
Parman yang baru saja datang langsung di cerca berbagai pertanyaan. Selama ini sang Istri selalu saja diam sebab menurutnya, Parman seorang Suami pekerja keras dan jauh dari kata perselingkuhan.
Mata Parman melebar ketika beberapa fotonya bersama Nay di perlihatkan. Dia tidak mengerti sang Istri mendapatkan foto tersebut dari mana.
"Siapa wanita ini Mas?" Tanyanya seraya terisak. Parman terdiam, bukan karena menyesal, melainkan tengah mengingat bagaimana wanginya aroma tubuh Nay. Jujur saja jika baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang kecantikannya sangatlah sempurna." Mas!" Teriak sang Istri geram.
"Apa?!" Sesuai dugaan. Parman malah tersenyum dan tidak mempermasalahkan keburukannya terbongkar. Nay sudah memperhitungkan itu. Dia sengaja membuat rencana agar nantinya Istri Parman tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Siapa wanita ini." Kembali menunjuk layar ponsel.
Pranggggkkkkkk...... Ponsel di lempar kasar sampai membentur lantai dan menjadi serpihan kecil. Hati Istri Parman berkedut nyeri. Ini kali pertama dia melihat kemarahan Suaminya.
"Untuk apa kau ingin tahu urusan lelaki."
"Aku Istri mu." Parman tersenyum simpul.
"Sudah lama aku jenuh padamu. Cobalah berkaca?!! Kau Istri yang tidak berguna! Jangankan memberikan anak! Menyenangkan hatiku pun kau tidak mampu."
Kemarahan Parman terdengar meluap-luap. Selama ini dia berusaha menahan diri dan sengaja bersembunyi di balik kecurangan. Bukan tanpa alasan Parman membuka topeng. Sebab rupanya Nay berhasil melontarkan sebuah janji yang tentu membuat Parman bertekuk lutut.
"Kamu bicara apa Mas? Bukankah kamu tidak mempermasalahkan itu?!"
"Tadinya.. Sebelum aku bertemu dengan Naya."
Tangis Istri Parman pecah. Dia terduduk lemah di sofa sambil sesenggukan apalagi setelah mendengar kenyataan kalau Parman sering bermain di belakang. Cara bercinta dan beradegan ranjang pun dengan gamblang di katakan. Parman merasa tidak puas atas pelayanan sang Istri.
"Jadi selama ini..."
"Ya. Akan ku urus semuanya besok. Tenang saja, aku bukan lelaki yang tidak bertanggung jawab. Kau boleh memiliki rumah ini juga butiknya. Aku akan membeli rumah baru dan aku harap kau tidak menuntut pembagian harta apalagi sampai minta jatah penghasilan dari tempat pemandian itu!"
Setelah melontarkan itu Parman pergi. Sang Istri berusaha mencegah namun tentu tidak bisa. Nay sudah berhasil mengikat hatinya dengan rayuan palsu juga janji. Kini yang ada di otak Parman hanyalah kehidupan baru bersama Nay.
Terlalu bodoh terdengar. Seharusnya Parman berkaca terlebih dahulu agar dia menyadari ketidakseimbangan fisik. Bagaimana mungkin Nay mau menghabiskan waktu bersama seorang lelaki tua berperut buncit. Tapi naffsu sudah menguasai hati. Parman tak dapat berfikir jernih dan malah berandai-andai akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Sementara Nay sendiri tengah tersenyum menikmati kiriman video soal perdebatan Parman dan Istrinya. Dia meletakkan ponselnya lalu menghapus make up tebalnya sambil melirik ke arah Kai yang tengah menyetir.
"Tolong lancarkan perceraian mereka sayang. Kamu tidak ingin aku berlama-lama memerankan tokoh ini kan?" Kai tidak berekspresi namun tangannya terlihat mengetik sebuah pesan yang di tujukan untuk Alan." Lalu bagaimana kabar Darrel dan Ella?" Imbuhnya bertanya.
__ADS_1
"Hari ini mereka membolos. Ada insiden yang terjadi, Darrel berbuat asusila di dalam klinik." Nay menoleh cepat. Dia tidak percaya mendengar itu.
"Apa sayang? Berbuat asusila bagaimana?!" Tanyanya mengulang.
"Nikahkan saja mereka. Walaupun Ella tidak mau, itu untuk kebaikan Darrel. Dia sudah dewasa dan pasti tidak dapat menahan hasrat." Nay tertawa kecil. Dia mengira kalau Kai sedang berbohong.
"Anakku tidak akan melanggar..." Dengan gerakan cepat Kai memutar video kiriman salah satu anak buah Alan. Nay melebarkan matanya, bibirnya bungkam, menatap fokus ke layar ponsel. Sungguh dia tidak menyangka Darrel melanggar pantangan yang di larang.
"Lelaki macam apa dia!!!" Umpat Nay kasar. Dia menyingkirkan ponsel milik Kai.
"Beruntung Alan berhasil menghubungi kepala Dosen sehingga kasus tidak melebar." Terdengar hembusan nafas kasar. Nay sangat tidak menyukai ketika Darrel mengedepankan hasrat daripada akal sehat mengingat keduanya belum meresmikan hubungannya.
