Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 38


__ADS_3

Seorang lelaki berperawakan tinggi tengah mendengarkan informasi yang di berikan oleh beberapa anak buah buahnya. Rahang kokohnya memperlihatkan senyum simpul. Ada sebuah berita menggembirakan sebab keturunan Kai berhasil di ketahui.


Lelaki itu bernama William atau di kenal sebagai Tuan Liam. Bertahun-tahun dia memilih tinggal di luar negeri untuk menyamarkan perbuatannya atas penyelidikan pada keluarga Kai.


Tujuannya tidak lain ingin merebut tahta juga kekuasaan. Liam berjalan melambat untuk mencari keamanan. Dia ingin perbuatannya tidak terendus yang nantinya akan membahayakan nyawanya sendiri sebelum keinginannya terwujud.


Beruntung baginya. Beberapa hari lalu Liam mengetahui fakta jika keturunan Kai tidak berada di luar negeri. Dia mengambil keuntungan di balik kebodohan Prapto.


"Sekarang kau senang." Gerutu Lena yang ternyata Kakak dari William. Ketidaksengajaan yang menguntungkan. Lena tidak menyangka jika penipuannya akan membawanya pada keluarga Kai yang selama ini memang menjadi kegilaan Adik nya.


"Ya. Aku akan menopang hidup mu karena kamu memberikan informasi berharga ini."


Selama ini Liam tidak mengurusi hidup Lena paska kepergian kedua orang tua mereka. Menurutnya Lena tidak berguna dan akan menghambat jalan. Itu kenapa Lena memilih menjadi seorang penipu dengan memanfaatkan kecantikannya. Dari situ dia bisa mendapatkan kehidupan mewah, properti dan keuntungan besar lainnya.


"Tidak perlu. Prapto memberikan perusahaan. Tolong utus orang untuk membantu agar aku tidak capek-capek mengurusnya." Liam mengangguk-angguk seraya tersenyum.


"Hm baik."


Kai mengenal Liam sebagai relasi hantu. Sekalipun keduanya tidak pernah bertatap muka padahal kerjasama terjalin baik. Pernah sekali Erik ingin membuat janji, tapi Liam berdalih sibuk dan belum bisa datang ke Indonesia.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Alangkah terkejutnya Ella ketika baru saja dia keluar dari kamar mandi, Darrel sudah menunggu di sofa dengan sebuah kotak P3K dan baskom.


Tatapannya terlihat tajam, sebab rupanya Darrel masih kecewa atas jawaban yang di lontarkan Ella tadi.


"Berhenti Kak. Kita sudah punya kamar sendiri-sendiri." Gerutu Ella sambil berjalan ke arah lemari. Darrel menghampirinya lalu mengiring Ella untuk duduk di sofa.


Ada sensasi ketika tangan kasarnya menyentuh bahu bertekstur lembut itu. Namun di sini Darrel tidak mendahulukan hasratnya sehingga naffsu masih terkontrol meski kecantikan Ella membuatnya semakin gila.


"Biarkan aku memakai baju dulu." Celotehnya untuk kesekian kali.


"Lihat, tubuhmu penuh memar. Mama menyuruhku memberikan kompres." Menunjuk ke baskom.


"Aku baik-baik saja. Sudah terbiasa." Dengan kasar Ella menyingkirkan tangan Darrel lalu berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah dress sederhana. Bibirnya tersungging sebab rupanya Ella menyukai dress pilihan Nay yang bisa menyesuaikan umur serta karakter nya. Selera Bu Naysila bagus sekali. Bagaimana dia tahu aku suka baju semacam ini.


"Seharusnya kamu menjawab iya saja. Hargai perasaan ku." Ella kembali masuk kamar mandi untuk mengganti baju. Setelah itu, Ella keluar dan malah terkesima melihat meja rias tanpa menjawab pertanyaan Darrel." Astaga..." Eluh Darrel beranjak menghampiri Ella." Kamu sudah menghilangkan jalan satu-satunya agar hubungan kita cepat di restui." Imbuh Darrel ingin mengungkapkan kekecewaannya.


"Aku tidak mau menikah Kak. Aku mau kuliah."


