Cinderella dan Calon Ketua Mafia

Cinderella dan Calon Ketua Mafia
Bagian 27


__ADS_3

Di sebuah jalan sepi, Darrel mematikan mesin motor. Ella lebih dulu turun di ikuti olehnya. Punggung belakang di sandarkan pada body motor sambil bergaya santai menunggu mobil kacung Prapto sampai.


Selang beberapa detik, mobil target terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tiga orang berbadan besar keluar dari sana, Darrel melirik sejenak pada pinggang. Dan benar, sebuah senjata api terselip di sana.


"Kami mohon serahkan Nona atau kami..." Dupppp!!! Dengan gerakan cepat Darrel membidik salah satu dari mereka dan mengarahkan senjata api pada dua lainnya.


"Utusan dari mana?!" Teriak Darrel lantang. Ella malah tersenyum dan kembali terkesima melihat aksi yang terjadi. Takut? Tentu tidak. Keburukan sudah merubah pola fikirnya.


"Pak Prapto." Jawab mereka terbata sambil melirik ke arah rekannya yang bersimbah darah.


"Kalian bukan lawanku! Pergi atau ku lubangi tengkorak kepala kalian!!" Darrel tersenyum simpul ketika menyadari tubuh kedua kacung bergetar. Sudah pasti mereka hanya orang baru yang ingin mendapatkan uang secara instan.


Bergegas saja keduanya pergi setelah mengetahui kenyataan jika lawan mereka bukan orang sembarangan. Terang saja, sejak dini Darrel sudah terlatih memegang senjata api juga di bekali skill bela diri sehingga sulit untuk menumbangkannya.


"Payah!" Darrel menyimpan kembali kedua senjata api. Motor Ano mendekat juga satu mobil lainnya. Mereka bertugas membersihkan jejak pembunuhan.


"Ya Kak. Kenapa sebentar sekali." Sahut Ella menimpali.


"Mereka bukan tandingan.. Em Tuan Darrel."


"Oh Tuan. Berati tidak ada perkerjaan mata-mata?" Darrel tersenyum simpul mendengar Ella memotong pembicaraan Ano.


"Niatku hanya kuliah dan mengamankan area kampus. Salah satu pelatihan agar aku bisa lebih kuat."


"Apa sesama orang kaya juga saling membunuh sampai kamu harus melatih ketangkasan." Tapi Kak Darrel keren sekali. Puji Ella dalam hati.


"Papa bukan orang sembarangan. Yang terpenting, ini rahasia. Jangan pernah membahas status sosial ketika berada di muka umum." Ella mengangguk. Kini dirinya tahu jika lelaki yang menolongnya punya kekuasaan cukup kuat untuk melawan Prapto.


"Itu hal mudah Kak. Bantuan darimu sangat ku butuhkan dan ku harapkan sejak dulu. Kak Arya sudah berniat meminta bantuan tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan." Rasanya beban sedikit terlepas. Ella merasa aman mengetahui status sosial Darrel, meski untuk dunia Mafia, dia tidak tahu menahu.


"Meminta bantuan pada siapa?"


"Tidak tahu. Katanya orang itu sangat berpengaruh dan punya kekuasaan. Tapi.. Sulit di temui."


Apa maksudnya Papa? Kalau memang iya. Apa pertemuan ini atas rencana Tuhan.


"Sebaiknya kita kembali Kak. Aku tidak mau membolos dan ingin lulus sesuai keinginan Ayah." Nada bicara Ella terdengar lebih sopan dan lembut dari sebelumnya. Dia ingin menghormati Darrel yang memiliki kasta jauh di atasnya. Semoga kekuasaan Ibu Naysila lebih tinggi daripada lelaki itu. Terimakasih Ayah. Aku tahu kamu yang sudah meminta pada Tuhan untuk mengirimkan bantuan. Semoga setelah ini aku bisa terlepas dari masalah dan hidup dengan normal.


Bayangan mengembangkan mini market terlintas. Sejak dulu Ella ingin memakmurkan hidup segelintir karyawan yang selama ini berada di bawah tekanan.

__ADS_1


Lena menurunkan gaji awal, itupun tidak pernah di bayarkan dengan rutin. Bagaimana Ella tidak terbebani kalau nyatanya para karyawan sudah mengabdikan tenaga dari saat mini market berbentuk toko biasa. Seharusnya gaji mereka naik, bukan malah turun dan tidak di perlakukan adil.


"Uang kuliah mu dari mana?" Tanya Darrel seraya naik motornya.


"Sudah di urus Kak Arya. Itu satu-satunya dana yang tidak bisa di ganggu gugat." Ella naik ke boncengan sambil memegang pundak Darrel karena tubuhnya yang cenderung pendek.


"Aku tidak sabar melihat mini market mu."


"Mungkin untuk Kak Darrel hanya toko kelontong kecil." Darrel tersenyum dan mulai melajukan motornya pelan.


"Hal hebat berasal dari sesuatu yang kecil. Bisa saja besok kamu bisa mengembangkan usaha itu sampai punya banyak cabang."


"Semoga bisa seperti itu Kak. Aku ingin kuliah dan lulus dengan nilai terbaik. Agar nantinya bisa mengembangkan mini market sesuai keinginan Ayah." Sesekali Darrel memperhatikan Ella dari spion motor. Senang rasanya bisa melihat Ella bercerita dengan sangat antusias.


