Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 53


__ADS_3

Alan terpaksa datang ke kampus mengunakan penyamaran. Si kepala Dosen menghubunginya sementara Nay sendiri tidak mungkin hadir.


Perkelahian antara Darrel dan Liam membuat pihak kampus harus turun tangan. Keduanya sama-sama tidak mau berhenti menghantam sampai wajah mereka penuh dengan darah.


Sedangkan Ella sendiri malah bersikap tenang tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia sangat senang melihat perkelahian sengit apalagi Darrel ikut adil di dalamnya.


Apa itu berarti Kak Darrel sangat menyukai ku sampai-sampai dia rela babak belur. Ah... Kak Darrel keren sekali. Lelaki memang seharusnya mampu membela.


Jessy mengerutkan keningnya. Menatap Ella yang masih tersenyum dari samping padahal di hadapannya tengah membahas sesuatu yang serius.


Ada yang salah dari anak ini. Dia seperti senang melihat Darrel terluka seperti itu.


"Saya minta maaf selaku wali murid dari Darrel." Ujar Alan sambil menatap Liam.


"Tidak apa-apa Pak. Saya juga tidak sadar melakukan itu." Alan menghela nafas panjang lalu beralih menatap Darrel yang tidak menunjukkan rasa sesal.


"Kenapa bisa?" Tanya Alan penasaran.


"Dia menatap Ella." Tunjuk nya kasar.


"Ah..." Eluh Alan mengusap lembut rambut tebalnya." Lain kali tidak boleh seperti itu Darrel. Beruntung Liam memaafkan mu." Darrel melirik malas. Dendam membara masih tampak pada tatapan matanya.


"Dia membalas dan itu kenapa aku tidak berhenti."


"Jika aku tidak membalas, aku bisa mati." Sahut Liam membela diri. Meski kesal, tapi Alan mengakui skill membela diri Liam yang di rasa tangguh.


"Sudah cukup. Em Liam, apa tidak ada pihak saudara yang bisa di hubungi agar permasalahan ini cepat selesai." Sahut si kepala Dosen.


"Tidak ada Pak. Keluarga saya sudah meninggal. Saya juga tidak berniat berkelahi dan hanya ingin membalas perbuatan Darrel." Liam mengulurkan tangannya." Aku minta maaf. Walaupun tadi aku memukul mu. Sungguh, aku tidak membencimu." Imbuhnya menjelaskan.


"Tidak akan ku maafkan selama kau tidak berhenti menatapnya!" Menunjuk ke arah Ella.


"Aku tidak sengaja kawan. Semua orang punya mata." Darrel menghela nafas panjang untuk merendahkan emosinya. Dia membenarkan ucapan Liam namun tidak mau membenarkan sesuatu yang di anggap sebagai keteledoran.


"Seharusnya kamu yang meminta maaf Darrel."


"Tidak! Mana mungkin." Darrel berdiri, tidak lupa dia meraih pergelangan tangan Ella lalu menyeretnya keluar.


Alan kembali menghela nafas panjang. Tidak mampu berkata banyak juga berkomentar. Dia hanya meminta maaf pada Liam juga si kepala Dosen tentang kericuhan yang terjadi. Alan juga memberikan uang ganti rugi untuk pengobatan luka Liam.


Sementara Alan mengurus permasalahannya, Darrel mengiring Ella masuk ke klinik kampus. Terlihat Dokter jaga menghampiri Darrel namun di tolak mentah-mentah. Darrel bahkan menyuruh si Dokter keluar ruangan.


Setelah mengunci klinik, Darrel mendudukkan Ella di sisi ranjang sementara dirinya duduk di kursi. Kini keduanya saling berhadapan juga berdekatan.


"Kamu puas melihat ini?" Celoteh Darrel sambil meraih nampan berisi obat untuk membersihkan luka.


"Kamu memang selalu terlihat keren ketika berkelahi." Darrel tidak meminta Ella membersihkan luka. Dia melakukan itu sendiri sebab Darrel merasa jika lukanya terlalu ringan. Dengan kasar Darrel menuang cairan antiseptik pada kapas lalu mengusapnya pada wajah.

__ADS_1


"Kita temui Mama. Minta padanya agar perjodohan di batalkan." Ujarnya membuang kapas penuh noda darah ke bak sampah yang terletak di bawahnya.


"Aku tidak apa-apa Kak. Mungkin hanya butuh waktu untuk menerima ini. Suatu saat aku akan menemukan seorang..."


"Lakukan maka semuanya selesai." Sahut Darrel cepat. Merasa kesal ketika Ella berniat berpaling dari nya.


"Aku tidak mau. Kamu plin-plan." Dalam sekejap, noda darah pada wajah Darrel sudah bersih dan tergantikan dengan luka lebam berwarna biru kemerahan.


Tidak mungkin aku menjelaskan jika Ana adalah Bibik Jessy. Aku takut Mama menganggap ini pelanggaran dan menambah syarat lagi.


"Kamu ingin kehilangan aku?" Tanya Darrel menurunkan nada bicaranya. Dia menyudahi aktivitasnya lalu beralih memegang kedua jemari Ella.


"Kamu pun mengsetujui nya."


"Terpaksa."


"Terpaksa tapi menikmati." Darrel menghembuskan nafas berat sambil menatap Ella lemah.


"Menikmati apa? Tidakkah kamu sadar kalau aku selalu memperhatikan mu?" Ella tersenyum kecut lalu menyingkirkan tangan Darrel. Dia berdiri sambil menatap Darrel kesal.


