Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 46


__ADS_3

Di sebuah gang sempit, Liam di keroyok beberapa lelaki yang mengaku sebagai pegawai Bank. Hutang hampir mencapai satu milyar namun cicilan belum juga Liam lakukan.


"Saya tidak lari! Kalian tahu lokasi rumah saya! Bunuh saja saya, agar kalian tidak mendapatkan pelunasan!" Jawab Liam sengaja di keraskan. Rupanya dia mengetahui jika saat ini kegiatannya tengah di pantau. Sudah pasti Darrel tertarik. Aku akan masuk ke sela terkecil dan menyingkirkan satu persatu orang kepercayaan kalian agar nantinya eksekusi berjalan lancar.


Ketiga lelaki bertubuh besar itu saling melihat satu sama lain. Skenario sudah terencana. Ketiga lelaki memang di hadirkan agar perhatian Darrel semakin terarah padanya.


"Kami tunggu sampai Minggu ini! Kalau kau tidak bisa melunasi hutang. Kau akan benar-benar kami bunuh!" Umpatnya seraya berjalan pergi meninggalkan Liam yang babak belur.


Tubuh Liam membungkuk, mengambil tas miliknya yang tergeletak di tanah. Dia membuka resleting lalu memeriksa laptop yang terlihat mengalami keretakan pada layar.


Terdengar dessahan lembut, seakan merasa kesal padahal adegan merupakan sebagian dari skenario.


Beberapa warga menghampiri, menanyakan keadaan Liam. Dengan ramah Liam merespon pertanyaan beberapa warga, lalu melanjutkan perjalanan mengunakan motor bututnya.


"Hei Liam." Sapa Ano ramah. Liam memutar tubuhnya, mengurungkan niatnya untuk masuk. Tersenyum di dalam hati, sebab Ano merupakan target pertama yang harus di singkirkan.


"Oh kau." Jawab Liam tersenyum simpul." Teman Darrel." Ano berjalan menghampiri.


"Kau tinggal di sini." Menunjuk ke arah rumah berukuran kecil.


"Iya. Ini gubuk ku. Em... Tidak ada yang tersisa kecuali tubuh." Sungguh sempurna. Liam dengan cerdik mengunakan identitas seorang pengusaha bangkrut yang satu bulan lalu melakukan bunuh diri. Mereka terbelit hutang, mirip scenario yang Liam siapkan." Kamu tinggal di sekitar sini?" Imbuhnya bertanya.


"Tidak. Aku kebetulan lewat dan melihatmu."


"Oh. Ku fikir tinggal di sekitar sini."


"Tidak juga."


"Mau mampir?" Tanyanya menawarkan.


"Sebenarnya aku melihat mu terlibat masalah." Liam mengangguk-angguk seraya tersenyum." Itu alasan kenapa aku mengikuti mu." Liam duduk di sebuah kursi kayu yang tampak lapuk.


"Kalau saja aku tidak kuliah ke luar negeri, mungkin hidupku sudah berakhir seperti keluarga ku. Semua aset sudah ku jual untuk menutupi hutang keluarga namun rupanya tidak cukup. Apa salah aku menyisihkan uang untuk menimba ilmu agar nantinya aku bisa bangkit dari keterpurukannya. Mempunyai perkerjaan bagus dan..."


"Berapa hutangnya?" Sahut Ano ingin tahu. Liam terkekeh kecil sambil menepuk pundak Ano yang tengah duduk di sampingnya.


"Kenapa bertanya."


"Mungkin aku bisa membantu."

__ADS_1


"Wah. Uang jajan mu pasti banyak." Ano tersenyum simpul. Dia tidak menyangka jika Liam pintar bergaul dan mudah di ajak mengobrol. Melihat penampilan sederhananya tentu membuat Ano memperkirakan kalau Liam orang yang tertutup dan tidak mudah bergaul.


"Ya mungkin saja."


"Tapi serius. Aku berterimakasih."


"Daripada terlibat masalah." Aku merasa Liam sangat cocok di masukkan anggota. Skill membela dirinya sangat bagus dan dia bukan orang yang lemah.


Bertahun-tahun Liam memerintahkan orang untuk menumbangkan Kai namun hanya kegagalan yang di dapatkan. Beberapa Mafia yang tersebar di seluruh dunia bahkan tunduk pada Kai. Mereka mengagungkan nama yang di anggap sebagai panutan.


Itu kenapa Liam memilih lewat jalur belakang dengan turun tangan sendiri dan berpura-pura menjadi masyarakat biasa. Liam menganggap jika itu adalah satu-satunya cara agar Kai bisa di lumpuhkan dengan perlahan-lahan.


"Semua akan berakhir dengan kematian. Mungkin aku akan menyusul keluarga ku." Ano menghela nafas panjang.


"Jangan menyia-nyiakan hidup. Berapa, sebutkan. Akan ku bantu dan kamu bisa mengembalikannya saat sudah sukses."


Ano terlalu gegabah memutuskan. Dia tidak mendengarkan perintah Darrel yang menyuruhnya memantau terlebih dahulu. Apalagi beberapa kali Alan menyuruhnya untuk bisa memutuskan masalah dengan cepat. Itu karena Alan menginginkan Ano bisa menggantinya suatu hari nanti. Namun rupanya perintah itu malah membuat Ano terlalu terburu-buru dalam melangkah seperti yang di lakukan sekarang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Darrel dan Ella di buat terkejut ketika melihat beberapa pegawai catering menyiapkan alat-alat jamuan di taman samping rumah. Bergegas saja keduanya masuk dan berjalan menuju kamar Nay untuk bertanya.


