
Dengan mengunakan skill aktingnya. Nay berubah menjadi bak seorang remaja berusia 27 tahun. Sengaja dia menyamar sebab sudah lama Nay tidak bermain-main.
Selama bertahun-tahun, Nay merasa tidak ada kasus yang membuatnya tertarik. Semua berjalan datar, tanpa ada sesuatu yang baru dan menegangkan.
Karena keinginan gila itu, membuat Kai menolak mentah-mentah dan berusaha menyadarkan Nay. Namun apa bisa? Apapun yang jadi tujuan Nay harus berjalan sesuai dengan keinginan.
"Oh Naya. Kamu sudah berpengalaman sekali." Puji pemilik tempat pemandian yang di ketahui bernama Parman. Biasanya penerimaan karyawan tidak pernah melalui dirinya. Tapi niat itu timbul seketika saat Parman melihat bagaimana cantiknya calon pegawainya.
"Ya Pak. Saya terpaksa berhenti karena harus pulang kampung." Jawab Nay tersenyum simpul.
"Em begitu. Tolong pelajari." Parman menyodorkan selembar kertas berisi syarat kontrak kerja sambil memandangi Nay berlama-lama.
Astaga 2,5 juta? Gaji ini kecil sekali. Batin Nay membenarkan penjelasan yang di dengar dari Istri Sigit.
"Apa ini gaji awal Pak?" Tanya Nay ingin tahu.
"Ya tergantung keahlian mu saja. Kalau perkerjaan mu bagus, mungkin setiap tahun bisa naik gaji." Nay menelan bulat-bulat tatapan nakal Parman.
"Setiap tahun? Lama sekali."
"Memang begitu peraturannya. Em tapi untuk kamu ada kompensasi." Imbuhnya berbisik.
"Kompensasi apa?"
"Saya bisa gaji kamu 4 juta tapi..." Parman mendekatkan wajahnya dan membisikkan keinginan bejatnya. Bukannya panik, Nay malah tertawa kecil.
"Empat juta?" Parman menghela nafas panjang. Dia merasa terhina mendengar tertawaan Nay." Kosmetik saya saja harganya puluhan juta." Imbuhnya meledek. Ingin menyadarkan Parman kalau gaji minim yang di berikan sudah tidak layak.
"Kalau mau puluhan juta. Kamu jadi Istri ku saja." Parman tidak sadar jika wanita di hadapannya berumur jauh lebih tua dari kelihatannya. Operasi plastik yang di lakukan Nay membuat wajahnya awet muda.
"Maaf Pak, saya ingin bekerja dengan baik. Terpaksa saya terima karena saya sedang butuh pekerjaan." Tanpa berfikir panjang, Nay menandatangani surat perjanjian lalu menggesernya.
Dasar sok jual mahal.
"Hm ya sudah. Kalau kamu berubah fikiran hubungi saya."
"Baik Pak." Parman menghubungi seseorang. Tak berapa lama kemudian, lelaki berumur 28 tahun terlihat masuk ke dalam ruangan.
"Tolong training dia. Jelaskan perkerjaannya." Pinta Parman sedikit kesal akan penolakan tapi dia tidak berniat menyerah. Parman yakin jika suatu saat Nay bisa terjerat olehnya.
"Mari Nona."
Nay sempat tersenyum sejenak, sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan. Mengikuti si lelaki yang di ketahui sebagai manager. Di salah satu ruangan Nay di giring masuk. Sebuah berkas di sodorkan ke arahnya.
"Itu laporan gaji para karyawan setiap bulannya. Sebaiknya kamu periksa dan pelajari agar bulan depan kamu tidak selisih dalam menghitung."
Nay mengangguk patuh. Membuka berkas yang berisi rincian gaji para karyawan. Langsung saja dia membalik halaman untuk mencari berapa besar gaji seorang scurity.
__ADS_1
Tidak ada nama Sigit tertera di sana. Gaji pun hanya dua juta setiap bulannya. Belum termasuk potongan jaminan kesehatan dan lain-lain.
"Jujur saja Pak. Gaji para karyawan kenapa kecil sekali?" Tanya Nay ingin tahu pendapat lelaki di hadapannya.
"Ya Nona. Mau bagaimana lagi. Saya berusaha meminta kenaikan gaji para karyawan lama tapi Pak Parman tidak pernah mengsetujui nya. Beliau malah mengancam akan memecat saya kalau terlalu banyak mulut."
"Padahal tempatnya ramai ya Pak."
"Hm. Saya perkirakan hasilnya ratusan juta setiap harinya." Nay menutup berkas lalu menggenggamnya." Lebih baik kamu berkerja dengan baik saja. Jangan terlalu banyak bertanya kalau memang kamu butuh perkerjaan ini. Tolong kerjakan tugas itu, em saya tinggal dulu." Setelah melontarkan itu, si lelaki berjalan keluar ruangan meninggalkan Nay sendirian.
"Dua juta di era baru? Astaga... Segitunya mencari untung. Seharusnya jangan merekrut karyawan kalau tidak ikhlas untuk memberikan gaji."
Setelah tahu kenyataannya. Nay malah ingin menguasai tempat tersebut. Sambil duduk, Nay mengambil ponselnya untuk menghubungi Kai.
πππ
"Kamu menyerah?
Tentu saja Kai langsung melontarkan pertanyaan itu. Dia tidak rela melihat Nay jauh dari pengawasan walaupun kamera pengawas sudah terpasang di berbagai sudut. Bukan hanya itu, sebab rupanya Kai menyuruh Alan untuk menempatkan beberapa orang yang menyamar sebagai pengunjung.
