
Nay menatap tajam ke arah Darrel yang tengah duduk di hadapannya. Seakan tidak percaya, dia menolak serta merta alasan yang di lontarkan Darrel perihal tanda tangan Pak Ikhsan.
Ella sendiri lebih memilih diam. Dia masih kesal mengingat adegan ketika Darrel memperhatikan Ana berlama-lama. Sudah berkali-kali perasaan menganggu mencoba di lupakan namun nyatanya sampai saat ini Ella merasa tidak rela.
"Kamu paham konsekuensinya." Darrel menghembuskan nafas berat sambil mencengkram erat kepalanya. Maniknya melirik ke arah Ella yang seakan tidak perduli.
"Aku tidak membolos Ma. Catatan ku sedang di pinjam anak baru itu." Darrel berharap Ella melontarkan pembelaan untuknya.
"Kenapa tidak di ambil. Kamu fikir hukuman itu main-main?"
"Besok akan ku ambil. Anak-anak kehilangan jejak gadis itu."
"Kamu mau membodohi Mama? Besok kamu akan memalsukan tanda tangan agar kau terlepas dari hukuman." Sengaja Nay mengeraskan suaranya agar Ella tersadar dari lamunannya. Namun suara itu tidak mampu membuat Ella angkat bicara.
"Hei." Darrel mengusap-usap puncak kepala Ella.
"Apa Kak."
"Bilang pada Mama kalau tadi aku tidak membolos." Nay terkekeh dalam hati. Dia paham kenapa Ella kehilangan fokus sementara Darrel di buat bingung mencari alasan.
"Ya Ma. Dia memberikan catatan itu pada anak baru di kampus. Em namanya Ana. Dia cantik dan juga dewasa. Tapi..." Ella menoleh ke arah Darrel sebentar kemudian berpaling." Itu kesalahan Kak Darrel sendiri. Dia terlalu terpesona sampai-sampai memberikan bukti terpenting." Imbuh Ella asal bicara.
"Terpesona.. Hahaha kamu berkata apa?" Sahut Darrel menyangkal." Bukankah kamu yang memberikan catatan itu?" Ucapan tersebut bukanlah tuduhan. Ella bahkan ingat jika dia sendiri yang memberikan buku milik Darrel pada Ana.
"Kamu menyalahkan ku Kak?"
"Tolong ingat dengan baik. Kamu yang memberikan buku catatan milik ku."
"Hm seharusnya kamu melarang ku dan mengambil buku tersebut." Jawab Ella malah memutar kesalahan. Nay melipat kedua tangannya sambil melihat perdebatan di hadapannya.
"Apa yang terjadi dengan mu." Tentu saja Darrel merasa semakin asing dengan sikap Ella.
"Kamu harus fokus Kak. Jangan gampang teralihkan hanya karena pemandangan yang terlalu indah." Bersamaan dengan itu, Kai baru saja turun." Jangan libatkan aku dan urus masalah mu sendiri." Ella berdiri kemudian berlari kecil menaiki anak tangga. Darrel hendak menyusul namun Nay mencegah.
"Melirik siapa lagi?" Tanya Kai sambil bersandar.
"Ini salah faham Pa."
"Kami mengenal mu Darrel."
"Hm. Mama lebih percaya pada perkataan Ella. Siapa gadis itu?" Darrel tertawa kecil. Sungguh dia merasa aneh atas apa yang terjadi sejak tadi pagi." Ano, tolong jelaskan." Tanya Nay tegas.
"Ada anak baru bernama Ana. Tapi Tuan berkata apa adanya." Nay tersenyum seraya mengangguk.
"Cantik?"
"Iya Bu Naysila." Jawab Ano cepat.
"Ya sudah. Mama minta kamu kosongkan jadwal untuk malam ini. Jangan berpergian karena ada tamu penting." Nay berdiri di ikuti oleh Kai.
__ADS_1
"Siapa?"
