
Alan tertunduk dengan wajah lebam. Beberapa kali Nay melayangkan tamparan juga umpatan atas kelalaiannya sampai membuat Darrel hampir merenggang nyawa.
Beruntung nyawa Darrel masih bisa di selamatkan. Jika fisiknya lemah mungkin saja nyawanya akan melayang akibat insiden tersebut.
"Bagaimana dengan Ella." Tanya Nay seraya menatap tajam ke arah Alan.
"Sesuai permintaan, pagi ini dia akan menikah dengan Prapto." Nay tersenyum simpul. Entahlah kegilaan apa yang akan di rencanakan. Tapi dia dengan tega menyerahkan Ella pada Prapto.
Hanya bermodalkan keyakinan. Darrel akan sadar dari komanya untuk menyelamatkan Ella dari tangan Prapto. Sungguh dia ingin anak semata wayangnya sanggup menunjukkan betapa besar rasa cintanya agar persepsi Kai terpatahkan.
"Berhenti Baby. Bukankah kamu menginginkan anak itu."
"Diamlah sayang. Aku ingin menunjukkan padamu betapa kuat anakku." Kai menghela nafas panjang. Semenjak Darrel mengakui ketertarikan, sejak detik itu juga dia berusaha melindungi Ella dari apapun. Itu semua di lakukan karena Kai merasa jika Ella merupakan sumber kebahagiaan anak juga Istrinya.
Sementara di tempat lain, Ella terkurung di sebuah ruangan kamar. Dia berusaha memberontak ketika beberapa perias pengantin datang.
Selama 24 jam Ella terjebak di sana. Bingung harus melakukan apa sebab ruangan begitu tertutup. Jendela pun di lengkapi tralis besi sehingga menyulitkan Ella untuk kabur. Sekuat apapun teriakan, tidak akan mampu menjangkau permukiman warga yang jaraknya jauh.
"Nona saya mohon jangan memberontak agar tugas kami cepat selesai." Ella memasang wajah panik, menatap tajam ketiga perias tersebut.
"Tolong bantu...." Ucapan Ella tertahan saat peringatan Darrel melintas. Dia bahkan menyaksikan berita si pegawai butik yang merenggang nyawa karena menolongnya. Mereka tidak bersalah. Kak Darrel di mana kamu. Aku tidak bisa keluar dari sini..
"Kami tahu Nona hanya terpaksa. Tapi kami juga tidak bisa berbuat apapun. Em Pak Prapto memang suka dengan gadis belia."
Seringnya mendapatkan orderan dari Prapto. Membuat mereka hafal bagaimana kejinya Prapto yang tega menikahi gadis di belia. Ingin menolong pernah terbesit. Tapi pemilik salon lebih memilih jalur aman.
"Hidup saya sudah sangat berantakan di tambah dengan pernikahan ini." Ketiganya saling melihat sambil memasang wajah iba. Apalagi tubuh Ella begitu kurus serta rapuh. Mereka menebak jika umur Ella masih 15 tahun.
"Kami mohon maaf Nona. Kami..." Cklek... Seketika ketiganya bungkam ketika pintu kamar terbuka. Lena keluar dari sana seraya tersenyum simpul. Wajar, sebab ternyata Prapto memenuhi janji dengan memberikan sebuah perusahaan juga sejumlah uang.
Lena berjalan menghampiri Ella. Bibirnya tersungging seraya membisikkan sesuatu yang sangat membuat Ella semakin membenci wanita di samping nya.
__ADS_1
"Aku akan pergi dari rumahmu. Aku sudah tidak membutuhkan mu. Setelah ini kau sepenuhnya milik Prapto hahaha. Lihat siapa pemenangnya.. Silahkan menikmati pernikahan mu. Hidup bersama lelaki tua itu selamanya dan aku akan menikmati harta dari hasil jerih payahku."
Plaaaaaakkkkkk!!! Tamparan di layangkan dan tepat mengenai pipi kiri Lena. Tubuhnya bergeser menyamping lalu terkekeh nyaring. Bukan tidak ingin membalas sebab Lena tidak ingin terdampak masalah dengan melukai Ella. Cuhhhhhh... Lena membersihkan wajahnya dari ludah yang di hadiahkan Ella.
"Kenapa kau diam! Ayo berduel agar aku mati dan tidak harus menikah dengan lelaki itu!!!" Kekehan Lena kian nyaring beberapa detik kemudian terhenti dan di gantikan dengan wajah garang.
"Sia-sia dong aku membunuh mereka." Jawab Lena berbisik.
"Apa maksudnya?!!"
"Tidak perlu tahu. Yang pasti aku sudah berhasil. Rias dia dan jangan banyak bicara jika kalian masih menyayangi nyawa kalian!!!" Pinta Lena lantang kemudian berjalan keluar. Tidak lupa dia mengunci pintu kamar agar Ella tidak dapat kabur.
"Apa wanita itu membunuh kedua orang tuaku." Gumam Ella lirih. Matanya mulai berkaca-kaca namun berusaha tetap kuat. Dia berjanji akan membalas semuanya jika dia di berikan kesempatan keluar dari sini. Aku akan memburu mu Alena.
