
Tatapan Agatha penuh selidik. Maniknya melihat geram jemari Darrel yang terlihat cenderung menggenggam sementara jemari Ella hanya menerima. Itu tandanya Darrel yang menginginkan bukan Ella yang meminta. Begitulah tebakannya.
"Kenapa kamu diam saja Rel. Katakan padaku apa ini?" Ketika Agatha akan melepaskan tautan tangan, dengan cepat Darrel menghalaunya.
"Apalagi?" Ella malah melepaskan jemarinya tapi Darrel seakan tidak mengizinkan.
"Katamu tidak boleh berpacaran. Terus ini?" Menunjuk ke arah tangan.
"Apa ini merugikan mu? Tidak kan? Kenapa kau malah mengatur?"
"Ya. Aku cemburu melihat mu."
"Kau sadar sudah menjadi tontonan." Agatha tidak perduli pada banyaknya pasang mata yang melihat.
"Sejak awal aku tidak perduli itu Rel. Aku bahkan menentang keinginan Papa hanya untuk bersama mu." Darrel menghela nafas panjang. Sungguh dia tidak menyangka jika Agatha sedikit tidak waras.
"Aku memang tidak pantas untuk mu."
"Kamu bicara apa? Papa sudah setuju. Kamu bisa berkerja di perusahaan milik Papa." Banyak dari mahasiswa menyayangkan sikap Agatha yang terlihat sangat murah.
"Kita sudah putus. Ingat itu."
"Aku tidak mau."
"Terserah. Aku sudah punya calon Istri." Ella menoleh ketika Darrel mengangkat tangan yang saling terpaut. Mimik wajah Ella berubah panik. Dia tidak ingin menikah muda meskipun bersama Darrel sekalipun.
"Ti tidak Kak. Ini salah faham. Saya bukan calon Istrinya." Sahut Ella terbata.
"Sudahlah, kita akui saja." Huuuuuuuuu Terdengar kelas berubah riuh. Seisi kampus sudah mengenal bagaimana playboy nya seorang Darrel. Bergonta-ganti pasangan selayaknya cemilan setiap hari.
"Lepas Kak. Kalau aku tahu begini, aku tidak..." Kalimat Ella tertahan ketika Dosen terlihat masuk. Secara otomatis Agatha kembali ke tempat duduknya begitupun Darrel yang mengiring Ella ke deretan bangku paling belakang.
Dengan kasar Ella menarik tangannya, Darrel tersenyum simpul lalu duduk. Dia melirik ke arah Ella yang kini wajahnya berubah kesal.
"Ini jalan satu-satunya daripada kamu menikah dengan lelaki tua itu."
"Aku tidak mau!" Jawab Ella ketus." Ternyata kamu sama halnya dengan dia." Imbuhnya kesal. Dia sungguh ingin merasakan kebebasan dan menimba ilmu setinggi mungkin.
"Why? Aku masih pantas dengan mu walaupun umurku.."
"Ku bilang tidak!" Darrel mengangguk seraya tersenyum begitupun Ano yang duduk di sebelahnya. Teguran Dosen membuat ketiganya fokus pada mata pelajaran dan berhenti melontarkan kata-kata.
Darrel hanya asal bicara namun sensasi kesenangan yang di dapat sanggup membuatnya sangat bahagia sepanjang pelajaran berlangsung. Sementara Ella sendiri menyebut Darrel sebagai orang yang ingin memanfaatkan keadaan dengan berpura-pura menolong tapi berujung penjeratan.
__ADS_1
Sudah ku katakan mereka tidak ada bedanya. Kak Darrel sama halnya dengan lelaki itu. Kenapa semua orang kaya selalu menyuguhkan pertolongan dan berakhir dengan penjeratan.
Tentu saja Ella menggerutu di dalam hati sampai-sampai dia tidak mendengar panggilan dari Dosen. Darrel menyentuh punggung Ella yang sontak berjingkat.
"Kenapa sih Kak?" Siapa sangka jika akibat ucapan candaan tadi membuat perkataan Ella berubah kasar.
"Dosen memanggil mu." Menunjuk ke depan dengan isyarat mata. Ella menghela nafas panjang lalu beralih menatap Dosen yang sedang menatapnya.
"Ya Pak." Jawab Ella lemah.
"Coba presentasi kan penjelasan saya tadi." Darrel terkekeh kecil melihat wajah bingung Ella begitupun seisi kelas yang langsung berubah riuh.
"Mana bisa Pak. Saya baru dua hari masuk kuliah."
"Itu berarti kamu tidak menyimak penjelasan saya." Ella terdiam karena membenarkannya.
"Maaf saya..."
"Saya tidak mau tahu. Salin ringkasan materi hari ini dan persentasikan besok." Ella benar-benar tidak tahu tentang apa yang di jelaskan Dosen.
"Katanya ingin kuliah tapi fikiran mu bercabang." Ledek Darrel pelan.
"Ini gara-gara kamu Kak."
"Kenapa menyalahkan ku?" Tidak adil jika kamu saja yang di hukum.
"Darrel! Jangan mentang-mentang kamu senior jadi bisa berbuat semau mu. Maju dan presentasi kan materi tadi!" Teriak Dosen geram.
"Hah rasakan." Ledek Ella membalas sambil tersenyum.
Senang rasanya melihatnya bahagia.
