Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 42


__ADS_3

Sementara Ella makan, Darrel memeriksa berkas Liam yang tampak normal. Tidak ada yang mencurigakan sebab rupanya Liam memalsukan jati dirinya dengan sangat rapi.


"Aku suka caranya memukul." Gumam Darrel pelan. Sesuai keinginan, perkelahian antara Liam dan Gilang membuat perhatiannya teralihkan.


"Ya sepertinya dia terbiasa melakukan itu. Em apa perlu aku memanggil nya?" Tanya Ano menawarkan.


"Tidak perlu. Dia akan besar kepala." Ano mengangguk seraya tersenyum. Dia merasa lega melihat hubungan antara Darrel dan Nay yang kembali normal setelah insiden tersebut meski suasana hati Darrel masih sulit terkontrol.


Tampak jelas pemandangan sekitar. Para mahasiswa cenderung acuh karena tidak ingin terdampak masalah. Mereka berpura-pura tidak melihat keberadaan Ella yang sebenarnya mampu menggetarkan hati.


Selayaknya magnet, sosok Ella kini menjadi pembicaraan terpanas. Kecantikannya seolah bertambah dalam setiap hari. Namun semua itu tidaklah berguna. Darrel tidak segan-segan menyeret mahasiswa yang berani melihat secara berlebihan apalagi sampai melontarkan sapaan. Hal tersebut membuat suasana menjadi kaku ketika Darrel dan Ella ada di sekeliling mereka.


"Masakan Mama memang lebih enak daripada mie ayam ini." Sontak pembicaraan receh tersebut mengalahkan berbagai macam obrolan.


"Aku sudah pernah bilang kan."


"Maklum Kak. Aku sudah lama tidak makan enak." Jawab Ella polos. Tanpa perduli pada suasana kaku nan aneh yang terjadi di sekitar. Jangankan untuk melirik, bernafas pun mereka memilih melakukannya dengan sangat pelan.


"Terus bagaimana tugas dari Pak Ikhsan." Darrel membuka tas dan memberikan beberapa lembar kertas yang sudah di susun seperti buku." Oh iya. Kemarin aku lupa tidak mencetaknya. Terimakasih ya." Darrell terkekeh kecil. Ella ingin berkuliah namun enggan belajar. Hampir semua tugas di kerjakan. Darrel bahkan rela berpura-pura bodoh dan ikut di hukum kalau Ella tersandung soal pemahaman pelajaran.


"Untuk apa berkuliah. Belajar memasak mungkin lebih baik." Ella menghela nafas panjang. Dia melirik malas sambil membaca tugas yang di kerjakan Darrel.


"Ayah bisa marah. Aku juga tidak mau kamu mengambil alih mini market itu."


"Mana mungkin begitu. Untuk apa aku melakukannya."


"Pokoknya aku ingin lulus Kak. S1 tidak masalah. Jangan terus berprotes. Katanya mau membantu."


"Ya baik. Sudah habis kan. Ayo masuk kelas." Darrel meletakkan satu lembar uang pecahan 50 ribu lalu beralih meraih jemari Ella dan menggenggamnya.


"Nanti jangan lupa bantu aku kalau Pak ikhsan bertanya. Kak Darrel kan tahu aku tidak tahu soal tugas ini."


"Hm ya. Kamu hanya memikirkan bagaimana caranya naik level." Ano tertunduk. Ingin ikut tersenyum namun dia tidak ingin terkena gampar. Padahal biasanya Ano bisa bersikap biasa saja seakan mereka teman. Tapi setelah Darrel mengakui perasaannya, ruang gerak menjadi terkikis.


"Kamu mengeluh lagi Kak."


"Tidak."


"Itu tadi apa?"


"Bukankah kamu menganggap ku Kakak. Sudah sewajarnya aku mengomel."


"Iya. Umurmu lebih pantas di panggil Om." Darrel sempat melirik ke sekeliling sebelum akhirnya menghela nafas panjang.


"Aku masih pantas menjadi pasangan anak SMP."


"Hm."


"Aku serius Daella."

