Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 20


__ADS_3

Darrel menginjak alat pelacak lalu berusaha berfikir cepat. Kalau sampai orang suruhan Prapto tahu, tentu teguran di layangkan pada Nay. Darrel tidak ingin kepercayaan kedua orang tuanya luntur karena dirinya ingkar janji. Walaupun di anggap sebagai ajudan, tapi Pak Prapto tahu betul dan cukup mengenal sosok Darrel.


Kai menutup rapat identitas Darrel. Jika ada seseorang yang menanyakan tentang keberadaan anaknya, Kai menjawab kalau anaknya menimba ilmu di luar negeri. Kalau tidak pintar beralasan, mana mungkin Darrel bisa pergi bebas seperti sekarang. Hanya beberapa pihak yang tahu, itupun mulut mereka sudah terbungkam rapat.


Braaaakkkkk... Braaaakkkkk... Braaaakkkkk...


"Siapa itu Kak." Tanya Ella panik, menatap nanar ke arah pintu yang di gedor kasar.


"Kamu percaya padaku kan?" Darrel malah melontarkan pertanyaan itu. Kedua tangannya menelungkup wajah Ella untuk menuntut sebuah keyakinan." Turuti perkataan ku. Jangan berkomentar sebab kita membutuhkan diam agar bisa keluar dari sini." Apalagi yang bisa Ella putuskan kalau bukan anggukan kepala.


Darrel mengiring Ella berjalan ke arah teras. Dia melangkahi pagar pembatas teras lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Ella.


"Ayo." Pintanya tanpa suara. Ella menggeleng seraya menatap ke bawah. Sangat tinggi sebab mereka berada di lantai 4." Hanya butuh diam dan percaya. Go." Imbuh Darrel mencoba menyakinkan.


Ella menatap ke arah pintu yang hampir terbuka. Tidak ada jalan lain sehingga dia menyambut uluran tangan Darrel yang langsung mengangkat tubuhnya. Kini keduanya berdiri di ujung teras


"Pegang sini." Menepuk pundaknya. Tangan Ella perlahan melingkar erat dengan posisi saling berhadapan." Jangan di lepas, kita turun satu lantai." Rasanya Ella berhenti bernafas ketika angin kencang menerpa tubuhnya. Tapi melihat keadaan yang mendesak membuatnya wajib menuruti perintah.


Perasaan kagum seketika terbangun saat Darrel dengan lincahnya berayun tanpa mengunakan alat bantuan. Kekuatan tangan tentu di uji apalagi Darrel harus bergelantungan sambil menahan satu tubuh. Bukan hanya itu saja, otot-otot yang tampak terasa meresahkan. Jujur saja jika Ella menikmati momen tersebut.


Dalam sekejap keduanya tiba di teras lantai tiga bersamaan dengan terbukanya pintu apartemen mereka. Duuuuppppp! Pyaaaaarrrrrrr.. Darrel menembak kaca samping tuas pintu untuk membuka kamar agar bisa keluar dari sana. Dia sudah tidak perduli pada kerusakan yang terjadi. Datangnya para kacung Prapto menandakan betapa buruknya keamanan apartemen tersebut.


Satu kali tembakan lagi. Pintu kamar kosong itu terbuka dan akhirnya Darrel bisa mengiring Ella masuk ke dalam lift untuk kabur.


"Kamu keren sekali Kak." Darrel menoleh setelah memencet angka satu. Dia merasa konyol mendengar pujian di tengah kepanikan seolah-olah Ella menikmati adegan tersebut.


Hah dia menyebut ku keren? Bukankah seharusnya dia takut.


"Menurut mu begitu?"


"Ya. Bagaimana caranya bisa bergelantungan seperti tadi. Tangan mu kuat sekali." Darrel tersenyum simpul. Sangat senang rasanya mendengar pujian tersebut walau terasa tidak wajar.


"Lain kali ku ajarkan. Di sini sudah tidak aman." Darrel memakai masker ketika pintu lift terbuka. Bibirnya berdecak sebab Ano dan kawanannya entah pergi ke mana. Sialan!! Kemana mereka.


Darrel mengedarkan pandangannya, memperhatikan letak CCTV untuk mencari posisi aman. Dia mengiring Ella ke area yang tidak terpantau CCTV lalu menembaki satu persatu kamera.


Keren sekali. Bidikkannya sangat tepat.

__ADS_1


Ella tidak juga menyangka, jika lelaki di sampingnya bukanlah orang sembarangan. Dia hanya memaklumi keterampilan Darrel karena perkerjaannya sebagai mata-mata bukan sebagai anak Ketua Mafia.


Sementara Darrel sendiri tidak habis fikir dengan ekspresi Ella yang malah memandanginya dari samping sambil terpaku.


"Hei harus fokus." Tegur Darrel merangkul pundak Ella yang tadinya tertinggal di belakang.


"Ya Kak maaf. Lain kali ajarkan aku memegang benda itu." Ingin rasanya Darrel terkekeh namun beberapa kacung Prapto sudah menantinya di tempat parkir yang berada di ruang bawah tanah.


"Kau akan tertembak jika tidak fokus seperti tadi."


Tanpa pertimbangan, satu persatu peluru melesat menuju sasaran. Darrel tersenyum di balik masker. Sudah lama dia tidak bermain tembak-tembakan. Hanya saja permainan miliknya sedikit berbeda karena mengunakan obyek manusia asli.


