Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 45


__ADS_3

Dengan terpaksa, Kai memasukkan wanita asing berserta kedua anaknya ke dalam mobil. Dia sendiri memilih pindah duduk di samping Alan daripada nantinya perdebatan semakin memanas.


Darrel menuruni watak Istri ku. Tapi dia sok ingin merubah Darrel menjadi anti sosial. Eluh Kai dalam hati.


"Em jadi Suami Ibu bercerita sedang di ancam?" Tanya Nay sambil melihat video asli yang tersebar di media sosial.


Suami si wanita mengeluh soal gaji minim yang di berikan pemilik pemandian juga beberapa tugas yang di rasa tidak masuk akal. Nay menjadi tahu kenapa si pemilik ingin sekali mengundang Kai agar usahanya kembali lancar. Sebab rupanya setelah video tersebut di sebar, pemandian yang tadinya ramai menjadi sepi pengunjung. Masyarakat mengganggap jika pemilik pemandian hanya seorang bos yang tidak memikirkan nasib karyawannya.


"Iya Bu. Awalnya saya menganggap itu semua hanya perasaan Suami saya saja. Tapi sebelum menghilang, beliau selalu pulang dalam keadaan panik." Tuturnya menjelaskan.


"Dari mana dia tahu soal aku?" Sahut Kai bertanya. Dia tentu merasa curiga pada si wanita yang mungkin saja salah satu orang suruhan musuhnya.


"Saya tidak tahu Tuan. Saya hanya di berikan catatan ini."


"Mungkin dia sedang lembur." Jawab Kai asal.


"Ini hari kelima Tuan. Saya sudah datang beberapa hari lalu sampai anak saya terpaksa membolos."


"Darimana kau tahu kalau ini mobil pemilik Xu grup! Jangan jadikan kedua anak mu alasan untuk meluluhkan hati Istri ku!" Sontak anak pertama dari si wanita menangis. Dia tentu merasa takut mendengar suara buruk Kai.


"Saya sempat salah beberapa kali. Saya hanya asal menebak. Mencari mana mobil yang paling bagus." Jawab si wanita seraya terisak. Hatinya tertekan akan menghilangnya sang Suami yang biasanya selalu pulang tepat waktu.


"Ada anak-anak di sini. Atur bicara mu." Tegur Nay tentu merasa kesal." Siapa nama Suamimu?" Imbuh Nay bertanya sambil mengusap lembut anak pertama si wanita.


"Sigit. Saya sudah ke sana tapi beliau tidak ada. Kata teman-temannya, beliau tidak berkerja empat hari lalu." Seketika tangis si wanita pecah. Selain beban kehilangan, rupanya dia sedang menantikan uang gajian sang Suami yang seharusnya di berikan satu Minggu lalu. Uang tersebut biasanya di pakai untuk membeli susu serta kebutuhan hidup selama satu bulan ke depan.


Nay terdiam sesaat sambil memasang senyum. Dia menatap ke arah anak bungsu si wanita yang tampak gelisah. Di tangannya terdapat dot yang berisi air putih.


"Berapa umurnya." Tanya Nay masih merasa penasaran agar kecurigaannya musnah.


"Enam bulan Bu."


"Seharusnya tidak boleh banyak minum air putih. Itu tidak baik untuk bayi." Ujar Nay memancing pembicaraan.


"Terpaksa Bu. Selain asi saya tidak keluar, em stok susu sudah habis." Kai memilih diam setelah melihat ultimatum yang di berikan Nay lewat tatapan mata." Biasanya kami membeli setelah menerima gaji. Tapi sudah seminggu... Itu..." Si wanita kembali terisak dan tidak kuasa menahan air mata.


"Kebetulan sekali. Em kami akan berbelanja untuk kebutuhan dapur. Nanti sekalian kita beli susu juga kebutuhan lainnya." Alan tersenyum seraya mengangguk. Dia sudah membaca wajah garang yang di perlihatkan Kai. Bukan tentang uang, namun Kai malas mengurus masalah yang menurutnya tidak penting.


"Terimakasih Bu. Tapi bagaimana dengan Suami saya?"


"Sebisa mungkin saya usahakan untuk menemukannya. Tapi di sini saya tidak bisa menjamin soal umur." Si wanita mengangguk-angguk. Dia sendiri tidak yakin akan nasib Suaminya." Tenang saja. Saya akan membantu sampai tuntas. Saya minta, apapun hasilnya. Harus tetap bersemangat untuk mereka." Nay mengusap puncak kepala anak pertama si wanita.


"Iya Bu."


Dari spion mobil terlihat manik Nay berkaca-kaca sehingga membuat kemarahan Kai seketika luntur. Dia mengerti bahwa di balik jiwa psikopat Nay, terdapat rasa sosial yang teramat besar. Lagi lagi Kai terpaksa ikut andil. Memerintahkan Alan untuk menyelidiki pemilik pemandian bahkan menjadwalkan sebuah pertemuan yang tadinya di tolak.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah memastikan Ella tidak berulah, Darrel keluar kamar untuk menelfon Ano. Dia masih merasa penasaran akan sosok Liam yang sepertinya bisa di rekrut menjadi anggota.

