
Dan benar! Hingga pukul 11 malam, Ella belum juga memejamkan mata. Meski dia berusaha sekuat apapun untuk tidur. Berusaha menghilangkan rasa cemburu dan kekesalan, namun gagal.
Dari balik selimut, Ella mengintip pintu kamar terbuka. Hatinya kian merasa sakit ketika dia melihat sosok Darrel. Paras dan kesempurnaannya semakin membuat Ella merasa tidak rela jika sosok itu dan perhatiannya di miliki gadis lain.
"Kenapa telepon ku tidak kamu angkat." Tanya Darrel sambil melepas jaket kebanggaannya. Dia tersenyum simpul dan malah memanfaaatkan keinginan Nay. Dia juga harus membuat Ella bertekuk lutut padanya dan memohon." Aku tahu kamu belum tidur." Darrel menyikap selimut lalu duduk di sisi ranjang.
"Kenapa ke sini? Mama menyuruhku menjauhi mu." Mendorong kasar punggung Darrel.
"Ana sudah ku antar pulang." Jawaban Darrel semakin membakar perasaan Ella.
"Ya sudah. Kembali ke kamar mu dan tidur."
"Tenanglah. Selama aku belum menikah, aku masih bisa menidurkan mu." Darrel mulai menyentuh kaki namun dengan cepat Ella duduk sambil menatapnya tajam.
"Jadi kamu menyerah?" Darrel tersenyum simpul.
"Menyerah apa?"
"Katamu tidak mau menikah?" Selain dengan ku.
"Terpaksa Daella. Aku tadi berusaha menolak tapi Mama marah padaku. Dia mengancam akan menghapus ku dari daftar keluarga. Itu berarti kekuasaan Papa di serahkan pada orang lain." Ella membuang nafas panjang sampai dadanya membusung.
"Hm.." Dia bilang tidak perduli sekalipun Mama Nay menghapusnya dari kartu keluarga. Ternyata ucapan Kak Aga benar. Kak Darrel itu jago menggombal dan membual.
Darrel terkekeh dalam hati. Merasa kasihan tapi dia juga ingin Ella segera mengakui rasa.
"Sekarang kamu tidur. Besok kuliah." Pinta Darrel lembut. Berniat mengusap rambut Ella yang bergegas berdiri untuk mengindari sentuhan.
"Perut ku sakit Kak. Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Biarkan aku menjadi terbiasa dan jangan terbebani dengan kebiasaan ku."
Ella berjalan masuk kamar mandi. Menutup pintunya dengan sangat kasar. Braaaakkkkk!!!
"Dasar bocah hehehe..." Darrel malah berbaring dan menunggu Ella sampai selesai. Semenjak kebersamaan mereka, Darrel senantiasa melakukan kebiasaan tersebut agar Ella bisa tidur dengan nyenyak.
.
.
__ADS_1
.
Setengah jam berlalu. Darrel menghela nafas panjang sambil menatap ke pintu kamar mandi yang tidak bergerak. Rasanya sedikit tidak sabar. Ingin mendobrak masuk ketika dengan jelas Ella beberapa kali mengintip dari sela pintu.
Rupanya Ella sengaja tidak keluar agar Darrel pergi. Alasannya, karena air mata tak dapat terbendung. Apalagi setelah Ella tahu kenyataan jika Darrel menyerah dan memilih kekuasaannya.
"Apa yang kamu lakukan." Darrel terpaksa beranjak dan mendorong pintu agar terbuka. Cepat-cepat Ella menunduk lalu berjalan melewatinya begitu saja. Tanpa melontarkan kata-kata. Ella berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Darrel berjalan menghampiri dan duduk di tepian ranjang tepatnya di bawah kaki Ella. Tanpa persetujuan, dia menyikap selimut lalu memberikan usapan lembut pada kaki.
"Tidur saja kalau kesal. Tidak perlu bicara. Aku yakin besok pagi kekesalan mu akan menghilang." Ujar Darrel pelan. Sungguh dia merasa tidak tega. Namun syarat dari Nay harus di penuhi.
Bagaimana bisa hilang. Besok pagi Ana ada di kampus. Mereka pasti terus menempel. Lalu bagaimana dengan aku?
Walaupun hati Ella merasa sakit. Tapi rupanya usapan pada kaki mampu mengalahkan rasa sakit tersebut. Perlahan, matanya mulai meredup. Kedua sudut pipinya tampak basah sebab sampai saat ini air mata enggan berhenti.
