Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 35


__ADS_3

Darrel berusaha duduk walaupun nyeri hebat paska operasi masih di rasakan. Nay dan Kai hanya berdiri sambil melihat Darrel yang amarahnya tengah meluap-luap.


Nay dengan santai memberikan surat undangan pernikahan Prapto dan Ella. Terang saja Darrel langsung panik sampai membuatnya tidak mampu berfikir jernih. Satu-satunya yang di fikirkan hanya nasib Ella dan bagaimana caranya menyelamatkan sesuai janji.


"Katakan di mana lokasinya!!!" Tanya Darrel seraya menyeringai. Dia melepas seragam rumah sakit dan menggantinya dengan kaos biasa.


"Kamu masih sakit. Mama tidak setuju."


"Ya oke." Darrel hendak berjalan keluar. Dia tahu Nay tidak mungkin memberikan bantuan.


"Tunggu. Mama punya penawaran." Langkah Darrel terhenti. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Nay.


"Apa?!"


"Lokasi Prapto tidak akan mudah kamu dapatkan tanpa bantuan kami. Pernikahan sudah terjadi beberapa menit lalu. Em sepertinya sekarang Prapto akan melakukan malam pertama." Jawabnya berusaha mendesak.


Nafas Darrel berhembus kasar. Sungguh dia ingin membunuh Prapto saat ini jika dia berani menyentuh gadis yang menjadi kesayangan nya.


Sementara Nay merubah rencana saat menyadari Ella belum memiliki rasa sebesar Darrel. Dia ingin bersandiwara lebih lama lagi agar cinta yang kuat tumbuh antara keduanya.


"Please Ma. Tolong beritahu. Aku tidak akan meminta bantuan pada kalian. Aku akan pergi sendiri." Kai menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka jika Nay tega melakukan hal tersebut hanya demi pembuktian.


"Pergilah dan temukan sendiri."


"Apa yang kamu inginkan!" Untuk pertama kali Darrel meninggikan suara. Menimbulkan kepuasan tersendiri pada hati Nay.


Kamu sudah dewasa sayang. Mama sungguh senang mendengar itu. Sekarang giliran Ella yang harus di beri pelajaran agar dia mau mengakui perasaannya padamu. Gadis itu terlihat lugu tapi cukup angkuh.


"Seperti awal. Lupakan perasaan mu dan biarkan Ella menggantikan posisi Nia Kakak mu." Darrel membuang nafas kasar sambil berpaling. Tidak ada jalan lain. Dia yakin jika Nay sudah mengantongi lokasi Prapto.


"Aku sungguh mencintai nya."


"Oke. Kita pulang sayang. Biarkan Prapto menggagahi gadis itu."

__ADS_1


"Ya Ma baik. Asal dia di temukan." Sahut Darrel membuat langkah Nay berhenti terayun. Akan ku fikiran opsi lainnya nanti. Untuk sekarang, asal Ella terselamatkan dan tidak sampai di gagahi baaabi tua itu.


"Hm." Nay tersenyum simpul lalu menyerahkan sebuah belati kebanggaannya. Senjata itu sudah di lumuri banyak darah si korban." Serang cacingnya. Itu akan menyenangkan. Kembalikan pada Mama setelah kamu selesai." Terdengar tidak waras. Tapi itulah kegilaan Nay yang awalnya Kai fikir dampak dari mengidam. Semua penyiksaan yang Nay berikan di luar nalar dan cenderung sadis.


"Baik Ma." Darrel menerima senjata tersebut.


"Ikut Paman mu. Dia akan menunjukkan jalan. Mama tunggu kedatangan kalian di rumah. Bawa Adik mu dengan selamat." Apalagi yang bisa Darrel lakukan kecuali patuh. Setelah mengangguk dia keluar dan menemui Alan yang ternyata sudah berada di depan ruangan.


"Maaf." Ucap Alan pelan. Wajahnya penuh dengan rasa bersalah juga lebam.


"Kita tidak punya banyak waktu."


"Hm ayo." Keduanya berjalan beriringan menuju mobil. Alan tersenyum, menatap Darrel dari samping. Anak lelaki yang di anggap keponakan itu masih tampak gagah dalam berjalan meskipun luka robek pada perut belum sepenuhnya kering. Kamu memang kuat Darrel. Mirip seperti Ayahmu. "Akan ku atasi kalau kamu masih sakit. Aku berjanji akan membawa Ella pulang." Imbuh Alan menawarkan.


"Akan lebih sakit jika aku tidak bisa menghabisi nyawa baaabi itu. Dia berani menyentuhnya!"


"Ingat Darrel. Taaati peraturan Bu Naysila. Jangan terlalu menunjukkan rasa pada gadis itu."


"Aku mohon Paman. Ini kali pertama aku jatuh cinta dan Mama tega sekali memisahkan kami."


"Papamu bahkan tidak bisa melawan apalagi aku?"