Serius. Kak Darrel keren sekali. Itu kenapa dia menjadi idola kampus.


"Hei Ella astaga, ayo naik sebelum yang di atas turun." Ella tersadar dari lamunannya dan bergegas naik. Motor melaju kencang membelah area parkiran yang sepi. Bersamaan dengan itu para kacung Prapto yang bertugas memeriksa kamar tiba. Terdengar suara teriakan saat beberapa teman mereka terkapar bersimbah darah.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


"Dia lolos Bos. Lelaki yang membawanya seperti nya bukan orang biasa. Dia punya senjata api.


"Baik Bos.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


Sekitar empat mayat di seret lalu di masukkan ke dalam mobil. Darah yang berceceran pun di bersihkan mengunakan kain juga air yang tersedia di bagasi.


🌹🌹🌹


Kai tersenyum simpul begitupun Nay. Keduanya tengah menyaksikan bagaimana cara Darrel mengatasi masalah. Sengaja sekali Alan memerintahkan Ano untuk membiarkan para kacung Prapto masuk secara leluasa.


Bukan hal sulit bagi Kai untuk memblokir akses tersebut sebab rupanya anak buah Alan sudah tersebar di parkiran apartemen untuk berjaga-jaga jika Darrel terluka.


"Sudah ku katakan, dia lebih hebat darimu." Gumam Nay terkagum-kagum.


"Hm. Dia anakku, sudah sepantasnya hebat."


"Bagaimana dengan penyelidikan soal Prapto?" Tanya Nay tidak ingin ketinggalan perkembangannya.

__ADS_1


"Masih di selidiki. Tapi aku yakin jika sebenarnya Ayah Ella masih hidup." Nay menoleh dengan manik melebar.


"Seyakin apa Mas?"


"Menyamakan perbuatan ku dengan perbuatannya. Hanya saja prinsip yang kita jalankan berbeda. Prapto untuk kepentingannya sendiri sementara aku untuk memperluas wilayah kekuasaan."


Begitulah tebakan Kai. Istri Prapto yang berjumlah puluhan tidak mungkin bisa di dapatkan dengan cara yang benar. Itu karena target Prapto seorang gadis belia berumur belasan tahun.


Sebelum bertemu Ella. Kai kerapkali mendengar cerita soal kelakuan Prapto yang hobi memaksa seorang gadis. Jeratan hutang pertama-tama di belenggukan. Otomatis orang tua sang gadis di hadapkan oleh jalan buntu sehingga mau tidak mau mereka menuruti permintaan Prapto.


Seharusnya Kai tidak perduli akan hal itu asal tidak merugikan dirinya atau mencoreng nama baiknya. Namun kasus Ella sangat lain. Bukan hanya Nay yang menginginkan gadis itu, tapi Kai merasa jika Darrel mulai tertarik pada sosok Ella.


🌹🌹🌹


Darrel mengadakan pertemuan di sebuah tempat sepi. Cukup geram ketika menyadari Ano tidak ada di apartemen sampai-sampai rahasianya hampir terbongkar.


Setelah beberapa menit, Darrel menyuruh Ella menunggu di motor sementara dia berjalan mendekati Ano. Satu pukulan langsung di hadiahkan sampai membuat sudut bibir Ano berdarah. Kedua tangan Darrel terangkat lalu mencengkram erat kerah baju Ano seraya menggoyang-goyangkan nya kasar.


"Kau memihak siapa sialan!! Kalau sampai aku tertangkap Mama akan tahu kalau aku bersama nya." Ucap Darrel berbisik. Pembicaraannya tentu tidak ingin di dengar oleh Ella.


"Kak Alan memanggil. Saya hanya bisa memperingatkan karena..." Plaaaaaakkkkkk!!! Ella melongok, menghela nafas panjang berkali-kali ketika menyaksikan sendiri bagaimana bengisnya perbuatan Darrel ketika sedang marah.


"Pergilah! Aku tidak membutuhkan bantuan dari mu." Darrel sangat percaya pada Ano yang selama ini kerapkali menutupi kebohongannya. Namun perintah kali ini sangat lain, dia tidak sanggup berbohong sebab ternyata Nay sendiri yang menghubungi kontak nya.


"Jangan seperti itu Tuan. Saya menyesal." Cegah Ano berbisik.


"Ini hanya masalah kecil. Tapi kalau sampai beliau tahu, akan jadi masalah besar. Kau tahu aku tidak mampu melukai hatinya. Apalagi kalau sampai dia tahu aku berbohong." Ingin rasanya Ella mendekat agar obrolan Darrel bisa di dengar. Tapi dia cukup berterimakasih dengan beberapa bantuan yang di berikan sehingga Ella memilih menuruti perintah.


"Maaf Tuan. Saya minta maaf." Darrel menghembuskan nafas berat. Dia berusaha menekan amarahnya.


"Ya." Darrel memutar tubuhnya lalu berjalan menghampiri Ella yang tengah berpura-pura tidak menatapnya." Kita pergi." Pinta Darrel singkat. Dia naik motor lalu memasukkan kunci.


Dia kelihatannya sedang marah. Tapi kenapa Kak Darrel marah pada Kak Ano? Membingungkan.


Ella masih melihat jelas ketika Ano tertunduk lesu dengan darah di pipinya. Sungguh dia semakin di buat bingung melihat situasi yang terjadi.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2