
Darrel terlihat gelisah sambil fokus menatap depan. Padahal Ella tengah bersama Alan tapi nyatanya dia masih merasa khawatir.
"Tenang saja Tuan Darrel. Alan tidak berselera melihat wanita." Ujar Ana alias Jessy.
"Dia mulai bersikap acuh seperti dulu. Tentu saja aku merasa khawatir Bik. Bagaimana kalau Ella nyaman dengan sosok lain?" Jessy terkekeh seraya bercermin dan membetulkan make-up.
"Memangnya ada yang berani melakukan itu? Berfikir lah jerni agar tugas ini segera selesai. Saya juga lelah berpura-pura. Ingin lekas kembali pada perkerjaan saya dulu."
Jessy mulai membayangkan bagaimana menyenangkannya berada di sekeliling para lelaki yang tidak lain anak buah Alan. Dia juga berniat menggoda Alan dan sengaja meminta Nay untuk tidak bercerita tentang siapa sosok Ana sebenarnya.
Singkat waktu setibanya di universitas. Cepat-cepat Darrel memarkir mobilnya. Dia tidak ingin Ella berada terlalu jauh dengannya sementara di sisi lain, Ella berusaha menghindar.
"Darrel jaga sikap mu." Pinta Jessy memperingatkan. Darrel menghela nafas panjang. Menatap kesal ke arah Ella yang tengah mempercepat langkahnya.
"Ella tunggu." Darrel tentu tidak sabar. Dia meraih pergelangan Ella dan memaksanya untuk berhenti.
"Apa?!" Jawabnya ketus.
"Kita pergi sama-sama." Ella menatap kesal ke arah Jessy yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Dia merutuki ketidaksempurnaannya dan mengakui kesempurnaan Jessy atas bentuk tubuh dewasa yang di miliki.
"Mama bilang aku tidak boleh berdekatan dengan mu."
"Ya tapi kamu tetap tidak boleh berkeliaran sendirian." Ano terlihat datang bersama Liam. Perhatian Darrel seketika beralih. Meski begitu, tangannya tetap memegang erat pergelangan tangan Ella.
"Maaf." Ujar Ano pelan.
"Jangan ucapkan itu di sini." Tegur Darrel tegas.
"Baik."
"Lakukan tugasmu. Jangan libatkan orang luar." Setelah mengucapkan itu Darrel melanjutkan langkahnya. Dia cukup kesal mengingat keputusan Ano yang di anggap sembrono.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Liam berpura-pura tidak tahu.
"Tidak. Em itu, Darrel adalah ketua dari keamanan di sini. Aku salah satu anak buahnya. Dia sulit percaya pada orang baru jadi maaf kalau terkadang sikapnya seperti itu." Liam mengangguk-angguk seraya tersenyum. Sengaja dia menempel terus agar Ano di salahkan.
"Aku paham. Apa itu berarti kamu tidak boleh berteman dengan sembarangan orang?" Ano menghela nafas panjang.
"Tenanglah Liam. Mungkin Darrel butuh waktu. Kita bisa terus berteman."
__ADS_1
Liam tersenyum ketika melihat Agatha berjalan menghampirinya. Dia berniat memanfaatkan kebodohan Agatha untuk memuluskan rencananya.
"Astaga Liam aku mencari mu." Sapa Agatha seraya tersenyum manis.
"Ada apa?"
"Siang ini kita jadi jalan kan?" Tanyanya sambil melirik ke Ano.
"Tapi aku tidak sebanding dengan mu." Jawab Liam ramah.
"Tidak apa Liam. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Asal kamu masuk tipeku, maka semuanya akan mudah. Aku yakin kamu adalah lelaki yang tampan. Kita akan pergi ke salon nanti siang agar kamu tidak perlu memakai kacamata tebal ini."
Dengan mesra Agatha memegang lengan Liam erat. Ano yang melihat itu tidak menaruh curiga sama sekali sebab Agatha memang tipe gadis yang mudah tergoda pada kesempurnaan fisik.
Setidaknya aku bisa tampil sempurna karena bantuan gadis bodoh ini. Dengan begitu Darrel tidak akan curiga kalau ternyata aku hanya sedang menyamar sebagai orang miskin.
Liam sempat tersenyum ke arah Ano sejenak sebelum Agatha menyeretnya pergi. Apa yang di lihatnya sekarang, membuat Ano semakin percaya pada Liam yang di anggap bisa menjadi anggota terkuat. Apalagi semalam Alan sudah menyatroni kontrakan Liam dan tidak menemukan kecurigaan.
Kalau aku punya anak buah seperti Liam. Aku pasti akan segera resmi menjadi wakil Kak Alan. Aku akan sehebat dia. Punya banyak anggota yang tersebar di mana-mana.
Begitulah angan-angan yang ada di benak Ano. Sejak lama dia ingin Alan segera meresmikannya menjadi wakil juga cadangan pengganti kalau sewaktu-waktu terjadi hal genting. Namun apa bisa? Sebab setelah keputusan yang di ambil asal-asalan. Membuat Alan malah tidak mempercayai kalau Ano bisa mengemban tugas yang sangat berat dan membutuhkan ketelitian serta ketangkasan.