"Untuk apa sih? Kamu juga tidak mau belajar. Semua tugas kuliah aku yang mengerjakan." Gerutu Darrel sedikit tersulut emosi.


"Katanya boleh meminta bantuan. Kenapa Kak Darrel berkata itu." Tanya Ella polos. Maniknya tidak terlepas dari meja rias juga beberapa alat kosmetik yang berjajar sehingga terpaksa Darrel menghalangi pandangan dengan berdiri di depan Ella.


"Kamu tetap akan berkuliah. Setidaknya kita bertunangan atau..."


"Agh aku tidak mau." Ella menyingkirkan tubuh Darrel.

__ADS_1


"Aku mencintai mu. Sangat."


"Aku tidak." Jawab Ella berbohong. Meski dia menyukai Darrel, namun Ella lebih memikirkan pendidikan juga balas dendam nya pada Lena.


"Cinta akan datang nanti."


"Kak Darrel kenapa sih! Katanya mau mengalah kenapa jadi memaksa! Minggir! Aku mau melihat meja rias itu!!!" Seketika Darrel terdiam. Menggeser tubuhnya agar kemarahan Ella tidak semakin membesar. Dia mulai takut hal itu terjadi. Ella marah dan kehilangan rasa nyaman dengannya sampai bersandar pada sosok lain.


"Aku hanya tidak ingin kamu di miliki orang lain." Ujarnya pelan.


"Buang jauh-jauh fikiran itu. Aku tidak berminat. Umurku saja masih 19 tahun. Kalau Kak Darrel ingin menikah, cari gadis lain." Ella duduk di kursi rias. Dia mengambil satu persatu make up dan membaca kegunaannya.


"Ya terserah. Tapi kamu harus ingat pada peringatan ku."


Tidak boleh ada lelaki lain. Aku masih ingat Kak..


"Dari dulu aku ingin kamar seperti ini." Seakan tidak merespon, Ella malah melontarkan jawaban tersebut.


"Dengarkan aku dulu."


"Ya Kak." Jawab Ella enteng.


"Apa?"


"Memangnya ada yang mendekati ku. Kamu sudah menghalaunya. Sudahlah, jalani apa yang ada. Bu Naysila belum merestui. Aku takut pertanyaan tadi hanya sebuah jebakan. Kalau aku menjawab Ya. Mungkin kita akan di pisahkan." Darrel menghembuskan nafas berat. Dia terlalu bernaffsu sampai tidak memikirkan dugaan tersebut." Kak bagaimana cara mengunakan ini." Menyodorkan sebuah lipstik.


"Tidak tahu." Darrel meraih lipstik lalu meletakkannya lagi.


"Untuk apa Mama menyiapkan ini." Darrel hendak membereskan make up tapi Ella menghentikannya.


"Jangan Kak."


"Memangnya kamu tahu."


"Tidak. Tapi aku..."


"Kamu tidak butuh ini." Ella melirik malas ketika Darrel membereskan alat makeup. Hatinya yang peka tentu dapat merasakan saat manik Ella mulai memperlihatkan kekecewaan.


"Akan ku adukan pada Mama." Ancam Ella sambil beranjak.


"Kamu sudah cantik. Tidak perlu benda ini." Pujian tersebut tidak membuat Ella berhenti melangkah.


"Mama Nay!!!! Lihatlah anak kesayangan mu..."


Awalnya Ella hanya sekedar menggertak sebab dirinya belum terlalu akrab dengan Nay. Tapi ketika sosok yang di panggil berdiri di ambang pintu. Senyum Ella berubah canggung di sertai wajah panik.


"Ma.. Ma.. Itu..." Tuturnya terbata, menunjuk ke arah Darrel.

__ADS_1


"Letakkan lagi Darrel!" Pinta Nay lantang. Ella tertunduk saat Nay merangkul erat pundaknya.


"Untuk apa Ma."


"Kamu harus belajar mengalah dan menghargai keinginan Adik mu."


"Ini hanya akan..."