__ADS_1


"Ya serius. Akupun percaya. Fans mu sangat banyak." Jawab Ella seakan marah.


"Hei kenapa nada bicaramu seperti itu."


"Seperti apa Kak. Umurmu memang jauh lebih tua daripada wajahmu. Kamu memang tampan. Banyak pengemar dan itu kenapa sangat banyak pilihan." Darrel menghentikan langkahnya dan secara otomatis Ella ikut berhenti.


"Tidak ada pilihan." Jawab Darrel menatap Ella lekat.


"Yakin tidak ada." Ella malah tersenyum simpul. Dia ingin menyadarkan Darrel bahwa hubungan keduanya belum mengantongi restu.


"Kenapa tidak berkata jujur."


"Jujur apa?" Ella berpaling untuk menghindari tatapan Darrel yang mulai menusuk.


"Kamu memang suka bersembunyi. Aku tahu kamu juga menyukaiku."


"Sebagai Kakak."


"Sebagai pangeran." Ella melirik sebentar lalu kembali berpaling. Beberapa kali dia memang menyebut Darrel sebagai pangeran. Tapi ucapan itu hanya di lontarkan ketika dia sedang sendirian.


Kenapa dia tahu? Aku yakin Kak Darrel memasang kamera di tubuh ku. Tapi...Mana bisa?


"Hah. Itu hanya dongeng Kak. Ibuku mungkin asal memberikan nama. Di jaman sekarang mana ada seorang pangeran. Ini bukan di Inggris."


Darrel tersenyum kemudian kembali berjalan. Dia yakin Ella sedang mencari-cari alasan untuk menutupi perasaan dan angan-angannya.


"Hanya nama." Jawab Ella menyangkal.


Keduanya terus berdebat sampai tiba di kelas. Agatha tampak duduk berdekatan dengan Liam. Sepertinya target sudah teralihkan. Mungkin Agatha merasa lelah mengejar atau dia sedang berusaha membuat Darrel cemburu.


Darrel tidak perduli. Maniknya lebih tertarik pada seorang gadis berpenampilan dewasa yang duduk di bangku milik Ella. Bukan tertarik dalam hal penampilan. Namun Darrel tidak senang ketika bangku milik Ella di duduki gadis lain.


"Ada dua anak baru?" Tanya Darrel berbisik.


"Aku tidak tahu." Jawab Ano pelan.


"Pindah. Ini sudah ada yang menempati." Tegur Darrel tegas.


"Oh aku tidak tahu. Maaf Kak." Si gadis tersenyum simpul lalu berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Darrel." Namaku Ana." Imbuhnya memperkenalkan diri.


"Darrel." Manik Ella seketika berkilat. Ada rasa sakit menusuk perasaan ketika Darrel menyambut uluran tangan Ana.


Dia cantik sekali dan dewasa. Sementara aku. Ella menatap bagian dada yang tampak rata.


"Hai aku Ana." Kini tangan Ana terulur ke arah Ella.


"Aku Ella." Jawabnya tanpa menyambut uluran. Seharusnya Kak Darrel jangan terlalu ramah. Bisa jadi Ana salah satu musuh.


"Oh Ella. Maaf ya. Ini tempat duduk mu." Ana membereskan buku-bukunya. Darrel tampak terdiam, bukan karena terkesima tapi dia sepertinya mengenal nada bicara Ana." Permisi." Ana tersenyum kemudian pindah tempat. Manik Darrel mengikutinya, berusaha mengingat mungkin dia pernah melihat Ana di suatu tempat.

__ADS_1


Para mahasiswa dengan senang hati memberikan bangku mereka untuk Ana yang memang terlihat dewasa dan cantik. Mereka merasa beruntung karena tahun ini universitas di penuhi dengan sosok baru yang mendinginkan mata.


Sementara Darrel yang tengah mengingat, di kejutkan suara tas yang di letakkan kasar. Dia baru sadar jika jemarinya sudah terlepas dari tangan Ella.


