Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 29


__ADS_3

Setibanya di mini market, alangkah terkejutnya Ella ketika melihat para pegawai berada di area luar. Mobil Pak Kirman yang terparkir membuat Ella sudah menebak tentang apa yang terjadi.


"Kenapa kalian di luar?" Tanya Ella menatap ke wajah kusut para pegawai.


"Bu Lena memecat kami Nona. Sisa barang juga akan di jual."


"Jangan ada yang pergi." Pinta Ella menyerbu masuk. Dua orang lelaki tampak berdiri di samping Lena yang tengah melakukan negoisasi.


Sudah sejak beberapa tahun lalu mini market mengalami penurunan omset penjualan. Itu semua karena hidup Lena yang terlanjur royal sampai-sampai hasil penjualan sering di pakai untuk berbelanja.


Banyak dari para pelanggan mengeluh, ketika mereka menanyakan stok barang namun tidak ada. Jangankan untuk membayar gaji, untuk memenuhi kebutuhan mini market saja sudah tidak ada dana.


"Surat-suratnya tidak ada Bu jadi kami hanya berani membayar segitu."


"Akan ku cari. Setelah surat di temukan, akan ku berikan pada kalian."


"Mana bisa Bu. Ada surat harga bisa tinggi." Jawabnya menawar. Kedua lelaki saling menatap satu sama lain. Mereka akan mendapatkan untung besar sebab rupanya mini market ada di area strategis.


"Kalian tidak percaya..."


"Tunggu!!" Sahut Ella lantang." Saya hak waris tempat ini. Kalian tidak bisa membelinya." Imbuhnya menatap Lena yang mimik wajahnya berubah kesal.


"Oh kau. Berani sekali kamu hadir di sini. Gara-gara kamu Prapto membekukan ATM milikku. Sudah seharusnya aku menjual tempat yang sudah bangkrut ini!" Lena melirik ketika Darrel baru saja tiba.


"Anda tidak punya hak. Silahkan tinggalkan tempat ini." Sambil menunjuk ke pintu keluar.


"Ingat El. Aku ini Istri syah Ayahmu. Aku punya hak atas semua harta bendanya."


"Ternyata belum cukup juga." Jawab Ella cepat nan lantang. Menatap tajam ke arah Lena, dengan manik berkaca-kaca. Sungguh sakit ketika bayangan penyiksaan melintas. Wanita yang dulu di anggap baik, ternyata hanya seekor serigala berbulu domba. Bukan hanya merusak mental, tapi rupanya Lena berusaha membabat habis harta peninggalan Pak Sudrajat.


"Apa maksudmu."


"Ayah membangun ini dengan tetesan keringat tapi kau menghancurkannya." Mendorong pundak Lena mengunakan jari telunjuk.


"Jaga sopan santun mu El. Aku ini Mama tiri mu."


"Aku tidak pernah menganggap mu sebagai Mama."

__ADS_1


"Pokoknya tempat ini harus di jual dan di bagi berdua."


"Tidak. Pergi dari sini!!!" Jawab Ella tanpa basa-basi. Dia merasa aman karena adanya Darrel di samping. Mana mungkin Lena berani menyentuhnya.


"Sial! Aku akan membalas perbuatan mu!!" Setelah menunjuk kasar, Lena beranjak pergi. Dia sempat menatap tajam ke Darrel yang tengah tersenyum mengejek.


"Wah bagaimana ini." Eluh salah satu calon pembeli. Maniknya menatap nakal ke arah Ella yang memang terlihat belia dan cantik." Kalau memang Nona adalah hak waris dari tempat ini. Kami mau membelinya dengan harga tertinggi." Ujarnya sangat bernaffsu untuk memiliki tempat tersebut.


"Anda juga silahkan keluar. Sampai kapanpun saya tidak akan menjual tempat ini." Jawab Ella tegas. Selain ingin memenuhi titah Pak Sudrajat, banyak dari para pegawai menggantung hidupnya pada mini market.


"Em baik. Mungkin Nona berubah fikiran. Ini kartu nama saya." Menyodorkan sebuah kartu nama. Ella tidak merespon dan malah berjalan keluar untuk memanggil para karyawan agar kembali masuk.


Terpaksa, kedua lelaki itupun pergi sambil menggerutu. Darrel menatap sekitar. Banyak rak kosong karena tidak adanya produk. Melihat tempatnya yang strategis membuat Darrel merasa yakin jika mini market bisa berkembang pesat.


Perhatiannya teralihkan ketika Ella masuk bersama beberapa karyawan. Mereka berdiri membentuk lingkaran saat Ella menjelaskan soal bantuan yang di berikan oleh Darrel.


"Jadi hari ini kita menerima gaji?" Tanya salah satunya antusias.


"Hanya sebagian. Em rencananya separuh dari uang ini akan saya pergunakan untuk membeli stok barang." Darrel merasa kagum akan rasa sosial yang di miliki Ella. Sikap tersebut mengingatkannya pada sosok Nay meskipun terkadang kegilaan sulit terkendali ketika Nay di hadapkan dengan kemunafikan juga kebohongan.


"Itu sudah lebih dari cukup Nona. Kami berjanji akan tetap bertahan sampai mini market ini kembali baik."


