
Para tamu berhamburan keluar ketika kawanan Darrel mencapai lokasi. Satu persatu kacung Prapto di lumpuhkan. Para tamu fikir sedang terjadi perampokan sebab rupanya Darrel dan lainnya memakai tudung kepala.
Alan memerintahkan Darrel untuk masuk sementara dia menembak ke sembarangan arah untuk menghabisi nyawa puluhan orang yang ada di sana.
Tidak perduli wanita. Nay menginginkan tempat itu bersih sehingga pembunuhan masal tidak terendus.
"Hahaha mau lari kemana? Sialan!!! Ini menyenangkan sekali." Alan terkekeh ketika satu persatu tamu tumbang. Aroma amis darah menyeruak di sertai teriakan histeris." Orang munafik seperti kalian memang pantas mati!!" Para tamu lari kocar-kacir, ingin kabur tapi akses pintu keluar sudah di jaga ketat.
"Tuan tolong..." Duuuuppppp!!! Alan melubangi tengkorak kepala si Istri nomer 27. Tubuh lemah itu menggelepar. Alan merasa jika semua orang di sana wajib di musnahkan tanpa tersisa.
.
.
.
.
Ella yang tidak berselera tentu sulit terangsang. Seperti apapun Prapto berusaha, lubang milik Ella masih saja kering. Prapto merasa frustasi dan berniat memasuki dengan sedikit paksaan.
Tubuh Ella di baringkan. Prapto melucuti satu persatu baju. Ella berpaling, tubuh itu tampak seperti baaabi yang kekenyangan. Entahlah, kenapa Ella tersenyum sebentar di tengah kepanikan hati. Dia bahkan ingin terkekeh sebab bentuk tubuh Prapto terlihat buruk.
Kenapa aku malah ingin tertawa. Memang tidak ada jalan lain. Asal Ayah tetap hidup dan semoga Kak Darrel baik-baik saja. Seharusnya aku tidak melibatkan nya. Dia sampai terluka hanya untuk menolong ku.
Ella meringis menahan sakit, ketika dengan rakusnya Prapto menghisap benda menyembul miliknya. Tidak ada hasrat, hanya ada rasa muak dan nyeri ketika Ella sadar tengah di tunggangi baaabi tua tidak tahu diri.
"Kamu memang spesial Ella. Aku akan menjadikan mu nomer satu."
Prapto bersiap memasukkan miliknya yang sudah berdiri tegak. Dia sempat menoleh ke arah cermin seakan tengah mengolok-olok Pak Sudrajat yang tengah menyaksikan adegan ranjang mereka.
Kau akan melihat anakmu berdarah-darah setelah ini. Ah pasti sempit.
Saat hendak mendorong miliknya. Terdengar bunyi Dupppp! Yang berasal dari arah pintu. Prapto menoleh dan terbelalak ketika melihat pintu kokoh tersebut terbuka lebar.
Ella menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya saat melihat kedatangan Darrel begitupun Prapto yang langsung mengambil handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Kak Darrel.. Bibirnya tersenyum menatap ke arah cermin. Ella fikir Pak Sudrajat masih di sana, padahal dia lebih dulu di tolong dari dua kacung Prapto dan bergegas di bawa ke rumah sakit.
"Astaga baaabi. Tidak adakah cermin di rumahmu." Kaki Darrel terangkat dan tanpa basa-basi menendang kepala Prapto sampai terjungkal.
__ADS_1
"Ajudan sialan!!! Kau akan menyesal sudah melakukan ini!!!"
"Sebelum kau mati. Perkenalkan, aku putera semata wayang Kailan Putra Pratama." Darrel menyibak kaosnya. Terlihat perban mengelilingi bagian perut dengan noda darah sebab lukanya masih basah." Luka seperti tidaklah sakit, lalu kau fikir aku akan menyerah. Ingat ini dalam otak mu! Aku putera Kai dan itu berarti kau dalam masalah besar!" Imbuhnya menurunkan kaos. Duaaaakkk... Darrel menendang dan tubuh Prapto kembali terjungkal.