Dengan keterpaksaan Ella duduk dan menyuruh para perias memoles wajahnya. Maniknya terus mencari sesuatu yang sekiranya bisa di pakai untuk membela diri. Tidak ada benda tajam yang bisa di gunakan seakan Prapto sudah menyiapkan semuanya secara matang.
"Biasanya pakai tusuk konde Kak."
Rasanya aku harus bertindak sendiri. Tubuh baaabi tua itu pasti mudah di lumpuhkan. Di perut dan otaknya hanya ada sampah.
Ella terdiam. Membiarkan para perias berkerja. Dia tidak mau melibatkan mereka meskipun ketakutan terpatri pada mimik wajahnya.
Sesekali tatapannya tertuju pada jendela bertrali. Berharap Darrel muncul dari sana untuk menolongnya sesuai janji. Namun sampai persiapan selesai, tidak ada tanda-tanda kehadiran Darrel.
Apa kamu baik-baik saja Kak. Aku butuh pertolongan tapi juga mengkhawatirkan keadaan mu.
Ella menyaksikan ketika darah segar keluar dari perut Darrel. Seharusnya rompi anti peluru tidak dia kenakan. Tapi Darrel bersikukuh meminta Ella memakainya untuk keselamatan. Sungguh pengorbanan yang mampu membuat hati Ella melemah. Dia yang sejatinya polos tentu tersentuh dengan perhatian tersebut.
"Sudah selesai Nona. Kami permisi." Ella tidak bergeming saat para perias membereskan alat makeup.
Sesaat kemudian pintu kembali terbuka. Memperlihatkan seorang wanita cantik dengan tubuh kurus. Dia mempersilahkan para perias keluar setelah memberikan sebuah amplop coklat.
__ADS_1
"Awalnya memang seperti ini Dik." Katanya pelan." Kamu akan terbiasa. Papa selalu memenuhi kebutuhan kita. Mungkin hanya satu bulan dia akan terus bersama mu sebelum akhirnya bergerilya lagi." Imbuh tersenyum.
"Siapa kamu?"
"Saya Istri ke 27." Ella menghela nafas panjang nan berat. Kenyataan tersebut semakin membuatnya jijik pada sosok Prapto.
"Saya tidak mau Kak."
"Dulu dia menikahi saya saat berumur 15 tahun. Kala itu kedua orang tua saya terbelit hutang. Terpaksa saya mau tapi lama-lama saya mulai terbiasa."
"Mana mungkin bisa terbiasa!"
"Jangan melawan. Nyawa akan jadi taruhan. Semua orang sudah menunggu. Mari saya antar. Setelah ini kita akan menjadi saudara."
Rasanya Ella ingin berteriak nyaring ketika dengan lembut dia di giring keluar. Bangunan bak istana tidak membuatnya terkesima.
Ella melepaskan diri dan turun dengan langkah cepat. Menghampiri Prapto yang tengah duduk bersama beberapa orang yang bertugas menikahkan mereka.
Si Istri nomer 27 berusaha mengimbangi langkah Ella untuk mencegah perbuatan yang tidak di inginkan. Benar! Ella meraih gelas berisi minuman keras lalu menyiratkan nya tepat ke wajah Prapto.
"Kau sudah tidak layak untuk hidup!!!" Teriaknya lantang. Cuhhhhhh!!! Ella meludah dengan sangat kasar. Salah seorang wanita berdiri lalu membersihkan wajah Prapto. Ella tidak tahu jika para tamu adalah para Istri Prapto, kerabat juga relasi yang bernaung di bawah kakinya. Sudah pasti perbuatan Ella di tentang keras.
"Tidak baik begitu Nona. Dia sudah syah menjadi Suamimu." Deg!!! Dunia rasanya runtuh sebab rupanya Prapto sudah mengucapkan janji suci. Kedatangan Ella hanya untuk melengkapi acara resepsi juga mengambil beberapa foto.
"Mana bisa seperti itu!!!" Ella meraih kerah si penghulu. Menatapnya tajam seakan ingin memakannya hidup-hidup." Kau tidak punya anak perempuan! Suatu saat anakmu akan di jebak oleh lelaki tua itu!!! Kau tidak takut itu terjadi sampai-sampai kau sembarangan menikahkan kami!!" Mimik wajah Ella begitu geram. Tangannya mencengkram erat si penghulu sampai membuatnya sulit terlepas.
"Dasar kurang ajar!!!" Plaaaaaakkkkkk!!!! Prapto menampar pipi Ella hingga mengeluarkan darah. Para tamu tidak tampak iba. Rupanya Prapto sudah menyumpal hati mereka dengan segebok uang." Nikmati pestanya! Aku harus memberi pelajaran pada anak ini." Prapto yang memang sudah tidak tahan ingin membalas dendam. Bergegas menyeret Ella kasar tanpa peduli pada tubuhnya yang membentur pinggiran tangga. Si Istri ke 27 menatap iba. Dia merasa kasihan namun yakin jika Ella akan mampu melewati momen buruk tersebut.
Ku rasa kamu wanita terkuat. Tapi mau bagaimana lagi. Kita hanya mampu menerima sebab uang berkuasa. Semoga setelah ini kita akan menjadi saudara. Kita bisa menghabiskan waktu berdua dan berbelanja.
๐น๐น๐น
__ADS_1