
Setibanya di rumah sakit. Untuk pertama kalinya Darrel melihat tangis Ella pecah. Biasanya gadis kecil itu selalu menunjukkan rasa kuat dan tidak lemah. Namun melihat keadaan Pak Sudrajat yang kritis tentu membuat hati Ella terluka.
Tubuh Pak Sudrajat begitu kurus, rapuh dan hanya meninggalkan tulang serta kulit. Dan yang membuat Ella merasa paling tersakiti adalah lidah Pak Sudrajat putus sehingga dia hanya bisa mengobrol lewat tulisan pada kertas.
Nay tertunduk, teringat akan keluarganya terutama sosok Nia. Maniknya mulai berkaca-kaca. Hatinya sering tersentuh saat melihat kejadian semacam ini.
"Kami akan menjaga Ella untuk anda." Ucap Nay tersenyum manis. Dia mencoba tidak menampakkan kesedihan. Ada harapan Pak Sudrajat bisa tertolong meski itu hal yang mustahil.
Dokter menjelaskan jika banyak organ dalam Pak Sudrajat yang kehilangan fungsi. Ginjalnya bahkan menghilang entah kemana. Selayaknya mayat hidup, kematian Pak Sudrajat seakan tertunda agar dirinya bisa bertemu dengan anak semata wayangnya.
Ella mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Pak Sudrajat. Dia berbisik, ingin mengetahui fakta soal keterlibatan Lena.
Pak Sudrajat mengangguk dengan tangan rapuh yang terpaut pada jemari Ella. Hatinya merasa damai sejak Kai datang memperkenalkan diri. Kehadiran Arya pun menambah keyakinan jika Ella sudah berada di tangan yang tepat.
Terimakasih sudah mengabulkan permintaan terakhir saya Tuhan. Setelah ini saya siap mati.
Hari demi hari Pak Sudrajat lalui di ruangan sempit yang terletak di bawah tanah rumah Prapto. Apalagi yang bisa di kerjakan kecuali berdoa sebab dirinya tidak kuasa melawan. Penyiksaan hampir setiap hari di hadiahkan. Prapto sangat membenci dirinya karena penolakan lamaran beberapa tahun silam.
"Sekarang mini market sudah kembali berdiri. Ayah harus sembuh dan kita bisa membuka cabang baru." Arya tertunduk. Dia juga merasa jika umur Pak Sudrajat tidak akan lama lagi. Tuhan mengabulkan keinginannya yang terakhir untuk berjumpa dengan Ella dan melihatnya baik-baik saja. Menurut Arya itu sudah lebih dari cukup sebagai hadiah Tuhan bagi Pak Sudrajat.
Arya menunduk, membisikkan sesuatu yang langsung membuat Pak Sudrajat tersenyum teduh. Hanya sesaat sebelum tatapan berubah kosong. Manik Pak Sudrajat menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah langit-langit kamar.
Beberapa menit terpaku sampai akhirnya nafas Pak Sudrajat mulai tersengal. Ella panik, begitupun Arya yang langsung memanggil Dokter.
Ella di giring paksa keluar ruangan. Tatapannya nanar ke arah Pak Sudrajat yang nafasnya seakan tinggal sejengkal. Tidak butuh waktu lama, Dokter keluar ruangan dan mengabarkan berita kematian Pak Sudrajat. Ella menerobos masuk, menghampiri tubuh yang tertutup selimut berwarna putih.
Tangannya mencengkram erat pundak rapuh itu, menggoyang-goyangnya sambil berteriak menyuruhnya bangun.
"Aku berjanji akan memburu wanita itu!!!" Meski mayat Pak Sudrajat tampak tersenyum. Dendam Ella pada sosok Lena kini bertengger di otak. Dia berjanji tidak akan membuat hidup wanita itu bahagia bahkan berniat membunuh dengan tangannya sendiri.
.
.
.
.
.
Meski tidak rela, namun nyatanya hari ini Ella kembali menyaksikan pemakaman Pak Sudrajat. Hanya sebentar air mata menetes. Kini Ella berdiri mematung, menatap gundukan tanah di hadapannya. Mimik wajahnya tampak datar seakan merasa terbiasa.
