
Sampai pukul 1 malam, Ella belum juga memejamkan mata. Takut! Khawatir! Tentu saja begitu, walaupun Darrel memperlihatkan beberapa kebaikan namun Ella masih merasa was-was.
Ella takut jika saat memejamkan mata lalu membukanya lagi, dia sudah berada di tempat berbeda. Yang terburuk tentu kediaman Prapto.
Aku pasti bisa menahan kantuk sampai aku yakin Kak Darrel tidak bersekutu dengan lelaki itu.
Ella yang menganggap Darrel seorang mata-mata dan pengawal, tentu akan patuh ketika Nay atau Kai memberikan perintah untuk menangkapnya.
"Belum mengantuk?" Tanya Darrel entah berapa kali.
"Belum Kak." Ella berusaha membuka mata padahal beberapa kali dia sempat menguap.
"Katanya mau kuliah? Kenapa belum tidur?"
"Mungkin terlalu asing dengan tempatnya." Rasanya malam berlalu sangat panjang. Ella berharap pagi cepat datang namun menit demi menit berjalan melambat.
Sebaiknya aku keluar kamar. Mungkin dia merasa tidak nyaman.
"Hm baik. Aku ke depan sebentar." Darrel berdiri sambil menyambar jaket kulit kebanggaannya. Dia tidak pernah lupa memakainya sebab di dalam terdapat amunisi jika terjadi sesuatu yang genting.
"Mau pulang?" Tanya Ella panik. Membingungkan, dia curiga pada Darrel tapi tidak ingin dia pergi.
"Tidak. Hanya di lobby. Ingat ya, kamu tidak bisa keluar sembarangan kecuali mengunakan ini." Menunjuk jari telunjuknya. Darrel mengingatkan lagi jika Ella tidak bisa punya akses untuk keluar.
"Kalau ada yang menerobos masuk."
"Mustahil terjadi. Tidak ada teras dan kaca di lapisi anti peluru. Tapi kalau ada hal genting, hubungi aku." Darrel mengembalikan ponsel milik Ella yang tadi sempat di berikan padanya.
"Em ya Kak. Maaf merepotkan."
"Ya sedikit. Itu kerena jiwa sosialku yang tinggi. Aku ke bawah." Jawabnya masih enggan mengakui rasa.
Setelah tersenyum sejenak, Darrel melangkah keluar seraya mengklik sistem pelacak yang terhubung dengan ponsel cadangannya. Layar sontak berganti dengan penampakan Ella yang terlihat langsung berbaring di sofa padahal Darrel belum sepenuhnya keluar.
Wajar saja. Aku memang lelaki asing baginya.
Darrel sadar jika adegan membahayakan tadi tidak cukup membuat Ella merasa yakin. Dia sendiri tidak mampu berharap banyak karena memang keduanya di pertemukan beberapa hari lalu.
Semua kegiatan bisa Darrel ketahui. Apa yang Ella lihat, apa yang Ella telusuri, semua terlihat di layar ponselnya. Darrel juga bisa menikmati paras Ella ketika sedang memperhatikan layar ponsel.
"Aku yakin hanya ketertarikan sesaat." Darrel duduk lalu mengangkat tangan kanannya pada barista. Cafe di bukan selama 24 jam sehingga Darrel memutuskan berada di sana agar Ella bisa beristirahat." coffee latte 1 ya." Imbuhnya memesan.
"Sebentar Tuan."
Hanya beberapa menit menunggu, kopi pesanan sudah tersaji di hadapannya.
__ADS_1
Darrel meniup-niupnya sebentar lalu menyeruput sedikit kopi sambil memandangi layar ponsel. Sementara Ella sendiri masih ingin menjelajahi benda berbetuk segi panjang itu meski kantuk terasa menghantam.
Bukan hanya beberapa kali menguap, maniknya pun tampak redup tapi berusaha di tahan. Tuk!! Ponsel terjatuh dan membentur kening. Ella mengusap-usapnya lalu berinisiatif meletakkan ponsel dalam posisi berdiri agar dia bisa melihat video tanpa memegangnya.
"Nah begini baru benar." Gumamnya sempat menoleh ke arah pintu juga sekitar ruangan. Aku harap Kak Darrel tidak sembarang masuk. Semoga dia tidak menipu ku dengan berpura-pura baik.
Perlahan mata Ella meredup juga. Dia yang sejatinya sudah mengantuk, langsung tidak dapat mengendalikan beratnya mata.
Darrel bernafas lega. Akhirnya Ella beristirahat walaupun dirinya tidak yakin bisa tidur malam ini. Layar ponsel tetap memperlihatkan kegiatan Ella sementara dirinya menyeruput kopi seraya memperhatikan situasi sekitar.
Bayangan soal kemarahan Nay sudah di bayangkan dalam fikirannya. Darrel yakin jika sekarang Nay tengah mengkhawatirkannya.
Awas saja kalau Ano bicara macam-macam. Selama ini Ano satu-satunya kunci keselamatan Darrel. Padahal meski Ano sudah di ancam, titah yang utama tetap saja Nay. Memang sengaja pengawalan di lakukan sembunyi-sembunyi seakan Darrel bebas berkeliaran sepulang kuliah. Namun kenyataannya, seluruh kegiatan apapun yang di kerjakan selalu di pantau.