"Ya. Mama memang gila." Tapi aku juga menyanyangi nya.


"Untuk sementara menurut saja. Nanti kita cari jalan lain."


"Aku yang akan mengatasi sendiri. Jangan berkata kita, kalau Paman akan memihak pada Mama."


Alan terkekeh. Memar pada wajahnya tidak tampak membuatnya kesakitan. Itu hanya luka kecil, begitulah menurutnya. Alan lebih takut pada mimik wajah mengerikan Nay ketika sedang marah. Hal itu menjadi alasan kenapa tadi dia tertunduk.


Sementara Ella sendiri berusaha melawan ketika Prapto akan menjamahnya. Gaun pengantinnya sudah compang-camping di hiasi noda darah akibat penyiksaan yang di hadiahkan Prapto.


Tidak perduli benda apapun yang ada. Prapto dengan tega melemparkannya ke arah Ella sambil terkekeh nyaring. Dia malah menyukai ketika Ella berteriak histeris di sertai tangisan menyayat hati. Gila! Sebab hasratnya semakin bergejolak mendengar penyiksaan nya berhasil.

__ADS_1


Punggung, tangan serta wajah terkena lemparan botol parfum, teko bahkan kursi. Sengaja Prapto ingin membuat Ella kelelahan hingga akhirnya dia menyerahkan diri untuk di nikmati.


"Ayo menyerah saja sayang. Senjataku sudah siap bertempur." Tanpa rasa belas kasihan Prapto melontarkan kalimat tersebut. Padahal wajah serta tubuh Ella penuh luka lebam.


"Tidak! Aku lebih baik mati daripada menjadi Istri orang yang membunuh kedua orang tuaku." Kekehan Prapto kian nyaring. Dia berjalan menuju nakas dan mengambil sebuah remote kecil.


Klik! Sebuah sosok di balik dinding kaca kini tampak. awalnya Ella fikir kaca tersebut untuk merias diri. Namun rupanya bukan. Kaca menampakan Pak Sudrajat dengan keadaan lemah. Di kedua sisinya terdapat dua orang lelaki yang tengah menodongkan senjata api.


"Ayah!!!!" Teriak Ella berjalan mendekati kaca. Tangannya bergetar sambil mengusap permukaan. Tampak Pak Sudrajat menangis. Sebab penyiksaan di saksikan oleh mata kepalanya sendiri.


"Menyerah atau Ayahmu akan mati!" Ancam Prapto terkekeh. Dia merasa menang dan puas bisa memberikan siksaan untuk orang yang berani menghalangi kesenangannya. Sengaja dia menyiapkan rencana ini untuk opsi terakhir.


Sudah bisa di pastikan jika jasad yang di kebumikan bukanlah Pak Sudrajat, melainkan kacung Prapto yang sengaja di bunuh sebagai jasad pengganti. Itu alasan kenapa Lena menolak otopsi sebab sama halnya membongkar borok mereka sendiri.


"Tolong saya mohon lepaskan Ayah." Dengan berderai air mata Ella mengucapkannya. Pak Sudrajat menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin Ella menyerah hanya untuk keselamatannya.


Pak Sudrajat tahu jika keinginan bertemu Ella adalah puncak kebahagiaan yang di hadiahkan Tuhan padanya. Penyiksaan yang di berikan Prapto melumpuhkan sistem syaraf sampai-sampai dia tidak mampu berbicara.


"Jadilah anak baik Ella. Kamu akan menikmatinya setelah ini."


Ella menangis sejadi-jadinya. Dia menatap ke arah sang Ayah seakan ingin berbicara dari tatapan mata. Sungguh hatinya teriris melihat keadaan buruk Pak Sudrajat yang hanya berbalut kulit.


"Baik. Tolong lepaskan Ayah." Dengan terpaksa Ella berkata demikian. Dia berniat menyelamatkan Pak Sudrajat meskipun harus merelakan sisa hidupnya.


"Anak baik." Prapto merangkul kedua pundak Ella erat sambil memberikan usapan memuakkan.


"Tolong tutup kaca itu. Aku tidak mau Ayah melihatnya."


"Baik sayang." Prapto mengeklik sebuah tombol. Kini kaca tampak seperti semula. Ella fikir Pak Sudrajat tidak bisa melihat padahal tampak jelas penampakan bagaimana Prapto berusaha memberikan sentuhan pemanasan pada Ella.


Tuhan tolong anakku. Katakan padanya jika Prapto akan tetap membunuh ku. Tolong Tuhan.. Tolong... Dia anakku...


Hati Ayah mana yang tidak teriris ketika melihat jelas sang anak terisak ketika seorang lelaki tua berusaha menjamah. Kalau saja Pak Sudrajat punya pilihan, dia akan memilih mati bersama daripada harus menyaksikan bagaimana kejinya Prapto menghancurkan keluarganya.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2