"Pakai baju ini untuk pertemuan nanti." Nay memberikan sebuah paper bag pada Darrel tanpa menjawab pertanyaan." Dan ini gaun untuk puteri cantik ku." Imbuhnya lagi.


"Apa ini?" Darrel mengeluarkan isi paper bag dan mengerutkan keningnya melihat setelan jas berwarna putih. Maniknya melirik ke gaun Ella yang memiliki warna berbeda." Untuk apa Ma." Tanya Darrel untuk kesekian kali.


"Acara nanti. Kalian sebaiknya membersihkan diri. Sebentar lagi para tamu akan datang." Ella tersenyum simpul dan enggan berkomentar. Dia belum begitu akrab dengan Nay sehingga terkadang ada rasa canggung untuk bertanya.


"Acara apa? Kenapa harus memakai jas seperti ini." Protes Darrel tentu keberatan. Dia lebih suka memakai kemeja dan baju santai meski hadir pada pertemuan penting.


"Ini acara mu jadi kamu harus tampil rapi. Nanti ada sesi pengambilan foto sebagai kenang-kenangan."


Acara mu? Kenapa mendadak perasaan ku tidak enak? Batin Ella mulai gelisah. Dia punya firasat buruk akan pertemuan nanti semenjak tadi.


"Foto? Apalagi itu!"


"Wajar saja kan sayang. Nanti ada dua pertemuan keluarga yang akan membahas perjodohan mu dengan anak sahabat Papamu."


Seketika mimik wajah Ella dan Darrel berubah panik. Keduanya saling melihat satu sama lain dengan degup jantung berpacu cepat.

__ADS_1


Baru beberapa jam lalu Darrel berhasil meredakan rasa cemburu Ella, namun pembicaraan yang di lontarkan Nay menimbulkan ketakutan nyata. Terbaca jelas bagaimana kecewanya ekspresi Ella yang mencoba di sembunyikan dalam senyuman simpul.


"Perjodohan?!" Tanya Darrel mengulang. Sambil meraih jemari Ella yang sepertinya akan pergi.


"Ya. Sesuai perintah. Kalau kamu membolos, perjodohan akan Mama siapkan untukmu." Kai yang duduk tidak jauh dari sana. Beberapa kali mengusap-usap rambut tebalnya. Ingin rasanya dia berteriak agar Nay berhenti mempermainkan perasaan Darrel agar semuanya tidak terasa rumit. Tapi apalah daya. Di sini Kai bukan lagi Bos yang sesungguhnya sebab Nay berperan sebagai pawang untuknya.


"Aku tidak mau!"


"Kamu tahu Darrel. Ini bukan pilihan tapi peraturan. Bagaimana kau bisa jadi pemimpin kalau kau tidak komitmen pada ucapan mu sendiri."


Dia sedang membicarakan apa? Komitmen hahaha konyol. Kenapa Istri ku mirip seperti pemeran sinetron.


"Sudah ku katakan Ma. Apapun akan ku patuhi tapi tidak untuk hal memilih jodoh!" Darrel kembali meninggikan suara dan hal itu semakin membuat Nay puas akan rencananya.


"Mama masih ingat saat kamu berkata tidak mempermasalahkan perjodohan.."


"Sebelum aku bertemu dengannya." Menunjuk ke Ella.


"Dia hanya anak angkat yang akan menggantikan Nia."


"Pokoknya aku tidak mau!" Darrel melemparkan paper bag ke sembarangan arah sampai mengenai salah satu ajudan.


"Lakukan! Maka Ella akan ku usir dari rumah ini!" Jawab Nay mengancam. Suaranya terdengar keras dengan mimik wajah marah seakan tidak sedang berpura-pura.


"Please Ma. Tidak untuk jodoh."


"Mama tidak mau tahu. Bersihkan tubuh kalian dan pakai baju itu. Kalau melawan, pilihan kedua akan Mama lakukan. Ingat Darrel, posisi Ella tidak sepenting itu! Masih banyak gadis yang bisa menggantikan Nia dan kau tahu itu!" Ella menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Ingin angkat bicara namun dia merasa takut melihat ekspresi wajah Nay yang berubah mengerikan ketika sedang marah.


"Ya sudah. Aku mau mandi dulu Kak." Ella menyingkirkan tangan Darrel dari pergelangannya. Dia sempat melirik ke Kai yang terlihat tersenyum simpul seraya mengangguk.


Tepat di saat Ella masuk ke dalam kamar, terlihat Darrel duduk bersimpuh di hadapan Nay. Berusaha meminta pembatalan perjodohan.


"Tidak bisa Darrel. Kamu lihat, Ella juga menerima."


"Aku yakin suatu saat nanti Ella akan mengakui perasaannya. Aku mohon Ma. Jangan perjodohan." Rajuk Darrel merengek selayaknya anak kecil.


"Mama juga akan bersiap-siap. Sebaiknya kamu pergi." Dengan kasar Nay menyingkirkan tangan Darrel dari kakinya lalu menutup pintu kamar keras. Braaaakkkkk!!!


"Ma tolong pertimbangkan lagi! Aku putera semata wayang mu!! Kenapa kau bersikap aneh Ma! Kenapa hah!!! Sialan!!!!" Teriak Darrel bersandar lemah pada daun pintu." Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengan gadis lain!!! Aku hanya akan menikah dengan Ella meski itu berarti aku harus mati!!!" Setelan melontarkan kata-kata tersebut. Darrel menyambar paper bag yang sempat di lempar dan malah membuangnya ke dalam sampah. Dia masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan sangat kasar. Braaaakkkkk!!!

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2