
Kai terdiam seakan tidak perduli ketika Darrel menanyakan perihal sikap Nay. Apa bedanya mengangkat menjadi anak dan menantu? Begitulah pertanyaan yang bersarang pada otak Darrel. Sungguh dia ingin segera mendapatkan restu meski untuk hal menikah masih ada pada keputusan Ella.
"Kenapa diam Pa?" Kai tersenyum simpul, melirik sebentar lalu kembali memperhatikan senjata api di tangannya.
"Kamu tidak mengenal Mama mu dengan baik." Darrel menghela nafas berat. Dia paham akan ucapan tersebut sebab rencana Nay tidak dapat di ganggu gugat. Kai si penguasa saja tunduk pada titahnya.
"Ella tidak selemah kelihatannya. Dia cukup tangguh untuk menjadi pendamping ku."
"Katakan itu pada Mama mu." Kai menyimpan senjatanya di balik jas lalu duduk bersandar.
"Berhentilah bersikap selayaknya patung. Seharusnya Papa bisa tegas dalam mengambil keputusan. Papa kan kepala.... Agh!!! Sakit!!!" Darrel menoleh ke arah pemilik tangan yang sedang menjewer telinganya.
"Kamu sedang menebar racun." Darrel memundurkan tubuhnya. Menyeringai seraya menatap ke arah Nay.
"Ayolah Ma."
"Berhenti merengek Darrel. Kamu bukan anak kecil lagi. Bersikaplah dewasa apalagi sekarang kamu memiliki Adik." Ella terdiam, melihat ke Kai, Nay juga Darrel secara bergantian. Beberapa ajudan tampak berjajar bak robot berbalut kulit.
"Kalau memang Mama menganggap ku dewasa. Tolong berikan restu."
"Naffsu sekali. Ella bahkan tidak menginginkan mu. Kalian akan jadi saudara dan keputusan itu tidak dapat dengan mudah bergeser. Ayo sayang kita makan. Mama sudah memasak banyak." Dengan lembut Nay mengiring Ella masuk ke ruang makan. Kai beranjak lalu menempeleng kepala Darrel. Plaaaaaakkkkkk!!! Sontak Darrel menoleh cepat.
"Gadis itu tanggung jawab mu. Kau sudah membawanya masuk ke keluarga kita dan itu berarti nyawanya ada di tanganmu. Jangan pernah merengek seperti bayi. Malulah dengan umur!" Gerutu Kai menatap Darrel tajam kemudian mulai melangkah.
"Kapan aku bersikap seperti bayi!!" Teriak Darrel geram. Dia merasa di anak tiri kan semenjak Ella tinggal di rumah beberapa jam lalu. Tidak masalah baginya asalkan Ella tetap berada di dekatnya.
"Sekarang." Jawab Kai tanpa berbalik badan. Darrel mengacak-acak rambutnya sambil berjalan mengikuti Kai.
"Aku hanya sedang meluapkan kekesalan ku Pa. Apa salah?" Ujar Darrel berprotes.
"Tidak, untuk seorang anak laki-laki sementara umurmu sudah pantas di sebut lelaki." Kai merangkul kedua pundak Darrel yang memiliki postur tubuh sama tinggi. Entah sejak kapan wajah Darrel berubah jauh lebih tampan seakan semua fisik terbaik kedua orang tuanya berhasil di dapatkan.
"Ya."
Ketika sampai di meja makan, Nay sengaja tidak memperdulikan Ella yang kesulitan memakan sajian berbentuk steak. Maniknya menatap ke arah piring sambil sesekali mendongak ke arah Nay.
Mana nasinya? Hanya ada potongan sayur. Terus daging ini...
__ADS_1
Ella melihat ke arah Nay yang masih belum menyentuh makanan. Bibir Ella tersungging saat Nay menyambut Kai dengan manis. Sikap yang selalu di perlihatkan sang Ibu saat masih hidup. Tidak pernah terlewatkan, sang Ibu menyiapkan sajian lezat untuk keluarganya. Hangat dan indah, kini kenangan itu terulang di hadapannya seakan menjadi flashback masa lalu.
"Ini namanya steak." Tanpa banyak bicara, Darrel mengambil alih piring Ella lalu memotong steak menjadi beberapa bagian kecil.
Kai menatap kegiatan tersebut sedikit lama. Cukup terkesima melihat sikap manis Darrel yang baru pertama kali di pertontonkan. Biasanya anak lelakinya cenderung suka di layani. Semua kegiatan berpacaran tentu di pantau secara diam-diam. Tidak ada satu gadis pun yang mampu membuat Darrel bersikap sedemikian manis meski puluhan gadis berhasil di kencani.
"Astaga Mama cemburu. Seumur hidup kamu tidak pernah melakukan itu pada Mama." Darrel tersenyum, menggeser piring milik Ella lalu berniat mengambil piring Nay." Tidak sayang. Mama bercanda." Pinta Nay menahan piring agar Darrel tidak mengambilnya.
"Katanya cemburu?" Ella tersenyum canggung. Masih asing berada di sekeliling keluarga baru baginya.
"Mana mungkin Mama cemburu pada anak sendiri."
"Apa bedanya seorang Puteri dan Menantu." Nay tersenyum sambil memotong steak lalu melahapnya. Dia mengerti tentang kerisauan hati Darrel sekarang.
"Puteri tidak akan menghasilkan benih sementara seorang menantu.." Melirik ke arah Ella." Apa perlu Mama jelaskan? Menjadi pendamping mu tidak boleh asal memilih. Musuh kita semakin kuat dan itu bisa membahayakan keluarga mu kalau nantinya Istri mu terlalu lemah." Ella merasa tersindir. Gerakan tangannya terhenti padahal tadinya dia ingin merasakan steak di hadapannya.
