
Hanya ada sesal ketika Alan tidak dapat menghubungi kontak Ano. Ponsel tak dapat di lacak sebab Alan sudah menggantinya dengan ponsel biasa sementara ponsel yang berisi data penting sudah di pegang.
Kini Alan hanya bisa terdiam ketika keluarga Ano malah balik bertanya tentang keadaan Ano. Dia sendiri tidak tahu kalau rupanya Ano tidak pulang ke rumah.
Ingin rasanya Alan mencari informasi soal Ano, namun acara pernikahan Darrel jauh lebih penting dari semua itu sehingga terpaksa rencana di tunda.
Meski undangan bersifat tertutup, namun pernikahan di gelar sedemikian mewah. Jumlah tamu hanya mencapai ratusan. Kai mengundang relasi terdekat yang bisa di percaya untuk menjaga keselamatan Darrel juga Ella. Identitas masih di sembunyikan sebelum Darrel benar-benar siap untuk terus berada di rumah selayaknya dirinya.
Hampir seluruh sudut rumah di hias sedemikian rupa. Pekarangan berukuran lebar nan besar itu kini di sulap bak negeri dongeng.
Di kamar Ella tengah merias wajah. Sesuai keinginan gaun yang di kenakan tidak akan mengikis ruang gerak mengingat Ella enggan di suruh diam. Walaupun wajahnya di poles, kedua tangannya tidak terlepas dari ponsel.
"Nona sangat cantik." Puji si perias pengantin.
"Hm kalau tidak cantik mana mungkin Kak Darrel mau dengan ku." Jawab Ella asal.
"Nona bisa saja. Em silahkan berdiri Nona. Kami akan memasangkan gaun."
Ella terpaksa meletakkan ponselnya. Dia berjalan mendekat ke arah lemari yang terdapat sebuah cermin besar. Lemari itu terletak tepat di samping jendela teras sehingga tampak jelas hiruk pikuk kegiatan di bawah.
Entah kenapa bibir Ella tersungging karena rupanya dia merasa sangat bahagia. Akhirnya Darrel akan jadi miliknya. Namun tiba-tiba matanya memicing, saat Ella melihat gelagat aneh seorang berseragam catering.
Di sela kerumunan, si lelaki membelah dan dengan cepat sudah menghilang. Ella sempat melangkah maju seraya celingak-celinguk. Dia merasa penasaran juga merasakan siasat buruk.
"Apa masih lama?" Tanyanya pada perias pengantin.
"Sebentar lagi Nona. Tinggal memasang..."
"Masih ada waktu satu jam. Aku ada urusan sebentar." Tanpa menunggu persetujuan, Ella berjalan keluar kamar. Tidak perduli jika beberapa pelayan dan ajudan meneriakinya. Sementara Nay, Kai juga Darrel berada di kamar masing-masing dan sedang di rias juga. Itu kenapa para ajudan hanya mampu mengabarkan pada Alan.
Untuk mengindari kejaran, Ella masuk ke salah satu kamar pembantu. Di dalamnya ada seorang pegawai catering yang kebetulan sedang menelfon.
"No..."
"Boleh minta tolong. Em lepaskan baju ini." Si pegawai melongok mendengar permintaan Ella.
"Tapi..."
"Hanya sebentar saja. Cepat." Pinta Ella memaksa.
"Baik." Si pegawai menurunkan resleting gaun sementara Ella membuka lemari dan berharap menemukan baju. Beruntung ada sebuah kaos dan celana milik si tukang kebun. Baju tersebut sengaja di tinggal sebab Nay hanya memakai jasanya satu Minggu sekali.
"Tolong tutup mulut. Kalau tidak ada kendala aku akan kembali. Aku pinjam ini dulu. Terimakasih." Ella mengambil penutup kepala juga masker yang tergeletak di atas meja. Tanpa berkomentar si pegawai catering mengangguk patuh. Dia tidak tahu permasalahannya sehingga memilih diam dan menuruti.
Ella bisa leluasa berkeliling di tengah kebingungan para ajudan dan anak buah Alan. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat kepergian Ella padahal sosok yang di cari sudah berbaur dengan sekeliling.
Aku yakin ada yang mencurigakan. Siapa lelaki itu? Sepertinya aku mengenal gelagatnya..
Ella berjalan perlahan sambil melihat-lihat keadaan. Kecurigaannya hanya 70 persen sehingga ada kemungkinan jika tebakannya salah. Ella hanya melakukan sesuatu dengan perintah Nay. Harus waspada pada hal terkecil. Dia tidak berniat membuat para penghuni kebingungan meski kenyataannya, kepergian Ella di anggap sebagai rencana kabur.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?!!!" Tanya Kai lantang. Menatap para perias yang tengah tertunduk.
