
Tanpa fikir panjang Darrel bergegas mengajak Ella menuju hotel Santika saat Alan mengabarkan jika Kai dan Nay berada di sana. Terbesit tanda tanya besar. Kenapa mereka tidak langsung pulang?
Ada rasa takut terpatri sebab hampir setiap hari Kai senantiasa mengingatkan Darrel untuk tidak asal memilih pasangan. Namun yang membuatnya bersemangat adalah, Darrel yakin kalau Nay akan berpihak padanya. Mama juga menyukai Ella. Pasti dia merestui ku.
"Kak aku takut." Ucap Ella saat keduanya tiba di parkiran. Dia merasa tahu diri akan status sosial nya.
"Ada aku. Ini tanggung jawabku. Kamu tinggal ikut dan tidak perlu berbicara. Biar aku yang mengatakan." Entah darimana keseriusan itu muncul. Sebab selama ini Darrel tidak ingin di repot kan oleh gadis. Dia bahkan tidak mempermasalahkan jika Nay menjodohkannya suatu hari nanti.
Sudah terlihat bagaimana patuhnya Darrel pada Nay saat itu. Apapun keinginan dan perintah, jika keluar dari mulut Nay, dia wajib menaati.
Namun semenjak hatinya terpaut pada Ella. Rasa patuh seketika musnah. Darrel lebih cenderung mempertahankan keinginan kalau seandainya kedua orang tuanya tidak setuju.
Ella membiarkan ketika Darrel mengiringnya menuju lobby. Seketika Ella berhenti melangkah saat melihat Prapto berada di sana. Dia menoleh ke arah Darrel dengan tatapan tajam. Ella mengira jika ini adalah bagian dari persekutuan antara keluarga Darrel dan Prapto.
"Kamu menipu ku Kak." Tanya Ella setengah berbisik. Jemarinya berusaha di tarik namun Darrel tidak mau melepaskan.
"Aku tidak tahu. Paman hanya menjelaskan kalau kedua orang tuaku ingin bertemu." Darrel juga tidak mengerti akan situasi yang terjadi.
"Lepas! Aku tidak mau bertemu lelaki itu!" Tentu saja Ella berusaha melawan. Dia muak melihat lelaki yang di anggap sudah menghancurkan hidupnya.
"Ingat janji ku. Mana mungkin aku menyerahkan mu."
"Sudah ku katakan! Apa bedanya kalian!" Sedikit sakit rasanya. Ella sudah begitu percaya pada Darrel namun tebakan membuat rasa sesal seketika muncul.
Darrel tidak ingin banyak bicara. Dengan paksaan dia mengiring Ella ke arah di mana Kai dan Nay berbincang. Terlihat manik Ella mulai berkaca-kaca seakan merasa kecewa.
Aku tidak mau berurusan dengan lelaki itu! Tolong aku Tuhan..
"Astaga." Seakan marah, Nay menyambut kedatangan Darrel dengan wajah masam." Ternyata benar." Prapto tersenyum simpul sementara Kai tentu saja tidak berekspresi. Drama di hadapannya terasa memuakkan.
"Kenapa ada lelaki ini." Menunjuk ke arah Prapto.
__ADS_1
"Dia bilang kamu membawa kabur calon Istri nya." Jawab Nay meninggikan suaranya.
"Bu Naysila tahu kalau Ella tidak menyukai perjodohan ini." Darrel terpaksa berperan sebagai ajudan sebab ada Prapto di sana.
"Duduk dulu." Aku merasa Nia terlahir kembali. Calon menantu ku cantik sekali.
"Tidak."
"Jangan kurang ajar kamu Darrel. Aku memang menyukai gadis itu, tapi bukan berarti dia layak menjadi pasangan mu." Jawab Nay ketus.
"Kak sebaiknya aku..."
"Aku mencintai nya." Jawab Darrel tegas dan cepat. Ella masih berusaha melepaskan diri tapi tidak berhasil.
"Saya tidak punya banyak waktu. Silahkan kalian selesaikan masalah ini. Saya menunggu keputusannya besok." Prapto merasa yakin akan bisa merebut Ella kembali sehingga dia memutuskan untuk melanjutkan kesenangannya dengan mengencani para gadis muda.
"Saya berjanji akan mengurusnya Pak. Maaf atas kelakuan Ajudan saya." Prapto melirik sambil tersenyum mengejek sebelum akhirnya melangkah pergi." Duduk." Pinta Nay setelah memastikan Prapto keluar. Darrel duduk lemah begitupun Ella." Mana janji mu Darrel!!" Tanya Nay dengan suara di tekan.
"Ya." Darrel tersenyum simpul." Tapi selayaknya Alan. Mama hanya ingin mengangkatnya menjadi anak, bukan calon Istri mu." Ella tidak tertunduk dan berusaha menegakkan pandangan. Dia tahu jika jawaban yang di dapatkan seperti apa.