"Hahaha kau sedang berkhayal. Mana mungkin putera Tuan Kai berandalan seperti kau!!!" Ledeknya terkekeh di balik ketakutan.
"Aku tidak membutuhkan pengakuan." Lagi lagi Darrel menghadiahkan tendangan pada kepala Prapto. Lebih keras dan brutal hingga lelaki itu terkapar tanpa sehelai benang pun.
Darrel menginjak kepalanya di bantu oleh dua orang anak buah yang tengah memegangi kedua kakinya.
"Ampun.. Bawa gadis itu pergi dan lepaskan aku?!" Teriak Prapto memohon. Dia tidak paham jika semuanya sudah terlambat.
Tidak ada skill membela diri memudahkan eksekusi. Selama ini Prapto memang memanfaatkan kekayaan dan senantiasa menyuruh orang-orang bodoh untuk mengawal juga melakukan semua perintah
"Kau menyentuhnya dan nikmati hukuman nya."
Darrel memotong cacing berotot milik Prapto yang tampak layu. Hal itu mengakibatkan Prapto mengerang kesakitan. Prapto menyeret tubuhnya menjauh sambil memegangi sisa cacing berototnya yang mengucurkan darah segar.
"Aggggghhhhh... Sakit.... Tolong.... Ampun...."
"Ini kebanggaan mu. Bawa dia bersama mu." Darrel menghampiri Prapto lalu menyumpalkan potongan cacing berotot ke dalam mulutnya. Darrel berjalan ke arah ranjang lalu mengangkat tubuh Ella dan membawanya keluar.
"Aku turun saja. Luka Kak Darrel masih..."
"Ada baju di mobil. Kenakan itu lalu berbicara." Darrel tahu jika tubuh Ella tidak tertutupi. Dia sempat melihat dan itu kenapa Darrel memutuskan untuk masuk terlebih dahulu sebelum anak buahnya.
"Terimakasih."
"Sesuai janji." Darrel menurunkan Ella tepat di samping mobil. Dia membukakan pintu dan Ella bergegas masuk untuk mengganti baju." Dia menyentuh nya. Sialan baaabi itu! Kematian mu akan datang perlahan-lahan." Gerutunya kesal.
Blammmm!!! Semua pintu bangunan mewah di tutup setelah satu persatu mayat di kumpulkan. Beruntung, bangunan itu berada di tempat terpencil sehingga aroma mayat tidak mungkin terendus warga yang berjarak jauh. Apalagi seluruh ruangan kedap udara, sudah pasti jika pintu tertutup aroma busuk akan menetap di ruangan.
Ella keluar dari mobil setelah selesai memakai baju. Dia mendongak ke lantai dua, terdengar sunyi. Tidak ada teriakan Prapto yang pasti sedang mengerang kesakitan.
"Ayah!" Ujarnya panik, menoleh ke arah Darrel yang tengah berdiri di sampingnya.
"Sudah di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Sebaiknya kita pulang. Kamu juga membutuhkan perawatan." Sengaja Darrel berpaling. Dia tidak tega melihat keadaan Ella yang sekujur tubuhnya di penuhi luka memar.
"Tidak Kak. Aku ingin bertemu Ayah." Entah kenapa Ella merasakan firasat buruk melihat keadaan Pak Sudrajat yang menyedihkan.
__ADS_1
"Sebaiknya begitu. Aku sudah mengabarkan Bu Naysila. Beliau juga sedang menuju rumah sakit."
Darrel tersenyum tipis. Mencoba membunuh perasaan tidak nyaman yang bergejolak. Emosi, cemburu dan rasa was-was masih dia rasakan. Sungguh dia tak menginginkan Ella terluka meskipun hanya sedikit saja.
"Kak." Panggil Ella untuk kesekian kali.