"Kami sudah berusaha menghentikan nya. Dia bilang hanya sebentar." Nay terdiam, dia di buat bingung dengan perbuatan Ella sebab selama ini sosok tersebut tidak menunjukkan penolakan.
Ella bahkan sudah mulai beradaptasi, memanggilnya Mama juga meminta bantuan selayaknya seorang anak pada Ibunya.
Tidak mungkin Ella mengecewakan ku.. Batin Nay tidak mampu berkomentar. Dia berjalan keluar setelah Alan melapor dan memastikan jika tidak ada seorangpun yang keluar area rumah.
Hampir saja Ella memutuskan kembali. Sosok yang di cari tidak di temukan. Dia menganggap mungkin matanya salah namun meski niat tersebut terselip, maniknya masih menatap sekitar.
Saat Ella hampir melangkah pergi. Dia melihat si lelaki berjalan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ella bersikap biasa saja agar tidak memancing kecurigaan. Ketika si lelaki masuk ke sebuah kamar, Ella mendekat dan menelusup masuk.
Alangkah terkejutnya Ella ketika sebuah tangan mengancamnya dengan senjata api. Mata Ella terbelalak ketika ruangan yang harusnya di pergunakan untuk menyiapkan makanan di sulap menjadi ruang penyekapan.
Beberapa orang di ikat, mereka adalah pegawai catering yang sesungguhnya sementara orang yang berjajar di hadapan Ella merupakan suruhan Liam.
"Kamu memang tidak harus ikut menikmati acara keracunan masal nanti." Manik Ella membulat, dia mengenal suara tersebut.
Liam..
"Oh astaga. Kamu berubah menjadi puteri sesuai dengan nama mu." Salah satu pegawai catering membuka masker. Ella semakin di buat terkejut saat melihat keberadaan Lena.
Dia? Bagaimana bisa?
"Kamu pasti terkejut Ella. Aku ada di dalam kehidupan mu lagi. Kau tahu, Liam ini Adik kandung ku. Kami berencana menyingkirkan keluarga barumu ini agar kekuasaannya bisa kami kuasai. Seharusnya kamu ikut dalam daftar kematian tapi Adikku menginginkan mu."
Sungguh niat yang tidak berarah. Ella bahkan tidak perduli pada posisi sulitnya sekarang. Yang ada di otak hanya pembalasan dendam atas keluarga kecil nan bahagia yang di renggut paksa oleh Lena.
"Oh jadi dia Adik mu." Tanya Ella seraya tersenyum simpul. Ada dua target. Berarti selama ini Liam wajib ku bunuh.
"Ya. Sebentar lagi aku akan jadi Kakak Ipar mu, bukan Ibu tirimu lagi."
Dengan gerakan cepat Ella mengambil senjata api yang terselip di paha lalu membidik tubuh Lena yang langsung terduduk. Liam berusaha menghentikan dengan sebuah ancaman dan gertakan, namun Ella tak mendengar dan terus menembaki tubuh Lena sampai tengkorak kepalanya hancur.
Maniknya fokus pada obyek sampai Ella yakin Lena tewas. Kepalanya baru di tegakkan dan kini terfokus pada Liam. Tak perduli jika beberapa orang yang berjajar menodongkan senjata api padanya.
"Turunkan senjata mu." Pinta Liam sambil menodongkan pistol.
"Itu kenapa aku familiar melihat wajahmu juga sikap. Terlihat baik namun begitu busuk. Kau mirip Kakakmu yang sudah merenggut nyawa keluarga ku."
"Aku menginginkan mu Ella. Tolong turunkan senjata dan mari kita bernegosiasi. Aku tidak mau melukai mu." Ella tersenyum simpul. Baginya kematian sang Ayah adalah pukulan terbesar. Apalagi kematian tidak terjadi secara alami sehingga keburukan serta dendam menghantam otak dan mengikis kewarasan.
"Negosiasi?!! Keluarga ku sudah meninggal lalu kau membicarakan negosiasi!!!" Ella mengangkat senjata, dengan terpaksa Liam membidik tangan Ella sampai membuat kulit jemari tergores timah panas.
Ella hanya terpekik sebentar, menggerak-gerakkan jemarinya lalu kembali menatap Liam. Aneh bagi Liam, dia mengira Ella gadis lugu nan lemah tapi rupanya Ella tidak boleh di sepelekan.
"Kau sudah tidak punya senjata. Menyerah saja dan ikut dengan ku. Setelah pesta kematian selesai, kita kembali untuk merayakan kemenangan."
Ella kembali mengambil sebuah belati lalu melemparkannya ke arah Liam. Beruntung senjata dapat di hindari meski salah satu anak buah Liam harus menjadi sasaran.
__ADS_1
Liam mengakui kekuatan tangan Ella yang terlatih. Dari jarak sejauh itu, pisau mampu menusuk dada si salah satu anak buah yang berada tepat di belakang nya.
