Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 41


__ADS_3

Keesokkan harinya...


Ella terjaga tepat pukul lima pagi. Darrel tampak tidur di bawah dengan posisi kakinya yang tengah menindih. Pemandangan yang sudah terbiasa terjadi saat pagi hari.


Dengan sangat hati-hati Ella menyingkirkan kaki Darrel lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun niatnya tertahan ketika dia sadar pintu kamar masih terkunci padahal Ella ingin turun untuk melihat suasana sekitar.


Ella memutar tubuhnya, kembali ke sisi ranjang lalu duduk. Tanpa ragu-ragu tangannya menekan hidung Darrel sampai kesulitan bernafas. Terang saja perbuatannya sontak membuat Darrel terjaga.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Darrel yang juga terbiasa dengan perbuatan jahil Ella. Dia tahu kalau Ella tidak selugu kelihatannya.


"Jam lima Kak. Aku mau keluar, mungkin Mama butuh bantuan memasak."


"Ah masih pagi, ku fikir kesiangan." Ella tersenyum simpul. Menatap wajah tampan yang semakin terlihat tampan ketika pagi hari. Sungguh dia menginginkan itu terjadi sepanjang waktu meskipun mungkin hanya berakhir pada angan-angan saja.


"Berapa kata sandinya." Tangan Ella terangkat. Mengusap rambut tebal Darrel dan mulai merapikannya. Bagaimana hati Darrel tidak terketuk merasakan sikap polos tanpa ada kemunafikan yang kerapkali Ella suguhkan. Jika di tanya, Ella pasti menjawab jika dia ingin membalas kebaikan dengan bersikap baik dan menganggap Darrel sebagai orang terdekat." Menjadi Istri mu pasti sangat beruntung." Tanpa sadar Ella mengucapkannya.


"Kamu Istri ku." Cup! Darrel mencium pipi kanan di ikuti dorongan lembut dari tangan Ella yang berusaha menjauhkan dan menghindar. Lagi lagi lelaki itu malah terkekeh kemudian berdiri.


"Sudah ku bilang berhenti melakukan itu."


"Kamu suka Daella. Aku tahu itu. Kamu tidak akan bisa hidup tanpaku." Ledek Darrel sambil menonaktifkan kata sandi pada pintu. Ella berjalan menghampiri dan berdiri saling berhadapan.


Perbedaan tinggi badan yang sangat jauh. Darrel 185 sementara Ella hanya 160. Namun nyatanya perbedaan itu tidak pernah Darrel hiraukan. Kecantikan Ella berhasil menutupi segala kekurangannya.


"Kenyataan berkata lain. Hampir setiap hari kamu merayu ku Kak dan sebanyak itu juga aku menolak. Sepertinya kamu yang tidak akan bisa hidup tanpaku."


"Ya aku mengakui nya. Terus kamu akan memperjuangkan hubungan kita?" Jawab Darrel tanpa berfikir lama.


"Tidak. Aku ingin hidup bebas. Banyak hal yang belum pernah aku rasakan. Dan lagi... Restu orang tua sangatlah penting. Anggap aku sebagai Adik seperti keinginan Mama."


Ella menyingkirkan tubuh Darrel lalu berjalan melewatinya. Rasanya membingungkan berada di posisinya sekarang. Dia suka tapi kedua orang tua Darrel tidak setuju. Di sisi lain, Ella masih ingin bebas menikmati hidup. Namun apa bisa? Ella tidak sadar jika kini hidupnya berada pada pengawasan kedua orang tua Darrel.


Ruang gerak akan di batasi apalagi kini obsesi Darrel berporos padanya. Mana bisa Ella mendapatkan kebebasan sesuai keinginan. Beberapa musuh Kai sudah menandainya dan itu berarti Ella tidak bisa berkeliaran tanpa pengawalan.


🌹🌹🌹


Sementara di kampus. Para penghuni riuh ketika Wiliam hadir dengan gaya berbeda. Selama ini dia sengaja bersembunyi agar ketika ada kesempatan, Liam bisa muncul sebagai sosok lain tanpa perlu di curigai.