๐น๐น๐น
Prapto menatap geram layar ponselnya yang terlihat hening. Dia menantikan kabar dari beberapa orang suruhan yang di tugaskan membunuh Arya.
Sudah tidak berguna dan terlalu banyak tahu soal keburukan. Alasan kenapa Prapto menginginkan Arya mati daripada nanti menjadi masalah baru.
Seorang lelaki masuk, dia berdiri di hadapan Prapto dengan wajah tertunduk.
"Saya tidak menemukan apapun Bos."
"Terus Arya?" Tanyanya kasar.
"Berarti dia masih hidup. Lalu di mana mereka?"
Memang kekayaan Prapto berlimpah. Dia bisa menyewa orang suruhan berapapun jumlahnya. Tapi Prapto tentu akan kalah jika berhadapan dengan Kai yang jauh lebih kaya juga berkuasa. Namun yang jadi masalah, Prapto belum juga sadar berhadapan dengan siapa.
"Saya tidak tahu Bos. Keberadaan Pak Arya pun saya tidak tahu."
"Sial! Sejak awal lelaki itu memang mencurigakan!" Kacung Prapto hanya mampu tertunduk. Ingin mencari informasi lewat CCTV pun tidak memiliki akses. Sementara jejak pembunuhan sudah di bersihkan begitupun Arya yang memilih bersembunyi daripada nanti nyawanya terancam.
๐น๐น๐น
Keesokkan harinya..
Ella bangun dengan keadaan panik. Dia mengira sedang berada di tempat berbeda padahal Darrel hanya memindahkan Ella ke ranjang sementara dirinya tidur di sofa.
"Bukan." Eluhnya lirih. Menghembuskan nafas berat ketika melihat keberadaan Darrel di sofa. Berarti lelaki ini bisa di percaya.
Ella mengikat rambutnya sembarangan, membereskan tempat tidur seperti rutinitas setiap pagi. Maniknya menatap sekitar, apartemen mewah itu masih terlihat bersih dan berkilap.
Bagaimana keadaan wanita itu? Biasanya dia sudah berteriak-teriak.
__ADS_1
Langkah Ella terayun pelan ke arah kulkas. Dia takut membangun Darrel. Masih terlalu dini apalagi keduanya tidur begitu larut.
Perlahan tangannya meraih gagang pintu kulkas lalu membukanya. Hanya ada minuman ringan dan cemilan. Tidak ada bahan makanan yang mungkin bisa di olah.
"Kamu lapar?" Sontak Ella menutup pintu kulkas dan beralih menatap Darrel.
"Tidak Kak. Apa aku berisik? Maaf." Darrel tersenyum, sejak tadi dia memang tidak tidur dan hanya sekedar memejamkan mata.
"Ku pesankan makanan." Darrel meraih ponselnya lalu memesan menu untuk sarapan." Sebaiknya kamu mandi. Nanti sepulang kuliah kita bisa membeli beberapa potong baju." Imbuhnya kembali meletakkan ponsel.
Sorot mata Darrel memancarkan ketertarikan yang semakin menguat. Munafik jika dia tidak tertarik dengan sosok Ella. Cantik dan selalu bersikap apa adanya. Apalagi Darrel menganggap jika Ella gadis yang cukup tangguh dalam hal membela diri.
Seperti Mama. Bisa memposisikan diri menghadapi situasi.
"Kak."
"Ya." Darrel tersadar dari lamunannya.
"Apa hari ini kita bisa pergi kuliah?"
"Bisa."
"Bagaimana dengan lelaki itu?"
"Aku pastikan dia tidak akan bisa menyentuh mu." Jawab Darrel cepat.
"Bagaimana kalau Bos mu marah. Bukankah lelaki itu berteman baik dengan mereka." Masih saja Ella menaruh curiga pada Kai dan Nay.
"Itu urusan ku. Kamu tenang saja." Papa dan Mama tidak boleh tahu kalau aku menyukai nya.
"Perkerjaan mu?!" Tanya Ella tidak juga berhenti.
"Mereka terbiasa melihatku membantu seseorang." Ella mengangguk-angguk meski masih ragu akan jawaban Darrel.
"Aku mohon Kak. Kalau memang Kak Darrel berniat menolong. Jangan serahkan aku pada lelaki itu. Jika memang Kak Darrel takut kehilangan perkerjaan. Akan lebih baik masalah ini ku selesaikan sendiri."
Darrel beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menghampiri Ella dan berdiri tepat di hadapannya.
"Masih tidak yakin?"
"Hm. Takut kalian bersekongkol. Dulu wanita itu juga sok baik padaku."
"Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas." Ella terdiam seraya menatap Darrel. Dia takut jika lelaki di hadapannya akan bernasib sama seperti kedua orang tuanya.
"Dia mengincar ku sejak kecil. Aku merasa kematian kedua orang tuaku tidak wajar."
__ADS_1
Ella menceritakan kekhawatirannya setelah membaca surat yang di tulis Pak Sudrajat. Apalagi dulu Ella tidak sengaja mendengar ketika penolakan lamaran di lontarkan. Dia bahkan tahu saat mimik wajah Prapto yang tadinya berseri-seri berubah bengis. Sungguh memori yang sulit di lupakan walaupun kala itu Ella tidak tahu menahu soal apa itu sebuah pinangan.
๐น๐น๐น