Keluarga Kai sangat pintar memilih menantu. Mereka tahu di balik keluguan Ella tersimpan sebuah skill membunuh. Kakakku bahkan mengeluh dan di buat kepayahan menghadapi gadis ini.
"Aku tidak main-main Ella. Daripada rencana ini berantakan, aku tidak segan-segan akan membunuh mu." Meski darah menetes pada bagian tangan. Ella masih sempat tersenyum bahkan tertawa kecil. Nyeri tak di rasakan sebab target kini beralih pada Liam. Ella wajib membunuhnya.
"Itu lebih baik!!! Kebahagiaan sederhana itu terenggut karena ulah Kakakmu." Ella kembali mengulang perkataan tersebut.
"Maaf Ella. Tak akan ku biarkan rencana yang sudah ku susun rapi menjadi berantakan."
Tepat di saat pelatuk akan di tarik. Liam di kejutkan dengan sebuah tembakan yang di arahkan pada anak buahnya. Para korban penyekapan yang merupakan pegawai catering berteriak histeris sambil meringkuk. Mereka tentu ketakutan melihat adegan di hadapannya.
Ella terbelalak saat Liam terduduk. Rupanya sebuah belati menancap di kepala nya. Nay berdiri di ambang pintu tepatnya di belakang para anak buah Alan yang tengah mengeksekusi.
"Seharusnya kamu tidak perlu ikut campur Nak. Rencana mereka sudah mampu terendus hidung tajam Alan." Ella hanya tersenyum sesaat lalu kembali menatap Liam yang terlihat masih hidup.
"Dasar anak kecil. Kenapa kau selalu membuat semua orang jantungan." Eluh Darrel yang sudah memakai jas rapi. Dia berniat membalut tangan Ella dengan kain yang di bawa tapi Ella menolak.
"Dia Adik wanita itu." Ucapnya merentangkan tangannya.
"Kamu minta apalagi?"
"Senjata, agar hatiku lega." Jawabnya tegas.
Darrel meletakkan sebuah senjata api ke telapak tangan Ella. Segera saja Ella membidik tengkorak kepala Liam sampai isi di dalamnya berhamburan keluar. Darrel tersenyum, merasa bangga meskipun dia khawatir akan luka pada tangan Ella. Namun karena perbuatan asal-asalan tersebut, membuat Kai dan Nay merasa jika Ella memang layak menjadi anggota keluarganya.
Singkat waktu. Tepat saat acara di mulai. Semua mayat sudah di bersihkan tanpa jejak. Para tamu berdatangan, menyaksikan upacara janji suci juga memberikan ucapan selamat.
Terlukis jelas kebahagiaan terpancar pada raut wajah kedua mempelai. Ella sempat menitikkan air mata karena teringat Almarhum kedua orang tuanya. Tapi setelah itu, Ella mulai terbawa suasana kebahagiaan ketika para tamu menjabat tangannya. Mengucapkan selamat dan untuk kehidupan kedepannya.
"Aku senang semua berakhir Kak." Gumam Ella seraya tersenyum.
"Belum sayang ini baru awal." Jawab Nay menyela. Dia berjalan ke arah Ella lalu berdiri tepat di hadapannya. Tangannya terangkat dan di letakkan pada puncak kepala sambil memanjatkan doa." Mama harap setelah ini kalian bisa saling menguatkan. Pernikahan bukan akhir dari segalanya tapi awal dari kehidupan. Perbedaan apapun yang ada pada diri masing-masing tidak boleh menjadi alasan sebagai pemecah. Jadikan perbedaan untuk saling menguatkan agar kalian bisa menjaga satu sama lain. Ingat Ella, akan sangat banyak keburukan setelah ini. Kamu paham dengan keluarga kami kan?" Ella mengangguk patuh. Kepolosan yang sempat di perlihatkan ternyata hanya cover sebab rupanya Ella ingin menikmati hidup.
Ella merasa aman ketika Darrel berada di sampingnya. Itu kenapa dia kerapkali menunjukkan sikap tidak perduli dan acuh. Padahal sebenarnya, Ella kerapkali merekam aktivitas secara diam-diam dengan kedua matanya.
Tidak perduli bagaimana kehidupan ku setelah ini. Yang pasti aku sudah bersama Kak Darrel sekarang. Dia pasti akan melindungi ku dari apapun.
Ella tersenyum ketika jemari tangan berbalut perban di sentuh lembut oleh ujung jari Darrel. Rasa nyeri sama sekali tak terasa. Entah terlalu terbiasa atau memang luka itu tidak seberapa sakit? Hanya Ella yang tahu.
Tamat
Terimakasih atas dukungannya...
Cerita terpaksa berhenti sampai di sini walaupun sangat banyak hal menarik yang akan terjadi pada kehidupan Darrel dan Ella...
Sekali lagi terimakasih sudah mampir ke cerita recehku...
Bye.. Bye👋
__ADS_1