Mana mungkin Nay merestui hubungan mereka? Itu Alasan kenapa sampai sekarang Ella engga memberikan jawaban. Sebenarnya dia sangat menyukai Darrel meski untuk menikah, Ella masih ingin melanjutkan pendidikannya.
"Lupa untuk tidak asal memilih." Tutur Kai menimpali. Untuk melancarkan rencana, Kai sampai menyewa lobby hotel selama beberapa jam. Akses keluar masuk para tamu terpaksa di alihkan ke pintu samping.
"Maaf Ella, aku tidak bermaksud merendahkan. Tapi di sini Darrel anak semata wayang kami. Kekuasaan besar akan berada di pundaknya sehingga tidak boleh sembarang memilih pendamping hidup." Ketika Ella akan menjawab Darrel melarang.
"Aku yang memaksa." Jawab Darrel tegas." Sejak kapan Mama jadi sangat menyebalkan. Memangnya gadis seperti apa yang kalian inginkan." Darrel tidak ingin membebankan Ella sesuai janji.
"Yang setara. Selama ini kamu sudah terlalu bebas tapi tidak untuk hal memilih pasangan hidup." Jawab Nay seolah-olah benar-benar menunjukkan kemarahan padahal ekspresi wajahnya hanya cover. Dia ingin tahu bagaimana Darrel mengatasi permasalahan.
Istriku memerankan tokoh dengan sangat baik. Aku ikuti saja peraturannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau yang lain. Kali ini aku tidak sedang bermain-main. Aku serius." Nay menatap tajam ke arah Darrel.
"Kamu mau mempermalukan Papa mu! Ingat Darrel, kau tidak boleh asal memilih."
"Sudah ku pilih." Darrel mengangkat tangannya yang terpaut dengan jemari Ella." Setuju atau tidak. Aku hanya akan menikah dengan nya. Terserah kalau Mama ingin menentang. Aku tidak akan menyerahkan Ella pada baaabi tua itu!" Ella menghela nafas berat lagi dan lagi.
Ketenangan hidup baru di rasakan satu Minggu. Dirinya fikir Prapto sudah melupakannya dan mencari target lain. Namun rupanya permasalahan semakin berat sebab Ella sudah mengikat hati seorang lelaki pewaris tunggal. Penampilan glamor yang Kai dan Nay suguhkan sudah cukup untuk membuka mata hatinya tentang status sosial yang jauh berbeda.
"Ayo pulang. Tinggalkan gadis itu Darrel." Nay berdiri sambil mengulurkan tangannya.
"Begitu." Darrel ikut berdiri seraya tersenyum simpul. Kekecewaan terpatri di mimik wajahnya. Wajar jika Kai yang melontarkan pertentangan namun kini titah itu keluar dari bibir seorang wanita yang di anggap prioritas.
"Lepaskan tangannya. Ayo pulang. Papa sudah merencanakan untuk menyekolahkan mu ke luar negeri." Ketika tangan Nay akan meraih jemari Darrel yang masih terpaut dengan sangat kasar juga Darrel menghalaunya.
Tak!!! Nay tersenyum dalam hati. Sungguh dia menginginkan momen seperti ini. Sejak awal pertemuan dia yakin jika Ella gadis spesial dan bisa merubah pola fikir Darrel yang terlalu ramah pada masyarakat.
Bukankah itu bagus jika Darrel tidak kaku selayaknya robot. Namun takdir berkata lain. Darrel calon pewaris kekuasaan besar. Akan lebih baik dia bersikap lebih tertutup agar keselamatan keluarga bisa terjaga. Nay tahu bagaimana garangnya para musuh Kai yang ingin sekali membabat habis keturunannya.
Maafkan Mama sayang. Ini demi kelangsungan hidupmu juga hidup anak-anak mu kelak. Mama sangat senang melihat keramahan mu. Tapi bagaimana jika mereka tahu kalau kamu adalah anak kami? Mereka akan memburu mu dan itu kenapa kamu di tuntut untuk menjadi kuat.
"Orang yang menyentuh nya, akan berurusan dengan ku." Jawab Darrel terdengar di tekan.
"Termasuk Mama." Tanya Nay lirih.
"Berlaku untuk siapapun." Setelah melontarkan itu Darrel beranjak pergi. Nay berdiri terpaku menatapnya. Mimik wajah yang tadinya marah berubah menjadi kepuasan sebab Nay mendapatkan apa yang di inginkan.
"Bukankah itu yang kamu mau sayang." Nay duduk di sisi Kai lalu mengambil minuman dan meneguknya sedikit.
"Hm aku tidak suka saat dia terlalu ramah." Kai sangat menyukai ekspresi yang di tunjukkan Darrel. Kehadiran Ella mampu mendongkrak kedewasaan dan juga kegarangan. Beberapa kali momen tersebut di tujukan ketika Ella terlibat masalah. Ruang sosialisasi perlahan terkikis. Kini dunia Darrel seakan beralih pada satu obyek saja.
๐น๐น๐น
__ADS_1