"Seharusnya dia tidak melakukan itu! Itu pelecehan!!!" Kai melirik malas. Nay kembali memperlihatkan sikap yang menurutnya tidak seharusnya di tampakkan.
Bukankah dia yang membuat Darrel berada di posisi itu? Lantas kenapa dia marah? Batin Kai seraya tersenyum simpul.
Setibanya di rumah, bergegas Nay turun dari mobil lalu menerobos masuk. Dia menaiki anak tangga menuju kamar Darrel yang ternyata kosong. Langsung saja Nay beralih mengendor pintu kamar Ella yang berada tepat di sampingnya.
"Ma..." Plaaaaaakkkkkk!!!! Kepala Darrel bergerak menyamping. Dia menyangka jika kemarahan Nay di akibatkan kecurangan yang di lakukan.
Apa Bibik Jessy mengadu? Ah... Hukuman apalagi yang akan Mama berikan?
"Kau lelaki macam apa!!! Sudah Mama katakan!!! Kau boleh bejat! Tapi jangan sampai merusak kehormatan seorang gadis!!!" Darrel mengangkat kepalanya. Dia tersenyum sebab tebakannya salah.
Ternyata Mama... Plaaaaaakkkkkk!!!
"Dasar!!! Kenapa kau malah tersenyum setelah melakukan itu Darrel!!!"
"Agar Ella hamil dan Mama merestui hubungan..."
"Tutup mulutmu!!!" Darrel malah tertawa kecil walaupun pipinya terasa panas.
Nay menyerbu masuk ketika melihat Ella keluar dari kamar mandi. Dia memperingatkan Ella untuk waspada pada rayuan lelaki tidak terkecuali Darrel.
Sementara Kai enggan berkomentar. Dia sengaja tidak membahas kecurangan Darrel. Selayaknya Alan, Kai ingin masalah ini cepat berakhir.
"Kalau Darrel melakukan itu lagi, kau boleh memukulnya..."
__ADS_1
"Tapi aku menikmatinya Ma." Jawab Ella cepat nan polos. Kemarahan Nay berserta ocehannya seketika terhenti. Suasana hening sesaat.
"Tidak boleh Ella. Kamu dan Darrel hanya saudara angkat..."
"Aku..." Ella sempat melirik sebentar ke arah Darrel yang langsung mengangguk." Itu Ma... Aku tidak mau Kak Darrel di jodohkan dengan gadis lain. Walaupun aku belum ingin menikah tapi suatu hari nanti aku mau Kak Darrel..." Ella menghela nafas panjang nan berat. Ada ketakutan terpatri tapi dia harus melanjutkan sesuai keinginan Darrel.
"Mau apa katakan?"
"Menjadi Istri Kak Darrel." Nay tersenyum dalam hati namun mimik wajahnya terlihat datar. Dia ingin memantapkan hati agar lebih mempercayai perkataan Ella.
"Kamu tahu Darrel sudah di jodohkan?"
"Aku mohon batalkan saja Ma. Aku akan berusaha menjadi lebih modern dan tidak akan membuatnya malu." Darrel menghela nafas. Dia kesal mengetahui kenyataan kalau Ella masih menilai dirinya tidak sempurna.
"Siapa yang mengajarkan mu?"
"Tidak ada Ma." Jawabnya pelan.
"Terus kenapa baru berkata ini?"
"Aku sadar diri akan posisi. Em Kak Darrel bukan orang biasa sementara aku..."
"Kamu mencintai anakku?" Tanya Nay tegas.
"Jujur saja Ma. Aku tidak tahu tapi aku tidak rela ketika melihat Kak Darrel di jodohkan. Ada rasa sakit di sini." Menunjuk ke dada." Mungkin karena Kak Darrel orang pertama yang sudah menolong ku juga memberikan kenyamanan." Imbuhnya pelan hampir tidak terdengar.
"Kamu siap menikah?"
"Bagaimana dengan pertunangan?"
"Tidak Ella. Harus menikah. Sekarang pilih, menikah atau Darrel ku jodohkan dengan gadis lain." Darrel berdoa dalam hati begitupun Kai. Keduanya sama-sama ingin masalah cepat terselesaikan dan berharap Ella menjawab iya.
"Apa setelah menikah boleh berkuliah?"
"Tentu saja." Ella kembali terdiam sesaat sebelum akhirnya melontarkan jawaban yang membuat semua orang bisa bernafas lega. Walau terdengar polos namun nyatanya Nay langsung memberikan restu.
Nay memeluk erat tubuh Ella sambil mengecup puncak kepalanya. Dia juga merasa senang mendengar kejujuran Ella akan perasaannya.
__ADS_1
Sekarang aku punya dua anak. Setelah ini mereka akan memberikanku cucu. Sayang sekali. Pesta pernikahan harus di lakukan dengan tertutup. Padahal aku ingin membagi kebahagiaan dengan banyak orang tapi ini sudah takdir. Yang terpenting orang di sekitar ku bahagia. Tidak perlu publik tahu akan hal ini. Cukup kita saja...
๐น๐น๐น