Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 43


__ADS_3

Kapan aku punya dada sebesar itu?


Ano menatap bingung ke arah Ella yang sejak tadi diam. Gadis itu hanya sesekali menddesah lembut sambil menunduk seakan memperhatikan bagian bawah tubuhnya.


💌Dia hanya melakukan itu Tuan.


Ano membalas pesan yang di kirimkan Darrel. Bingung tentu saja. Sebab awalnya Darrel kira jika Ella ingin membolos agar bisa bebas bermain game.


💌Sebentar lagi pelajaran selesai.


💌Baik.


"Em. Nona Ella." Ujar Ano terbata.


"Ya. Apa!" Ella menoleh dengan wajah masam.


"Tuan Darrel bertanya. Kenapa Nona tidak membicarakan rencana membolos hari ini." Tanyanya berbisik.


"Tidak tahu." Ano tersenyum aneh. Dia di buat bingung dengan jawaban Ella yang terdengar asal-asalan." Aku ingin ke mini market." Seketika Ano semakin panik ketika Ella beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan Nona. Tunggu Tuan Darrel keluar dulu. Saya mohon." Sambil menatap sekitar yang cukup sepi. Beruntung, sebagian besar mahasiswa mengikuti mata pelajaran di dalam kelas masing-masing jurusan.


"Aku tidak mau bertemu dengan nya. Aku sedang malas. Tolong pesankan taksi."


"Aduh. Saya bisa di hukum." Eluh Ano berbisik.


"Aku tidak tahu Kak. Pokoknya aku mau ke mini market. Kalau Kak Ano tidak mau memesankan taksi, biar aku yang cari sendiri." Ano menghalangi langkah Ella yang hendak pergi.


"Sebentar lagi kelas selesai."


"Aku harus cepat." Ella menyingkirkan tubuh Ano. Terpaksa, Ano mengikuti kemana langkah Ella sambil terus berusaha merajuk.


"Ini berbahaya."


"Aku punya senjata."


"Tolong jangan pergi dulu dan tunggu sampai pelajaran, em.. Darrel selesai." Keadaan jalanan kampus yang cukup ramai membuat Ano mengganti cara berbicaranya menjadi lebih akrab.


"Aku hanya ke mini market Kak."


"Iya tapi..." Langkah Ella terhenti saat melihat Darrel sudah berdiri tidak jauh dari nya. Bergegas saja dia memutar haluan untuk menghindar. Bukankah Ella paham jika semua akan sia-sia? Sebab mana mungkin Darrel membiarkannya pergi.


"Kamu tahu aku akan terdampak masalah karena hal ini." Ucap Darrel seraya mengikuti langkah Ella." Kemana tugas mu. Kenapa kamu berbohong." Darrel meraih tas Ella. Dia membukanya sambil terus berjalan." Apa maksudmu." Imbuhnya menunjukkan lembaran tugas.


Ella tidak bergeming. Darrel memasukkan kembali tugas dan memberikan tas pada Ano. Ini kali pertama dia melihat sikap membingungkan dari Ella. Meski pemalas dan bergantung, tapi biasanya Ella enggan membolos.

__ADS_1


"Tunggu. Kamu mau kemana?" Dengan terpaksa Darrel menghalangi laju kaki Ella sambil memegangi kedua pergelangan tangannya.


"Ke mini market." Jawab Ella ketus. Wajahnya berpaling dengan bibir mengerucut.


"Kenapa tidak bilang? Kamu mau kabur?"


"Tidak." Ano menggelengkan kepalanya ketika Darrel menatap ke arahnya untuk mencari jawaban.


"Katakan kenapa?"


"Apa?" Jawab Ella balik bertanya.


"Kenapa kamu bersikap seperti ini?"


"Tidak." Ella masih terlalu angkuh untuk mengungkapkan rasa cemburunya.


"Kamu ingat Mama bilang apa pagi ini?" Ella mengangguk. Dia sendiri yang berjanji melapor kalau seandainya Darrel membolos.


Namun kebungkaman Ella semakin membuat Darrel frustasi. Dia sendiri belum tahu jika Ella sedang menunjukkan rasa cemburunya.


"Kamu mau aku di hukum?"


"Ya masuk saja agar tidak di hukum." Jawab Ella asal bicara.


"Pak Ikhsan ada urusan. Dia hanya memberikan pelajaran sebentar lalu pergi." Darrel menunjukkan tanda tangan Pak Ikhsan yang berhasil di dapatkan dari catatannya." Jelaskan padaku kenapa kamu marah?" Ella terdiam sambil terus berpaling.


"Iya. Kak Darrel memang paling pintar. Catatannya sangat lengkap." Ucap Ella menjelaskan dengan hati terbakar. Ana semakin terlihat dewasa juga sangat cantik ketika sinar matahari menerpa tubuhnya. Ana seksi sekali.


