
"Dia kuliah? Berani sekali!!!" Teriak Prapto merasa sangat marah atas pertentangan yang di lakukan Ella. Sungguh dia tidak menyangka jika gadis rapuh itu mampu melakukan hal sejauh ini.
Prapto mengira kalau keinginannya tidak mungkin gagal. Kecurangan sudah di lakukan hampir 100 persen. Dia tinggal menjerat Ella dengan pernikahan dan selesai.
"Saya sudah berusaha menyeretnya tapi seorang mahasiswa menghalangi." Prapto menoleh cepat. Dia berdiri dan secara otomatis tangan dua Istri terlepas dari dadanya.
"Siapa mahasiswa itu?"
"Saya tidak tahu Pak."
"Berani sekali dia membawa pergi calon Istri ku!!" Lena tersenyum simpul. Setidaknya hari ini dia aman sebab sudah mendapatkan informasi tersebut.
"Kejadian ini yang saya takutkan. Anak itu memang sudah jadi pembangkang sejak lama. Dia tidak selugu yang terlihat."
Jika perlawanan tidak Ella lakukan, mungkin dia tidak bisa bertahan sejauh ini. Bunuh diri tentu akan jalan pintas namun Ella tidak mau menyia-nyiakan hidup. Dia yakin akan datang di mana kebebasan bisa menghampiri asal harapan tidak berhenti.
"Panggil mereka." Pinta Prapto pada salah satu Istrinya." Kau boleh pulang. Aku masih memberikan waktu sampai bulan depan. Kalau Ella tidak bisa ku dapatkan. Kau tahu konsekuensinya seperti apa." Lena mengangguk lalu memilih pergi. Sungguh dia tidak menyangka jika masalahnya akan kembali rumit padahal tinggal sejengkal berhasil.
Beberapa menit kemudian. Tiga orang kacung berdiri di hadapan Prapto. Tugas untuk penyelidikan di berikan. Prapto menginginkan si mahasiswa dalam keadaan hidup ataupun mati.
πΉπΉπΉ
Entah apa yang sedang Darrel lakukan. Sejak beberapa menit yang lalu, dia tidak menjamah mie ayam di hadapannya dan malah memperhatikan Ella yang sedang makan.
Dalam pandangannya, Ella tidak ayal seperti seorang Adik. Sikapnya sangat polos sampai-sampai beberapa kali Darrel menyodorkan tisu karena noda mie yang ada di sekitar bibir. Mungkin Ella terlalu bernaffsu dengan rasa mie ayam yang baru di rasakan sehingga membuat cara makannya tidak terkendali.
Ano seakan menjadi obat nyamuk namun tidak berhak pergi. Begitupun beberapa anak buah yang lain. Mereka ingin acuh tapi pemandangan langkah tersuguh di depan.
"Punyaku masih utuh. Kamu mau?" Menunjuk ke mangkuk mie di depannya saat mie ayam Ella hampir habis.
"Kenapa Kak Darrel tidak makan? Ini enak sekali." Miris rasanya. Mie ayam kampus di rasa bukan makanan yang sedap tapi sangat sedap menurut lidah Ella.
__ADS_1
"Aku tidak lapar." Ella kembali menegakkan pandangannya. Dengan polos dia tersenyum lalu mengambil jatah mie milik Darrel.
"Terimakasih ya Kak. Tidak masalah kalau aku di suruh berpura-pura menjadi calon Istri mu." Ano tersedak begitupun beberapa anak buah lainnya. Sebagian besar gadis selalu menjaga sikap ketika berhadapan dengan lelaki. Apalagi si lelaki terlihat sangatlah tampan.
Sementara Ella malah menyuguhkan kepolosan tanpa di tutupi dengan raut wajah kebohongan. Perasaan bahagianya terpatri jelas seolah-olah satu mangkuk mie ayam bisa membuatnya sejenak melupakan permasalahan hidup.
"Berarti Ibu Na..."
"Jangan di bicarakan. Untuk perihal itu, kita bahas di rumah." Sahut Darrel cepat. Dia tidak ingin jati dirinya di ketahui oleh mahasiswa lain.
"Em ya Kak maaf. Sebenarnya aku ingin bertemu Kak Arya."
"Siapa Arya." Selah Darrel memotong.
"Notaris Ayah. Em aku mau mengingatkan untuk tidak memberikan surat rumah dan surat lainnya. Em itu.. Apa Kak Darrel melupakan sesuatu." Ella ingin mengingatkan sebuah janji yang di lontarkan Darrel semalam.
