
Setelah makan malam, Ella menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang empuk. Tidak perduli jika nantinya kemalasan akan membuat perutnya membuncit. Dia ingin menikmati hidup sebentar setelah terlepas dari cengkraman Prapto.
Maniknya menatap sekitar. Kamar yang begitu luas dengan perabotan mewah. Sesuai namanya, kini dia tinggal di sebuah istana milik pangeran Darrel.
"Cinderella akan menikah dengan pangeran." Gumamnya pelan. Sampai sekarang dia belum juga menyadari jika ponsel miliknya terpaut pada ponsel Darrel. Apapun pembicaraan serta gerak-gerik. Bisa terpantau asal ponsel ada di dekat Ella." Ah itu hanya dongeng." Ella duduk sebentar. Meraih ponsel dan mulai memainkan game kesukaannya.
Triiiing...
💌Katanya mengantuk. Kalau belum, ayo mengobrol. Aku rindu.
Rindu apa? Berlebihan. Baru saja bertemu beberapa menit lalu.
Sengaja Ella tidak membalas agar Darrel mengira dirinya sudah tidur.
💌Oh kamu mengabaikan ku. Awas saja! Game itu lebih menyenangkan daripada membalas pesanku.
Kenapa dia tahu?
Ella duduk lalu mengedarkan pandangannya. Dia sedang mencari keberadaan kamera pengawas yang mungkin Darrel pasang. Tidak ada. Kamera hanya terpasang di luar kamar.
💌Daella. Masih tidak mematuhi? Ini sudah malam.
💌Sebentar saja Kak.
Dengan hati kesal Ella membalas. Terkadang Darrel berubah menjadi sangat menyebalkan saat Ella sedang ingin bermain game tanpa gangguan.
💌Hm aku ke sana.
💌Tidak. Jangan...
Belum sempat pesan terkirim, Darrel sudah masuk kamar bahkan mengaktifkan sistem kata sandi. Dia berjalan ke arah Ella lalu merebut ponsel dan meletakkannya di dalam laci.
"Bebas sedikit saja." Eluh Ella mulai menampakkan sikap aslinya ketika dia berhadapan dengan Darrel, lelaki pertama yang menghadirkan kenyamanan setelah sang Ayah.
"Tidak Daella."
"Namaku Ella!"
"Hm Darrel dan Ella. Itu nama anak kita kelak, Daella." Ella membuang muka sambil menggeser tubuhnya ke pinggiran ranjang.
"Kamu membicarakan omong kosong Kak."
__ADS_1
"Aku serius."
"Kenyataan..."
"Tidak perduli. Apapun yang Mama katakan hanya omong kosong. Aku tidak mungkin melepas mu untuk lelaki lain." Ella melirik malas. Dia merasa sikap Darrel berlebihan.
"Sudah ku katakan aku tidak mau menikah."
"Hm." Darrel berjalan ke arah lemari lalu mengambil setelan baju tidur berlengan. Dia meletakkan ke pangkuan Ella." Ganti bajumu, nanti kamu masuk angin kalau memakai dress itu." Bebas tidak sepenuhnya Darrel berikan. Sebab kenyataannya dia mulai memperlakukan Ella sesuai keinginannya.
"Aku masih mau main game. Tinggal sedikit level ku naik."
"Tidak ada pembahasan lain selain game. Katanya mau lulus kuliah."
"Cih!" Ella berdiri lalu masuk ke kamar mandi sambil membawa baju tidur. Dia juga tidak ingin memakai gaun sembarangan sebelum mendapatkan persetujuan untuk mengoperasikannya kata sandi pada pintu. Masih saja takut! Ya. Karena Darrel juga seorang lelaki yang mungkin bisa berbuat mesum.
Setelah beberapa menit, Ella tampak keluar. Dia duduk di pinggiran ranjang tanpa perduli pada Darrel yang memperhatikan. Tangannya membuka laci untuk mengambil ponsel namun tidak untuk bermain game. Melainkan melihat beberapa video di internet.
"Lihat apa?!" Tanya Darrel masih berada di nada bicara pelan.
"Video. Katanya tidak boleh bermain game." Darrel mengurungkan niatnya untuk minum lalu beranjak dan berdiri di hadapan Ella.
Ponsel kembali di rebut saat menyadari Ella menonton video yang selama ini membuatnya ketar-ketir. Sebuah video clip K-Pop di tawarkan sebagai sajian.
"Lupa dengan larangan ku." Darrel mengambil ponsel lalu mengantonginya.
"Apa sih Kak. Game tidak boleh, video tidak boleh. Terus kenapa aku di kenalkan dengan ponsel!" Gerutu Ella sambil berpaling.
"Kamu suka dengan lelaki yang bermake-up seperti mereka? Bukankah itu mirip wanita?!"
"Siapa yang suka. Video itu muncul ketika aku membuka internet. Apa itu salahku."
