
Watak Ella ternyata begitu keras. Dia memutuskan untuk berdiam diri di kamar dan tidak perduli pada perkataan Alan. Padahal pesta bukan sepenuhnya di siapkan untuk Darrel tapi untuk Ella juga.
Namun yang terjadi tentu saja sedikit membuat para pemain film kecewa. Target malah bermain game di kamar sementara mereka harus tetap berakting karena adanya Darrel.
Di mana Ella? Kenapa tidak keluar juga?
"Terus keputusannya?" Tanya Darrel lantang. Merasa tidak sabar, ingin segera menyusul Ella dan merajuknya. Meski menolak, nyatanya Darrel tidak mau mempermalukan keluarganya dengan berpura-pura menerima.
"Gagal!" Umpat Nay sambil mendongak ke atas. Kamar Ella tampak sunyi. Lampunya pun terlihat redup.
"Apa yang gagal?!" Kai menghela nafas panjang. Dia tidak mengerti kenapa Nay malah mengumpat begitu keras nan lantang.
Apa akan ada perubahan rencana? Batin Kai bertanya-tanya.
"Alan kemana Ella?" Teriak Nay lantang. Para tamu saling melihat satu sama lain. Tidak angkat bicara karena takut salah berucap.
"Ada di kamar. Dia tidak keluar sejak tadi."
Darrel mengambil ponselnya lalu menunjukkan aktivitas yang di lakukan. Tampak jelas Ella menatap layar ponsel dengan antusias sebab saat ini permainan game sedang berlangsung.
"Sedang apa dia?" Darrel tersenyum simpul.
"Bermain game."
"Oh astaga." Nay mencengkram erat kepalanya yang memanas.
"Aku tidak paham. Kenapa ekspresi mu seperti itu Ma." Tentu saja Darrel melontarkan pertanyaan tersebut. Bukankah seharusnya pembicaraan di lanjutkan sebab Ella tidak berperan apapun dalam perjodohan tersebut.
"Ayolah Baby. Apa kamu akan menghancurkan rencana mu sendiri." Ucap Kai menimpali.
"Anak itu lugu tapi pembangkang dan tidak peka." Para tamu belum bisa berekspresi. mereka takut salah melangkah dan masih menunggu Nay memutuskan. Sandiwara di lanjutkan atau tidak.
"Aku." Darrel menunjuk dadanya.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian pulang. Bawa makanan ini bersama kalian. Acara selesai!"
Kegilaan Nay tampak. Bukan hanya keji dan berjiwa psikopat. Tapi terkadang Nay selalu menghancurkan rencananya sendiri dengan tambahan rencana baru tentunya. Para orang suruhan terlihat pulang namun tidak untuk Ana.
"Apa ini?" Gumam Darrel pelan. Sangat aneh terlihat ketika Nay mengusir calon besan dan keluarga padahal tadi mereka sangat di hormati." Siapa Ana." Menunjuk ke arah Ana.
"Mama merasa terhina Darrel!"
"Aku tidak tahu Ma. Tolong jelaskan."
"Ella. Bagaimana mungkin dia malah bermain game?!" Menyentuh dada Darrel mengunakan ujung telunjuk.
"Sebentar. Aku masih bingung."
Setelah menghela nafas panjang, Nay menjelaskan tentang rencana yang awalnya di tujukan untuk Darrel dan Ella. Tapi setelah mengetahui kenyataan tadi membuat Nay merasa jika rencananya berjalan sia-sia.
Ella memang menyukai Darrel namun belum mampu berjuang selayaknya wanita dewasa pada umumnya. Ella cenderung menerima walaupun nantinya dia akan menangis darah. Tidak setuju tapi bingung harus berbuat apa sehingga Ella malah memutuskan untuk bermain game.
Sebuah sikap yang mampu mengoyak emosi juga rasa tidak sabar. Apalagi sebenarnya Nay begitu ingin Ella segera menyukai Darrel.
Darrel bahkan mempelopori sikap tersebut karena dirinya ingin Ella bergantung padanya. Tidak bisa hidup tanpanya agar tak ada hati lain yang Ella jadikan tempat persinggahan nantinya.
"Rencana di ubah!" Kai membuang nafas kasar kemudian berdiri.
"Nikahkan mereka saja."
"Tidak Mas! Keterpaksaan dalam pernikahan akan membawa dampak buruk pada psikologi Ella." Darrel terkejut. Tidak percaya dengan apa yang di dengar sekarang." Aku ingin mereka menikah dengan cinta bukan rasa terpaksa dan itu kenapa perasaan Ella wajib di dongkrak." Imbuhnya ketus.
"Dia akan terbiasa. Seperti kamu dulu."