"Terimakasih ya Ella. Em mau ke kantin bersama." Ella menatap Darrel yang tidak bergeming. Tatapannya tajam menusuk seakan tengah menancapkan belati tajam pada bola matanya.


"Tidak. Aku mau ke... Mini market. Mungkin Kak Darrel..."


"Pergi. Kau menyela pembicaraan kami." Sahut Darrel merasa terganggu akan kehadiran Ana.


"Oh maaf. Kalau begitu aku permisi." Ana tersenyum dan tanpa rasa bersalah pergi begitu saja sambil membawa catatan milik Darrel. Hah. Masih pantas juga aku menjadi anak remaja. Hahaha menggelikan. Bagaimana Tuan Darrel tidak mengenali ku.


"Aku akan di jodohkan kalau sampai aku membolos kuliah." Ella tertunduk. Kekesalannya terasa tidak berarah juga enggan menghilang. Itu kenapa Ella memilih menghindar dan berharap perasaannya membaik.


"Hm."


"Bantu aku. Jangan mempersulit keadaan."


"Hm. Maaf."


"Kamu tahu aku tidak sedang marah?" Darrel takut pada obrolan yang mungkin membuat Ella menjadi kesal dan kehilangan rasa nyaman padanya.

__ADS_1


"Ya."


"Oke. Ano, tolong ambil catatan tadi. Ini bisa jadi masalah besar."


"Baik." Ano bergegas pergi untuk mengambil catatan yang di bawa Ana.


"Kenapa? Jelaskan?" Darrel masih penasaran akan sikap Ella yang terlihat aneh.


"Tidak." Terdengar helaan nafas panjang nan berat. Jawaban Ella terdengar berputar-putar.


"Mau membeli apa? Lakukan setelah mata kuliah ke dua. Kamu tahu aku tidak bisa membolos." Rajuk Darrel memelankan suara.


"Mungkin aku bosan melihat mu Kak."


Bersamaan dengan itu, Ano kembali dengan nafas memburu. Dia menjelaskan jika sedang terjadi perkelahian di belakang kampus. Tanpa berlama-lama Darrel mengiring Ella untuk ikut meski terjadi sedikit pemaksaan.


Setibanya di lokasi, terlihat Liam berdiri gagah sementara Gilang dan yang lain menggerang kesakitan. Ano sedikit terkejut saat melihat Liam baik-baik saja padahal tadi sempat di keroyok.


Seakan acuh, Liam mengambil tas miliknya yang tergeletak dan berniat pergi tanpa berucap. Tentu saja Darrel tidak membiarkan hal tersebut. Skill membela diri Liam cukup membuat perhatian Darrel teralihkan.


"Kenapa kamu menghajar mereka?" Liam memutar tubuhnya lalu tersenyum simpul. Kacamata tebal yang Liam pakai tidak mengikis paras tampannya.


"Maaf. Mereka menawarkan saya bergabung. Em saya hanya ingin berkuliah dan belajar. Saya tidak mau terlibat dalam organisasi yang tidak jelas."


"Dia berbohong Rel." Teriak Gilang berusaha berdiri untuk melontarkan pembelaan.


"Kau ingin di skors lagi." Jawab Darrel seraya menatap ke arah Gilang tajam.


"Selalu saja tidak percaya dengan ku."


"Ada CCTV. Jangan melontarkan pembelaan." Padahal Darrel hanya asal bicara sebab CCTV tidak menjangkau area belakang kampus. Gilang menghembuskan nafas berat sambil menatap kesal ke arah Liam." Kenapa pindah?" Kini tatapan Darrel beralih pada Liam.


"Usaha kedua orang tua ku bangkrut. Aku tidak bisa egois dengan terus kuliah di luar negeri."


"Oh. Darimana kamu belajar membela diri dan untuk apa?" Liam tersenyum simpul sambil menatap teduh ke arah Darrel.


"Skill membela diri sangat di butuhkan bagi seorang lelaki. Ayahku yang mengajarkan."


"Hm memang."


"Apa mereka teman mu?" Tanya Liam sambil menunjuk ke arah Gilang.


"Bukan. Aku hanya tidak suka pembullyan. Anggap aku sebagai kepala keamanan." Liam mengangguk-angguk.


"Oh begitu. Baik, aku permisi. Em ingin berkeliling untuk mengetahui lokasi kampus sebelum mata kuliah di mulai."

__ADS_1


Liam tersenyum kemudian melangkah pergi. Dia benar-benar mendalami peran agar Darrel tidak merasa curiga. Liam ingin menarik perhatian Darrel dengan perlahan agar nantinya dia bisa menggantikan posisi Ano yang menjabat sebagai orang kepercayaan.


🌹🌹🌹


__ADS_2