Agatha bergegas menghampiri bangku Ella setelah gosip soal perjodohan Darrel tersebar. Entah darimana pembicaraan itu berasal tapi tentu saja semua sudah di rencanakan oleh Nay. Dengan mimik wajah penuh hinaan, manik Agatha menatap rendah Ella yang tengah berpura-pura membaca.
"Sudah percaya padaku sekarang?" Walaupun tanpa menatap lekat, Liam sudah tertarik pada Ella sejak awal mereka bertemu. Dia yakin jika hubungan antara Darrel dan Ella sangatlah spesial." Kudengar Darrel di jodohkan dengan gadis itu." Menunjuk ke arah Ana yang duduk tepat di samping Darrel.
"Hm." Jawab Ella singkat. Dia membenarkan ucapan Agatha namun tidak ingin banyak bicara.
"Darrel memang begitu. Tidak bisa setia dengan satu nama."
"Bisakah kau tidak ikut campur Aga!" Sahut Darrel setengah berteriak.
"Aku hanya memberinya peringatan. Tenang saja Darrel. Sekarang aku sudah bersama Liam. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengejar mu lagi." Ucap Agatha ketus.
"Sedikitpun aku tidak perduli tapi jangan pernah kau ganggu Adikku." Hati Ella kembali tertusuk belati ketika Darrel menyebutnya sebagai Adik. Sungguh dia tidak sanggup menerima kenyataan tersebut.
"Dasar sok! Padahal miskin! Beruntung Ana orang kaya! Jadi kau bisa menumpang hidup nanti." Ledek Agatha seraya mengiring Liam untuk kembali ke bangkunya.
Hanya beberapa detik. Tanpa sepengetahuan Darrel, Liam sempat melemparkan senyuman pada Ella yang kala itu juga menatapnya.
__ADS_1
Ella membalas senyuman dengan anggukan kepala sambil menatap sekitar. Dia menyadari sangat banyak sosok pengayom berada di sekelilingnya.
Kakak mahasiswa di sini terlihat baik-baik. Selama ini aku hanya menatap ke arah Kak Darrel saja padahal di sekeliling ku banyak sosok yang mungkin lebih dewasa daripada Kak Darrel.
Sudah pasti niat itu terselip sebab seperti dugaan Darrel, Ella akan gampang berpindah mencari perhatian lain saat dia merasa di acuhkan.
Ella tidak mau sendiri lagi, kesepian dan tenggelam di tengah keterpurukan. Dia ingin bebas selayaknya gadis seusianya. Bersenang-senang dan banyak mendapatkan pujian juga perhatian.
Apa aku minta pada Mama untuk menjodohkan ku juga? Bertunangan saja tidak masalah. Asal aku punya seseorang di sini. Aku tidak mau sendiri lagi apalagi harus melihat Kak Darrel bersama Ana. Ya. Aku akan minta pada Mama untuk mencarikan ku jodoh.
Terlihat Ella tersenyum, seakan mendapatkan pencerahan dari angan-angannya tadi.
"Ada yang lucu El?" Tanya Jessy pelan.
"Ya Kak." Terlihat Jessy tertawa kecil.
"Kamu memanggil ku Kak?"
"Hm. Sebentar lagi kamu akan jadi Kakak Ipar ku." Seketika Darrel menoleh cepat. Dia semakin panik mendengar jawaban tersebut. Sementara Jessy malah terkekeh sejadi-jadinya. Kepolosan Ella membuatnya terhibur. Jessy sudah bisa menebak bagaimana rapuhnya hati Ella yang pasti mudah berpaling.
Ini akan semakin membuat Ella menjauhiku.
"Terus apa rencana mu? Apa kamu menerima?" Tanya Darrel lantang.
"Ya. Suatu saat Mama akan menjodohkan ku." Mahasiswa yang ada di sekitar tentu bingung mendengar obrolan tersebut. Darrel di kenal sebagai anak orang biasa. Mustahil bisa mengangkat Ella sebagai anak angkat. Tapi mereka lebih memilih diam dan menjadi penonton daripada harus terlibat masalah.
"Jangan bermimpi terlalu besar Ella."
"Aku tidak bermimpi."
"Itu mustahil."
"Aku cantik." Deg! Mata Darrel seketika membulat. Kepanikan kian terpatri pada mimik wajahnya." Ya walaupun aku kampungan." Imbuhnya polos.
"Itu tidak akan terjadi selama aku masih bernafas!!" Ella berpaling lalu kembali fokus pada bukunya. Sikap Darrel membuatnya bingung.
Dia membual lagi! Sudah punya calon Istri tapi sok mengekang. Apa aku tidak berhak bahagia?! Apa hanya dia yang boleh bahagia?
Rencana terasa tidak sesuai target. Kepolosan serta watak kekanak-kanakan yang dominan pada Ella membuatnya kesulitan memilih jalan. Yang ada pada fikiran hanyalah bagaimana cara membunuh kesendirian juga balas dendam atas sikap Darrel yang di anggap curang.
__ADS_1
๐น๐น๐น