
Ella berniat pergi setelah penolakan yang di lontarkan Nay. Sungguh dia tidak ingin merusak hubungan antara anak dan seorang Ibu.
Namun tentu saja kepergiannya tidak di biarkan. Darrel mengiringnya menuju motor meski dengan sedikit pemaksaan. Ella enggan naik, berdiri memunggungi bahkan memalingkan wajah.
"Tetap bersama adalah pilihan yang tepat." Ella menghela nafas panjang. Hatinya bergemuruh hebat karena sedikit merasa tersinggung.
"Aku lelah tersandung masalah. Ingin hidup bebas tapi kau tidak tulus menolong ku! Kau membawaku pada posisi ini." Darrel mengangkat tubuh Ella lalu mendudukkannya di atas motor. Wajah itu masih berusaha berpaling sehingga sikap itu membuat Darrel sangat frustasi.
"Kamu bisa dapatkan itu. Sudah ku katakan jika ini akan jadi masalah ku."
"Mana bisa. Kau melibatkan ku." Jawab Ella cepat." Biarkan aku pergi. Keluar kota atau kemanapun asal aku terhindar dari lelaki itu dan masalah." Darrel tidak bergeming, dia naik motor seraya memegangi kedua jemari Ella lalu memaksanya untuk melingkar di pinggang." Kita memang berbeda Kak. Aku sudah sadar diri sejak awal. Mana mungkin kamu dengan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu." Ella menyaksikan sendiri ketika Darrel menopang semua biaya yang di butuhkan mini market sampai bisa kembali berjalan baik. Hampir setengah miliar lebih namun Darrel terlihat tidak keberatan dan cenderung biasa saja. Dia bahkan menyuruh Ella untuk tidak memikirkan bantuan darinya.
"Aku tidak dengar."
"Kau memang menyebalkan. Kau memaksa ku!" Darrel melajukan motornya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan tubuh Ella agar tidak kabur.
"Itu bentuk perasaan ku."
"Kau egois!"
"Aku tidak perduli kamu menyebut ku apa. Kita akan tetap bersama meski itu berarti aku harus menentang kedua orang tuaku." Apa yang terjadi dengan Mama. Sejak kapan dia bersikap seperti itu.
Ternyata Darrel masih memikirkan sikap ganjil yang di tunjukkan Nay. Biasanya sosok itu kerapkali membela apapun yang menjadi keputusannya. Sungguh Darrel merasa terbebani akan pilihan yang terasa berat. Dia takut melukai hati Nay tapi tidak ingin kehilangan Ella.
"Melawan orang tua akan buruk untuk hidup mu kedepannya." Ella berusaha menyadarkan Darrel. Namun isi hatinya berkata lain dan ingin Darrel senantiasa bersamanya. Kenapa harus begini. Aku fikir Bu Naysila akan merestui tapi...
Selayaknya Darrel, Ella juga merasa kecewa akan sikap Nay yang tatapannya seakan menganggapnya rendah.
"Tetap bersama. Kamu tidak mengerti hukum yang berjalan di keluarga ku." Mama sudah banyak menghabisi nyawa beberapa wanita. Dia tadi marah dan apa itu berarti nyawa Ella terancam.
Darrel mulai memikirkan kemungkinan terburuk. Nay sedikit tidak waras jika bertindak. Beberapa wanita kerapkali di siksa dengan cara tidak manusiawi.
__ADS_1
"Hukum apa?" Darrel memarkir motornya di bahu jalan sebuah jembatan. Dia turun sementara Ella masih duduk di atas motor. Kegalauan terpatri pada mimik wajahnya sehingga membuat Ella merasa iba.
Tidak dapat di pungkiri jika lelaki berparas tampan yang selama beberapa hari bersama. Sangat membuatnya nyaman sampai-sampai terkadang dirinya melupakan batasan. Sungguh ini kali pertama dia menunjukkan sikap manjanya pada seorang lelaki yang tidak punya hubungan sedarah.
"Aku bingung menjelaskannya padamu." Ella tidak bergeming dan hanya menatap Darrel dari tempatnya." Keluargaku bukan seperti keluarga lain. Itu kenapa Papa menyembunyikan status ku agar para musuh tidak terlalu menganggu." Ella yang mulai penasaran. Turun dari motor dan berdiri di hadapan Darrel.
"Musuh? Memangnya keluarga mu punya usaha ilegal." Darrel tersenyum. Tangannya terangkat lalu memberi usapan lembut pada pipi Ella.
"Poros nya ada pada Papa ku."
"Jangan berbelit-belit Kak, aku bingung."
"Apa kamu pernah mendengar kata Mafia?" Ella mengambil ponselnya lalu mengetik kata yang di sebutkan Darrel. Matanya melebar ketika dia membaca keterangan dari internet.
