Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 54


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama. Alan sudah mendapatkan informasi soal keluarga Parman. Dia seorang lelaki berumur 68 tahun yang tinggal di perumahan cukup elit. Parman memiliki seorang Istri tanpa anak. Apalagi rupanya Istri Parman seorang wanita lugu yang mudah di bohongi.


Parman hobi memacari banyak wanita muda. Bukan ingin memiliki anak sebab dia hanya ingin bersenang-senang. Alasan itulah kenapa berapapun banyak penghasilan yang di dapat dari tempat pemandian. Selalu habis tanpa jejak.


"Suamiku bisa marah kalau aku terlalu lama. Sebaiknya bertindak cepat. Langkah awal, buat mereka berpisah." Gumam Nay membereskan berkas lalu berjalan keluar ruangan. Dia berniat mencari keberadaan Parman sambil memberi isyarat pada anak buah Alan untuk mengambil beberapa gambar yang nantinya akan di berikan pada Istri Parman agar keduanya bercerai.


Tak ada niat buruk. Menurut Nay, lebih baik hidup sendiri daripada menghabiskan waktu untuk orang yang bahkan tidak perduli pada perasaan kita. Nay ingin tahu bagaimana reaksi Istri Parman ketika melihat Suaminya senang menjajakan cinta.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah adegan ciuman yang terjadi membuat otak Ella semakin terkontaminasi dan kembali pada peraturan awal. Dia sangat menginginkan Darrel dan enggan mengenal sosok lain.


Entahlah. Ella menyukai sensasinya sampai-sampai debaran jantung tidak juga berhenti. Karena insiden perkelahian, terpaksa Darrel membolos begitupun beberapa pihak yang terlibat seperti Liam juga Ano. Tapi di mata pelajaran kedua, mereka terlihat hadir walau dengan keadaan lebam pada wajah.


"Kamu harus lakukan itu. Meminta pada Mama untuk hubungan kita." Kini Darrel duduk di antara Jessy dan Ella. Dia malas jika harus melanjutkan sandiwara dan berujung kehilangan.


"Mama akan marah."


"Lakukan saja Ella. Kamu akan tahu faktanya?" Jawab Darrel sedikit frustasi. Jessy tersenyum, membiarkan kecurangan terjadi setelah Alan memerintahkan untuk membiarkan saja apapun yang Darrel lakukan. Tujuannya agar permasalahan cepat terselesaikan.


Tuan muda memang tidak dapat di kendalikan. Semoga saja Bu Naysila tidak mengedus kecurangan ini. Aku jadi ingin menjadi muda lagi hahaha.


"Kalau aku di usir bagaimana Kak. Aku ingin mencari keberadaan wanita itu dan membalas semua perbuatannya pada Ayah." Darrel meremas rambut tebalnya. Sejak tadi obrolan berputar-putar padahal Darrel menjanjikan akan menemukan Lena secepatnya.


Ku rasa ada yang salah dengan otaknya. Kenapa obrolan tidak bisa tersambung dengan cepat. Eluh Darrel dalam hati. Mengetahui fakta jika otak Ella tidak sebaik parasnya.


"Lakukan saja. Kamu tidak mungkin di usir. Kamu paham maksudku." Jawab Darrel terdengar di tekan.


Sungguh, sikap Ella membuat emosi terkoyak dan hal itu juga yang menjadi alasannya kenapa Darrel begitu menginginkannya. Dia tidak mau Ella jatuh di tangan yang salah lalu di manfaatkan.


"Iya tapi aku tidak tahu harus berbicara apa pada Mama. Takut salah Kak."


"Akan ku tulis dan kau harus menghafalnya!"


"Darrel!!!!" Tegur Pak ikhsan." Kalau kamu tidak ingin mengikuti pelajaran, silahkan keluar." Imbuhnya seraya menunjuk pintu.

__ADS_1


Ingin ku hantam mulut nya itu! Kenapa dia meneriaki ku seperti itu.


Masalah yang datang sejak pagi tentu membuat Darrel kehilangan konsentrasi. Emosi nya pun cepat tersulut.


"Ya. Saya akan keluar! Tidak perlu kau teriaki seperti itu!" Pak Ikhsan menggelengkan kepalanya. Peringatan soal sikap Darrel sudah di bicarakan si kepala Dosen. Sedikit kecewa terbesit, sebab meskipun Darrel hobi berkelahi dan memacari banyak gadis. Ini kali pertama dia melontarkan umpatan ketika pelajaran berlangsung.


Darrel membereskan buku miliknya dan Ella. Dia menenteng kedua tas tersebut lalu berjalan keluar dengan wajah garang. Agatha sempat melirik lalu menghela nafas panjang. Dia masih menganggap Darrel lelaki sempurna.


Luka yang di dapatkan Liam lebih parah. Itu berarti Darrel masih unggul. Tapi... Kenapa dia sulit ku dapatkan padahal Papa sudah merestui hubungan kita. Eluh Agatha dalam hati. Sudah bisa di baca alasan kenapa dia mengincar Liam. Agatha ingin membuat Darrel menyesal akan keputusannya.