Tubuh Liam tampak sempurna. Dewasa juga pasti di sukai para kaum hawa. Namun tetap saja, bagi Liam tatapan sekitar tidak lebih dari sebuah sampah. Dia ingin mengenal akrab Darrel untuk menyempurnakan amunisi yang sudah terencana sejak lama.


Di umurnya yang ke 34 tahun. Liam tidak tampak menua. Dia masih pantas di sebut mahasiswa. Biodata palsu tentu menjadi pilihan agar penyamarannya berjalan sempurna.


Setelah menemui kepala Dosen. Liam berjalan santai sambil mengedarkan pandangannya. Dia mencari keberadaan Darrel yang tampak belum datang.


Liam benar-benar mendalami perannya. Dia datang ke kampus mengunakan motor butut dan jauh dari kata mewah. Kacamata serta penampilan cupu berusaha di tonjolkan meskipun tetap saja Liam terlihat tampan dengan wajah orientalnya.


"Hei!!" Teriak Gilang bersama beberapa temannya. Liam berhenti, memutar tubuhnya ke arah Gilang." Kau anak baru?" Tanyanya menatap Liam dari atas sampai bawah. Wah wah. Cocok untuk di jadikan anggota.


"Ya. Pindahan dari Australia." Liam mengulurkan tangannya tapi Gilang tidak menyambutnya.

__ADS_1


"Kau sedang menghayal? Motor mu saja butut." Liam tersenyum simpul sambil sesekali membetulkan kaca matanya.


"Hm bekas orang kaya. Terpaksa harus hidup sederhana karena usaha keluarga bangkrut."


"Oh." Gilang mengangguk-angguk seraya tersenyum." Mau bergabung?" Imbuhnya bertanya.


"Bergabung apa?"


"Ke Genk ku." Bisa di jadikan amunisi untuk melawan Darrel agar dia menjauhi Ella.


"Niatku belajar. Aku tidak mau." Liam akan melanjutkan langkahnya namun Gilang menahannya.


"Aku yang berkuasa di sini. Kalau kau tidak bergabung berarti kau mencari masalah."


"Terserah. Aku tidak mau membuang waktu." Tepat di saat Gilang meraih kerah kemeja Liam. Tampak Darrel baru saja tiba bersama kawanannya. Liam tersenyum, rencananya bisa di lakukan sekarang.


Gilang yang tidak tahu akan kehadiran Darrel. Berusaha menghadiahkan bogem mentah pada wajah Liam yang langsung di balas instan.


Terlihat tubuh Gilang terhempas cukup jauh sementara kedua temannya tidak berani bertindak. Mereka tidak ingin terdampak masalah dan harus kembali di skors.


"Ada apa ini?!" Sesuai rencana. Perhatian Darrel berhasil di alihkan.


"Dia memukul ku!" Teriak Gilang sambil menunjuk ke arah Liam.


Oh apa gadis ini anak tiri Lena? Astaga cantik sekali.


"Siapa kamu?! Anak baru?" Ano memperhatikan Liam dari atas sampai bawah. Tidak ada yang mencurigakan sebab Liam terlihat seperti mahasiswa biasa.


"Aku pindahan dari Australia. Em dia menyuruh ku bergabung dan aku menolak. Aku hanya berusaha membela diri." Jawab Liam tenang.


"Apa benar begitu Gilang?"


"Dia berbohong. Kau tahu Genk ku sudah bubar sejak lama." Darrel menghela nafas panjang. Dia tidak mempercayai penjelasan Gilang sebab selama ini sosok itu kerapkali terlibat masalah.


"Siapapun yang bersalah! Jangan membuat keributan atau kalian yang akan bermasalah dengan ku." Setelah mengucapkan itu, Darrel melangkah pergi di ikuti Ano dan yang lain. Manik Liam tampak mengikuti gerak-gerik kemana Darrel melangkah.