__ADS_1


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ž๐Ÿ“ž


"Perumahan kecil dan kumuh.


"Kau yakin No?


"Ya Tuan. Dia baru saja pindah. Sepertinya seminggu yang lalu.


"Berapa jumlah keluarganya?


"Dia sendirian. Menurut keterangan para tetangga. Kedua orang tua Liam meninggal dunia.


"Bagaimana mereka bisa tahu? Katanya barusan pindah.


"Liam sangat ramah pada masyarakat sekitar Tuan. Walaupun seminggu pindah, dia sudah akrab dengan beberapa tetangga.


Poin tersebut semakin membuat Darrel yakin. Apalagi Liam berpenampilan biasa saja seperti masyarakat kalangan menengah bawah pada umumnya.


"Bagaimana Tuan?


"Selidiki saja dulu.


"Baik.


๐Ÿ“ž๐Ÿ“ž๐Ÿ“ž


Darrel menutup panggilan dan mendapati Ella sudah berganti baju. Keduanya berencana pergi sebentar ke mini market sebab malam ini Nay memerintahkan untuk tetap berada di rumah.


"Kita bawa mobil saja, biar aman."


"Hm ya." Keduanya berjalan beriringan menuju garasi dan tidak berapa lama mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah." Sebenarnya ada acara apa Kak malam ini?" Tanya Ella penasaran.


"Tidak tahu. Mungkin ada teman Papa yang berkunjung."


"Teman bisnis?"


"Iya."


"Bukankah identitas mu di sembunyikan."


"Berarti tamunya teman dekat. Ada beberapa orang yang tahu kalau aku putera mereka." Ella mengangguk-angguk, mencoba membunuh kegelisahan tidak beralasan yang sejak tadi menyelimuti hati.


"Kapan aku di perbolehkan kembali ke rumah? Aku rindu dan ingin masuk kamar kedua orang tua ku. Sangat banyak kenangan yang ada di sana."


"Setelah renovasi selesai. Sebelum kita menikah, aku tidak akan membiarkan mu pergi apalagi tinggal sendirian."


"Menikah?" Ella tertawa kecil.


"Hm."

__ADS_1


"Lama sekali. Itupun belum tentu terjadi." Jawab Ella tidak yakin.


"Buang angkuh mu Daella. Kamu cemburu tapi tidak mau mengaku."


"Kalau kamu tidak membual, mana mungkin aku marah."


"Memangnya kapan aku membual?"


"Setiap hari. Tapi nyatanya kamu masih..." Ella menghela nafas panjang. Ingin melupakan bagaimana Darrel menatap Ana.


"Masih apa?"


"Aku memang tidak menarik Kak. Masih bocah dan pasti merepotkan mu."


"Iya lakukan. Aku siap menjadi Ayah plus Kakak untuk mu. Asal jangan terlalu munafik atas perasaan mu sendiri. Ingat Daella, terkadang kita tidak bisa memperbaiki kesalahan walaupun mungkin akan ada kesempatan kedua. Aku hanya tidak mau kamu menyesal."


Tujuan Darrel hanya menggertak. Dia tidak ada niat meninggalkan Ella apalagi sampai menikah dengan gadis lain. Rencananya tetap seperti di awal. Darrel memilih mati atau pergi daripada harus melepaskan Ella.


Singkat waktu, setibanya di mini market. Mereka pun turun dan mengecek laporan penjualan. Ella merasa lega. Pada akhirnya mini market peninggalan sang Ayah kembali berdiri tegak bahkan berkembang pesat. Penjualan meningkat ratusan kali lipat.


"Kalau penjualan bisa terus bertahan sampai bulan ini. Saya akan menaikkan gaji kalian." Tutur Ella sambil tersenyum menatap wajah berseri-seri para karyawan yang berjajar.


"Terimakasih Non Ella."


"Saya juga berterimakasih karena kalian sudah setia."


"Kami hanya yakin Nona. Em pagi ini Bu Lena datang." Sontak wajah Ella berubah kesal.


"Datang ke sini?"


"Tidak Nona. Dimas bilang kalau Bu Lena hanya memperhatikan dari bahu jalan."


"Oh." Di mana wanita itu tinggal? "Kalian boleh kembali berkerja." Setelah melontarkan itu, Ella bergegas berjalan menuju Darrel yang tampak duduk santai sambil menikmati minuman ringan di tangannya." Kak." Ujarnya duduk lemah.


"Penjualan menurun?" Tanya Darrel menebak.


"Tidak."


"Terus kenapa?"


"Wanita itu." Jawabnya pelan." Aku ingin dia membayar semua perbuatannya." Imbuhnya lagi.


"Nanti kita fikirkan. Sekarang aku lebih fokus pada hubungan kita."


"Aku bosan membahas itu." Ella kembali beranjak lalu pergi. Darrel tersenyum simpul. Sengaja dia tidak merespon padahal hal mudah baginya menemukan di mana Lena sekarang.


Tapi rupanya otak Darrel hanya di penuhi Ella. Bagaimana caranya agar Ella bisa di anggap sebagai menantu bukan saudara angkat.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Maaf telat update. Hari ini sibuk banget...


Terimakasih dukungannya๐ŸŒนโค๏ธ๐Ÿฅฐ


__ADS_2