Jantung ku berdebar-debar lagi. Apa karena dia sangat cantik atau aku punya rasa padanya?


"Bagaimana kalau kita berkerja sama. Aku tanamkan saham agar usaha itu bisa berkembang." Kini Ella membalas tatapan Darrel.


"Serius Kak?"


"Ya. Tabungan ku cukup banyak."


"Pasti rugi."


"Hm ya. Lebih baik di fikirkan lagi Kak."


"Hal biasa dalam berbisnis. Kadang satu kegagalan akan jadi kunci untuk keberhasilan." Jawab Darrel menyemangati. Sungguh dia melihat pemikiran yang berbeda dari Ella. Sebagian besar gadis yang di kenal, hanya bisa menghamburkan uang tanpa tahu bagaimana sulit mendapatkannya.


"Entahlah Kak. Bantuan nanti siang sudah sangat cukup." Nyali Ella seketika menciut. Dia tidak mau merugikan Darrel lebih banyak lagi.


"Kalau tidak berani melangkah jangan pernah memulai. Papa selalu berkata begitu padaku." Ini juga yang sedang ku lakukan. Apapun akibatnya, aku akan membicarakan ketertarikan ku pada Ella ke Mama. Paling tidak dia berada di dekatku. Menjadi Adik pun...


Tiba-tiba terlintas sebuah ide. Darrel akan mengakui Ella sebagai Adiknya agar Nay tidak curiga padanya. Dia masih membutuhkan waktu untuk yakin akan perasaannya. Apa ketertarikan hanya bersifat sementara atau permanen.


"Aku masih tidak tahu apa-apa Kak."


"Sesuai panggilan. Anggap aku sebagai Kakak mu bukan orang lain."


"Kamu memang Kakak senior ku."

__ADS_1


"Bukan. Maksud ku saudara angkat. Akan ku bicarakan ini kalau nanti Mama dan Papa pulang." Ella tersenyum canggung. Dia merasa tidak pantas.


"Tidak perlu Kak. Lepaskan aku dari jeratan lelaki itu dan kamu bisa bebas begitupun aku." Darrel membuang nafas kasar bersamaan dengan berhentinya laju motor. Tak terasa keduanya tiba di kampus.


"Mana bisa. Kalau kamu sudah berhubungan dengan ku, ceritanya akan lain."


"Aku tidak mengerti apa maksud dari Kak Darrel."


"Sampai kapanpun kita tidak boleh berjauhan. Kamu milikku dan aku milikmu. Kita akan jadi saudara karena kamu terlanjur berada di sekeliling ku." Mata Ella membulat. Bingung tentu saja begitu. Dia tidak memahami pembicaraan yang di maksudkan Darrel.


"Kenapa..."


"Itulah aturannya." Tanpa peringatan Darrel meraih jemari Ella dan menggenggamnya. Dia berusaha menunjukkan pada sekitar jika Ella sudah di tandai sebagai miliknya.


"Tapi Kak.."


"Kamu malu punya Kakak tampan seperti ku." Sahutnya tersenyum simpul. Merasa menemukan alasan agar dirinya bisa senantiasa bersama Ella. Terdengar sedikit kekanak-kanakan sebab seharusnya Darrel berhenti bermain-main di umurnya yang sudah hampir 30 tahun. Menunjukkan keseriusan melalui pernikahan, itulah yang harus di lakukan meskipun Ella cenderung menolak.


"Bukan begitu Kak. Aku merasa tidak pantas." Jawab Ella pelan.


"Kamu ingin makan enak setiap hari kan?" Ella tersenyum sebentar, menoleh dan sedikit mendongak menatap Darrel dari samping.


Tampan.. Satu kata yang selalu meluncur dari seseorang ketika pertama bertemu. Keren dan kuat. Kata kedua menambah lengkap penilaian. Darrel kerapkali beraksi dengan sangat cekatan tanpa basa-basi. Kaya.. Kata ketiga jarang di ketahui jika bukan orang terdekat.


Dua kelebihan sudah mampu memancing wajah munafik orang di sekitar. Bagaimana jadinya saat mereka tahu akan status sosial Darrel yang sesungguhnya. Mungkin sikap mereka lebih agresif dan tidak terkendali lagi.


Sungguh keberuntungan memiliki Kakak seperti nya. Bukankah seharusnya Ella peka menilai ketertarikan yang tampak ketika Darrel menatapnya dalam. Tapi rasanya dia terlalu lugu untuk merasakan hal tersebut.


"Seperti mie ayam tadi?" Tanyanya polos.


"Lebih enak daripada itu." Ella tersenyum simpul.


"Aku tidak yakin kedua orang tua Kak Darrel setuju."


"Pasti setuju. Mama bilang kamu mirip Kakak ku yang meninggal puluhan tahun yang lalu." Darrel menunduk ketika melihat Ella menambahkan jemari satunya pada punggung tangannya. Kini kedua jemari itu sedang memegangnya lembut.


Selayaknya seorang anak kecil, Ella melontarkan persetujuan akan tawaran Darrel. Sejak dulu dia juga menginginkan saudara sebagai tempat membagi cerita.


Asal tidak mengakuinya sebagai pacar. Begitulah niat awal yang terlintas. Tanpa Darrel sadari, Ano merekam pembicaraan dan mengirimnya pada kontak Nay.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2