"Kamu kembali pukul 11 sementara pertemuan berakhir pukul setengah delapan. Lantas? Aku harus berkomentar seperti apa?!" Seketika mimik wajah Darrel berubah gugup. Dia bingung harus menjawab apa.


Ucapan itu tidak lain hanya alasan yang di buat olehnya sendiri. Sampai dia rela berdiam diri di markas hanya agar Ella percaya akan rencana.


Bayangan buruk nan negatif sejak semalam bertengger di otak. Apalagi Ella mengakui betapa sempurnanya bentuk tubuh Jessy. Sudah pasti Darrel melupakannya dan memilih bersama Jessy malam itu.


Darrel berdiri, meraih kedua jemari Ella dan memaksanya untuk melingkarkan pada pinggang.


"Aku tidak pernah ingkar janji."


"Kamu masih tidak mengaku?"


"Mengertilah Ella. Aku terpaksa. Tolong lakukan apa yang ku minta. Bilang pada Mama kalau kamu menginginkan ku."


"Aku tidak mau."


"Berarti kamu ingin kehilangan aku?"


"Terserah, aku tidak tahu. Kamu membuatku kesal sejak kemarin. Janjimu hanya sekedar ucapan."


"Please untuk kali ini saja. Turuti permintaan ku tadi."


Ella tidak bergeming. Dia malah menikmati dekapan hangat Darrel yang mampu membuat angannya melayang entah kemana. Ella menyadari jika candu masih begitu kental. Tentu sulit menghilang, mengingat Darrel adalah sosok pertama yang mengetuk hatinya.


"Kamu setuju?" Tanya Darrel ingin tahu. Setelah beberapa menit berlalu tanpa obrolan.


"Setuju apa?"

__ADS_1


"Mengatakan itu pada Mama."


"Apa aku bisa menemukan pengganti mu Kak." Jawab Ella malah balik bertanya." Biarkan aku menemukannya. Kalau perlu kamu ikut menyeleksi calon..."


"Ku pastikan tidak akan ada!!" Sahut Darrel cepat.


"Sangat banyak..." Ucapan Ella tertahan ketika dengan cepat Darrel menarik tengkuknya lalu melummat bibirnya lembut.


Awalnya mata Ella membulat. Terkejut akan perbuatan yang sedang Darrel lakukan. Namun hanya sesaat, mungkin beberapa detik sampai akhirnya Ella tidak kuasa menolak sentuhan tersebut.


Darrel sendiri merasa aneh saat sebuah niat yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Nay senantiasa mengingatkan akan batasan yang wajib Darrel patuhi.


Namun kali ini dia tidak perduli. Tubuhnya terasa memanas ketika bibir saling terpaut. Sensasi yang baru Darrel rasakan sampai otaknya terkontaminasi oleh hasrat.


Tanpa latihan pun Darrel sudah lihai mengintimidasi permainan hingga nafas Ella beberapa kali tersengal. Sungguh dia tidak ingin berhenti bahkan berniat melakukan sesuatu yang selama ini selalu Darrel taati sebagai peraturan.


"Agh sakit..." Teriak Darrel ketika merasakan bibirnya perih. Ella mendorong tubuhnya menjauh lalu mengusap bibirnya cepat.


"Ada orang Kak." Imbuh Ella panik. Wajahnya terlihat memerah seraya tertunduk.


"Biarkan. Ruangan sudah ku kunci." Baru saja kata-kata itu terlontar. Kepala Dosen datang bersama si Dokter jaga. Mereka masuk mengunakan kunci serep.


"Darrel aku menghormati kedua orang tuamu tapi tidak seharusnya kamu berbuat ini." Si kepala Dosen sedikit kecewa melihat sikap Darrel yang sebelumnya tidak pernah asal bertindak.


"Berbuat apa?!!" Tanya Darrel meninggikan suara. Dia sedikit kesal karena di puncak hasrat, semuanya harus terhenti.


"Dokter Imron berkata kalau kamu mengusir nya dari klinik. Bukankah itu tidak sopan?" Darrel menghela nafas panjang. Dia selalu lepas kendali ketika di hadapkan permasalahan yang menyangkut Ella." Jangan nodai prestasimu. Em orang tuamu menginginkan kamu lulus tahun ini." Darrel menoleh ke Ella yang masih tertunduk.


"Ya. Saya hanya ingin di obati olehnya.'' Menunjuk ke arah Ella.


"Tapi jangan menyeret paksa. Em Dokter Imron sudah..."


"Saya paham. Saya minta maaf. Sudah kan? Tidak perlu di perpanjang." Darrel mengiring Ella keluar. Sementara kedua lelaki paruh baya itu menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap ke arah Darrel.


"Saya berani bersumpah Pak. Mereka melakukan itu tadi." Gumam Dokter Imron yang sempat tahu ketika Darrel dan Ella berciuman." Saya sempat merekam..." Si kepala Dosen mengambil ponsel Dokter Imron lalu menghapus video berdurasi beberapa detik tersebut.


"Bapak masih ingin berkerja di sini kan." Tanya kepala Dosen seraya mengembalikan ponsel.


"Ya saya mau. Tapi perbuatan mereka..."


"Saya tidak bisa banyak bicara. Lupakan soal apa yang anda lihat tadi kalau memang hidup anda ingin berjalan baik. Saya permisi Pak."


Dokter Imron terpaku menatap kepergian si kepala Dosen. Tidak ada lagi yang bisa di lakukan kecuali patuh. Sebab dirinya tahu kalau si kepala Dosen tidak mungkin asal memperingatkan.


Pasti anak pejabat atau pengusaha. Kenapa mereka selalu punya anak berwatak buruk. Astaga... Aku harus membersihkan tempat ini agar tidak ketiban sial..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2