Tak! Darrel berjingkat ketika telinganya di sentil. Meskipun dia cukup membantu dalam hal keamanan, seluruh Dosen memperlakukannya adil ketika pelajaran berlangsung.
"Kamu tidak dengar!" Huuuuuuuuu...
"Saya juga tidak menyimak Pak." Jawab Darrel yang sebenarnya tahu soal materi pembahasan. Otaknya begitu cerdas sampai-sampai dia jarang belajar semenjak kecil. Materi yang di terangkan langsung merasuk di otak bahkan menempel meski tanpa di ulang.
"Astaga! Ternyata kalian sama saja! Pokoknya besok kalian berdua kerjakan tugas dari saya dan presentasi kan!" Dosen berbalik badan, untuk pertama kalinya Ella tertawa kecil. Dia menikmati momen tersebut.
Sejak dulu Ella ingin merasakannya. Bergaul dengan banyak teman. Bercanda, berinteraksi dan saling meledek satu sama lain.
Darrel meletakan secarik kertas ketika Dosen beranjak pergi. Tertulis sebuah kata maaf dan permintaan tolong agar Ella mau berpura-pura menjadi calon Istri nya untuk menghindari Agatha yang sudah berjalan menghampiri mereka. Ella menoleh ketika Darrel mengambil kertas lalu menyembunyikannya di selipan buku.
__ADS_1
Oh berarti hanya berpura-pura. Syukurlah..
Rupanya Darrel ingin memahami posisi Ella yang mungkin terlalu belia untuk mengenal pernikahan. Padahal jika tadi Ella setuju, mungkin ucapan asal-asalan tersebut bisa terwujud dalam waktu singkat.
"Sebenarnya mana yang benar?" Tanya Agatha lagi. Sebagian besar mahasiswa keluar karena merasa muak melihat sifat murahan Agatha sementara lainnya memilih menonton.
"Apa?" Jawab Darrel singkat.
"Hubungan kalian."
"Sudah ku katakan tadi. Dia calon Istri ku." Menunjuk ke arah Ella." Setelah aku lulus, kita menikah." Imbuhnya tersenyum.
"Dia tidak mengakui..."
"Ya Kak. Jangan menganggu nya lagi. Kak Darrel sudah memilih ku." Sahut Ella polos. Ano tertawa kecil. Cukup terhibur melihat adegan di hadapannya meski ini kali pertama Darrel membahas pernikahan.
"Kau memang gadis sialan!!! Kau merusak hubungan ku dengan Darrel!!" Tunjuk Agatha kasar. Telunjuk nya hampir menyentuh kening Ella kalau saja Darrel tidak menghalau.
"Kau berurusan dengan ku kalau berani menyentuhnya." Darrel memaksa Ella berdiri.
"Apa kamu berusaha membuat ku cemburu." Tubuh Agatha memutar, mengikuti Darrel yang sudah beranjak pergi.
"Berhentilah Aga. Mereka memang sudah di jodohkan." Sahut Ano menimpali. Titah tersebut sudah di dengar dari Nay sejak beberapa hari lalu. Itu kenapa dia berusaha mengubur perasaan sukanya pada Ella.
"Kau tahu apa! Gadis itu tidak pantas untuk Darrel. Hanya aku yang bisa memberikan kehidupan layak untuknya." Ano tersenyum simpul lalu membereskan buku serta laptopnya.
"Tipe Darrel bukan gadis manja dan over perhatian seperti mu."
"Jangan bicara sembarangan kamu Ano!"
"Mulutmu yang seharusnya di atur sedikit. Jangan sembarangan mengumpat, berbicara juga berkomentar. Terkadang cover yang terlihat tidak mencerminkan kehidupan seseorang. Jangan sampai masalah ini jadi besar dan berdampak pada kehidupan keluarga mu. Bye cantik." Setelah menepuk pundak Agatha lembut, Ano berjalan menyusul Darrel sesuai dengan perintah yang di berikan Nay yang kini tengah bersembunyi di suatu tempat.
Sengaja mereka melakukannya agar Darrel semakin di mabuk cinta pada sosok Ella. Kalau Nay melontarkan pertentangan sekarang, dia merasa perasaan Darrel belum sekuat itu.
"Aku tidak mau salah perhitungan Mas. Kalau aku menentang sekarang, Darrel akan memilih ku dan tidak memperjuangkan Ella." Kai menghela nafas panjang mendengar permintaan dari Nay. Apalagi yang bisa di lakukan kecuali menerima juga menuruti.
"Ikat saja dengan pernikahan."
"Tidak. Ella akan semakin sulit terlepas dari trauma kalau Darrel melakukan itu. Mereka harus tumbuh rasa terlebih dahulu. Lebih baik Ella yang lebih dulu menyukai Darrel. Itu memudahkan sebab aku bisa memaksa Darrel."
Sungguh pemikiran yang rumit menurut Kai. Otaknya tidak mampu menjangkau kenapa bisa perhitungan itu terlintas di fikiran Nay.
"Segitu yakin kamu dengan gadis itu."
__ADS_1
"Naluri. Kamu tidak akan paham karena kamu bukan seorang Ibu. Ella yang akan membuat Darrel kita menjadi dewasa." Jawab Nay sedikitpun tidak mau mengalah.
๐น๐น๐น