Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 28


__ADS_3

Pengawal pribadi Kai. Prapto meremas kuat ponsel anak buahnya yang menunjukkan sebuah potret kebersamaan Darrel dan Ella. Hanya itu yang bisa kacung suruhannya bawa.


Terang saja mereka tidak berhasil. Anak ini tidak bisa di anggap enteng. Meski di kenal sebagai pengawal pribadi. Prapto tahu akan skill Darrel yang sudah terlatih.


Aku harus menghubungi Kai agar dia menegur pengawal tidak tahu diri itu.


Prapto beralih mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi kontak milik Erik.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


"Saya mau minta kontak milik Tuan Kai. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan perihal pengawal pribadinya.


"Maaf Pak. Mana mungkin bisa begitu. Katakan pada saya dan akan saya sampaikan pada beliau. Kalau pertemuan di butuhkan, nanti saya kabari.


"Ini masalah pribadi Pak Erik.


"Tetap tidak bisa Pak. Saya sendiri hanya berusaha mematuhi peraturan yang ada.


"Tolong bilang pada Tuan Kai untuk menegur pengawal pribadinya. Dia sudah mengambil calon Istri saya. Kalau sampai Minggu ini tidak di tanggapi. Jangan salahkan kalau saya akan bertindak tegas.


"Baik Pak, nanti saya sampaikan.


πŸ“žπŸ“žπŸ“ž


Tentu saja Prapto tidak ingin salah melangkah. Dirinya tahu jika Kai bukan orang sembarangan sehingga dia memilih jalan aman.


Mustahil jika Kai membela pengawalnya. Hahaha.. Sebentar lagi Ella akan di bawa ke hadapan ku.


Angan-angan yang terlalu jauh sebab Darrel sudah menandai Ella sebagai miliknya meski harus di balut dengan setitik kebohongan. Ketertarikan setiap jam semakin membesar walaupun hati Darrel belum seberapa yakin akan perasaannya.


"Bagaimana dengan tugas kuliah besok Kak. Aku tidak pernah presentasi." Darrel memasukkan laptop serta buku-bukunya. Dia memutar tubuh menatap ke arah Ella.


"Itu masalah gampang, nanti ku ajarkan." Entahlah. Aku merasa dia semakin cantik setiap detiknya.


"Kamu juga tidak mendengarkan penjelasan dari Pak Amrul." Jawab Ella menggerutu. Dia mengira kalau Darrel tidak menyimak.


"Acara siang ini jadi kan?" Tanya Darrel menyela.


"Hm iya. Aku tidak sabar melihat wajah bahagia mereka. Tapi kalau wanita itu ada di sana bagaimana?"


"Tenang saja ada aku. Selama aku masih hidup, tidak ada yang bisa menyentuh mu." Huuuuuuuu... Sengaja sekali Darrel berbicara keras agar Agatha berhenti mengejar dan menjadi tahu diri. Gadis itu tidak juga berhenti mengejar bahkan terasa sangat menganggu.


"Dia dulu juga berkata itu padaku." Sahut Agatha lantang. Dia tidak sanggup menerima kenyataan jika Ella lebih unggul darinya. Banyak dari mahasiswa yang dulu berpihak padanya, kini tidak ingin ikut campur karena Ella sudah bersama Darrel.


Kenapa drama tidak juga berhenti. Sepertinya Kak Aga sangat menyukai Kak Darrel. Mereka memang sangat cocok.


Ella belum memilliki rasa sehingga dirinya berpendapat seperti itu. Bagi pengelihatannya, Agatha terlihat sangat cantik. Cara berpakaian yang modis juga make up natural pada wajahnya.

__ADS_1


"Ingat ya El. Kau akan bernasib sama seperti ku. Suatu saat Darrel akan membuang mu kalau ada sosok cantik lain." Darrel menghela nafas panjang. Dia tidak memikirkan sejauh itu. Apa yang ada di hadapannya dan apa yang di pandang sekarang. Itulah yang wajib di nikmati.


