Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 30


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Entah sudah menyerah atau apa, selama beberapa hari tidak ada gangguan dari Prapto. Walaupun untuk mengusir Lena bukan hal mudah sebab sampai sekarang wanita itu masih berada di rumah Ella.


Sedikit frustasi ketika Darrel menanggapi semuanya dengan santai sementara Ella takut jika Lena akan menjual rumah. Memang beberapa kali Lena berniat melakukan itu, namun rupanya semua sudah terencana sehingga tentu saja penjualan tidak pernah mencapai mufakat.


Darrel hanya ingin menikmati kebebasan akan kepergian Nay juga Kai. Cara itu cukup jitu karena sekarang hubungannya dengan Ella semakin dekat meski hanya sebatas saudara angkat.


Ella sendiri sudah sepenuhnya percaya kalau Darrel bukan lelaki brengsek. Keduanya berhari-hari tinggal satu atap tapi Darrel sekalipun tidak pernah menyentuhnya secara berlebihan. Hanya sekedar usapan pada puncak kepala atau gandengan tangan, Ella fikir itu semua masih batas wajar. Apalagi semenjak Darrel ada, mini market serta kehidupannya berangsur membaik.


"Kak, aku bingung dengan tugas ini." Eluh Ella meletakkan buku di tangannya. Saat ini keduanya tengah berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas.


Tenyata otaknya tidak secantik wajahnya. Hehehehe... Lucu sekali.


"Katanya ingin cepat lulus. Kalau aku yang mengerjakan, nanti kamu menjadi kebiasaan." Goda Darrel seakan meledek.


"Coba saja bukunya bergambar, pasti sangat menyenangkan." Darrel tersenyum simpul. Ella kerapkali merasa bosan jika di suruh belajar. Selama satu Minggu berjalan, Darrel selalu membantunya mengerjakan tugas. Gawatnya, Darrel tidak mempermasalahkan hal tersebut sehingga membuat Ella sedikit terbiasa untuk bergantung.


Sengaja? Tentu saja. Ella tidak sadar jika Darrel berusaha mengikat secara perlahan. Ketergantungan akan menjadi titik awal agar nanti Ella sulit hidup tanpanya.


Ella meraih ponsel dan malah bermain game kesukaannya. Darrel masih membaca sambil sesekali melirik. Dia memaklumi jika Ella sedang mengalami masa pubertas yang selama ini tertahan karena keadaan.


Aku harus pintar-pintar memberikan perhatian agar dia tidak melirik lelaki lain.


Darrel berusaha memberikan perhatian sebanyak-banyaknya dan tidak memberikan celah sedikitpun untuk yang lain. Dia ingin menjadi satu-satunya seseorang yang Ella butuhkan.


"Belum ada kabar dari kedua orang tua mu Kak?" Tanya Ella seraya fokus menatap layar ponsel.


"Belum. Tapi kata Paman, mereka segera pulang."


"Bagaimana kalau mereka tidak setuju."


"Harus setuju." Jawab Darrel cepat. Sesuai rencana, kini perasaan Darrel semakin membesar setiap harinya. Over protektif, egois serta sikap arogan kerapkali di tunjukkan jika ada masalah yang menyangkut Ella.


"Aku hanya takut Kak." Ella pernah satu kali berkunjung ke rumah utama. Nyalinya semakin menciut melihat bangunan megah bak istana. Ella memperkirakan jika Darrel lebih berkuasa daripada Prapto.

__ADS_1


"Tidak perlu di fikirkan. Aku yang akan berdiri di depan kalau kedua orang tuaku tidak setuju."


"Jangan melawan. Itu tidak baik." Darrel tersenyum simpul. Dia tidak perduli akan hal itu sekalipun penghalang dari hubungannya kedua orang tuanya sendiri.


"Biar mereka mencoret ku dari daftar keluarga." Jawabnya asal.


"Berjanjilah untuk tidak melawan terlalu keras. Aku berterimakasih atas bantuan dari Kak Darrel. Mungkin lelaki itu sudah melupakan ku."


"Percayalah Ella. Mereka sedang mengatur rencana untuk kembali menyerang."


"Aku tidak sepenting itu. Mungkin lelaki itu takut karena kamu anak Bu Naysila." Jawab Ella menebak. Dia tidak ingin merusak hubungan antara orang tua dan anak.


"Hm." Padahal selama ini Prapto menganggap dirinya sebagai ajudan pribadi saja.


"Aku akan kembali ke rumah kalau keadaan benar-benar aman." Tap! Darrel menutup bukunya sedikit kasar. Kalimat perpisahan sedikit saja sudah membuatnya tersinggung. Sungguh dia tidak ingin Ella jauh dari pengawasannya.


"Kamu tidak akan bisa hidup tanpa ku." Jawab Darrel menekankan. Tatapannya berubah menusuk seolah-olah emosinya terkoyak hanya karena ucapan.


"Kita memang bukan saudara dan tidak seharusnya..."


"Aku hanya akan mau menikah dengan mu."Sahut Darrel cepat.


