Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 57


__ADS_3

Sambil bersiul dan memasang wajah sumringah. Parman melajukan mobil mewahnya menuju lokasi yang di sebut sebagai tempat tinggal Nay.


Dengan berdandan rapi bak Tuan muda, Parman menikmati setiap perjalanannya. Singkat waktu setibanya di lokasi Parman celingak-celinguk mengedarkan pandangannya ke sekitar yang sepi. Perumahan elit itu tampak lengang dan seperti tidak berpenghuni.


Namun pandangannya teralihkan saat Nay keluar dari rumah dan berjalan menghampirinya. Parman tak lagi memikirkan kejanggalan yang ada di hadapannya. Dia mengikuti langkah Nay untuk masuk ke dalam.


Blaaaammmmmmmmm!!! Parman terpekik saat pintu rumah tertutup keras. Tapi lagi lagi dia berusaha tersenyum ketika Nay berdiri di sampingnya.


"Ke sini Mas. Orang tuaku sudah menunggu di dalam." Ujar Nay seraya berjalan ke arah ruang tengah. Parman mengekor, masih tidak menyadari bahwa nyawanya terancam.


Kening Parman berkerut saat dirinya melihat ruang tengah kosong. Maniknya menatap sekitar, rumah tersebut terlihat hening.


"Di mana mereka." Tanyanya pelan.


"Oh aku lupa. Keluarga ku sudah meninggal beberapa tahun lalu." Parman tersenyum aneh, menatap fokus ke Nay yang mulai menunjukkan wajah aslinya.


Parman ingat jika Nay adalah Istri dari orang yang berniat di mintai bantuan. Nama Kai sudah terkenal di kalangan pengusaha begitupun Nay yang di anggap sebagai Istri paling sempurna.


Sontak manik Parman melebar. Wajahnya tentu saja menegang seakan dia paham akan keadaan yang sebenarnya.


"Bukankah anda..."


"Kau mengenal ku." Tanya Nay sambil membuang kapas sembarangan. Dia menyerahkan sebuah amplop coklat pada Parman.


"Apa ini?"


"Buka saja Pak. Aku ingin tahu di mana keberadaan mereka?" Dengan gemetaran Parman membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa foto mantan karyawan yang di kabarkan menghilang, termasuk foto Sigit.


"Saya tidak tahu."


"Jangan berbohong Pak."


"Saya benar-benar tidak tahu."


"Rileks saja dan akui semuanya. Bayar ganti rugi pada keluarganya lalu ku berikan pilihan hukuman." Parman menelan salivanya kasar. Dia kembali menatap sekitar, terlihat aman sehingga Parman berniat kabur dari sana.


Seketika perih menjalar, ketika sebuah belati tajam menusuk kaki kanannya. Nay tertawa renyah, menghampiri Parman yang terduduk sambil mendesis kesakitan.


Darah pun mengucur, tanpa belas kasihan Nay mengambil lagi pisau kebanggaannya meski Parman berteriak nyaring.


"Katakan!!!" Teriak Nay menjambak rambut Parman lalu mendongakkan kepalanya.


"Ampun... Saya..."


"Bukan jawaban itu!!" Tentu saja nyali Parman menciut. Wajah garang Nay begitu mengerikan, mirip penyihir jahat. Dia yang sejatinya hanya seorang bos yang pintar menyuruh tidak punya skill membela diri.


"Terpaksa aku membunuh mereka. Aku menyuruh orang menenggelamkan jasad mereka ke sungai." Jawab Parman terbata seraya terisak.


"Sayang sekali. Nyawamu seharusnya menjadi milikku tapi kurasa kau lebih baik mempertanggung jawabkan perbuatan mu. Banyak keluarga yang menderita akibat ulahmu."


Setelah kalimat itu terlontar, pintu samping terbuka. Seorang kepala polisi keluar juga beberapa Istri para korban. Jumlahnya sudah mencapai puluhan sebab sungai yang di maksud Parman rupanya terletak tidak jauh dari wahana pemandian.