Anak Kai sangatlah tampan. Apa mereka berpacaran?


"Aku ingin informasi soal anak baru tadi." Pinta Darrel pada Ano. Setiap kali ada anak baru, selalu saja Ano di minta untuk mengambil data lengkapnya.


"Baik." Bergegas saja Ano berjalan ke arah kiri. Dia berniat pergi ke ruang kepala Dosen.


"Untuk apa Kak." Tanya Ella ingin tahu. Sejak tadi tangan keduanya terpaut lebih tepatnya di paksa untuk senantiasa terpaut.


"Seperti yang ku lakukan padamu dulu."


"Musuh Papa Kai?" Tanya Ella berbisik.


"Ya. Papa selalu menyuruh ku waspada. Itu kenapa senjata api wajib di bawa." Ella mengangguk sambil mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Sepertinya aku malah tidak bisa bebas Kak." Eluh Ella merasakan telapak tangannya berkeringat.


"Bisa, asal bersama ku."


"Terus ini. Berkeringat dan basah." Ella menunjuk tangan yang terpaut mengunakan isyarat mata.


"Asal bersama ku Daella, ingat itu." Darrel mulai menampakkan keegoisannya." Bagaimana pendapat mu tentang anak baru tadi." Tiba-tiba Darrel menanyakan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu di pertanyakan.


"Tidak tahu."


"Kamu berbohong."


"Memang tidak tahu. Aku tidak melihatnya."


"Dia ada di depan matamu tadi." Ella menghembuskan nafas berat. Dia menebak jika Darrel tengah cemburu buta." Katakan Daella. Anak itu tampan kan." Imbuh Darrel tidak juga berhenti padahal Ella benar-benar tidak perduli pada sosok Liam.


"Entahlah Kak. Aku lapar mendengar ocehan mu!"


"Awas ya. Kamu di larang melirik apalagi sampai melihat. Akan ku rusak wajah mereka agar mereka terlihat buruk." Ella menanggapinya dengan wajah biasa sementara para anak buah yang berjalan selayaknya teman, berusaha menundukkan pandangan. Mereka tidak ingin terdampak rasa cemburu Darrel yang terkadang sulit terkontrol dan tidak memiliki mata.


"Ya di larang. Ayo membeli mie ayam." Jawab Ella asal daripada masalah berbuntut panjang.


"Kenapa tadi tidak makan yang banyak."


"Aku malu Kak. Nanti Mama menyebut ku rakus."


"Mana mungkin Daella. Mama suka kalau makanannya di habiskan."


"Nama ku Ella, Cinderella bukan Daella." Protes Ella tidak menerima sebutan tersebut.


"Kalau Cinderella sudah bertemu dengan sang Pangeran. Namanya akan berpadu." Jawab Darrel asal.


"Itu akal-akalan mu saja."


"Aku tetap akan memanggil mu Daella meski tidak suka."


"Kamu memang egois."


"Egois untuk mu saja, ingat itu." Tanpa mereka sadari, Liam berjalan mengikuti langkah mereka dengan jarak aman dan tentu tidak mencurigakan. Dia mengerti kalau sangat banyak para pengawal yang ada di sekitar. Sebab Liam juga melakukan hal yang sama. Beberapa anak buahnya membaur di antara para mahasiswa agar rencana bisa segera mencapai target.


🌹🌹🌹


Semoga aku masih semangat buat lanjut ya...


Menulis tanpa rasa itu berakibat pada karya yang tidak bernyawa😆


Beberapa hari aku malas buat nulis karena viewer yang masih sepi🤭 Beruntung bagi segelintir pembaca. Aku sudah punya beberapa simpanan part jadi bisa setiap hari update..


Tapi👀👀👀👀 Doakan aku tetap komitmen pada ceritaku dan bisa menamatkannya. Terimakasih dukungannya🌹❤️Love love seluas lautan😆🤭

__ADS_1


__ADS_2