"Aku bisa menjaganya."
"Tidak Darrel itu akan menyulitkan. Mama tidak ingin terjadi sesuatu dengan mu."
"Mama dulu juga orang biasa, sama seperti Ella."
"Tapi.."
"Tepati janji mu Darrel! Bisakah Papamu ini makan dengan tenang!!" Ella semakin tidak nyaman. Suara buruk Kai terdengar mirip speaker rusak. Berdengung dan menggema di ruangan.
"Hm." Darrel mulai memotong steak lalu melahapnya berserta potongan sayur. Sesekali dia melirik ke arah Ella yang belum menyentuh makanannya." Setelah ini kita pesan nasi kalau kamu belum kenyang." Selama beberapa hari tinggal bersama, selera makan Ella bertambah dan sering merasa lapar. Darrel sangat memahami hal tersebut sehingga kulkas di apartemen miliknya di isi banyak makanan dari roti sampai snack ringan.
"Oh mau makan nasi. Ada kok sayang, sebentar ya." Nada bicara Nay berubah lembut di sertai mimik wajah teduh. Padahal beberapa menit lalu wajah itu masih menunjukkan kegarangan. Ella tidak bergerak hingga Nay kembali dengan satu piring nasi." Biasakanlah Ella. Perdebatan sering terjadi tapi kami saling menyayangi dan menjaga satu sama lain." Ella mengangguk lalu mulai memakan steak di hadapannya.
"Apa steak tidak pakai nasi?" Ella berusaha mencairkan suasana dengan bertanya walaupun kecanggungan masih bertengger di hatinya.
"Nasi sudah di gantikan dengan potongan kentang." Menunjukkan potongan kentang lalu melahapnya.
"Maaf Ma. Saya tidak tahu."
"Hm ya, bukan masalah. Em ... Apa makanan kesukaan mu?" Tanya Nay ramah.
__ADS_1
"Mungkin semua makanan sebab..."
"Maksud Mama saat mendiang Ibumu masih hidup." Sahut Nay cepat. Tidak ingin Ella mengingat perbuatan keji yang di lakukan Lena padanya.
"Ayam bakar Mama sangat enak. Sudah lama saya tidak memakannya." Wanita itu selalu memberiku makanan sampah, basi dan...
Ella tersadar dari sesuatu. Dulu dia ingat ketika sering mengeluh soal sajian sang Ibu yang terkadang tidak sesuai selera. Ella kerapkali membuang makanan dan berkata buruk hanya karena sajian tidak sesuai.
Seakan menjadi karma. Perlakuan yang di tunjukkan Lena mengajarkannya pada sesuatu. Seharusnya dia menghargai apapun masakan sang Ibu. Daripada membuang bukankah lebih baik di berikan pada seseorang yang membutuhkan seperti dirinya dulu.
"Mama akan buatkan besok." Jawab Nay tanpa basa-basi.
"Selera saya sudah berbeda. Saya suka semua makanan sebab memasak sangatlah lelah." Benar kata Ayah. Apapun yang menimpa kehidupan kita pasti ada hikmahnya. Aku menyesal sudah marah-marah hanya karena makanan.
"Tenang saja sayang. Mama suka memasak dan tidak merasa lelah kalau di jalani dengan ikhlas."
"Steak ini juga enak." Puji Ella sambil menatap ke arah Nay.
"Terimakasih. Kamu bisa memasak?" Ella mengangguk pelan.
"Hanya beberapa menu. Mungkin terlalu kuno juga."
"Oh astaga itu bagus. Bagaimana kalau besok malam kamu memasak untuk kita." Jawab Nay antusias begitupun Darrel dan Kai yang ingin merasakan bagaimana masakan Ella.
"Tidak banyak menu Ma. Saya juga tidak bisa memasak sajian modern."
"Sajian kuno tidak kalah lezat. Penuh bumbu dan beraroma sedap."
Kini obrolan berubah hangat. Nay mampu mengayomi pembicaraan sampai-sampai membuat Ella tenggelam di dalamnya. Keceriaan perlahan di tunjukkan seperti saat Ella bersama Darrel.
Bu Naysila sangat baik. Aku harus menghormati keputusannya dan mengubur dalam-dalam perasaan ku pada Kak Darrel. Dia memang tidak pantas untuk ku yang hanya gadis dari golongan bawah. Kak Darrel harus mendapatkan gadis yang setara juga kuat agar keturunannya berkualitas. Tidak masalah Kak Darrel menjadi milik orang lain. Asalkan kami masih bisa berdekatan.
Begitulah pemikiran Ella yang mencoba melawan rasa tertariknya pada sosok Darrel. Dia menganggap itu hanya rasa yang sesaat sebab Darrel hadir di saat dirinya membutuhkan figur seorang lelaki dewasa. Apalagi ketampanan Darrel melebihi wajar sehingga Ella menanggapi ketertarikan hanya sebatas fisik. Apa mampu Ella melawan amunisi kuat yang akan Nay suguhkan padanya?
Oh masih angkuh. Lihat saja. Sebentar lagi perasaan mu akan terlihat. Mana mungkin kamu menolak Putera mahkota. Aku pun yakin kamu gadis kuat Ella. Bukan gadis manja yang akan mengeluh hanya karena sebuah sayatan pisau dapur.
Tanpa Ella sadari Nay memperhatikan beberapa bekas luka yang sudah mengering di seluruh bagian tangan serta kaki. Sengaja dia memberikan dress sederhana agar dirinya bisa melihat bagaimana kejamnya kehidupan Ella dulu.
__ADS_1
๐น๐น๐น