Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 21


__ADS_3

Kini Ella di bawa ke sebuah apartemen mewah dengan sistem keamanan ketat. Tadinya Darrel tidak ingin Ella merasa curiga padanya. Namun daripada terjadi sesuatu seperti tadi, akan lebih baik tumbuh sebuah rasa penasaran.


Sejak pertemuannya dengan Ano, pertanyaan demi pertanyaan tentu Ella lontarkan. Dia penasaran akan kebenaran jati diri Darrel yang sesungguhnya.


"Sudahlah Ella, berhenti bertanya. Sebaiknya kamu beristirahat. Aku pastikan di sini lebih aman." Pinta Darrel seraya berjalan ke arah tembok berkaca yang masih tertutup korden.


"Tapi kemarahan mu tidak seperti seorang teman." Tanya Ella lagi dan lagi. Dia menyaksikan sendiri bagaimana tidak berkutiknya Ano tadi.


"Aku ketuanya. Ano dan yang lain termasuk anak buahku." Darrel benar-benar kehabisan jawaban. Dia tidak menyangka jika Ella cukup cerewet.


"Sebenarnya kamu memata-matai apa sih Kak? Di kampus ada jaringan berbahaya atau..." Darrel terkekeh sehingga membuat pertanyaan Ella terhenti. Dia memutar tubuhnya, menatap ke arah Ella yang sejak tadi belum juga duduk.


"Kamu tidak akan memahami apa yang sedang ku kerjakan. Yang pasti aku berjanji akan membantu mu terlepas dari masalah ini." Ella terduduk lemah dengan manik menatap Darrel. Terlihat dari sela kaca, hari tampak gelap. Itu tandanya sebentar lagi Darrel akan pulang meninggalkannya.


Dia akan pulang. Kalau ada kejadian seperti tadi bagaimana? Aku pasti tertangkap. Batin Ella mengeluh. Dia sudah membayangkan jika penolakan akan berujung pemburuan. Sedikit banyak Ella mengetahui kekuasaan Prapto yang juga memiliki banyak kacung yang nyawanya sudah di jual.


"Jam berapa kamu pulang Kak?" Tanya Ella pelan.


"Kenapa?" Darrel bisa membaca kerisauan di mimik wajah Ella.


"Tidak apa. Hanya bertanya."


"Sebentar lagi." Jawab Darrel berbohong. Ingin tahu bagaimana Ella menanggapi kalimat tersebut.


"Em begitu." Paling tidak tempat ini bukan seperti di gudang. Kira-kira berapa biaya sewanya? Apa perkerjaan mata-mata sangat besar gaji nya?


Masih saja Ella bertanya-tanya di dalam hati perihal tempat yang dia huni. Ella tidak juga tahu, jika apartemen mewah tersebut merupakan milik pribadi. Akses keluar masuk harus melalui sistem sidik jari dengan di lengkapi kaca anti peluru.


Sambil berjalan ke arah sofa, Darrel mengirimkan pesan singkat untuk Nay.


๐Ÿ’ŒMa aku tidak pulang malam ini. Request otaknya mungkin ku makan besok saja.


Setelah mengirimkan pesan tersebut. Darrel mematikan ponselnya. Dia merasa sudah terlepas dari pengintaian sebab menurutnya Ano bisa di percaya. Padahal meski tanpa di suruh. Alan masih berdiri di belakang Darrel untuk menghindari sesuatu yang tidak di harapkan.


"Tuan muda kita memang sangat arogan. Seharusnya kamu berfikir cepat agar mendapatkan ide lebih brilian." Alan tersenyum simpul menatap wajah Ano yang lebam.


"Jawaban itu sudah benar Kak. Sangat tidak mungkin aku berkata sedang mencari makan di luar." Alan terkekeh seraya menepuk-nepuk pundak Ano. Sejak beberapa menit yang lalu Alan mendengar keluh kesah soal Darrel. Kemarahan yang biasa terjadi ketika Darrel di sudutkan dengan janjinya pada Nay.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Darrel meletakkan kotak makan ke pangkuan Ella. Berbagai cemilan juga sudah di beli. Darrel tidak ingin gadis di sampingnya sampai menangis hanya karena makanan.


Padahal hanya satu kali Darrel di perlihatkan akan keputusasaan Ella yang kerapkali di berikan makanan tidak layak. Dia tidak memahami jika Ella sudah terbiasa mendapatkan perlakuan buruk.


Asal jangan di paksa menikah. Aku masih bisa bertahan jika wanita itu memberiku makanan sampah.


Perlakuan yang sudah bergelut selama bertahun-tahun. Watak Lena sesungguhnya terlihat semenjak Pak Sudrajat di nyatakan meninggal. Kala itu Ella masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Keburukan yang di alami tentu melekat pada ingatannya.


"Makanlah." Pinta Darrel seraya meraih remote televisi. Ingin mencari berita di apartemen yang mungkin menjadi trending topik terpanas. Aku yakin tua bangka itu sudah membersihkan jejak.


Tebakan itu memang benar. Jejak pembunuhan sudah di bersihkan meskipun kerusakan yang terjadi di dalam kamar tidak di perbaiki.