Bisa jadi. Aku pun masih ragu akan perasaan ku. Kekaguman sesaat atau... Tapi ku akui kecantikan Ella sangatlah lain. Mungkin karena sikap apa adanya juga..


Darrel kembali menghela nafas panjang, menatap kulit bersinar Ella yang menyilaukan mata. Rasanya menyenangkan ketika kulit bertekstur lembut nan kenyal itu bersentuh dengan kulit kasar miliknya. Fantasi liar sempat melintas meski Darrel berusaha membuang jauh-jauh. Dia masih ingat bagaimana Nay memperingatkannya soal hal tersebut.


"Tidak apa Kak. Mungkin belum berjodoh. Saya hanya menjalani apa yang ada." Jawaban Ella semakin menambah kekesalan pada hati Agatha.


"Hah lihat. Sepertinya dia belum memiliki perasaan sebesar perasaan ku padamu."


"Aku tidak perduli pada besarnya perasaan pasangan ku." Darrel berdiri sambil meraih lengan Ella." Sebab yang terpenting adalah perasaan ku sendiri. Kalau dia bisa mengikatnya kuat, suka tidak suka, senang tidak senang dan setuju tidak setuju, aku akan tetap bersamanya." Imbuhnya tersenyum simpul.


"Kau akan menyesal Rel. Gadis ini hanya bermodalkan cantik. Dia tidak bisa memberikan masa depan..."


"Diamlah. Itu adalah kodrat. Sudah seharusnya seorang lelaki yang bertanggung jawab atas hidup pasangannya. Tidak perlu kamu memikirkan hal sejauh itu. Carilah target lain, sikapmu sangat memuakkan."


Setelah melontarkan kalimat tersebut, Darrel mengiring Ella pergi. Ano terlihat menghela nafas panjang. Kedua tangannya di lipat seraya menghadap ke arah Agatha yang menatap kepergian Darrel dengan mimik wajah kesal.


"Sadarkan temanmu itu!!" Ucap Agatha sambil memutar tubuhnya ke arah Ano.


"Entahlah. Aku tidak memahami kenapa banyak gadis cantik yang rela mengemis dan menjatuhkan harga diri."


"Itu karena aku sangat cinta."


"Mereka sudah di jodohkan Nona Agatha. Aku sudah berkata itu berulang kali."


"Di mana letak rumah Darrel. Aku ingin bertemu Mamanya." Ano tersenyum simpul kemudian berdiri.


"Mana mungkin begitu! Kalian teman dekat."


"Terserah kalau kau anggap begitu. Aku memang tidak tahu."


Ano berjalan pergi menyusul sementara Agatha mulai di datangi beberapa mahasiswa yang masih perduli padanya. Mereka berusaha menyadarkan Agatha namun hal itu malah membuatnya marah-marah bahkan menunjuk mahasiswa yang berdiri mengelilinginya.


Sementara Ella dan Darrel sendiri, sudah melaju menuju Bank. Sesuai janji, sejumlah uang akan di berikan sebagai pinjaman agar para karyawan mini market Pak Sudrajat bisa menerima gaji.


Setibanya di Bank, Darrel melewati jalur khusus. Dia sudah membuat janji lebih dulu sehingga mereka tidak perlu capek mengantri.


Ella tak banyak berkomentar. Dia malah tersenyum ketika sebuah amplop coklat di serahkan.


"Terimakasih ya Kak." Ucap Ella untuk kesekian kalinya selepas mereka keluar dari ruangan Direktur Bank. Tangan kanannya melingkar erat pada lengan Darrel sebab sosok di sampingnya mampu menyuguhkan kenyamanan.


Rasa seperti itu tentu sangat di butuhkan untuk trauma yang bertengger pada hidup Ella. Kalau Darrel memaksa, mungkin saja Ella cenderung memberontak.


"Simpan uangnya." Tegur Darrel.


"Iya Kak." Ella memasukkan amplop coklat ke dalam tas miliknya.

__ADS_1


Darrel tersenyum ketika menyadari keberadaan dua lelaki berboncengan dengan gelagat aneh. Dia sempat melirik ke spion motor ketika Ella naik ke motornya.