"Kak kenapa malah membolos. Nanti Mama marah." Celoteh Ella.


"Aku kehilangan konsentrasi. Daripada aku membunuh seseorang, lebih baik kita pulang dan menunggu Mama selesai dengan urusannya."


Darrel menyuruh Alan untuk mengirim seseorang agar menjemputnya. Tidak mungkin dia memakai mobil Jessy meski mobil itu memang milik keluarganya. Walaupun nantinya rencana batal. Jessy akan keluar tanpa meninggalkan jejak gosip.


Hanya menunggu beberapa menit, sebuah mobil datang. Keduanya keluar melalui pintu samping agar keberadaannya tidak di ketahui.


Saat berada di dalam mobil, Darrel menyandarkan punggungnya sambil menghembuskan nafas berat. Sementara wajah Ella masih tidak berubah, menegang setelah adegan ciuman tadi.


Lagi lagi Ella cemburu namun belum mampu mengungkapkan. Dia memaklumi jika banyak gadis yang jatuh ke pelukan Darrel. Sebab dirinya juga merasakan hal yang sama.


"Tenang saja. Akan ku tuliskan kalau sudah tiba di rumah. Mama datang sore ini. Beliau sedang ada urusan." Darrel menebak jika Ella sedang kebingungan merangkai kata untuk menjelaskan perasaannya pada Nay.


"Kalau Mama..."


"Please Daella. Jangan menduga-duga sebelum kamu melakukannya." Sahut Darrel cepat.


"Iya."


"Tunjukkan pada Mama kalau kamu menyukai ku. Jangan menahan diri! Jika kamu merasa cemburu, ungkapan saja agar Mama semakin percaya." Ella mengangguk patuh sambil tersenyum canggung. Terlihat jelas lirikan mata yang mengarah pada bibir Darrel. Dia berusaha menahan kegelisahan tapi begitu sulit. Selain rasa nyaman ternyata sosok di sampingnya mampu menghadirkan suasana yang hampir membuatnya lepas kendali.


Kenapa aku tidak merasakan apapun ketika lelaki tua itu menjamahku.


Singkat waktu setibanya di rumah. Darrel segera menyiapkan tulisan yang wajib Ella pelajari. Ponsel terlihat di sita untuk menghindari kenakalan yang sering Ella lakukan.

__ADS_1


Sambil menunggu, Darrel berbaring di sofa sementara Ella duduk di kursi belajar. Dia berniat beristirahat untuk mendinginkan otak sambil menunggu Ella selesai belajar.


"Kak."


"Hm.."


"Apa kamu bisa menjamin kalau Mama tidak akan marah." Terdengar helaan nafas berhembus.


"Iya." Jawab Darrel enteng.


Beberapa menit berlalu. Awalnya Ella menghafal dengan serius. Namun itu semua bertahan beberapa menit saja sebelum akhirnya Ella gelisah. Dia tentu kesulitan karena daya ingat yang melemah.


"Ini sulit." Eluhnya lemah.


"Apa yang sulit?" Tanya Darrel seraya memejamkan mata.


"Kalimatnya terlalu panjang Kak."


"Hafalkan intinya saja. Kamu ingin menjadi Istriku."


"Aku tidak mau menikah dulu."


"Oh astaga...." Darrel memutuskan duduk lalu menatap lemah ke arah Ella yang juga menatap ke arahnya." Aku berjanji tidak akan mengekang mu. Kuliah dan berpergian tetap bisa kamu lakukan." Imbuhnya menjelaskan entah berapa kali.


"Tapi tetap saja kalimat ini terlalu panjang." Darrel beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri tepat di hadapan Ella. Dia mengambil secarik kertas dari tangan Ella lalu meremasnya.


"Intinya kamu bilang pada Mama untuk menjadi Istriku. Terserah bagaimana caramu menyampaikan itu." Terang Darrel pelan namun penuh penekanan.


"Terus perasaan Ana?"


Darrel menghela nafas begitu panjang dan berat. Maniknya menatap Ella dengan mimik wajah frustasi.


"Aku sudah menjelaskan itu entah berapa kali. Lupakan soal perasaan orang lain dan katakan sesuai keinginan ku." Ella mengangguk seakan mengerti tapi Darrel pastikan pertanyaan akan di lontarkan lagi." Aku ingin membunuh orang dan memakannya. Tolong berikan sedikit ruang untuk mendinginkan otak ku Daella. Persiapkan kata-kata lalu biarkan aku beristirahat sejenak. Ingat. Pintu sudah terkunci dan itu berarti kamu tidak bisa bebas berkeliaran. Paham kan?" Setelah mengusap puncak kepala dan memberikan kecupan kening, Darrel kembali berbaring meski untuk tidur pulas tentu tidak mungkin untuk di lakukan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2