Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 56


__ADS_3

Sambil menunggu persiapan pernikahan, Nay masih menjalankan peran sebagai Administrasi di pemandian milik si Parman.


Dua hari sudah berlalu, pendekatan semakin gencar Nay lakukan meski dengan sedikit menahan diri. Setelah surat resmi perceraian keluar. Nay baru bisa menjalankan rencana selanjutnya agar Istri Parman tidak perlu terlibat.


Dengan menahan jijik, Nay berusaha bersikap biasa ketika beberapa kali tangan Parman menyentuh jemarinya. Dia memberikan sebuah syarat soal pembatasan sentuhan dan beruntung Parman mengsetujui nya tanpa merasa curiga sedikitpun.


Tok.. Tok... Tok...


"Ya masuk." Bergegas saja Parman melepaskan jemari Nay agar gadis pujaannya tidak marah. Nay menjelaskan soal latar belakang keluarganya yang menjunjung tinggi kehormatan. Itu kenapa Parman mau menjaga jarak sebab dalam angan-angan nanti Nay akan menjadi Istrinya.


"Ada surat dari pengadilan agama Pak." Seorang lelaki menyodorkan surat dan di tangannya terdapat beberapa bekas.


"Oh syukurlah. Lihat, aku resmi bercerai." Dengan bangga Parman mengeluarkan isi surat dan menunjukkannya pada Nay.


"Ini beberapa berkas yang perlu Bapak tanda tangani." Nay mulai memasang senyum mengembang. Semua staf dan karyawan sudah masuk dalam skenario walaupun mereka tidak tahu menahu soal siapa Nay sebenarnya.


Tentu saja para karyawan mengiyakan ketika Nay mengajaknya berkerja sama dengan iming-iming kenaikan gaji. Ada beberapa staf bertanya soal bagaimana cara Nay melakukan itu. Namun Nay menyuruh para staf menutup mulut dan menuruti semua perintahnya.


Dengan sedikit pengalihan perhatian, Parman menandatangani berkas yang berisi soal pengalihan hak milik. Erik bahkan sudah menunggu di ambang pintu untuk mengurus hal yang menyangkut perusahaan dan lain-lain.


"Terimakasih Pak. Saya permisi."


Setelah si lelaki mendapatkan tanda tangan, dia berjalan keluar dan sudah di sambut Erik. Dengan kesadaran penuh dia menyerahkan berkas pada Erik yang di ketahui sebagai pengganti pemilik pemandian.


"Saya berhasil mendapatkan nya Pak." Ujarnya tersenyum simpul.


"Terimakasih ya. Kakak saya memang curang. Seharusnya ini usaha milik keluarga." Ujar Erik tersenyum simpul.


"Berarti Nona Nara..."


"Hm ya. Dia orang suruhan saya. Sesuai janji, setelah ini ada pembagian bonus. Paling lambat Minggu ini." Rencana yang terangkai sempurna agar para karyawan tidak terlalu curiga saat nanti Parman mungkin menghilang dengan tiba-tiba.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah restu di dapatkan. Darrel bisa bernafas lega walaupun sikap ceroboh Ella tetap saja sama. Selama persiapan pernikahan, keduanya masih tetap kuliah sebab rupanya, pernikahan tidak di ketahui oleh siapapun.

__ADS_1


Kini Darrel bersikap seperti biasa, emosinya pun bisa terkontrol asal Ella berada di dekatnya. Namun yang merisaukan adalah penampakan dari Liam yang di anggap ancaman terbesar.


Agatha berhasil merubah penampilannya bak seorang Tuan muda. Tentu saja Darrel kebakaran jenggot walaupun Liam tidak menunjukkan sikap perebut. Dia mengakui jika paras Liam sangatlah tampan.


"Kak mana janji mu?" Tanya Ella sambil memainkan game.


"Janji apa?"


"Menemukan wanita itu."


"Setelah acara Daella. Sabar ya." Jawab Darrel lembut. Dia berusaha bersikap dewasa nan hangat agar kenyamanan senantiasa terjaga di hati Ella.


"Aku takut kamu ingkar janji Kak."


"Tidak mungkin. Akan ku tepati setelah kita..." Kedatangan Ano membuat obrolan terhenti.


"Maaf mengganggu. Em itu... Ponsel ku menghilang saat aku.." Tuan Darrel bisa menghajar ku kalau aku bilang ketiduran. Kenapa tadi aku mengantuk sekali dan di mana Liam? Apa dia yang mengambil ponsel ku.


Bukan tanpa alasan Ano merasa panik akan menghilangnya ponsel. Di dalamnya terdapat kontak penting yang tidak boleh di ketahui siapapun juga beberapa foto dan video beberapa korban eksekusi.


"Bagaimana mungkin kau teledor. Kalau sampai jatuh di tangan yang salah, kau akan dapat masalah besar." Wajah Ano terlihat panik. Kalau sampai keteledorannya terdengar Alan, sudah pasti dirinya akan di hajar habis-habisan. Benar kata Paman. Ano belum layak memimpin. Untung, tidak ada nomer Papa di sana.