"Kamu bisa menggantinya."
"Bukankah lebih baik kamu kembali ke kamar! Aku mau tidur!" Darrel menghembuskan nafas berat. Kemarahan yang tampak pada mimik wajah Ella mampu membuatnya risau.
"Yakin bisa tidur sendiri." Tanyanya sambil duduk lemah di sisi Ella.
"Hm."
"Aku tidak yakin. Ingat, kamu mulai terbiasa dengan ku."
__ADS_1
"Di sini aman. Banyak orang mirip robot di luar. Biasanya aku tidak bisa tidur karena merasa was-was." Darrel mengangguk namun tidak beranjak. Dia yakin Ella tidak akan bisa tidur tanpa usapan kaki yang menjadi rutinitas dalam kurun waktu beberapa hari.
"Ya tidur lah. Jangan banyak beralasan. Aku duduk di sana. Nanti kalau kamu sudah tidur, aku kembali ke kamar ku." Darrel beranjak dan dengan cepat Ella berbaring. Terdengar dessahan lembut ketika Darrel memutar tubuhnya lalu menarik selimut untuk Ella.
Sudah terbiasa atau berusaha di biasakan, namun Ella dan dirinya sama-sama tidak pernah berprotes. Darrel bahkan suka ketika Ella bersikap seakan begitu membutuhkannya sementara Ella sendiri cenderung haus akan perhatian. Keinginan yang saling terpaut hingga menimbulkan dentuman pada hati keduanya.
"Bagaimana kalau Mama tahu." Tanya Ella berbisik.
"Jangan banyak bicara apalagi bertanya. Itu masalah ku. Selamat malam." Sebuah usapan lembut dahi di berikan. Darrel tersenyum sejenak sebelum akhirnya beranjak ke arah sofa dan duduk.
"Jam berapa kamu akan pergi Kak." Tentu saja celotehan tidak akan berhenti di iringi dengan gerakan kaki Ella yang saling mengusap. Dia berusaha melawan rasa candunya pada sebuah usapan kaki yang biasanya di berikan Darrel sebelum tidur.
"Tidur saja." Jawab Darrel singkat.
"Nanti Mama memergoki kita."
"Sudah ku kunci."
"Pintu itu akan di dobrak." Manik Darrel menatap lekat ke arah kaki Ella yang terlihat bergerak. Tanpa banyak bicara dia berdiri lalu kembali duduk di sisi ranjang tepatnya di bawah kaki Ella. Darrel menyikap selimut sedikit lalu mengusap-usap kaki milik Ella.
"Fikirkan kalau nantinya kita tidak bersama. Apa bisa aku melakukan ini." Ujar Darrel pelan. Dia menikmati setiap usapan. Terasa lembut seolah tangannya menyentuh kulit bayi.
"Kakak Ipar akan memperbolehkan ku meminjam mu sebentar saat sebelum tidur." Jawab Ella asal.
"Oh begitu."
"Ya."
"Mana mungkin ada wanita yang mau berbagi apalagi kamu bukan Adik kandung ku." Ucap Darrel berusaha menyadarkan Ella agar keduanya bisa sama-sama berjuang untuk hubungan kedepannya.
"Lambat laun akan terbiasa Kak."
"Apa yang kurang dariku!? Katakan." Ella tersenyum simpul. Paras lelaki di hadapannya sangatlah tampan di tambah dengan sikap gentle juga skill membela diri. Sungguh dia menginginkan senantiasa berada di sampingnya tapi tetap saja Ella enggan bersikap terlalu egois.
"Yang banyak kekurangan itu aku Kak. Mama sudah berkata itu kan. Dia tidak mau..."
"Jangan fikirkan ucapan itu. Bilang saja kalau kamu juga mencintai ku. Kita menikah dan aku berjanji akan memberikan kebebasan untuk berkuliah." Ella terdiam menatap langit-langit. Sesekali kakinya bergerak-gerak ketika Darrel menghentikan usapannya.
"Aku tidak mau melawan Kak. Mama sudah sangat baik. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah di..." Ella mengingat ketika Prapto menghisap dua gundukan miliknya secara rakus. Nyeri masih terasa, sehingga kejadian itu tentu menorehkan sedikit trauma.
"Hentikan pembahasannya. Lupakan soal kejadian itu." Sahut Darrel cepat." Kita tunggu sampai Mama luluh. Aku yakin suatu saat dia mau menerima mu sebagai menantu." Ella mengangguk di sertai mata yang mulai tampak redup. Dulu kegiatan usapan kaki kerapkali Ayahnya berikan paska kematian sang Ibu. Mungkin itu satu-satunya alasan kenapa Ella sulit memejamkan mata dan sering tidur larut malam bahkan sampai dini hari. Selain siksaan dari Lena bisa saja dia merindukan sosok pengayom agar bisa membuatnya merasa nyaman.
__ADS_1
🌹🌹🌹