"Sejak awal aku menganggap Ella anakku! Mana mungkin aku memaksanya berada di situasi tidak nyaman. Dia baru terlepas dari hidup terkekang dan sekarang kita memaksanya menikah? Aku tidak mau!" Alan terduduk lemah. Mengambil satu gelas sirup dingin lalu meneguknya. Dia melirik sebentar ke arah Ana yang tidak di ketahui identitas aslinya.
"Tolong perjelas lagi."
__ADS_1
Nay kembali menjelaskan dengan lebih detail. Tentu saja Darrel bernafas lega mendengar hal tersebut. Dia tahu jika perasaan Ella belum sebesar perasaannya. Tapi paling tidak, perjodohan hanyalah rencana untuk membuat Ella cemburu.
"Wajar Ma. Dia masih anak-anak apalagi kehidupannya dulu terkekang."
"Ya. Tapi Mama ingin Ella segera mengakui rasa."
"Mama lihat sendiri kan. Dia malah bermain game." Sampai detik ini, Darrel masih saja memantau Ella lewat alat penyadap yang ada di ponsel." Itu karena dia masih belia. Yang ada di otaknya hanya game dan makan." Nay menddesah. Kenyataan tersebut membuatnya kesal.
"Lantas bagaimana? Pokoknya Mama ingin Ella meminta dan memohon untuk menjadi Istri mu di hadapan Mama." Darrel terdiam sesaat sambil memikirkan ide agar keinginan Nay terpenuhi. Tidak masalah baginya. Asal semua rencana di tujukan untuk kebaikan hubungan antara dia dan Ella.
Sementara sang target malah beberapa kali mengumpat karena kekalahan pada game. Cara yang di pilih sangat membantu sampai-sampai Ella melupakan perasaannya pada Darrel.
Maniknya tidak terlepas dari layar ponsel hingga pintu kamarnya terbuka. Segera saja Ella meletakkan ponselnya dalam keadaan online dan bergegas berdiri menyambut Nay.
"Maaf Ma tadi gaunnya terkena air jadi aku memutuskan untuk di sini." Ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa sayang. Itu juga bukan acara mu tapi Darrel. Em dia sedang mengantar Ana pulang." Terdengar hembusan nafas berat di sertai senyum canggung.
"Em syukurlah." Padahal tadi sudah ku lupakan tapi Mama Nay kembali membuat ku memikirkan itu.
"Mama ada permintaan." Nay duduk di ikuti Ella. Beberapa menit terdiam sebelum akhirnya Nay memulai pembicaraan." Mama minta kamu jangan terlalu bergantung pada Darrel. Mama takut kalau nantinya Ana merasa cemburu. Tidak masalah jika kamu bergantung ketika Ana tidak ada. Tapi kalau Ana ada di sekitar kalian.. Em jaga jarak ya sayang.. Mama sangat menyukai Ana. Mereka cocok." Ella mengangguk seakan paham. Padahal di hatinya tengah berkobar rasa cemburu.
"Ya Ma."
"Anak pintar." Nay mengusap puncak kepala Ella sambil menatapnya hangat." Kalau nanti kamu siap menikah, Mama juga akan mencarikan jodoh untuk mu seperti Darrel." Ingin rasanya Ella menangis, berteriak juga memberontak. Dia tidak ingin kehilangan perhatian Darrel. Ella sudah sangat nyaman sampai-sampai ketika Darrel di dekatnya. Tidak ada beban sedikitpun.
Darrel juga berhasil membuat Ella dengan mudah melupakan kesakitan masa lalu dan sekarang sosok candunya akan bersanding bersama gadis lain. Sungguh, hati Ella seakan tertusuk belati tajam.
"Jadi Kak Darrel..." Ucapnya tertahan. Maniknya terlihat berkaca-kaca, menatap ke layar ponsel yang tampak menyala.
Sebuah panggilan telepon membuat game terhenti dengan sendirinya. Ella menggeser bokongnya sambil mencondongkan tubuhnya. Melihat jelas nama Darrel tertera di layar. Ella memalingkan wajah lalu berbaring. Tidak berniat melihat apalagi untuk menerima panggilan tersebut.
Kak Darrel memang tidak bisa di percaya. Katanya tidak akan menikah dengan gadis lain tapi pertunangan sudah di rencanakan. Bagaimana sih? Dasar plin-plan. Aku tidak mau bertemu dengan nya lagi!! Aku menunggunya. Dia malah asyik bersama Ana...
__ADS_1
Ella beranjak lalu menggeser ponselnya sampai terjatuh ke bawah. Dia berjalan menuju ranjang dan berbaring. Seluruh tubuhnya di tutupi selimut berusaha tidur lebih awal. Tapi apa bisa jika tanpa sebuah usapan lembut pada kaki?
๐น๐น๐น