
Darrel mendengarkan cerita dengan wajah serius. Bukan hanya Ella sebab dirinya juga menaruh curiga pada Prapto yang mungkin punya hubungan atas kematian Pak Sudrajat dan Istrinya.
"Di mana kamu menemukan surat itu?" Tanyanya ingin tahu.
"Di atas pintu gudang Kak. Sepertinya sengaja di sembunyikan."
"Mungkin dugaan mu benar kalau memang Prapto dan Ayahmu pernah dekat."
"Hm." Darrel membaca kecemasan terpatri pada mimik wajah Ella.
"Tenang saja. Lambat laun semuanya akan terungkap. Sebaiknya kamu mandi lalu kita sarapan."
Terlihat tangan Darrel hampir menyentuh puncak kepala Ella namun perlahan di turunkan. Dia takut membuat Ella merasa tidak nyaman atas sikapnya. Apalagi Ella sendiri bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Membuat Darrel di buat frustasi dan terpaksa duduk lemah sambil meremas lembut rambut tebalnya.
"Apa benar aku terlanjur menjadi play boy dan sulit mengendalikan rasa. Kenapa aku malah benar-benar tertarik pada Ella. Bagaimana kalau Mama tahu? Aku harus menjawab apa."
Tentu saja janji pada Nay terus berputar-putar di otak. Ponsel utama miliknya bahkan belum aktif. Darrel masih mencari jawaban yang tepat agar dirinya bisa mempertahankan kepercayaan Nay juga melindungi Ella dari jeratan Prapto.
.
.
.
.
.
Singkat waktu. Setibanya di universitas, kedatangan Ella di sambut oleh Lena yang ternyata sudah menunggu sejak tadi. Ingin rasanya Darrel pergi saja dan menyuruh Ano untuk mengurus karena dirinya juga takut Lena melapor pada Prapto. Namun entahlah, hingga Lena berdiri di hadapan Ella, Darrel tidak beranjak kabur.
"Pulang! Kau kemana saja!" Ucap Lena setengah berbisik. Tangannya hendak meraih lengan tapi Ella menghindar sambil menggelengkan kepala." Ella jangan seperti ini. Pak Prapto mencari mu." Imbuhnya merajuk. Lena bisa terdampak masalah kalau sampai Ella tidak pulang dan batal menikah.
"Aku tidak mau pulang." Lena menatap tajam ke arah Darrel. Terbesit rasa curiga sebab tadi keduanya berangkat bersama.
"Apa kau yang mempengaruhinya?!" Menunjuk kasar ke Ella. Ini yang ku takutkan. Ella bertemu lelaki lain yang tidak berbobot!
Begitulah tanggapan Lena. Darrel memang berpenampilan bak berandalan jalan. Tidak seperti Kai yang cenderung suka memakai jas dan kemeja licin. Memang beberapa kali kemeja di pakai ketika sedang ada mata kuliah. Selepas dari itu, Darrel lebih memilih memakai kaos juga jaket kebanggaannya.
"Tidak. Ini atas kemauan ku sendiri. Tidak ada pengaruh dari siapapun." Sahut Ella cepat.
"Pulang El. Aku bisa terdampak masalah karena kau."
"Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu." Perdebatan mereka tentu menyita perhatian banyak mahasiswa yang berlalu lalang. Tapi rasanya Ella sudah tidak perduli. Dia lebih takut pada pernikahannya dengan Prapto daripada sekedar tuduhan anak durhaka.
"Ayo cepatlah. Jangan membuat Mama marah." Lagi lagi Lena berusaha meraih lengan Ella. Secara spontan jemari tangannya memegang erat ke lengan Darrel yang masih berbalut jaket.
__ADS_1
Saat itu terjadi, ada hal aneh yang Darrel rasakan. Dia menganggap apa yang Ella lakukan adalah kode permintaan tolong.
Niat awal tidak mau ikut berdebat , tapi Darrel tidak sanggup menahan gejolak kekesalan yang ada di hati. Ingin rasanya dia menembak mati Lena di tempat agar mulut tipisnya tidak bisa lagi melontarkan pemaksaan.
"Sebaiknya anda yang pergi. Ini area kampus." Sahut Darrel seraya menghalau Lena yang berusaha mendekat.
"Kamu tahu dia sudah di jodohkan. Dia milik seseorang yang berkuasa di kota juga negara ini!" Ada sesal terbesit di hati Ella. Dia yakin, akibat dari perbuatannya akan menyeret Darrel ikut campur ke dalam masalahnya lebih dalam lagi.
"Baaabi tua itu." Ano menghela nafas panjang. Sejak tadi dia melihat perdebatan di balik pohon yang ada di sekitar sana. Sesuai permintaan, dia hanya memantau.
Kenapa Tuan tidak menyuruhku membela Ella.
Ano menatap layar ponselnya. Dia ingin memastikan jika Darrel tidak mengirim pesan singkat atau panggilan.
"Jangan sembarang kamu bicara."
"Memang seharusnya baaabi itu sudah punah sejak dulu. Ini wilayahku. Semua keributan yang terjadi di sini termasuk tanggung jawabku." Tatapan Lena kian tajam. Dia tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Menurutnya sosok Darrel hanya salah satu anak muda berandalan tidak berguna yang tak punya masa depan.