"Tidak. Nanti siang kita ambil ke bank." Lagi lagi Darrel di buat terenyuh ketika melihat Ella lebih banyak tersenyum.
Darrel menoleh ketika mendengar notifikasi pesan yang berasal dari ponsel Ano. Beruntung keduanya duduk tidak terlalu dekat sehingga Ano bisa melihat pesan tanpa di ketahui Darrel.
π Waspada. Ada tiga orang mencurigakan. Aku ke lokasi dalam 10 menit. Penampilan seperti anak kuliahan. Ciri signifikan, ketiganya memakai baju serba hitam.
Tenyata pesan berasal dari Alan. Cepat-cepat Ano beranjak menghampiri Darrel.
"Ada yang tidak beres di luar. Mereka melihat tiga orang mencurigakan. Salah satu nya sudah masuk ke area kampus dan dua lainnya menunggu di mobil." Darrel menghela nafas panjang. Dia tidak tahu jika selama ini Alan masih memantau kegiatannya.
"Ada apa ya Kak." Ella menggeser mangkuk mie yang kosong dan beralih menatap Darrel.
"Pasti suruhan lelaki itu. Kenapa dia tidak datang sendiri." Ella terdiam seraya mengedarkan pandangannya. Penolakan pada Prapto tentu akan berbuntut panjang.
"Lebih baik kita kabur saja Kak."
__ADS_1
"Mereka bersenjata?" Darrel tidak merespon permintaan Ella.
"Aku tidak tahu. Tapi selama kita berada di area kampus, mereka tidak bisa bergerak bebas."
"Bawa Ella masuk. Aku akan menemui mereka." Segera saja Ella meraih lengan Darrel dengan kedua tangannya. Niat Darrel menurutnya tidak adil.
"Aku ikut. Ini masalahku."
"Sudah menjadi masalah ku. Prapto akan memburuku sebagai pencuri calon Istri nya." Genggaman tangan Ella kian erat.
"Tetap saja tidak mau Kak. Aku bertanggung jawab atas ini." Saat Ano akan memaksa Ella, Darrel memberikan isyarat untuk diam." Apalagi kalau terbukti dia yang sudah membunuh kedua orang tuaku. Ini bukan lagi masalah perjodohan tapi dendam." Penyiksaan yang sudah bergelut selama bertahun-tahun tentu meninggalkan bekas luka dan bisa berpengaruh pada perubahan watak Ella yang semestinya menjadi gadis baik nan penurut.
"Kamu tidak takut kalau seandainya mereka melukai mu."
"Orang tuaku pasti lebih menderita daripada luka itu." Manik Ella mulai berkaca-kaca. Bagaimana hatinya tidak terhantam ketika dia membayangkan pembunuhan yang menimpa kedua orang terkasih.
Darrel kembali memberikan isyarat lalu mengajak Ella ikut serta menuju gerbang kampus. Dia tidak ingin menghindar lagi sebab pengakuan sudah terencana sejak tadi pagi.
Terlihat seorang lelaki berperawakan tinggi dengan kaos dan celana hitam. Wajah asing itu tentu Darrel kenali sehingga kecurigaan langsung terfokus pada sosok tersebut.
"Tetap seperti biasa. Waktu Istirahat masih satu jam lagi. Kita giring mereka keluar dari kampus."
Ella mengangguk patuh, berjalan sesuai arahan dan bergegas naik ke boncengan ketika Darrel meminta.
Motor melaju meninggalkan area kampus. Darrel yakin jika kacung Prapto tidak bisa berbuat banyak karena adanya Ella. Dari spion terlihat sebuah mobil Sedan mengikuti laju motor mereka.
Ano ikut serta dalam jarak aman, begitupun dengan Alan yang ternyata sudah memantau secara sembunyi-sembunyi. Nyawa Putera mahkota adalah tanggung jawabnya. Nyawa akan jadi taruhan jika sampai terjadi sesuatu dengan Darrel mengingat perintah ini berasal dari Nay, seorang Ibu berhati hangat nan lembut namun berjiwa psikopat.
Kegilaan Nay akan muncul ketika dirinya di hadapkan dengan seseorang yang menurutnya buruk. Sebelum melenyapkan nyawa korbannya, Nay kerapkali melakukan sesuatu di luar nalar. Seperti sengaja melukai satu persatu anggota tubuh korbannya dalam keadaan hidup.
Wajar jika tanggung jawab keselamatan Darrel di prioritaskan. Meski Kai teramat percaya padanya, tapi kalau Nay sudah melontarkan titah. Kai sendiri tidak mampu melawan.
__ADS_1
πΉπΉπΉ