"Kamu tidak pulang Kak? Ini sudah pukul 7 malam." Tanya Ella lagi padahal sesungguhnya dia tidak ingin di tinggal sendirian. Kejadian di apartemen membuatnya sadar jika sekarang dia tengah di buru.


"Kamu tidak nyaman aku di sini?" Ella menggeleng pelan. Makanan di pangkuannya belum tersentuh.


"Ibu mu nanti khawatir."


"Aku bukan anak gadis. Jangan fikirkan itu dan makanlah." Darrel beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah jendela apartemen yang mengarah pada jalan raya. Darrel ingin memberikan ruang bagi Ella untuk makan. Mungkin dia malu. Begitulah tebakannya.


Sambil makan, Ella melirik ke arah ponsel Darrel yang tergeletak di atas meja. Ponsel itu tampak hening sebab Darrel mematikannya. Dia tidak ingin Nay menelfon dan bertanya alasan.


Mama akan marah padaku. Untuk pertama kalinya. Darrel melanggar janji pada wanita yang di anggap prioritas. Biasanya dia hanya berulah masalah pertikaian sampai membuat lawan mainnya babak belur. Mungkin para mahasiswa itu bukanlah tandingan yang sepadan sehingga tidak henti-hentinya Nay mengingatkan untuk menjaga emosi.


"Semester 7 hampir akhir."


"Berarti tahun terakhir?"


"Hm ya. Sebenarnya sudah tahun kemarin tapi aku belum mengerjakan skripsi." Ella mengangguk-angguk seraya mengunyah. Gadis ini sebenarnya pemberani. Dia hanya terlalu lama terkurung sampai-sampai tidak tahu dunia luar seperti apa.


"Berarti umurmu sekitar 21 atau 22 tahun." Darrel tersenyum simpul.


"27." Ella menoleh cepat.


"27?" Tanyanya mengulang.


"Hm dua bulan lagi genap 28."


"Ku fikir Kak Darrel masih berumur di bawah 25 tahun." Darrel terkekeh sambil menatap wajah konyol Ella. Tangan kanannya terangkat lalu mengusap beberapa nasi yang menempel di sudut bibir.

__ADS_1


Lembut. Nafas Darrel berhembus kasar. Ingin menolak mentah-mentah ketertarikan namun dia merasa sangat tertarik pada Ella.


"Aku terlalu bersemangat makan." Ella meletakkan sendok lalu memegang jemari Darrel untuk mengambil beberapa butir nasi. Perlakuan yang lugu sebab Ella tidak sungkan melakukannya seakan-akan keduanya saling mengenal baik.


Mungkin dia menganggap ku sebagai seorang Kakak. Ah.. Wajah itu semakin membuatku frustasi. Kenapa aku tidak bisa berhenti.


"Makan punyaku kalau kamu masih lapar."


"Tidak Kak. Ini sudah lebih dari cukup. Biasanya aku tidak makan ketika malam." Ella kembali mengambil sendok dan melanjutkan makan. Dia tidak memahami jika akibat dari perlakuannya membuat jantung lelaki di sampingnya berdebar keras.


Prapto akan berhadapan dengan ku kalau dia berani mengusik mu. Aku berjanji.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Arya memacu mobilnya cepat ketika dia menyadari tengah di buntuti. Sengaja dia melewati jalan kota agar mobil tersebut kehilangan jejak. Namun sudah hampir satu jam berjalan, mobil yang membututi masih tampak.


Bagaimana ini? Apa dia sekutu Prapto?


Terpaksa, Arya memarkir mobilnya di bahu jalan sebuah restoran. Dia berjalan masuk dan mencoba bersikap setenang-tenangnya.


Sambil duduk, Arya melirik ke beberapa lelaki keluar dari mobil yang membututi nya. Asupan oksigen seketika menyusut ketika para lelaki itu berjalan menghampirinya.


"Kami orang suruhan Prapto." Ucapnya berbisik.


"Ada apa?" Tanya Arya pelan. Tentu saja dia takut pada ancaman Prapto yang akan membunuhnya kalau sampai Arya berani mempersulit pernikahannya.


"Di mana gadis itu?" Sebisa mungkin Arya menahan luapan kebahagiaan ketika si lelaki menanyakan perihal Ella.


Berarti dia bisa kabur. Terimakasih Tuhan.


"Saya tidak tahu. Sejak tadi saya berkerja. Terakhir kali saya mengunjunginya kemarin."


"Jangan berbohong atau masalah ini semakin berat."


"Saya serius. Tujuan saya mengunjungi hanya ingin menanyakan kabar. Bukankah Bu Lena yang lebih tahu?" Si lelaki menghela nafas panjang. Dia tidak mendapatkan informasi apapun.


"Hm." Si lelaki beranjak pergi. Arya bernafas lega sebab dia mengira sudah terbebas.


"Kita pulang Bos?" Tanya salah satu temannya.

__ADS_1


"Tidak. Kita hanya berpura-pura pulang. Bos bilang untuk membunuh nya kalau memang sudah tidak berguna." Pintanya tersenyum simpul lalu masuk mobil dan di ikuti tiga lainnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2