"Cabut kata-kata mu. Kau akan menyesal kalau sampai aku mengadu pada Prapto."
"Silahkan!" Teriak Darrel lantang. Para mahasiswa lain hanya berdiam dan melihat." Suruh baaabi itu menemui ku dengan cara gentle. Jangan mengandalkan kacung apalagi sampai menusuk dari belakang." Darrel meraih jemari Ella dan menggenggamnya erat." Dia ku tandai sebagai milikku dan tidak akan mudah bagi siapapun untuk merebutnya dariku." Setelah mengucapkan itu Darrel mengiring Ella masuk. Lena menatap geram keduanya dan memutuskan pergi menemui Prapto. Dia mau melapor, tentu saja begitu. Sejak kemarin Prapto mengancam akan membunuhnya.
Ano bergegas menyusul, dia berjalan di samping Darrel yang langsung mengaktifkan ponselnya. Rasanya tidak tahan jika harus bersembunyi. Perasaan ingin memiliki menghantam semakin kuat.
"Kenapa tidak aktif." Eluhnya belum juga melepaskan tautan tangannya pada Ella.
"Ibu Naysila sedang berlibur bersama Tuan Kai." Sontak Darrel menoleh sambil tersenyum aneh. Penjelasan dari Ano terdengar ganjil sebab selama ini Nay lebih suka berdiam diri di rumah.
"Omong kosong." Terang saja Darrel tidak percaya. Kini panggilannya beralih ke kontak Alan.
πππ
"Halo Paman.
"Ya ada apa?
"Mama ke mana?
"Honeymoon. Kemarin Mama mu memutuskan ke Paris.
Darrel terkekeh, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang di dengar.
"Jangan bercanda. Mana mungkin begitu.
"Tuan bahkan menyerahkan kendali penuh padaku. Tolong berikan sedikit bantuan ya Rel. Banyak yang perlu ku urus. Tuan mengharapkan banyak darimu.
__ADS_1
"Aku sedang ingin berbicara penting pada Mama.
Ella yang tidak mengetahui situasinya malah merasa bingung. Kenapa Darrel memanggil Naysila dengan sebutan Mama? Ella masih ingat tentang nama yang tertera pada kartu yang di berikan Nay beberapa hari lalu.
"Apa katakan?
"Tidak bisa. Aku hanya ingin bicara pada Mama. Kenapa nomernya tidak aktif?
"Mungkin mereka ingin menikmati honeymoon dengan tenang. Sebaiknya kamu menjadi anak baik sampai mereka pulang. Ini termasuk pelatihan.
πππ
Darrel memutuskan panggilan. Dia sedikit frustasi sebab niat untuk jujur terasa menggebu-gebu sedangkan Nay malah pergi berlibur.
"Kenapa mereka tidak mengatakan apapun." Gumam Darrel tidak sanggup menerima jawaban Alan.
"Bukankah itu akan lebih menggampangkan?" Tatapan Darrel beralih pada Ano." Maksud ku, em tanpa aturan." Senyum mengembang terlihat. Darrel membenarkan ucapan Ano. Jika kedua orang tuanya tidak ada di tempat, dia bebas melindungi Ella tanpa kendala.
"Ya itu benar." Darrel mengeratkan genggaman tangannya. Dia tidak sadar jika sejak tadi Ella menuntut jawaban.
"Maksudnya bagaimana Kak?"
"Kamu bertanya apa?" Darrel melanjutkan langkah, karena kelas di mulai sepuluh menit lagi.
"Masalah ini akan semakin rumit. Aku takut terjadi sesuatu nantinya. Bukankah ka...."
"Syyyyuuuuuttttttssss.. Kalau aku sudah mengambil alih urusan, berarti aku serius." Jawab Darrel cepat.
"Ya. Em lalu Bu Naysila? Kenapa kamu menyebut nya Mama dan kenapa..."
"Mereka kedua orang tuaku." Jawab Darrel pelan seraya berhenti. Tangan kirinya terangkat lalu memberikan isyarat Ella untuk diam." Ini rahasia. Aku berjanji akan melindungi mu dari lelaki itu." Kini tangan itu beralih pada pipi kiri Ella dan mengusapnya lembut. Sungguh sensasi yang luar biasa sebab getaran langsung bergejolak di hatinya.
"Jadi kamu bukan."
"Di larang bicara. Nanti ku jelaskan sepulang kuliah." Ella tersenyum canggung. Berusaha tidak banyak bicara setelah keduanya mencapai kelas.
Tangan yang saling terpaut langsung menjadi sorotan, terutama Agatha yang sejak tadi menatap keduanya tajam. Sulit bagi para gadis bisa bersentuhan dengan Darrel walaupun status pacar pernah mereka sandang.
Darrel bukan seorang lelaki dingin. Tapi dia juga jarang melakukan sentuhan fisik ketika sedang berpacaran. Hanya beberapa kali bergandengan itupun tidak terlalu erat. Jemari si gadis cenderung lebih agresif sehingga penampakan di hadapannya langsung membuat Agatha panas dada.
"Katanya tidak berpacaran?! Kenapa kalian kelihatan mesra sekali." Tegur Agatha tanpa rasa malu. Dia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri keduanya.
πΉπΉπΉ
Minta dukungannya agar cerita ini terus berlanjutπ₯° terimakasih β€οΈπΉ
__ADS_1