"Jadi Papamu mempelopori adanya kejahatan?" Darrel mengangguk sebab membenarkan hal tersebut." Ketua dari kejahatan?" Imbuh Ella penasaran.
"Kurang lebihnya. Hanya saja terkadang Papa masih punya sedikit belas kasih pada masyarakat kalangan kelas bawah. Mereka menghukum berat para anak buah kalau sampai melukai masyarakat tidak bersalah. Papa juga yang melancarkan bisnis penggelapan senjata api juga bisnis ilegal lain. Asal ada uang, pasti akan di berikan perlindungan."
"Musuh mereka sangat banyak sebab terkadang Papa merebut perusahaan dengan cara curang. Dia benci di khianati sementara sangat banyak manusia bermuka dua di dunia ini."
Darrel meraih kedua tangan Ella yang sepertinya hendak menjauh. Dia mengiring Ella untuk memeluknya.
"Tapi tenang saja. Orang tuaku masih punya hati untuk orang jujur dan membutuhkan pertolongan." Darrel tidak perduli ketika Ella berusaha melepaskan diri. Dia ingin Ella tahu akan jati dirinya.
"Tolong Kak. Masalahku sudah sangat banyak. Aku tidak mau terlibat dengan kejahatan."
"Sudah terlanjur. Kamu sudah berhasil menghuni hatiku. Mana mungkin aku melepas mu."
"Aku mohon Kak."
"Masalah mu sudah bertambah besar sebab kamu sudah bertemu dengan Mama. Dia bukan wanita sembarangan dan tidak segan-segan menghabisi siapapun yang di anggap penghalang." Tentu saja Ella semakin ketakutan ketika Darrel menjelaskan perihal Nay.
__ADS_1
"Apa maksudmu Ibu Naysila sekarang memburu ku."
"Bisa jadi begitu. Kita harus tetap bersama. Aku berjanji memilih mati daripada harus melepaskan mu." Meski takut tapi nyatanya perasaan Ella sedikit tenang ketika Darrel berkata demikian. Kegarangan yang kerapkali di perlihatkan menunjukkan jiwa penyiksa dominan pada sosok Darrel.
"Tapi Kak."
"Percuma kabur. Keluargaku dan Prapto sedang memburu mu." Ella menghela nafas panjang. Percuma melawan sebab Darrel tidak mungkin mau melepaskannya. Dia juga tidak mau tertangkap Prapto apalagi di paksa untuk menikah.
"Tapi kamu harus berjanji tidak menyerahkan ku pada mereka." Darrel mengeratkan pelukannya sambil menghirup kuat puncak kepala Ella. Jawaban yang di dengar sangat membuatnya bersemangat.
"Tentu saja. Mereka tidak bisa menyentuh mu selama aku masih bernafas." Sambil berkata demikian, Darrel mencoba menghubungi kontak Ano yang ternyata sudah di alihkan. Terselip sebuah tebakan, Kai memerintahkan agar pengawalan tidak lagi di lakukan. Jika benar, itu berarti Darrel hanya sendiri. Apa mereka setega itu??
Sementara Alan yang tengah berdiri tegak di depan Nay, tidak habis fikir mendengar sebuah permintaan gila. Dia di tuntut berpura-pura memburu Darrel dan Ella sebagai pelatihan. Biasanya permintaan gila bisa di batalkan ketika Kai yang melontarkan. Tapi ini merupakan keinginan si pengendali sehingga Alan enggan menolak.
"Kekuasaan ku akan ku berikan kalau Darrel berhasil melewati ini." Ujar Kai menimpali. Meski begitu Alan merasa keberatan sebab dirinya sangat menyanyangi Darrel.
"Saya sudah memberitahu Ano tapi.. Apa tidak ada jalan lain." Kai tersenyum simpul begitupun Nay.
"Aku pernah di bantai sampai hampir tewas lalu kau menginginkan Darrel menjadi anak manja dengan mengandalkan pengawalan??!! Ini semua demi dia juga masa depannya."
"Darrel sudah cukup terlatih Tuan. Saya tidak tega berbuat itu. Meskipun kita bukan saudara kandung tapi saya menganggap Darrel sebagai keponakan saya sendiri."
"Kau tahu Al. Tidak selamanya kita bisa melindunginya. Lakukan perintah ku dan jangan berprotes." Alan mengangguk patuh ketika titah Nay di lontarkan. Dia melangkah pergi seraya menghubungi kontak Ano dan memerintahkannya untuk memburu Darrel.
Boleh berbuat apapun asal jangan sampai tewas. Apa aku bisa. Aku sangat menyanyangi anak itu. Tapi Ibu Naysila benar. Kekuasaan besar Tuan membutuhkan pewaris yang kuat mental juga tenaga. Semoga kamu bisa melewatinya Darrel. Aku yakin kamu sudah layak..
🌹🌹🌹
Maaf typo bertebaran🙏
Terimakasih dukungannya🌹❤️
__ADS_1