Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 47


__ADS_3

Ella mengunci pintu kamar mandi rapat sebab dia tahu jika pintu kamarnya tidak dapat di kunci. Dia letakkan paper bag pemberian Nay lalu menatap lekat ke arah cermin toilet.


Maniknya terlihat berkaca-kaca sebab rupanya perasaannya bergemuruh hebat. Ella merasakan rasa sesak yang teramat sakit seolah-olah menusuk-nusuk ulu hati.


Perjodohan Darrel sangat membuatnya terpukul. Bagaimana mungkin dia bisa menerima kalau melihat Darrel menatap gadis lain saja sanggup menyakitinya. Namun di sini Ella berusaha melapangkan dada. Menerima kenyataan dengan mencoba mengendalikan rasa cemburu.


"Jika pilihan pergi bisa di ambil. Aku memilih pergi saja daripada harus melihat. Tapi kata Kak Darrel, Mama Nay sedikit tidak waras. Beliau bukan hanya akan mengusir ku tapi akan memburu ku bahkan membunuh ku." Eluh Ella seakan berbicara pada dirinya sendiri.


Setelah perasaannya sedikit tenang, Ella memulai ritual mandi. Seperti biasa, dia selalu mengganti baju di dalam kamar mandi sebab takut Darrel menerobos masuk.


Seusai mengganti baju, Ella keluar dan melihat Nay sudah berada di kamar. Perlahan Ella mendekat, tersenyum canggung untuk menutupi rasa kecewanya.


"Astaga cocok sekali. Sini sayang." Menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Ella menurut saja dan duduk bersebelahan." Mama akan merias mu sedikit. Kamu harus tampil cantik di acara Kakakmu." Ayo Ella. Lontarkan penolakan.


Nay sangat menginginkan Ella mengatakan ketidaksetujuannya sementara Ella sendiri merasa tidak pantas mengatakannya. Dia menganggap Nay sebagai penolong walaupun untuk keselamatan sang Ayah hanya bisa di nikmati sebentar. Apalagi Ella berniat membalas dendam, meminta bantuan Nay mengetahui di mana lokasi kediaman Lena. Sehingga tidak ada yang bisa di lakukan kecuali menuruti.


"Siapa gadis beruntung itu Ma?" Tanya Ella seraya memejamkan mata ketika Nay menyapu lembut kelopak matanya.


"Anak sahabat Papa mu. Dia cantik dan katanya sih satu kampus dengan Darrel."


"Berarti Kak Darrel sudah mengenalnya?"


"Mama tidak tahu sayang. Dia baru pindah dua Minggu yang lalu." Ella tersenyum simpul lalu membuka matanya. Menatap ke arah Nay yang di anggap sangatlah cantik." Namanya Isyana. Dia gadis cantik dan juga dewasa. Tutur katanya lembut dan Mama yakin pasti Darrel mau di jodohkan dengan nya." Lagi lagi Ella tersenyum meskipun ingin rasanya dia menangis bahkan berteriak.


"Memangnya Kak Darrel tipe nya dewasa ya Ma?"


"Sudah pasti begitu sayang. Mana ada lelaki yang menolak gadis dewasa juga mandiri."


Apa Kak Darrel membohongi ku? Aku malah percaya dengan Mama. Mana ada lelaki yang ingin bersama seorang gadis kekanak-kanakan dan kuno seperti aku. Pilihan Mama Nay pasti sangat tepat.


Ella mengutuk dirinya sendiri sebab dia sadar akan ketidaksempurnaannya. Mungkin keterpurukan serta ruang sosialisasi yang sempat terbatas beberapa tahun membuat fikirannya melemah. Keputusannya pun terkadang mengambang seolah-olah Ella bingung jika harus di hadapkan dengan dua pilihan.


.


.


.


.


.


Nay menyambut ramah para tamu sementara Ella dan Darrel di buat terkejut akan kehadiran Ana di sana. Secara gamblang Nay memperkenalkan Ana sebagai calon Istri Darrel bahkan sempat mempersatukan jemari mereka. Sontak saja Darrel berusaha menarik tangannya namun di cegah Nay.


"Jangan mempermalukan kami Darrel!" Bisik Nay dengan suara di tekan.

__ADS_1


Terpaksa Darrel membiarkan meski tautan tangannya pada Ella tidak di lepaskan. Sungguh dia ingin menghalau rasa cemburu serta curiga yang pasti bertengger di hati Ella.


"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini." Sapa Ana ramah." Ternyata kamu pemuda yang akan di jodohkan dengan ku." Imbuhnya tersenyum simpul.


"Oh kalian saling mengenal?"


"Ya Tante. Em aku tadi meminjam catatan Darrel."


"Mama dengar kan. Catatan itu ada di tangannya dan itu berarti aku tidak membolos hari ini." Ella menelan salivanya kasar. Tertunduk, menatap lekat ke arah jemari Darrel yang masih mencoba di persatukan.


"Iya Tante. Kak Darrel tidak membolos."


"Jadi bagaimana Ma." Ella bernafas lega karena akhirnya Darrel berhasil melepaskan tangannya dari jemari Ana.


"Apa yang bagaimana. Sudah terlanjur. Mama senang dengan Ana. Jadi bagaimana Pak Bu. Bisa kita bicarakan hari pertunangannya? Jujur saja kalau saya ingin segera menimang cucu."


Nay tertawa kecil di ikuti para tamu yang notabenenya hanya orang bayaran. Kai sendiri berekspresi datar, tidak bisa terlalu banyak berpura-pura seperti yang di lakukan Nay juga para tamu lainnya.