"Aku ingin tempat ini.
"Untuk apa?
"Memimpin perusahaan terasa membosankan. Sementara tempat ini sangat menyenangkan. Kita bisa berlibur di...
"Apa mau mu? Jangan banyak melontarkan alasan.
"Hm akan ku beli dengan harga tinggi.
"Tidak sayang. Kurang seru rasanya tanpa perseteruan. Kamu lupa aku ingin bermain-main dengan pemilik tempat ini?
"Lantas apa rencana mu.
"Cari tahu soal keluarganya. Jika penghalang tidak terlalu banyak. Segera ku lakukan eksekusi.
"Baik. Kalau sudah jelas percepat eksekusi. Aku tidak mau kita berjauhan.
"Iya sayang. Siang nanti kita bertemu. Percayalah, aku bisa menjaga diri.
πππ
Nay mengakhiri panggilan. Dia menyimpan ponselnya dan mulai melakukan pekerjaan yang di berikan si lelaki. Untuk sementara dia akan bersikap selayaknya karyawan lain sambil menunggu informasi lanjutan.
πΉπΉπΉ
"Kak Ano tunggu..." Segera saja Darrel mencegah kepergian Ella dengan memegang erat pergelangan tangannya." Kak lepas." Gerutu Ella seraya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Aku akan bersama Kak Ano selama istirahat. Sebaiknya kamu perhatikan Kak Ana saja." Kalau aku terus menempel dengan Kak Darrel. Bagaimana bisa aku mengenal sosok lain.
Sementara Darrel tentu tidak menerima permintaan Ella. Semua yang di lakukan hanya sandiwara namun sepertinya Ella menganggap jika Darrel benar-benar akan menikah dengan Ana.
"Kita makan bertiga." Agar kau bertambah cemburu dan semua sandiwara ini berakhir.
"Jaga perasaan calon Istri mu Kak." Aku tidak mau makan bertiga." Dan lagi, Kak Ano juga..."
"Tidak Ella. Jangan berulah."
"Siapa yang berulah?" Jawab Ella menyangkal.
"Terlalu lama. Ayo kita temui Mama dan bilang padanya kalau kamu mencintai ku."
Huuuuuuuuu... Sontak kelas terdengar riuh mengingat gosip perjodohan antara Darrel dan Ana tersebar di seluruh kampus. Para mahasiswa juga mahasiswi malah memberikan penilaian buruk akan sikap Darrel. Mereka menyebut itu terlalu egois dan mau menang sendiri tanpa memikirkan perasaan Ana.
"Aku berjanji akan menjaganya..."
"Tutup mulutmu!!!" Jawab Darrel mengumpat sambil menunjuk kasar ke arah Ano. Tangannya tidak juga terlepas dari pergelangan tangan Ella.
"Kak jangan mempermalukan ku." Sahut Jessy menegur. Dia takut Darrel dapat masalah kalau sampai melanggar peraturan yang Nay terapkan.
"Iya. Aku sudah menerima hubungan kalian." Jawaban dari Ella semakin membuat otak Darrel terasa mendidih." Lepas. Ini sakit." Dengan kasar Ella berusaha menarik tangannya.
"Kamu lupa aku pernah bilang apa?" Tanya Darrel dengan suara di tekan.
"Bagaimana aku ingat kalau kamu saja tidak menepati janji."
"Janji?" Ella melirik malas lalu berjalan pergi membelah kerumunan. Kekesalan kembali berkecamuk ketika kekecewaan akan keputusan Darrel melintas.
Dia berniat menyalahkan ku padahal dia yang ingkar janji. Katanya tidak akan menikah dengan gadis lain tapi...
Dugh!!! Kepala Ella membentur seseorang yang tidak lain adalah Liam. Agatha memasang wajah geram. Menatap kesal ke arah Ella yang di anggap berusaha menganggu hubungannya.
"Maaf. Tidak sengaja." Sambil mengusap-usap keningnya.
"Oh kau ingin mencari perhatian lain setelah di campakkan Darrel." Ella menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak Kak. Aku benar-benar tidak sengaja." Jawabnya sambil melihat ke arah Liam yang tengah menatapnya hangat. Kedewasaan sosok Liam seakan menyilaukan. Ella menatap sosok itu tanpa berkedip sampai-sampai dia tidak sadar kalau sikapnya akan memicu terjadinya pertikaian.
Dalam sekejap, suasana menjadi riuh. Tanpa aba-aba dan peringatan Darrel menghantam wajah Liam sampai tersungkur ke tanah. Kejadian seperti sekarang sudah tidak terlihat selama satu Minggu. Itu karena para mahasiswa memilih menghindar daripada nantinya Darrel akan membuatnya babak belur.
Ano dan kawanannya bahkan tidak mampu melerai. Keduanya saling menghantam seakan mempunyai dendam pribadi. Bukan hanya Liam yang babak belur, sebab Darrel pun mengalami hal yang sama.
"Sebaiknya kamu lerai mereka." Ujar Jessy berbisik tepat di telinga Ella yang tengah tersenyum. Menatap lurus ke arah perkelahian.
__ADS_1
"Aku malas Kak. Biarkan saja." Mata Jessy melebar. Jawaban asal-asalan itu membuktikan jika ada yang salah dalam pemikiran Ella.
πΉπΉπΉ