"Ku tunggu sampai kamu siap. Jangan melontarkan alasan. Aku tidak suka." Ella menghela nafas panjang sambil terus memainkan game. Sikap posesif semakin tampak jelas selama tiga hari terakhir.


Awalnya Darrel berusaha angkuh untuk mengakui ketertarikan juga perasaannya. Namun kebersamaan membuat semua terasa berat. Hanya dua hari, Darrel mengakui Ella sebagai Adik dan berakhir dengan ungkapan perasaan yang sampai sekarang belum Ella terima.


"Katanya tidak menjerat. Ugh! Aku kalah." Gerutu Ella meletakkan ponsel di atas meja.


"Mana pernah aku menjerat. Aku menunggu mu." Darrel tidak sadar akan sikap posesif yang cenderung berlebihan. Emosinya sulit terkontrol sampai terkadang harus jatuh korban. Kepala Dosen tidak mampu berbuat banyak. Dia tentu merasa di lema jika tidak menuruti keinginan Kai yang kerapkali menyelesaikan masalah dengan cara menyuntikkan dana berjumlah fantastis.


"Kak Aga berminat dan tidak perlu menunggu. Aku malas berurusan dengan nya. Sebaiknya Kak Darrel..." Ella tersenyum aneh ketika menyadari tatapan Darrel yang mirip belati tajam. Sungguh sorot matanya mampu membuatnya tidak berkutik.


"Sudah ku tunjukkan gambaran. Selayak hubungan mu dengan Prapto, aku pun tidak berselera melihat gadis itu."


"Iya tapi..."

__ADS_1


"Kamu milikku Ella. Aku hanya akan menikah dengan mu." Satu-satunya momen yang Nay tunggu akhirnya terjadi. Kini Darrel merasakan sendiri bagaimana kuatnya pengaruh rasa cinta.


"Ya." Jawab Ella singkat sebab dirinya tahu jika pembicaraan akan terus berputar-putar." Tapi aku tidak mau terdampak dari pilihan mu Kak." Imbuhnya pelan.


"Hm. Aku akan menyingkirkan semua yang menghalangi langkah kita."


"Rasanya sama saja. Aku tidak bisa bergerak bebas."


"Tentu berbeda." Darrel meraih jemari Ella lalu menggenggamnya." Bagaimana kalau kita membeli es krim." Imbuhnya tersenyum sambil mengecup punggung tangan Ella.


"Tugasku bagaimana Kak."


"Sudah ku kerjakan. Kamu tinggal mencetaknya lalu selesai." Belenggu memang di lingkarkan. Namun di sini Darrel berusaha menuruti kemauan Ella tanpa memikirkan dampak atau akibat. Rasa kagumnya pada Ella sudah berhasil membutakan mata hatinya.


"Sebenarnya aku ingin membeli cup besar." Hanya sebentar Darrel melepaskan genggaman untuk membereskan laptop serta buku.


"Sepulang kuliah kita beli." Jawabnya santai sambil membawa tas miliknya juga milik Ella.


"Kalau begitu beli di mini market kita saja." Ella sangat antusias jika Darrel menawarkan makanan apalagi game terbaru.


"Hm sekalian memeriksa laporan."


"Tapi jangan lupa untuk membungkus makan siang." Darrel tersenyum. Tangannya kini beralih pada pundak Ella dan merangkulnya erat sementara lengan Ella melingkar ke pinggang belakang Darrel.


Jemari kecil Ella bergelayut manja, sebab sosok di sampingnya berhasil menumbuhkan rasa nyaman. Sosok Kakak serta Ayah mampu Darrel ciptakan meski terkadang kelakuan arogan kerapkali tidak terkendali.


Sementara Nay yang sedang memantau kegiatan, malah tersenyum mengembang. Dia merasa puas karena keinginannya bisa tercapai.


"Jadi bagaimana keputusan nya? Apa kita nikahkan mereka." Tanya Kai ingin tahu.


"Tidak sayang. Aku ingin mematahkan tuduhan mu soal Darrel yang kau anggap tidak bisa setia pada satu nama." Kai menghela nafas berat. Dia menyesal sudah melontarkan kalimat yang terdengar asal-asalan namun ternyata melukai perasaan Nay. Saat kepuasan belum di capai, Nay tidak akan berhenti.


"Aku minta maaf Baby. Aku juga melihat cinta di matanya."


"Siang ini undang Prapto ke hotel Santika. Aku ingin tahu bagaimana cara Darrel mempertahankan hubungan." Sudah bisa di tebak jika menghilangnya Prapto bukan karena dia menyerah. Kai sudah merespon permintaannya dan berpura-pura akan mengabulkan sepulang mereka dari berlibur.

__ADS_1


Kini Prapto tengah menikmati hidup bersama sembarangan gadis muda. Dia mengira jika Kai akan mengabulkan keinginannya untuk memisahkan antara Darrel dan Ella. Padahal, Prapto sedang di manfaatkan demi terwujudnya keinginan Nay.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2