Ella merasa tertipu bertahun-tahun. Mengunjungi pemakaman palsu yang di rancang untuk mengelabuhi. Sungguh dirinya tidak menyangka akan kemunafikan orang yang ada di sekitar.
Ku pastikan lelaki itu sudah tewas. Kematiannya tidak setimpal dengan apa yang di lakukan pada keluarga ku. Mungkin aku bisa melampiaskan semua kekesalan pada wanita itu.
__ADS_1
"Setelah ini kamu pulang ke rumah kami ya." Lamunan Ella buyar ketika Nay melingkarkan lengannya ke pundak.
"Saya ingin pulang ke rumah saya sendiri." Jawab Ella pelan.
"Untuk sementara tinggallah bersama kami. Em untuk memastikan keamanan saja sebab wanita itu masih berkeliaran." Tentu Nay punya cara merajuk. Semua yang di lakukan sudah terencana dengan rapi dalam waktu singkat.
"Bagaimana dengan rumah saya."
"Tenang saja Ella. Em beberapa orang sedang menjaga rumah milikmu sambil merenovasinya." Ella sontak menoleh. Dia tidak setuju rumahnya di renovasi.
"Jangan Bu. Almarhum Mama yang mendesain rumah. Ayah juga berpesan untuk tidak merubahnya." Nay tertawa kecil. Sungguh dia merasa jika Ella sangat mirip dengan Nia.
"Tidak ada yang berubah. Em hanya saja di perlukan sedikit renovasi di bagian halaman depan. Agar nantinya kamu bisa aman tinggal di sana."
Nay akan menambahkan sebuah ruang tamu yang luas tanpa merubah desain awal. Sistem keamanan tentu di pasang. CCTV juga sebuah ruang rahasia untuk bersembunyi jika terjadi hal genting.
"Em begitu Bu." Ella melirik ke Darrel yang sejak tadi diam.
"Panggil aku Mama. Mulai hari ini kamu anak angkat ku. Kami sudah meminta izin pada Almarhum dan dia setuju." Tentu saja Pak Sudrajat setuju. Dia tahu seluk beluk tentang Naysila juga besarnya kekuasaan Kai.
Pak Sudrajat hanya ingin Ella jatuh di tangan yang tepat apalagi Nay sempat meminta izin untuk menjodohkan Ella dengan Darrel. Rasanya begitu lega mendengar itu. Sehingga kini beliau sudah bisa pergi dengan tenang.
"Ya Bu, em Ma. Tadi Kak Darrel sudah membicarakan itu." Nay tersenyum teduh. Membelai rambut pirang Ella naik turun.
"Syukurlah Nona. Saya juga merasa lega." Sahut Arya dengan berkas di tangannya.
"Ini saatnya menyerahkan semua aset milik Pak Sudrajat. Nona Ella sudah layak mendapatkannya." Arya menyodorkan sebuah map biru. Ella menerima lalu membukanya. Di dalam terdapat surat tanah serta rumah juga semua properti milik Pak Sudrajat.
"Terimakasih sekali lagi Kak."
"Hm ya sama-sama. Tugas saya sudah selesai. Saya permisi." Setelah tersenyum dan bersalaman, Arya melangkah pergi. Perasaan terasa lega sebab pesan Pak Sudrajat sudah terlaksana sesuai keinginan.
Sementara Ella sendiri di giring masuk mobil. Dia duduk di sisi Nay sedangkan Darrel berada di jog depan bersama Kai.
Sesekali Ella tersenyum canggung ketika Nay menatapnya dengan senyuman manis. Dia merasa janggal sebab terakhir kali pertemuan, Nay berbicara dengan nada ketus.
Aneh sekali. Kenapa Bu Naysila menatapku seperti itu?
"Mama ingin bertanya untuk terakhir kalinya." Ku anggap ini kesempatan kedua. Kalau dia berkata menyukai Darrel, rencana tidak akan ku lakukan. Mereka akan menikah dan memberiku Cucu.