Hal itu membuat pembunuhan berjalan mulus. Para korban di kalungkan pemberat agar tidak terapung dan menjadi santapan ikan bahkan mungkin buaya.


Meski mereka bergidik ngeri ketika Nay menancapkan pisau dari jarak jauh. Namun hati para korban merasa lega apalagi Nay menjanjikan sebuah kompensasi agar nantinya bisa di pergunakan untuk membuka usaha. Dana tersebut tentu akan di ambil dari penghasilan kolam renang tersebut.


"Ampun Pak Kai tolong." Pinta Parman sambil menahan nyeri pada kaki.


"Astaga Pak. Padahal setiap bulan anak buahku mengontrol tempat pemandian anda. Tapi kenapa pembunuhan besar-besaran itu tidak bisa terendus. Tenyata kasus orang hilang merupakan perbuatan anda." Ujar si kepala Polisi. Munafik rasanya, sebab sosok yang kerapkali berkerja sama dengan nya merupakan lelaki berhati dingin. Ratusan nyawa sudah Kai tumbangkan namun rupanya si Kepala polisi memilih bungkam.


Daripada memikirkan organisasi ilegal yang akan mengancam nyawanya. Si Kepala polisi lebih memilih memanfaaatkan Kai untuk memecahkan kasus yang berbelit.

__ADS_1


"Bawa pergi dia. Jangan lupa mencari alasan yang tepat untuk luka di kakinya. Tempat pemandian itu sudah menjadi milik Istriku agar nantinya penghasilannya bisa di pergunakan untuk membayar kompensasi para korban." Ujar Kai menjelaskan.


"Saya tidak peduli akan hal itu Tuan Kai. Em saya akan menutupi semuanya dengan rapi dan tidak melibatkan nama anda."


"Hm."


"Saya permisi."


Dua polisi lainnya menyeret paksa Parman sampai darah di kakinya mengotori lantai. Para korban mengucapkan terimakasih walaupun anggota keluarga terkasih di nyatakan meninggal. Tapi paling tidak mereka mendapatkan kejelasan juga dana untuk hidup kedepannya.


🌹🌹🌹


Dengan bodohnya Ano mengajak Liam saat dia mendapat tugas penting dari Alan. Ano menyadari akan daya tahan tubuhnya yang melemah akhir-akhir ini. Dia sering mengantuk juga merasa lemas. Hal tersebut membuatnya tidak dapat berfikir jernih dan masih mengira kalau Liam adalah seorang teman yang pasti akan membantunya.


Siang ini Ano di tugaskan mengintai jalan utama sementara Alan tengah masuk ke sebuah markas milik seorang pejabat yang merangkap sebagai gembong narkoooba. Target empuk menurutnya, sebab si pejabat mengaku bisa terlepas dari jeratan hukum walau tanpa bantuan Kai.


Tentu saja awalnya Kai tidak perduli asal si pejabat tidak menganggu nya. Tapi seiring berjalannya waktu, si pejabat berusaha menjatuhkan lawan bisnisnya yang merupakan rekan Kai. Bukan hanya satu laporan melainkan banyak. Akibat perbuatannya, ada beberapa rekan yang hampir tertangkap sehingga tentu saja hal itu menjadi pekerjaan untuk Kai.


Saat Alan sibuk mencari bukti, dengan santainya Ano malah bersandar di batang pohon tanpa perduli pada mobil mewah yang barusan melintas. Liam tersenyum simpul, menatap Ano dari samping.


"Ada mobil melintas." Ucapnya pelan.


"Mobil mewah bukan mobil itu." Jawab Ano santai. Kini obat yang sering diam-diam Liam berikan mempengaruhi otak juga syaraf mata.


"Oh. Aku akan memeriksanya."


