Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 50


__ADS_3

Keesokkan harinya...


Tidak seperti biasanya Ella bangun terlambat. Apalagi terlihat Darrel tidak tampak di kamar padahal biasanya ketika dia membuka mata lelaki itu tidur di bawah kaki atau di sofa.


Mungkin Kak Darrel mandi. Tapi kenapa tidak membangunkan aku?


Dengan gerakan malas Ella beranjak. Dia sadar jika hari ini Darrel bukan lagi seutuhnya miliknya. Malas semakin menggerogoti otak. Terselip niat untuk membolos kuliah sambil menyiapkan mental.


Aku yakin bisa melewati ini. Suatu saat aku akan menemukan lelaki yang lebih baik dari Kak Darrel.


Meskipun berusaha tegar, namun nyatanya gerakan kaki Ella tampak melambat. Perlahan dia membuka lemari untuk mengambil baju yang di kenakan nanti. Bersamaan dengan itu pintu kamar pun terbuka.


"Astaga sayang, kamu baru bangun? Kata Darrel ada kelas pagi." Sapa Nay hangat. Dia berjalan ke arah jendela untuk membuka tirai penutup selayaknya pekerjaan seorang Ibu.


"Iya Ma. Em semalam aku tidak bisa tidur."


"Hm ya sudah. Cepat mandi dan sarapan pagi. Mama tunggu di bawah ya." Tidak lupa Nay mengecup kening Ella sebentar sebelum keluar kamar.


"Kenapa malah Mama yang ke sini? Terus Kak Darrel kemana." Eluh Ella berjalan lambat masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


.


Singkat waktu, setelah selesai dengan persiapannya. Ella menenteng tas kuliah lalu berjalan keluar. Dia berniat langsung berangkat sebab hari ini ada kelas pukul tujuh pagi.


Awalnya langkah Ella terlihat tenang. Namun setelah mencapai pintu ruang makan, seketika nafasnya berhembus kasar.


Tampak jelas Ana berada di sana, tepatnya duduk di samping Darrel. Ada rasa nyeri menusuk hati, karena rupanya kursi yang di duduki Ana merupakan tempat miliknya.


"Sini sayang." Pinta Nay menggeser kursi di sampingnya.


"Ya." Jawab Ella singkat sambil berjalan tanpa melihat ke arah Darrel ataupun Ana. Sudah pasti seperti ini. Posisiku akan dengan cepat tergantikan. Aku hanya Adik angkat sementara Ana akan jadi Istri Kak Darrel.


Dengan gerakan kaku Ella duduk. Berusaha menghindari kontak mata dengan sosok di depannya. Canggung juga cemburu, rasa itu bercampur aduk menjadi satu dan berputar-putar di otak Ella.


"Hari ini kita berangkat dengan membawa mobilnya Ana." Ujar Darrel ingin membuka obrolan tapi Ella tidak merespon. Sedikit kesal, mengingat Darrel dengan mudah melupakan janjinya.


"Iya soalnya identitas Darrel tetap harus di jaga. Kamu juga ya harus segera lulus. Ingat umur Darrel, Mama juga ingin segera punya cucu."


Masih saja Ella tidak merespon. Dia makan dengan tenang seakan sosok dewasa di hadapannya tidaklah ada. Sungguh sikap yang mampu mengoyak emosi Nay yang sejatinya menginginkan Ella segera mengakui rasa.


Kai tersenyum simpul. Dia menerka jika keburukan di masa lalu membuat rasa percaya diri pada Ella terkikis sedikit. Padahal Kai mengakui berapa sempurna paras yang di miliki calon menantunya itu. Sudah pasti akan banyak lelaki yang ingin memiliki Ella termasuk Darrel.


"Memikirkan apa Ella?" Untuk pertama kalinya Kai angkat bicara. Sejak tadi pagi dia belum berbicara satu katapun.


Sontak Ella menoleh dengan wajah gugup. Dia tersenyum canggung, menatap Kai ragu-ragu.

__ADS_1


"Tidak ada Pa."