"Kamu tidak perlu tahu sayang. Mama pergi sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan dan menghadiri pertemuan. Jangan lupa ajak Adikmu makan siang." Belum sempat Darrel melontarkan pertanyaan lagi, Nay dan Kai sudah berjalan pergi meninggalkannya.
Darrel menatap lemah sambil menyandarkan punggungnya. Dia merasa terbebani atas sikap aneh yang di tunjukkan Ella sejak tadi pagi.
"Kau tahu apa rencana Mama?" Tanya Darrel pelan.
"Saya tidak tahu."
"Oh astaga. Apa yang terjadi dengan Daella. Kenapa dia menguras emosi sejak tadi pagi." Eluh Darrel menatap ke langit-langit ruangan.
"Apa mungkin Nona cemburu?" Bergegas saja Darrel menegakkan posisi duduknya. Dia merasa antusias, tentu saja.
"Cemburu? Mana mungkin anak kecil itu tahu soal cemburu? Biasanya dia memikirkan game dan game."
"Iya Tuan. Nona Ella memang masih sangat polos. Tapi mungkin tebakan saya benar. Sepertinya dia merasa kesal semenjak Tuan bertemu Ana."
Senyum Darrel seketika mengembang. Tebakan yang di lontarkan Ano membuatnya sangat bahagia. Dia ingin Ella segera mengakui rasa agar mereka bisa menguatkan satu sama lain.
"Sebaiknya kamu pulang. Aku ingin menemui nya."
Darrel beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menaiki anak tangga. Dia bergegas menuju kamar Ella dan langsung menerobos masuk.
"Kamu sedang apa?" Darrel duduk di sisi Ella yang terlihat tengah bermain game." Katanya mau ke mini market." Ella menggeleng kepalanya." Kamu marah gara-gara Ana?" Sontak Ella menghela nafas panjang. Dia meletakkan ponsel walaupun pertandingan sedang berlangsung.
"Pertanyaan macam apa itu Kak."
"Sebaiknya Kak Darrel pergi. Aku ingin main game." Jawab Ella berusaha menghindari pertanyaan.
"Aku familiar dengan suaranya. Itu saja. Tujuan ku tetap sama. Kita menikah dan..." Ucapan Darrel tertahan ketika Ella mendorong tubuhnya kasar. Beruntung punggungnya hanya membentur pinggiran sofa dan tidak sampai terjungkal.
"Lelaki seperti mu pasti punya 1001 alasan."
"Kamu cemburu." Dengan gerakan cepat, Darrel duduk tegak lalu meraih pinggang Ella yang berniat berdiri.
"Apa sih Kak. Lepaskan. Terserah kalau kamu menyukai gadis manapun. Kita memang hanya sebatas saudara angkat."
"Aku memanggilmu Daella." Ella terdiam, membiarkan Darrel merengkuh lembut tubuhnya." Gelar itu akan ada di belakang nama anak-anak kita kelak." Imbuhnya merajuk.
"Kamu sedang berkhayal. Mama bahkan akan menjodohkan mu." Ella menyentuh dahi Darrel mengunakan ujung telunjuk nya.
"Itu kenapa kita harus berkerja sama. Jangan sampai membuat Mama marah. Aku yakin hati Mama akan luluh. Dia tidak seburuk kelihatannya. Mama ku sangat baik kalau sudah percaya pada seseorang."
"Hm beliau baik." Ella mengambil ponselnya tanpa perduli pada lengan Darrel yang masih melingkar di pinggang. Rasa nyaman sepenuhnya sudah di kendalikan Darrel, sehingga kedekatan mereka seakan tanpa celah. Seperti seorang Ayah atau seorang Kakak? Yang pasti Darrel mampu membuat Ella merasa nyaman.
"Makan dulu. Letakkan ponselmu." Darrel mengambil ponsel Ella lalu mematikannya.
"Sepertinya aku bermain game saja."