"Hm aku pusing sekali." Eluh Ano memejamkan mata. Kebodohan membuatnya lengah sehingga tanpa sadar Liam mengambil senjata apinya.


Sementara Alan dan kawanan tentu merasa terkejut dengan kedatangan si pejabat juga beberapa anak buahnya. Dia memeriksa ponsel, tidak ada kabar apapun dari Ano padahal tugas yang di berikan sangat ringan.


Alan panik saat pintu gudang terbuka. Ketiga anak buahnya pun saling melihat satu sama lain seakan menunggu titah. Tapi Alan sendiri berada di lema. Tanpa bukti dia tidak di perbolehkan membunuh si pejabat yang di ketahui cukup berpengaruh.


Tapi tiba-tiba asap putih mengepul. Jarak pandang terhalang sehingga keberadaan Alan tersamarkan. Dari dalam asap putih tersebut sebuah tangan menarik lengan Alan. Tidak ada pilihan kecuali mengikuti.


"Kenapa kau ada di sini!!!" Tanya Alan setelah kelimanya sampai di tempat aman.


"Terpaksa aku membakar gudang itu."


"Bukan itu yang ku tanyakan. Kenapa kau ada di sini?" Liam tersenyum simpul.


"Aku di ajak Ano." Nafas Alan berhembus kasar. Keteledoran Ano kembali terdengar dan sedikit membuatnya kesal.


"Di mana dia sekarang." Caranya cerdik juga..


"Masih di atas pohon. Aku tadi sudah memperingatkan soal mobil itu tapi Ano malah tiduran jadi aku berinisiatif untuk pergi sendiri."


Tanpa berlama-lama Alan bergegas menuju di mana lokasi Ano. Semua anak buah di kumpulkan sebab rupanya kejadian tadi merupakan hal genting. Si pejabat punya anak buah bersenjata lengkap sehingga bukan tidak mungkin mereka bisa terbunuh.


"Kalian tertular kebodohannya!!!" Menunjuk ke Ano yang sesekali menguap. Rasa kantuk terasa menari-nari di pelupuk mata.


"Saya tadi sudah mengirimkan pesan singkat pada Ano tapi tidak ada respon. Saya fikir pesannya sudah di terima." Sambil menunjukkan pesan terkirim yang ternyata sudah di baca oleh Liam.


"Apa mau mu Ano!!!!" Teriak Alan geram.


"Maaf Kak akhir-akhir ini...." Plakkkk!!! Sontak tubuh lemah Ano terpelanting akibat daya tahannya yang melemah. Bobi dan yang lain tidak berani menolong, mereka hanya tertunduk sambil menatap Ano.


"Sudah ku bilang untuk tidak ikut kalau kau sedang sakit!!! Akibat keteledoran mu kita hampir terbunuh!!!" Ano tertunduk bahkan sesekali menguap. Kantuk tidak biasa itu membuatnya kehilangan fokus." Lalu kenapa kau hadirkan orang asing! Apa aku sudah mengsetujui nya!!!" Liam terkekeh dalam hati sebab rencananya berjalan lancar.


"Aku tidak sakit Kak. Aku hanya mengantuk."


"Untuk sementara kau tidak perlu ikut pemburuan." Ano mendongak. Permintaan tersebut sama halnya dengan menunda rasa percaya Alan yang seharusnya bisa di dapatkan.

__ADS_1


"Aku akan berobat."


"Sudah berapa kali kau bilang begitu!!!"


"Tapi aku benar-benar..." Kenapa aku mengantuk sekali.


"Pulanglah ke kampung halaman dan beristirahat sampai keadaan mu pulih! Aku tidak bisa memperkejakan orang teledor seperti mu."


"Tidak Kak jangan..."


Alan melangkah masuk ke dalam mobil di ikuti anak buah lainnya. Terpatri mimik wajah kecewa sebab selama ini Ano selalu bisa di andalkan. Alan bahkan kerapkali memuji-muji ketangkasan Ano di depan Kai. Dia juga berniat mengangkat Ano sebagai wakilnya namun harapan itu harus pupus.