"Apa ada pelajaran yang sulit? Kamu bisa meminta bantuan pada Darrel." Menunjuk ke arah Darrel.


"Em Kak Darrel sudah sering membantu saya."


"Terus kenapa kamu tidak fokus?" Nay menghela nafas panjang. Ternyata pertanyaan Kai yang malah di respon oleh Ella.


"Sepertinya saya sedang tidak enak badan. Em mungkin hari ini saya tidak masuk kuliah." Bergegas saja Nay mengangkat tangan kanannya untuk memeriksa suhu tubuh Ella.


"Apa perlu kita ke dokter sayang?" Tanya Nay malah merasa khawatir.


"Ti tidak perlu Ma. Em hanya butuh sedikit istirahat saja." Jawab Ella terbata.


"Jadi kamu tidak kuliah hari ini?" Pertanyaan Darrel tidak di respon. Selain kesal, Ella juga ingin menunjukkan rasa kecewanya.


"Katanya ada sedikit ujian hari ini. Bukankah kamu ingin segera lulus sayang? Kalau memang ingin, jangan membolos. Bisa mempengaruhi nilai." Nay paham jika Ella bukan sedang sakit melainkan kesal akan keberadaan Ana di sana. Kalau dia membolos. Rencananya gagal dong.


"Begitu ya Ma." Darrel menghembuskan nafas berat. Dia merasa di acuhkan.


"Hm iya. Nanti sepulang kuliah langsung istirahat. Tidak boleh main game."


"Iya Ma. Tapi bisakah Paman Alan mengantarkan ku ke kampus?" Ella menatap Nay lekat. Seakan tengah berkomunikasi lewat batin.


"Ada Kakak mu. Kalian berangkat bersama saja."


"Tidak Ma. Aku ingin mandiri dan tidak bergantung. Seperti yang Mama bicarakan."


"Tidak bisa Ella. Mana mungkin itu terjadi!" Sahut Darrel cepat nan ketus. Nay, Ana dan Kai saling melihat satu sama lain. Ingin mengingatkan Darrel akan scenario tapi Ella sedang ada di sana.


"Bagaimana Ma." Sikap acuh Ella semakin membuat Darrel naik pitam.


"Oh kamu tidak mendengarkan ku." Ucap Darrel seraya berdiri, menatap kesal ke arah Ella." Hari ini kita akan naik motor seperti biasanya. Biarkan Ana berangkat sendiri." Nay menunduk seraya menahan senyum. Sikap Darrel membuatnya senang meskipun Ella belum menunjukkan perasaannya.


Darrel berjalan menghampiri lalu meraih pergelangan tangan Ella dan memaksanya berdiri.


"Kita sarapan di kantin saja." Dengan kasar Ella menarik tangannya lalu kembali duduk tanpa menjawab." Hei Ella. Aku berbicara dengan mu." Imbuhnya semakin kesal.


Kesal. Aku sangat kesal. Aku tidak mau melihatnya lagi. Batin Ella sambil mengusap-usap pergelangan tangannya seakan ingin membersihkan jejak sentuhan Darrel.


"Kenapa kamu melakukan itu?!" Menunjuk ke tangan Ella.


"Sudahlah Darrel. Duduklah dan lanjutkan makannya." Pinta Nay serata menatap ke arah Ella yang enggan menatap Darrel. Masih juga bertahan gadis ini. Seharusnya dia berprotes kalau mungkin perasaannya sudah membesar. Memang lebih baik di dongkrak agar Ella bisa mengungkapkan keinginannya.


"Bagaimana bisa tenang kalau..."


"Nanti kamu juga akan terbiasa. Sikap Ella sangat wajar Kak. Kalian hanya Adik angkat yang seharusnya memang tidak terlalu dekat." Sahut Ana seakan tidak menerima kedekatan antara Darrel dan Ella.


Terdengar suara hembusan nafas berhembus. Darrel terlalu terbawa suasana hati sampai-sampai dia melupakan jika semua hanya sandiwara.

__ADS_1


"Ella terlalu lugu. Itu kenapa dia harus berada di pengawasan ku." Ella masih tidak bergeming. Malas dan kesal membuatnya enggan berbicara.