"Maaf."


"Kau payah. Sebaiknya ku hubungi Paman." Saat Darrel akan menghubungi Alan. Terlihat Liam berjalan mendekat. Dia tersenyum sambil menyodorkan ponsel ke arah Ano.


"Jadi kau yang mencuri?!!" Ujar Ano setengah berteriak. Darrel menghela nafas panjang. Meski dia tidak menyukai Liam, namun selama ini tidak pernah ada gelagat mencurigakan.


Liam seolah acuh pada kegiatan yang Darrel lakukan. Hanya sesekali dia mengobrol dengan Ano selayaknya seorang teman biasa.


"Bukan Ano. Kamu salah faham."


"Lantas ponsel ini!" Menunjukkan ponsel.


"Ada seorang anak yang membawa ponsel itu tadi. Aku hanya di suruh Bobi menyerahkannya padamu." Bobi adalah salah satu anak buah Ano.

__ADS_1


"Mana mungkin begitu."


"Bobi sedang mengurus si pencuri dan aku di suruh menyerahkannya padamu." Ano menghela nafas sambil memeriksa ponsel yang keadaannya masih terkunci. Dia sedikit bernafas lega namun kini kecurigaan bertengger pada sosok Liam.


"Kalau begitu, di mana Bobi?"


"Dia sedang mengurus pencuri itu."


"Aku sudah percaya pada mu Liam. Jangan pernah menodainya." Liam mengangguk-angguk seraya tertunduk sementara Darrel malah merasa muak atas sikap sok tegas Ano. Entahlah. Dia merasa jika semakin hari kedisplinan Ano semakin mengendur. Sering tidur dan lalai. Beberapa kali Ano juga mengeluh soal kesehatannya yang memburuk.


Darrel tidak angkat bicara. Dia masih menyimak sambil sesekali memperhatikan Ella yang sibuk dengan ponselnya. Padahal gadis itu tengah mendengarkan pembicaraan.


Ada yang aneh dari Liam. Semenjak dia ada, kenapa Kak Ano terlihat kurang sehat? Aku merasa Liam lelaki berkepribadian ganda. Terkadang mimik wajahnya seakan tengah menggoda tapi ketika berhadapan dengan Darrel, wajah itu berubah acuh.


Keperdulian yang tertutup sempurna. Memang Ella terlihat acuh dan tidak perduli. Namun rupanya pergerakan sekecil apapun terekam di otak. Keburukan di masa lalu membuatnya harus tetap waspada. Sedikit saja lengah, maka Lena semakin gencar menyiksanya.


Beberapa menit kemudian. Bobi datang bersama dua orang lainnya. Dia menjelaskan soal pencurian secara detail. Ano bahkan di panggil si kepala Dosen untuk di mintai keterangan.


Sambil menghela nafas panjang, Darrel menatap kecewa ke arah Ano. Secara terang-terangan Bobi menjelaskan tentang kesaksian si pencuri yang memanfaaatkan situasi ketika Ano tertidur. Hal itu tentu membuat Darrel sedikit kesal juga malas sebab hilangnya ponsel akibat keteledoran Ano sendiri.


"Aku tidak bisa tidur pulas di tempat itu." Ujar Ano menyangkal.


"Em Liam juga berkata demikian." Menunjuk ke arah Liam.


"Mustahil. Ada yang salah. Mana mungkin aku tidur dengan pulas di sana." Tap! Darrel menutup laptopnya kasar sampai membuat Ano menoleh.


"Masih berusaha membela untuk menutupi kesalahan? Bukankah kau ku suruh memantau keadaan jika ada hal yang genting seperti perkelahian dan pembullyan." Padahal sebenarnya. Tugas Ano memang mengawasi kegiatan Darrel tapi semenjak Ella ada, Darrel memerintahkan Ano untuk mengawasi dari jarak jauh.


"Maaf..."


"Terus saja meminta maaf!!!" Ella menoleh saat mendengar suara buruk Darrel yang lebih mengerikan daripada teriakan Kai." Kau paham akibat keteledoran sekecil debu bisa menimbulkan sesuatu yang fatal!" Ano tertunduk sementara Liam memilih pergi. Seolah tidak perduli padahal si pencuri adalah orang suruhannya sendiri.


Hahaha... Darrel mulai membencinya. Sebentar lagi aku akan menyingkirkan Ano dan merangkak masuk ke sela terkecil. Setelah keluarga Kai hangus. Aku bisa menguasai kekuasaan dan harta. Yang terpenting... Aku bisa memiliki Cinderella. Lelaki seperti ku lah yang pantas bersanding dengan nya. Bukan keturunan Kai.


Perlahan tapi pasti, kini Liam sedikit membuka jalan meski dengan gerakan melambat. Dia sudah memperhitungkan semuanya. Tidak masalah jika proses berjalan pelan. Asalkan nantinya keluarga Kai bisa di tumbangkan. Liam akan melakukan apapun demi tercapainya keinginan.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2