Tidak terkecuali Alan, Ano pun merasa kecewa atas dirinya sendiri. Dia tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada tubuhnya. Vitamin dan obat-obatan sudah di konsumsi tapi tidak bisa mengembalikan daya tahan tubuhnya.


"Biar ku bantu." Liam mengulurkan tangannya dan langsung di sambut.


"Payah. Kak Alan marah padaku."


"Sudahlah. Akan lebih baik kamu beristirahat terlebih dahulu. Di mana tempat tinggal mu." Liam merangkul pundak Ano erat seakan memberikan kekuatan.


"Terimakasih Liam. Keluarga ku ada di pelosok pedesaan."


"Biar ku antarkan mengunakan mobil Agatha daripada kamu pulang sendiri."


"Mungkin aku akan naik kereta saja. Untuk menyamarkan."


"Ku antar saja. Aku khawatir. Memangnya berapa jam perjalanan."


"Dua jam. Aku takut merepotkan."


"Tidak."


"Lebih baik kamu menunggu di depan kampus. Aku harus membereskan barang-barang ku."


"Ku antar saja. Aku sudah tahu sedikit banyak tentang organisasi itu."


"Tapi jangan sampai tampak di CCTV. Aku bisa terkena masalah kalau sampai Kak Alan tahu aku mengajakmu ke markas."


"Hm baik."


Lagi lagi Ano melakukan keteledoran. Tidak seharusnya dia mengajak orang asing ke markas meskipun Liam terlihat bisa di percaya. Tapi Ano tidak sepenuhnya bersalah. Reaksi obat yang di berikan Liam mempengaruhi otak dan syaraf lainnya. Mana bisa dia bersikap baik-baik saja kalau nyatanya kondisi tubuhnya sangatlah lemah.


🌹🌹🌹


Sedikit curahan hati....


Hai reader...


Sebelumnya aku sudah bilang kalau sedang tidak bersemangat untuk melanjutkan..


Tapi di sini aku mencoba bertahan dan menyelesaikan konflik meskipun berat..


Memang benar komentar negatif seharusnya wajib di terima dengan lapang dada🤲Tapi entahlah, satu komentar negatif terasa menyayat hati😁Apalagi di sini posisi ku sedang sulit. Mana ada penulis yang bersemangat kalau viewer nya nggak nambah. Tapi bisa juga kalau ini kesalahan ku yang memang hanya penulis amatir.


Aku memohon dengan sangat. Untuk para pembaca yang tidak sejalan. Akan lebih baik berhenti membaca tanpa meninggalkan jejak. Satu komentar negatif yang menurut kalian hanya coretan kecil. Sanggup meluluhlantakkan sisa semangat.


Padahal ceritaku masih belum mencapai part 100. Tapi sepertinya ada yang tidak sabar. Sesuai permintaan, agar tidak terlihat bertele-tele. Aku akan menamatkan novel ini. Tanpa basa-basi, tanpa adegan bertele-tele langsung menikah dan selesai.


Hehehe... Mungkin setelah membaca ini ada yang ngatain penulisnya baperan😆Kocak nggak? Hahaha emang iya mengingat sejak beberapa Minggu aku berusaha menjaga komitmen juga tanggung jawab tapi ehhhh.... Ada komentar gituan👀luntur dah semangatnya...


Maaf kalau nanti ceritanya terlihat memotong. Hanya ada satu part tambahan. Sebenarnya masih banyak yang perlu di ceritakan. Adaptasi Ella juga bagaimana Darrel menyikapi. namun aku kehilangan semangat untuk mengerakkan jemariku padahal ending sudah terencana.

__ADS_1


Terlalu panjang ya🥰


Terimakasih sudah membaca.. Bye🥹👋


__ADS_2