"Kami merasa terhormat bisa berbesan dengan keluarga Tuan Kai."


"Ah jangan begitu. Mari kita duduk ke sana dan membicarakan semuanya. Biarkan anak-anak mengobrol agar semakin akrab nantinya." Ana tersenyum simpul namun di dalam hati terkekeh sejadi-jadinya. Dia sempat menatap ke arah Alan yang berdiri di sudut taman.


Tugas ini yang paling ku sukai. Aku di biayai merubah wajahku dan kelihatan lebih muda. Sepertinya Alan menyukai ku. Apa dia sadar kalau aku Jessy.


"Jangan harap aku akan menerima ini." Ujar Darrel duduk dengan gerakan kasar. Secara otomatis Ella ikut duduk di sampingnya.


"Apapun alasannya aku tidak akan mau."


Ella terdiam, berpaling dan enggan menatap ke arah Ana. Dia menganggap jika wanita yang duduk di hadapannya sangatlah sempurna. Cantik, dewasa dan dengan bentuk tubuh yang pasti di sukai para lelaki.


"Aku fikir kalian berpacaran tapi ternyata saudara angkat." Ana seakan bersikap ramah padahal dia sedang menggoda Ella agar gunung kecemburuan bisa meletus dan tugasnya selesai.


"Dia kekasih ku." Jawab Darrel cepat.


"Kamu sudah punya pilihan sendiri? Terus perjodohan ini?"


"Aku harap kau juga begitu." Ana tersenyum simpul ke arah Ella.


"Maaf Kak. Aku tidak bisa melawan kedua orang tuaku." Seketika mimik wajah Ana berubah saat melihat Nay menghampiri." Tante." Panggil Ana seraya berdiri.


"Ada apa?"


"Kenapa Tante berbohong. Darrel sudah punya pilihan lain." Menunjuk ke arah Ella.


"Tidak." Dengan lembut Nay merangkul kedua pundak Ana seakan tengah menenangkannya." Mereka saudara angkat. Tidak lebih. Menjadi Istri Darrel haruslah gadis yang berkarisma seperti mu. Punya banyak prestasi dan dewasa. Em sebab meski umur Darrel sudah 27 tapi lihatlah bagaimana kelakuannya." Ana tertawa kecil. Meledek? Tentu saja. Dia yakin hati Ella terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Saya akan menjadi Istri yang baik untuk Kak Darrel." Ella menarik tangannya kasar lalu berdiri.


"Perutku sakit. Aku... Pergi dulu." Tanpa menunggu persetujuan, Ella mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah. Darrel beranjak dan hendak menyusul namun tangan Nay mencegahnya.


"Tetap di tempat Darrel." Pinta Nay pelan namun penuh penekanan.


"Dia pasti marah." Eluhnya pelan.


"Ikut Mama. Keputusan tanggal pertunangan sudah di setujui."


"Beri aku waktu lima menit untuk..."


"Kamu tidak ingin Mama berbuat nekat kan." Sahutnya berbisik.


Terpaksa Darrel menurut walaupun sejak tadi maniknya terus saja menatap ke arah kamar Ella yang tertutup. Alan menghela nafas panjang. Berjalan masuk untuk memastikan keadaan Ella yang baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat basah begitupun gaun pesta yang di pakai. Alan menebak jika Ella berusaha menyamarkan air matanya.


"Saya tidak sengaja menyiram gaun ini Paman. Em katakan pada Mama kalau saya menunggu di kamar saja." Alan tersenyum seraya mengangguk.


"Memangnya kamu tidak punya gaun lain?"


"Ada. Tapi tidak tahu akan pantas atau tidak." Selayaknya gaun sederhana. Aku tidak pantas berada di sekeliling orang berkasta tinggi ini. Aku gugup. Tidak tahu harus berbuat apa.


"Pakai saja. Pantas atau tidak, itu tergantung pada pemakainya. Menurut ku.. Gaun seperti apapun akan cantik ketika kamu yang memakainya." Alan seakan tahu tentang apa yang sedang bergejolak di hati Ella.


"Saya tidak..."


"Kamu harus paham keluarga ini Ella." Sahut Alan cepat. Dia kasihan pada Ella dan berusaha memberikan sindiran.


"Saya tidak mengerti."


"Keluarga ini selalu bergerak cepat. Terkadang kesempatan tidak datang dua kali namun penyesalan sudah pasti menanti di ujung." Ella tertunduk seraya menghela nafas panjang.


"Saya memang tidak pantas berada di sini Paman. Saya merasa asing dan masih mencoba beradaptasi. Em sebenarnya saya ingin hidup bebas tapi Kak Darrel..."


Alan menghembuskan nafas berat. Dia membenarkan ucapan Nay yang mengatakan jika Ella masih terlalu angkuh mengakui rasa.


"Mana mungkin Darrel membiarkan Adiknya berkeliaran. Aku tahu dia sangat menginginkan saudara sejak dulu tapi Ibu Naysila sudah tidak bisa hamil. Terima saja takdir mu."


Tapi aku tidak mau menjadi Adiknya...


"Ya Paman."


"Cepat ganti gaunnya lalu bergabunglah dengan mereka. Sepertinya tanggal pertunangan sudah di tentukan." Ella tersenyum canggung lalu mengangguk. Dia berjalan perlahan menaiki tangga sambil sesekali menoleh ke arah Alan yang masih memperhatikannya.


Bagaimana mungkin aku bisa menerima? Serius. Ini rasanya sakit. Tapi aku juga tidak mungkin pergi dari sini. Ah... Kak Darrel akan bertunangan.. Apa aku bisa berpura-pura menerima?

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2