"Sekuat harus ada batasannya. Sekarang sudah ada aku dan ceritanya akan berbeda." Darrel berjalan cepat menuju kursinya kemudian duduk. Tatapannya tajam menatap ke arah Ella yang seolah tidak mendengar.


Sungguh Darrel merasa frustasi. Dia tidak mau Ella kehilangan rasa nyaman hingga membuat sikapnya sedingin dulu. Namun apa yang di lakukan sekarang adalah untuk kebaikan hubungan mereka.


Asal Ella tidak mengenal lelaki lain. Kalau hanya Paman Alan... Ah dia tidak normal. Mungkin tidak masalah.


"Hm tenang saja Ana. Aku tahu diri. Aku hanya anak angkat. Bagaimana Ma? Tolong suruh Paman Alan mengantarkan ku kuliah." Bersamaan dengan itu Alan terlihat baru saja masuk. Dia berniat melaporkan beberapa kasus yang sedang di tanganin.


Sontak saja Ella langsung beranjak, menenteng tas kuliahnya dan berjalan menghampiri Alan walaupun sarapannya belum habis.


"Tolong antar saya pergi kuliah Paman." Alan menatap sekitar. Sedang bertanya tentang apa yang terjadi lewat Isyarat mata.


"Biasanya Darrel yang mengantar."


"Sekarang ceritanya lain. Dia sudah punya calon Istri. Tolong ya Paman. Saya tunggu di depan." Ella berjalan keluar tanpa persetujuan.


"Terus bagaimana?" Tanya Alan mengulang.


"Antarkan saja. Aku mengikuti dari belakang." Jawab Darrel ketus. Dia beranjak untuk mengambil tas kuliah juga jaket kebanggaannya.


"Semuanya terlihat sulit." Gumam Kai seraya makan.


"Ini juga untuk kebaikan nya." Kai menoleh cepat.


"Kebaikan apa? Dia malah tertekan." Jawab Kai menyangkal.


"Ku rasa Ella memang belum sepenuhnya keluar dari trauma masa lalu. Dia masih kesulitan berprotes dan mengatakan ketidaksetujuannya." Ana alias Jessy mengangguk. Sesekali melirik ke arah Alan. Sudah lama dia tidak melihatnya semenjak Nay memperbolehkannya berlibur panjang untuk melakukan perawatan wajah di Korea.


"Sebentar lagi kecemburuannya akan meledak. Saya yakin itu." Ujar Jessy menyahut.


"Hm. Lakukan sesuai rencana. Tapi ingat untuk memperketat penjagaan." Alan berjalan mendekat lalu meletakkan berkas di samping Nay.


"Identitas palsu nya Bu." Ujarnya sopan. Nay memungut berkas tersebut lalu memeriksanya.


"Ada lowongan sebagai apa?"


"Administrasi."


"Oh bagus sekali." Kai kembali di buat frustasi saat dia mengingat rencana gila Nay yang berniat menjadi salah satu karyawati di pemandian.


"Masih ada cara lain." Sahut Kai entah sebanyak apa merajuk.


"Sudah lama aku tidak bermain-main. Aku yakin korbannya bukan hanya Suami Ibu itu tapi banyak. Bos seperti itu harus di beri pelajaran."


"Belum ada bukti. Bisa saja Suami Ibu itu memang kabur karena tidak sanggup menanggung beban hidup." Kai menyaksikan sendiri bagaimana kumuhnya rumah yang di tinggali si wanita yang meminta bantuan beberapa hari lalu.


"Itu kenapa aku harus turun lapangan. Kalau terbukti benar, pemandian itu akan jadi milik kita dan pemiliknya..."

__ADS_1


Nay terkekeh nyaring sementara Kai tidak mampu berbuat banyak. Terkadang ingin rasanya dia mengurung Nay agar berdiam diri di rumah. Namun Nay tidak mudah di kendalikan apalagi ketika di hadapkan dengan Bos berwatak egois. Membutuhkan jasa tapi enggan mengeluarkan gaji yang setimpal.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2