Sekejap, Ella di buat terkejut ketika dua lelaki berboncengan menyambar tas yang berisi uang. Sambil bicara terbata, dia menunjuk ke arah motor si pencopet.


"Pegangan." Pinta Darrel sebelum melajukan motornya kencang." Pegang yang benar." Imbuhnya dengan tangan kanan menopang punggung Ella.


"Cepat Kak." Tanpa banyak berkomentar, Ella melingkarkan kedua tangannya untuk memudahkan Darrel mengejar.


Sedikit menegangkan ketika Darrel memacu motornya bak di sirkuit balapan. Motor cukup besar itu dengan lincah menyalip satu persatu kendaraan yang ada di sekitar.


Sengaja, Darrel di giring ke sepanjang jalan komplek perumahan sepi. Mereka mengira jika Darrel hanya seorang anak muda yang ingin sok-sokan menjadi jagoan di depan pasangannya.


Mereka bahkan menghentikan laju motor Darrel sambil menodongkan senjata tajam berbentuk pisau lipat. Harapan mendapatkan tambahan penghasilan sudah terlintas. Ponsel, laptop atau jam tangan mahal.


"Kau punya nyali juga!!!" Ucap salah satunya sambil menunjukkan wajah garang. Darrel terkekeh, dia turun dengan santai lalu bersandar pada body motor.


"Itu uang Adikku Bang, tolong serahkan." Pinta Darrel sambil menunjuk tas kuliah Ella.


"Sudah ada di tangan kami berarti uang kami!!"


"Em memang perkerjaan atau kalian terdesak kebutuhan hidup." Darrel malah menanyakan hal tersebut.


"Kau bilang apa?" Salah satu dari mereka berusaha menyentuh lengan Ella yang masih berada di atas motor. Dengan cekatan Darrel menghalaunya.


"Dia Adikku. Jangan di sentuh, aku bisa marah." Ucapnya memperingatkan.


"Adikmu sangat cantik. Ku kembalikan sebagian uang asal Adikmu mau menemaniku malam ini." Bugh!!! Braaaakkkkk..


Tanpa aba-aba Darrel menghantam mulut lelaki yang berceloteh. Tubuh besarnya terpelanting dan membentur motor hingga ambruk. Satu lainnya melongok dengan tubuh bergetar. Ketika senjata api di arahkan pada pelipis kanannya.


"Ku ajak bernegosiasi tapi kalian malah merendahkan Adikku." Lelaki yang tersungkur menggerang kesakitan. Sungguh dia tidak menjangkau bagaimana tubuh yang di anggap kecil bisa menimbulkan nyeri pada rahang.


"Ampun.. Jangan bunuh saya. Kami hanya terdesak masalah ekonomi dan terpaksa merampok. Istri saya akan melahirkan satu bulan lagi sementara saya tidak punya perkerjaan."


Darrel sudah menebak seperti itu sebab hampir semua penjahat mengenal dirinya. Meski organisasi Kai terlarang, namun nyatanya dapat mengikis angka kejahatan di kalangan masyarakat menengah ke bawah.


"Sudah punya Istri tapi merayu Adikku! Ingin ku keluarkan isi otak kalian!!!"


"Ini." Dengan tangan bergetar si lelaki menyerahkan amplop tas kuliah Ella.


"Daripada kalian tidak ada perkerjaan. Kalian bisa bergabung denganku." Darrel menurunkan senjatanya lalu menyerahkan tas pada Ella.


"Bergabung."


"Hm." Darrel mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan singkat pada Ano.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ku berikan perkerjaan." Tidak menunggu lama sebab Ano memang kerapkali memantau Darrel." Urus mereka." Darrel menyimpan lagi senjata apinya lalu naik motor. Kejadian seperti sekarang kerapkali terjadi. Yang berpendidikan akan di serahkan pada Erik untuk di tempatkan pada perusahaan. Jika tidak berpendidikan, melakukan pekerjaan sesuai perintah dari Alan, dengan peraturan ketat pastinya.


🌹🌹🌹


__ADS_2