"Tapi Kak. Lihat tempat ini." Terakhir kali Ella datang satu bulan yang lalu. Saat itu keadaan mini market tidak terlalu kritis." Aku butuh uang untuk membeli stok barang. Itupun hanya sebagian." Imbuhnya pelan.


"Siapa yang biasanya mengurus keluar masuk barang?" Sebuah tangan terangkat. Seorang pegawai lelaki maju dan berdiri di hadapan Darrel.


"Saya Kak."


"Berapa total yang harus di bayar untuk melengkapi seluruh kebutuhan mini market." Tanya Darrel seraya tersenyum.


"Sangat banyak Kak. Em semua stok di dalam habis."


"Aku tidak menanyakan itu. Tolong kamu total dan berikan padaku."


"Baik Kak." Dengan wajah bersemangat si pegawai lelaki berjalan ke belakang meja kasir untuk mengambil beberapa berkas.


"Em untuk tunggakan gaji. Aku minta laporannya sekarang agar kalian segera mendapatkannya." Para pegawai tersenyum mengembang. Tentu saja uang gaji selalu mereka nantikan. Bergegas saja mereka membuat perincian agar gaji mereka bisa segera di selesaikan.

__ADS_1


"Aku banyak merepotkan." Meski berkata demikian, hati Ella merasa lega melihat wajah berseri-seri para pegawai. Bukan hanya soal tekanan batin namun rupanya kenyataan gaji tunggakkan pegawai menjadi beban fikiran.


"Jangan sungkan, aku Kakakmu." Darrel lebih tidak terbebani saat dirinya di sebut Kakak bagi Ella. Mungkin ketertarikan memang belum seberapa besar sehingga Darrel masih bisa menepis rasa agar Nay percaya kalau dirinya sudah berubah.


"Bantuan darimu aku anggap pinjaman."


"Aku tidak menyebut begitu. Jangan merasa terbebani. Bantuan ini tidak wajib kamu bayar. Aku tulus menolong mu."


"Oh benarkah?" Ujar Ella sambil menatap Darrel penuh selidik. Kebaikan memang beberapa kali di tunjukkan dan seharusnya hal itu sudah membuat Ella percaya. Tapi ternyata tidak mudah bagi Ella mengakui ketulusan orang berkasta tinggi seperti Darrel.


"Kamu sedang apa?" Darrel terkekeh menyadari eskpresi wajah Ella yang seakan menuduhnya punya niat terselip di antara kebaikan.


"Ingat ya Kak. Meskipun bantuan kamu berikan. Aku tidak mau nanti kamu ambil alih mini market ini apalagi menjeratku dengan pernikahan. Oleh karena itu aku tekankan sekarang. Aku ingin bebas, menikmati masa mudaku, berkuliah juga punya banyak teman." Darrel mengangguk-angguk, maniknya menatap bibir Ella yang tengah berceloteh tentang keinginannya setelah bebas dari jeratan Prapto." Aku juga tidak mau punya pasangan seperti mu." Sontak mata Darrel melebar.


"Aku tidak suka dengan pembicaraan yang terakhir."


"Kenapa? Apa itu berarti kamu akan menjeratku dengan pernikahan?" Tanya Ella menebak. Alasannya tidak ingin terjebak pada situasi yang sama.


"Tidak. Aku juga tidak ingin menikahi gadis yang tidak mencintai ku. Tapi itu hal yang mustahil. Mana mungkin ada yang menolak ku." Ella mengerutkan keningnya. Bibir mulai mengerucut, menatap Darrel dari atas sampai bawah. Terlihat tampan namun dia tidak akan mudah tergoda mengingat perbedaan kasta.


"Mungkin aku satu-satunya orang itu." Darrel kembali terkekeh sementara Ella memasang wajah masam." Aku juga tidak ingin di nikahi dengan lelaki yang tidak kucintai." Rasanya Darrel merasa terhina. Sungguh ini kali pertama ada seorang gadis berkata demikian. Meski dirinya dominan dengan berandalan, tapi sejauh ini Darrel tidak punya kendala mendekati seorang gadis yang di inginkan.


"Ya oke. Kamu memang sangat cantik. Ini masih terlalu singkat untuk saling mengenal apalagi saling menyukai."


"Tidak. Aku memang kurang berminat." Jawab Ella cepat.


"Astaga. Kamu menolak sebelum aku berkata apapun."


"Itu tandanya kamu punya niat buruk Kak." Lagi lagi Darrel di sudutkan dengan tuduhan buruk yang bersarang di otak Ella.


"Jujur saja. Sejauh ini aku masih menganggap mu sebagai Adik. Sudah lama aku menginginkan saudara, pasti akan menyenangkan memiliki Adik seperti mu."


"Hm. Aku harap kamu komitmen dengan ucapan mu." Setelah melontarkan itu Ella beranjak pergi ke arah para pegawai yang berkumpul.


Darrel menatap dari tempatnya berdiri. Dalam beberapa hari saja Ella bisa menumbuhkan perasaan suka. Terdengar helaan nafas berat berhembus. Darrel mengakui Ella memiliki paras sangat cantik bahkan mungkin begitu cantik.


Lelaki mana yang tidak tertarik. Tapi aku berjanji tidak akan menjerat apalagi memaksa. Mana mungkin kamu tidak mencintai ku Ella. Masih terlalu dini untuk membahas itu namun kamu sudah sangat menarik perhatian ku.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2