. Nanti mau ke kantin dulu sebelum pulang?"


"Mau."


Lalu, kami masuk ke kelas masing - masing. Selesai kelas aku langsung menghampirinya yang sedang duduk di meja pojok kantin.


"Hei." sapaku kepada Meira.


"Iya nih."


"Bri." panggil Michelle.


Aku menoleh ke asal suara tersebut.


"Eh, Michelle."


"Boleh gabung?" tanya Michelle.


"Boleh." jawabku.


Dia pun duduk di sebelahku.


"Emmmm... Kenalin aku Michelle dari jurusan teknik." ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke Meira.


"Namaku Meira dari jurusan arsitektur." balasnya sambil tersenyum.


Michelle pun langsung menurunkan tangannya, yang tidak mendapat balasan dari Meira. Aku segera mengalihkan nya dengan obrolan. Sekitar 1 jam, aku dan mereka mengobrol.


"Udah jam 2 nih. Aku pulang dulu ya." ucap Meira sambil melihat jam tangannya.


Ia langsung beranjak dari duduknya, lalu segera pergi.


"Eh, udah jam 2 sekarang? Aduh, aku lupa. Aku harus ngambil pakaian di laundry sekarang. Emmm... Mich, aku pergi dulu ya. Kapan - kapan kita ngobrol lagi."


"Oh, ya udah gapapa kok."


Aku pun pergi ke parkiran, sedangkan Michelle masih memanggil taxi. Aku langsung mengendarai mobilku ke tempat laundry langganan ayahku.


Sesampainya di depan tempat laundry, aku tidak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan kak Dika sedang berada di mobilnya. Aku sangat bingung, aku takut jika dia melihatku disini.


Aku memutuskan tidak jadi keluar dari mobilku. Aku memilih untuk pergi dari sini sekarang. Tetapi terlambat, aku malah mendengar suara ketukan dari kaca mobilku. Aku melihat kak Dika yang memberi kode untuk aku keluar dari mobil sekarang. Akhirnya aku pun keluar.


"Udah lama ya gak ketemu." ucapnya.

__ADS_1


"Jangan apa - apain aku kak." ucapku dengan wajah yang masih menunduk ke bawah.


"Aku gak bakal ngelakuin sesuatu yang buruk kok."


Aku menatapnya dengan bingung.


"Jadi, sebenernya pacar kamu itu yang mana sih? Nico atau cowok yang mukulin temen aku?"


"Emmm... cowok yang mukulin temen kakak. Aku bener - bener minta maaf kak."


"Oh, ternyata pacar mu lebih gila dibanding aku ya."


Aku tidak mengerti dengan ucapannya.


Apa maksudnya?


"Kamu bingung dengan ucapanku?"


Aku hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Hmmm... sebenernya pacar kamu, udah bikin temen aku cacat semua."


Aku terkejut dengan ucapannya.


"Kaget ya. Kamu pasti gak pernah tahu kalau pacar kamu kayak gitu. Dan alasanku udah gak kuliah, Itu semua karena pacar kamu. Dia udah ngancem aku buat gak deket - deket lagi sama kamu, bahkan kalau aku berani deketin kamu kayak gini. Dia gak akan segan - segan bunuh aku lo." ucapnya sambil nyentuh sehelai rambutku.


"Kamu bohong. Pacarku gak bakal ngelakuin itu!" ucapku dengan nada marah.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Aku hanya ingin kamu tahu sosok asli pacar kamu itu." ucapnya dengan nada mengejek.


"Dia gak mungkin ngelakuin itu." ucapku dengan nada lirih.


"Kalau kamu gak percaya. Kamu bisa kok pergi ke rumah sakit xxxx, disana tempat temanku masih dirawat."


"Mereka di rumah sakit?"


"Iya. Mereka koma selama beberapa bulan, dan baru bangun beberapa minggu yang lalu."


Aku benar - benar bingung. Tidak mungkin Steven ku melakukan semua ini.


"Oh iya, kamu penasaran kan kenapa Nico pernah ngelarang kamu deket aku."


"Kamu tahu dia ngelarang aku?"


"Tentu. Karena waktu itu aku menyusulmu, dan akhirnya aku malah mendengar percakapan kalian." ucapnya dengan tersenyum sinis.


Aku hanya menatapnya saja.


"Sebenernya waktu itu Nico mendengar obrolan ku dan teman - temanku, sepertinya dia tidak mendengar obrolan kami secara lengkap. Jadi, dia malah salah menyimpulkan obrolan kami."


Aku bingung dengan perkataannya. Jadi, maksudnya Nico salah paham.


"Aku dan teman - temanku sedang membicarakan tentangmu tapi salah satu temanku bercanda tentang hal lainnya. Dan seperti nya Nico menganggapi candaan nya berhubungan denganmu."


"Aku masih gak ngerti maksud kakak?"


"Intinya aku gak pernah ada maksud buruk ke kamu awalnya. Dan aku mau bunuh kamu, karena waktu itu aku ngerasa kesel aja cintaku di tolak."


"Tapikan kakak gak harus ngelakuin itu sama aku."


"Aku minta maaf. Aku cuma ingin memiliki mu waktu itu. Kupikir setelah ku ancam seperti itu, kamu mau jadi pacarku. Aku terlalu berpikiran sempit ya."


Kenapa sekarang dia bicara dengan nada sedih seperti itu sih?


"Emmm.... kak, kita lupain aja yang udah lalu. Mungkin aku terlalu salah paham pada kakak, begitu pun kakak sebaliknya. Dan untuk yang Steven lakuin, aku belum bisa percaya."


"Makasih ya, Bri. Kayaknya kamu gak bakal ngelihat aku dalam waktu yang lama."


"Maksud kakak?"


"Gapapa."


Ada yang aneh. Tapi, aku tidak mengerti. Setelah percakapan itu, aku memutuskan untuk pulang tanpa mengambil pakaianku di laundry.

__ADS_1


__ADS_2