__ADS_1
"Tidak. Nanti Mama marah." Darrel berdiri seraya mengulurkan tangannya yang tak langsung di sambut.
"Aku masih kenyang. Sungguh."
"Bukan kenyang tapi kesal. Aku berjanji tidak akan menatap gadis manapun kalau memang kamu tidak nyaman." Lagi lagi Ella mengingat kembali kejadian yang menurutnya memuakkan.
"Nyaman. Aku tidak bilang begitu."
"Terlalu lama Daella." Darrel memaksa Ella berdiri lalu mengiringnya keluar kamar. Terdengar celotehan keluar dari bibir Ella sampai keduanya mencapai ruang makan.
Berbeda dengan sikap Kai yang cenderung kaku. Darrel malah senantiasa menunjukkan perhatian yang berbalut pemaksaan. Dia tidak segan-segan menyuapi atau bahkan rela mengalah hanya untuk menjaga perasaan Ella.
Dari layar ponsel, tampak jelas kegiatan keduanya. Nay tersenyum simpul sambil terus melontarkan pujian pada putera semata wayangnya atas sikap yang di tunjukkan.
"Darrel sangat penyayang." Kai menghela nafas panjang dan fokus menatap depan.
"Aku juga sangat menyayangimu." Jawab Kai cepat.
"Tapi dia tidak kaku seperti mu sayang."
"Itu tidak bisa Baby. Aku..."
"Tenanglah. Aku sangat mencintaimu walaupun sikapmu seperti kanebo kering." Lagi lagi dessahan panjang lolos. Kai kerapkali di bandingkan dengan sosok Darrel.
Ciiiiiiiiiiiitttttttttttt!!!!!
Alan terpaksa membanting setir ketika seorang wanita paruh baya menghadang jalan. Cepat-cepat Alan keluar mobil, dia berniat memaki-maki si wanita atas keteledorannya.
"Aduh Bu. Untung tidak menabrak." Ujar Alan seketika emosinya runtuh ketika melihat anak kecil yang sedang wanita itu gendong. Di sampingnya juga ada anak berumur sekitar 7 tahun lengkap dengan seragam sekolah dasar.
"Ini mobil pemilik Xu grup? Tolong pertemukan saya dengan beliau. Saya sudah menunggu di pintu gerbang sejak tadi pagi. Saya ingin bertemu dengan pemilik Xu grup untuk menanyakan di mana Suami saya." Jawabnya terbata sambil menangis terisak.
"Suami Ibu berkerja di Xu grup."
"Bukan Tuan. Dia scurity di sebuah tempat wisata pemandian umum."
"Anda salah orang Bu. Tuan saya bukan pemilik pemandian tersebut."
"Tapi Suami saya menulis ini dan meminta saya untuk datang kalau seandainya dia tidak pulang. Tolong saya Tuan. Anak-anak saya juga mengharapkan Ayahnya kembali." Alan membaca secarik kertas yang ada di tangannya. Tidak ada nama tertera, hanya tertulis alamat lengkap Xu group.
"Maaf Bu. Em Tuan saya sedang terburu-buru. Mungkin lain kali saya akan menyelidiki kasus ini." Alan kerapkali menunjukkan sikap ramah jika dia di hadapkan dengan masyarakat menengah kebawah terutama orang yang sudah berumur.
"Tolong saya... Kasihan anak saya. Kami hanya ingin..."
"Ada apa Al?" Tap!!! Berbeda dengan Nay, terlihat Kai menunjukkan wajah garang.
"Itu Bu ada..."
"Masuk Al!" Pinta Kai berteriak.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" Nay melirik malas ke arah Kai sebentar. Lalu berjalan menghampiri wanita paruh baya berserta kedua anaknya. Rupanya keduanya sudah berdebat di dalam mobil. Kai mencegah Nay ikut campur sementara Nay tentu merasa iba pada kedua anak si wanita yang terlihat memancarkan kesedihan.
๐น๐น๐น