"Bertanya apa Ma?"
"Kamu tertarik dengan Darrel." Sontak laju mobil terhenti. Pertanyaan Nay tentu membuat Darrel terkejut. Dia memutar tubuhnya, menatap ke arah Ella yang mimik wajahnya terlihat bimbang.
"Ti..."
__ADS_1
"Ya Ma pasti. Mana mungkin ada gadis yang tidak tertarik denganku." Sahut Darrel semakin bernaffsu untuk memiliki Ella.
"Mama bertanya pada Ella."
"Ayo Ella jawab pertanyaan itu." Aku mohon. Ini adalah kesempatan terakhir kita untuk bisa bersama tanpa kendala.
Kalau aku bilang suka. Pasti Bu Naysila mengurungkan niatnya mengangkat ku sebagai anak. Itu berarti aku tidak akan mudah menemukan wanita itu. Bukan tanya itu...
Ella membalas tatapan Darrel. Dia masih ingin berada di samping lelaki itu lebih lama lagi. Ella tahu diri akan status sosialnya sehingga dia memperkirakan jika pertanyaan Nay sekedar basa-basi atau jebakan.
Lebih baik menjadi saudara angkat daripada nantinya aku di usir.
"Tidak ada Ma. Em saya menganggap Kak Darrel sebagai Kakak, tidak lebih." Darrel mencengkram erat kepalanya. Nafasnya terbuang kasar, merasa frustasi sampai-sampai membuat Kai tersenyum simpul.
Sikap yang di tunjukkan Darrel mengingatkan pada tingkah lakunya ketika cinta untuk pertama kali datang menghampiri.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu butuh waktu untuk istirahat atau langsung berkuliah?" Tawarnya ramah.
"Dia berbohong Ma. Ayo katakan kalau kamu tertarik dengan ku." Sahut Darrel menggila.
"Tidak Kak. Mana mungkin." Jawab Ella pelan.
"Apa yang tidak mungkin hei Ella. Kamu merasa nyaman bersama ku."
"Em ya.. Itu karena aku membutuhkan figur seorang Ayah. Aku.. Rindu sehingga... Aku merasa nyaman saat bersamamu."
Kai terkekeh kecil begitupun Nay yang malah tersenyum simpul. Entah kenapa mereka merasa senang melihat wajah frustasi Darrel yang jarang di perlihatkan. Biasanya mimik wajah seperti itu akan tampak ketika Darrel kesal menghadapi kasus berbelit. Namun rupanya gadis yang usianya jauh di bawah, mampu menghuni hati Darrel juga mengoyak perasaannya.
"Jadi kamu menganggap ku Ayah?" Ella tersenyum canggung sebab Nay dan Kai ada di sekitarnya.
"Bukan begitu..."
"Lantas bagaimana Ella. Ini kali pertama aku mempersunting seorang gadis untuk ku jadikan Istri."
"Jaga bicaramu. Jangan memaksakan kehendak. Memang Ella cocok menjadi Adik mu. Ingat pada perjanjian kita." Sahut Nay cepat.
"Ya Ma tapi."
"Cepat jalan. Mama ingin segera sampai rumah dan menunjukkan kamar untuk Ella."
Terpaksa Darrel duduk tegak dan mulai melajukan mobilnya meski dengan perasaan dongkol. Sesekali maniknya melirik Ella yang seakan memasang wajah tanpa dosa. Tentu saja, sebab selama beberapa hari ini Ella mulai menunjukkan rasa nyaman ketika di dekatnya. Mimik wajah itu seringkali Darrel lihat ketika Ella memintanya bantuan mengerjakan tugas kuliah.
Ayolah Kak. Aku ingin main lebih lama lagi.
Saat itu Darrel merasa senang. Namun tidak untuk sekarang. Dia merasa jika pertanyaan Nay merupakan kunci kebebasan sementara Ella tidak peka pada pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Jawab iya apa susahnya meskipun dia belum menyukai ku!! Gerutu Darrel dalam hati.
๐น๐น๐น