Ah Mama ada-ada saja. Aku yakin suatu saat Ella akan mengakui rasa meski tanpa bantuan Bibik Jessy. Aku malah tidak tega melihatnya tertekan. Tapi kalau tidak ku lakukan, nanti Mama akan kecewa.
Hanya butuh waktu sepuluh menit. Ella sudah tertidur pulas. Kebiasaan itu sangat di ingat Darrel. Ketika tangannya berhenti mengusap dan Ella tidak bergerak, itu berarti tidurnya sudah sangat pulas.
"Akhirnya bayiku tidur juga." Darrel beranjak kemudian membetulkan posisi selimut. Dia melihat ponsel Ella yang tergeletak di lantai dan memungutnya.
πππ
"Dia sudah saya dapatkan Tuan.
Terlihat Darrel mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan orang yang di maksud Ano.
"Siapa?
"Liam. Tadi saya sudah melunasi sisa hutang keluarganya dan saya berhasil berteman dengan nya.
Darrel menghembuskan nafas berat nan panjang.
"Bukankah aku bilang untuk memantau terlebih dahulu. Jangan bergerak dan mengambil keputusan sendiri.
"Maaf Tuan. Saya tadi merasa kasihan...
__ADS_1
"Sejak kapan Ano?!!! Sejak kapan kau punya belas kasihan pada lelaki tidak jelas. Kita belum tahu siapa Liam! Jangan asal memutuskan dan ceroboh!
"Ma maaf Tuan. Sudah terlanjur.
"Ya mau bagaimana lagi. Asal tidak memakai nama ku! Papa bisa marah!
"Baik Tuan. Saya berkata itu uang pribadi saya.
"Hm. Lain kali jangan asal. Kau bisa terkena masalah!
πππ
Darrel mengakhiri panggilannya. Dia beralih menelfon Alan untuk menceritakan tentang keputusan Ano barusan. Tentu saja Alan langsung naik pitam. Sejak awal dia juga merasa kalau Ano masih terlalu ceroboh dalam bertindak. Sehingga sulit baginya untuk menerapkan pemahaman jika apapun keputusan yang di ambil, harus benar-benar di fikirkan secara matang.
"Ampun Kak. Saya tidak melibatkan Tuan Darrel. Saya mengunakan nama saya sendiri." Alan membalikkan tubuhnya lalu memberikan tendangan pada bagian dada Ano yang langsung tersungkur.
"Itu kenapa aku belum mempercayai mu untuk menggantikan ku! Kau terlalu ceroboh dan bodoh!!! Untuk apa kau melakukan itu! Membantu lelaki tidak jelas tanpa tujuan yang pasti!! Kau sudah merasa hebat hah! Sampai-sampai kau tidak mengatakan itu padaku!!"
Ano tertunduk. Sedikit menyesal dengan keputusannya. Tapi sayangnya dia masih merasa jika Liam akan jadi amunisi terbaik. Sebab syarat masuk ke dalam anggota hanya jujur, skill bela diri dan tahan menerima kesakitan.
"Saya berjanji tidak akan asal melangkah lagi." Jawab Ano pelan.
"Kau selalu menyepelekan kecerobohan mu! Satu debu saja bisa menghancurkan semua jika kau salah mengambil keputusan!!"
Bukan tanpa alasan Alan marah. Sebab musuh Kai selalu berusaha masuk di sela terkecil sehingga kejelian sangat di butuhkan.
Bertahun-tahun Alan berusaha menjadi tameng untuk melindungi Kai yang di anggap orang terpenting untuknya. Karena sejak kecil Alan memang tidak memiliki keluarga. Hanya keluarga Kai satu-satunya orang yang kala itu menerima kehadirannya dan memberikannya kehidupan layak.
"Maaf Kak. Saya minta maaf."
"Di mana dia tinggal."
"Kampung rambutan. Dia salah satu penghuni kontrakan di sana."
"Antar aku ke sana." Alan berjalan masuk mobil. Dengan sempoyongan Ano mengikuti dan duduk tepat di samping Alan.
Mobil berpacu menuju kampung yang di maksud. Alan tidak ingin membuang waktu. Dia ingin melihat sendiri bagaimana penampakan Liam sampai-sampai Ano dengan mudah ingin merekrutnya menjadi anggota.
__ADS_1
πΉπΉπΉ