Ada benarnya perkataan Kak Agatha. Begitulah penilaian Ella saat melihat Darrel menatap Ana berlama-lama. Tentu dia merasa cemburu mengingat perkataan Agatha beberapa Minggu lalu yang menjelaskan Darrel tidak bisa setia pada satu nama.


"Suaranya tidak asing." Gumam Darrel seraya duduk.


"Hm lembut seperti es krim." Sahut Ella menimpali. Darrel menoleh, bersamaan dengan masuknya Pak ikhsan.


"Aku serius. Suaranya familiar." Ujar Darrel pelan.


"Itu karena Kak Darrel terlalu banyak mengenal seorang gadis."


"Tidak. Bukan begitu."


"Hm." Jawab Ella singkat. Seakan ingin fokus pada pelajaran meski nyatanya hatinya merasa sakit.


Ella merasa bingung akan rasa sesak yang seketika menjalar. Mungkin dia terlalu takut kehilangan juga takut kalau suatu hari nanti perhatian Darrel teralihkan. Bagaimana dengan nasibnya kelak? Saat Darrel memiliki pasangan dan sudah tidak punya banyak waktu untuknya.


Ada Mama Nay. Suatu saat aku juga akan menemukan lelaki yang tepat. Ingat Ella... Mama Nay tidak merestui hubungan kalian. Biarkan saja Darrel tertarik pada wanita lain. Itu akan menggampangkan semuanya.


Ella menghela nafas panjang nan berat. Kesakitan tidak mudah pergi padahal dia hanya melihat Darrel teralihkan perhatiannya. Bagaimana nantinya jika dia melihat Darrel memanjakan gadis lain di hadapannya.


Lelaki itu punya banyak Istri. Begitupun Kak Darrel yang katanya suka bergonta-ganti pasangan. Lantas apa bedanya mereka? Tidak ada! Aku tidak memahami kenapa lelaki tidak bisa komitmen pada satu nama.


Angan Ella terlalu jauh melayang sampai-sampai dia menghiraukan panggilan dari Pak Ikhsan. Darrel berusaha memanggilnya dan menyadarkan dengan menyentuh bahunya. Mungkin trauma sudah menggerogoti otak, sehingga Ella merasa takut kehilangan secara berlebihan.


"Ella mana tugasmu." Seketika Ella menegakkan pandangannya dan saat itu juga Darrel menyadari manik yang tampak berkaca-kaca." Kenapa? Kamu lupa mengerjakannya dan ingin menangis untuk memohon tambahan waktu." Imbuh Pak ikhsan menebak.


"Saya lupa tidak mengerjakannya." Jawaban tersebut tentu membuat Darrel terkejut sebab tugas sudah di kerjakan.


"Kamu mengerjakannya dengan ku kemarin." Sialnya. Darrel sudah menyerahkan tugas miliknya sehingga kini dirinya tidak bisa mengimbangi kelalaian Ella.


"Kapan Kak. Saya lupa tidak mengerjakan tugas." Jawab Ella menyangkal. Aku tidak selera mengikuti pelajaran.


"Coba..."


"Cukup Darrel. Kamu boleh keluar dari mata pelajaran hari ini sesuai dengan peraturan."


"Ya Pak." Bergegas saja Ella menenteng tasnya. Ano memberi isyarat Darrel untuk tetap tenang sebab rupanya Nay sudah memberikan ultimatum pada Darrel untuk tidak membolos.


Dengan terpaksa, Ano tidak menyerahkan tugasnya agar dia bisa keluar untuk menyusul Ella. Ingin rasanya Darrel pergi, tapi dirinya harus mendapatkan tanda tangan dari Pak Ikhsan seusai pelajaran. Nay bisa memberikan hukuman kalau sampai Darrel tidak menuruti perintahnya dan bisa jadi restu akan semakin sulit di dapatkan.


Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak memberikan tugas itu? Mungkin mataku salah? Aku melihat maniknya berkaca-kaca? Dia kecewa melihat apa?


Walaupun terlihat fokus tapi rupanya Darrel tidak mampu menerima pelajaran dengan baik. Fikirannya di penuhi oleh pemandangan tidak mengenakkan yang di pertontonkan Ella.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2