"Letakkan kembali!!" Dengan gerakan lambat Darrel meletakkan satu persatu alat makeup yang tadinya akan di buang." Adukan saja pada Mama kalau Kakakmu menganggu." Kini suara Nay berubah lembut dengan senyuman manis. Tangan kanannya mengusap lembut rambut Ella yang masih basah." Astaga sayang. Seharusnya ini di keringkan dulu. Ayo Mama ajari bagaimana mengunakan hairdryer." Darrel hanya mampu terduduk lemah ketika Nay mendudukkan Ella ke kursi rias dan mengajarkan bagaimana mengunakan pengering rambut.


"Rasanya hangat Ma." Ucap Ella polos.


"Hm ya. Jangan lupa memberikan vitamin rambut agar tidak rusak."


Dia akan semakin cantik dan membuatku was-was.. Batin Darrel.


"Aromanya wangi."


"Ya sayang. Astaga rambut mu tebal dan cantik. Ini warna asli." Nay berusaha membangun kenyamanan agar Ella menganggap nya sebagai Ibu kandung. Dia juga ingin memberikan sepenuhnya perhatian supaya Ella tidak lagi merasa sendiri.


"Ya Ma."


"Ini juga cocok untuk kulit wajah mu." Dessahan terdengar berhembus. Nay melirik ke arah Darrel sambil tersenyum kecil." Papa mencari mu. Sebaiknya kamu ke bawah daripada menganggu kegiatan wanita." Darrel berdiri lalu beranjak keluar kamar, dia tahu permintaan Nay akan sulit di lawan." Mulai sekarang hidup mu sudah berubah Ella." Imbuh Nay seraya menyisir rambut. Kegiatan yang sudah lama tidak di lakukan semenjak kepergian Nia.


Dulu Nay sangat telaten mengurus Nia, dari hal makan sampai merawat tubuh. Hampir setiap hari Nay selalu membantu Nia menyisir rambut. Nay juga melarang ketika rambut panjang Nia hendak di potong.


"Berubah bagaimana Ma?"


"Banyak peraturan yang harus kamu taati. Waspada dan peka itu sangat di butuhkan."


"Saya..."


"Tapi tenang saja, selama Darrel belum menikah. Dia pasti akan menjagamu." Ella tersenyum canggung. Meski Darrel berkata hanya akan menikah dengan nya namun jika takdir berkata lain dirinya harus bersiap-siap kehilangan.


"Em ya Kak Darrel selalu sigap dalam menjaga."


"Tentu saja. Dia anak semata wayang kami. Kekuasaan besar akan berada di pundaknya. Butuh otak serta skill bertahan hidup yang sangat tinggi sebab banyaknya musuh yang mengincar nyawanya." Nay menyodorkan sebuah sabuk yang biasanya di gunakan untuk menyimpan pisau." Selalu pakai ini di pahamu. Sekarang kamu bagian dari kami. Bukan tidak mungkin musuh sudah menandai mu." Nay duduk berjongkok, menyikap sedikit dress Ella untuk memberikan contoh cara pemakaian.


"Saya tidak sekuat itu Ma."


"Mama juga berkata itu dulu. Selalu menyalahkan Papa mu atas larangan serta peraturan ketat. Tapi lambat laun kamu akan paham. Membunuh atau di bunuh." Nay berdiri seraya tersenyum simpul. Sungguh Ella sanggup menghadirkan perasaan yang terkubur bersama Nia.


"Kenapa saya di libatkan. Sebenarnya saya ingin hidup bebas setelah lelaki itu..."


"Tenang saja. Selama Mama masih hidup. Keselamatan mu akan tetap terjaga. peringatan ini hanya kamu lakukan ketika terdesak saja. Untuk bertahan hidup sebelum bantuan datang."


Ella terdiam. Dia tidak memahami kenapa takdir membawanya ke sebuah keluarga yang malah akan menghadirkan kecemasan.

__ADS_1


Berada di sekeliling mereka sama halnya dengan bunuh diri.. Tapi sangat menyenangkan melihat Kak Darrel beraksi. Dia keren.. Seperti seorang pangeran. Dessahan lembut nan panjang terdengar berhembus. Kak Darrel memang pangeran sementara aku pembantu nya. Ahhh menyebalkan.. Semoga Ibu Naysila tidak menyiksaku seperti tokoh jahat dalam dongeng..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2