"Ya. Kita ke rumah sakit." Ella lebih dulu masuk sementara Darrel masih bersandar pada body mobil. Alan tersungging, membaca kekhawatiran pada mimik wajah Darrel.
"Kenapa? Bukankah kita datang di saat yang tepat. Ella belum tersentuh."
"Permintaan Mama. Aku wajib menuruti karena sudah berjanji sementara aku ingin Ella menjadi milikku." Eluh Darrel sedikit menyesal mengingat persetujuan yang terjadi beberapa jam lalu. Tapi mau bagaimana lagi, keluarganya tentu punya cara untuk mendesak mengingat kelemahan berhasil mereka ketahui.
"Untuk sementara jalani saja."
"Hm. Dia ingin berkuliah tapi sedikitpun tidak mau berfikir." Darrel tersenyum mengingat ketika Ella kerapkali meminta pertolongan untuk mengerjakan tugas kampus.
"Mungkin lambat laun Bu Naysila bisa terbuka hatinya." Ucap Alan menyemangati.
"Aku berharap itu segera terjadi. Tolong pastikan semua tertutup Paman. Aku akan mengantar Ella ke rumah sakit." Setelah menepuk pundak Alan lembut, Darrel masuk ke dalam mobil. Dia sempat melirik ke Ella sebelum melajukan mobilnya. Keanehan kembali di rasakan sebab Ella terlihat tidak merasa takut atas kejadian pembantaian tadi." Maaf sedikit terlambat." Ucap Darrel mengawali pembicaraan.
"Bagaimana keadaan Kak Darrel. Aku malah merasa khawatir."
"Satu peluru tidak mungkin bisa membunuh ku. Sepulang dari rumah sakit, rendam tubuhmu dengan air hangat." Ella mengangguk. Dia menoleh seraya tersenyum simpul.
"Terimakasih sudah datang di saat yang tepat Kak. Aku fikir nasib ku akan berakhir di tangan lelaki itu."
"Sesuai janji. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi..." Jawab Darrel tertahan seakan persetujuan permintaan Nay membuatnya terbebani. Keinginan untuk memiliki Ella terasa menggebu-gebu.
"Tapi apa Kak."
"Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu. Em Mama memberikan syarat untuk bantuan ini. Aku terpaksa mau karena tanpa bantuan mereka, lokasi Prapto sulit ku ketahui." Jawab Darrel menjelaskan. Nada bicaranya terdengar pelan seolah malas membicarakan hal tersebut. Tujuan Darrel membahas, agar Ella senantiasa menunggu sampai dia berhasil menyakinkan Nay.
"Syarat apa?"
"Kita tidak boleh berhubungan melebihi saudara. Mama ingin kita menjadi Kakak beradik." Seakan mengsetujui, Ella mengangguk tanpa perlawanan. Walaupun hatinya terpaut pada Darrel namun Ella merasa sadar diri akan posisinya." Hanya sementara. Ingat Ella, kamu tidak boleh jatuh cinta pada lelaki manapun. Aku akan memantau kegiatan juga membatasinya. Meskipun Mama tidak setuju. Aku tetap ingin menjadikan mu istri." Lagi lagi Ella hanya mengangguk tanpa berkomentar sepatah katapun. Maniknya menatap keluar kaca. Ingin jujur akan perasaan tapi ucapan tertahan di kerongkongan.
Apalagi yang bisa ku lakukan Kak. Aku merasa Bu Naysila sangat membenciku. Dia bertanya dengan nada ketus sehingga aku terpaksa menjawab tidak. Ya sudah. Mau bagaimana lagi. Asal bisa saling berdekatan. Menjadi saudara pun tidak masalah.
Terlalu dini bagi Ella untuk menyadari perasaannya sebesar apa sehingga Nay berniat memancingnya. Dia merencanakan sesuatu yang nantinya sanggup menyulut rasa cemburu, egois dan ingin terus menempel.
__ADS_1
๐น๐น๐น